
Pagi harinya mereka sudah tiba di sebuah TPU yang letaknya tak jauh dari Rumah Sakit tempat Tarjo disemayamkan. Penguburan hanya dihadiri oleh mereka saja karena selain di Bandung Tarjo tidak mempunyai keluarga mereka memang sengaja tidak menginformasikan kabar berita Tarjo meninggal dunia.
Setelah itu Bintang mengurus semua laporan ke kantor polisi tentang kematian Tarjo. Sementara proses hukum Ida terus berlangsung.
Setelah proses pemakanan selesai mereka semua kembali berkumpul di rumah Wijaya.
"Mas karena masalah Mas Tarjo sudah selesai, izinkan aku dan anak - anak pamit kembali ke rumah kami" ujar Siti kepada Wijaya.
"Lho kenapa Sit, apakah penyambutan aku di rumah ini tidak memuaskan kalian?" tanya Wijaya keberatan.
"Tidak Mas, kamu sangat baik sekali pada aku dan anak - anakku. Hanya saja aku dan anak - anak butuh waktu sendiri untuk menerima semua yang terjadi pada Mas Tarjo. Lagian tolong mengerti statusku sekarang. Aku tak ingin timbul fitnah, orang lain berpikiran macam - macam" ungkap Siti.
"Ngapain dipikirkan apa yang orang lain katakan Sit, selama kita masih berjalan dalam alur yang benar tidak perlu kamu fikirkan orang lain?" balas Wijaya.
Siti tersenyum menatap Wijaya.
"Kami tidak ingin merepotkan Mas Wijaya, biarlah kami menjalani hidup kami seperti dulu lagi Mas" Siti menolak secara halus tawaran Wijaya.
Sekarang statusku adalah janda Mas, mana mungkin kita hidup satu atap tanpa ada hubungan. Lagian aku juga sedang dalam masa iddah Mas. Anak - anak juga masih terpukul dengan kematian Mas Tarjo. Biarlah kami menarik diri lebih dulu. Batin Siti.
Sit, apakah kamu sangat mencintai suami kamu sampai kamu tak sudi lagi tinggal di rumahku? Baru saja aku merasa hidupku kembali berwarna kini kembali kelam Sit. Batin Wijaya.
Wijaya menarik nafas panjang.
"Ya sudah kalau itu mau kamu Sit, tapi perlu kamu tau. Kapan saja kamu mau datang pintu rumah ini selalu terbuka untuk kamu dan anak - anak kamu" tegas Wijaya.
"Terimakasih Mas" jawab Siti.
"Kami juga tidak bisa berlama - lama di sini Pak, Tegar kami titip di rumah Papa" ujar Tiara.
"Iya Pak, aku juga besok ada urusan penting di kantor" sambut Bintang.
"Waah rumah langsung sepi gak ada kalian. Semuanya pada pulang" gumam Wijaya sedih.
"Bapak jangan sedih ya, nanti kami akan berkunjung ke sini lagi" Tiara memeluk Bapak kandungnya.
"Kamu sehat - sehat ya Nak, jaga kandungan kamu" balas Wijaya.
"Bapak juga hati - hati di sini" sambut Tiara, kemudian dia berbisik. "Bapak jangan lupa dekatin Ibu lagi. Ibu kan sekarang sudah janda, sudah bisa balikan sama Bapak lagi setelah masa iddahnya selesai".
__ADS_1
Wijaya terkejut mendengar perkataan Tiara tapi kemudian dia tersenyum.
"Iya nak" balas Wijaya sambil mengelus lembut kepala Tiara.
"Wi, Ali yuk kita beresin barang - barang kita. Setelah itu kita pulang ke rumah" perintah Siti pada kedua anaknya.
"Iya Bu, jawab Dewi dan Ali.
Mereka beranjak dari ruang keluarga dan melangkah menuju kamar masing - masing.
Satu jam setelah itu semua barang - barang Siti dan anaknya sudah siap. Dewi dan Ali masih terlilhat sedih dengan kepergian Bapak kandung mereka. Walau lebih banyak kenangan pahit yang mereka alami hubungan darah tetap lah lebih kental dari pada orang lain.
Walau Tarjo jahat dan kasar memperlakukan mereka tapi mereka tetap menghormati Tarjo sebagai orang tua mereka dan mereka tetap bersedih dengan kepergiannya.
"Dewi, Ali... kalian jangan terlalu bersedih ya, ikhlaskan saja semua dan teruslah bedoa untuk Bapak kalian. Satu lagi pesan Bapak jaga Ibu kalian" ujar Wijaya ketika Siti dan anak - anaknya hendak pamit.
"Iya Pak, terimakasih ya Pak. Selama ini Bapak sangat baik menyambut kami di sini" jawab Siti.
Mereka mencium tangan Wijaya dengan hormat, begitu juga dengan Siti.
"Kami pulang dulu ya Mas. Jangan sungkan untuk mampir ke rumah atau ke Cafe" ujar Siti.
"InsyaAllah aku akan sering menjenguk kalian" balas Wijaya.
"Ah Bapak kira kamu bisa tinggal sehari lagi di sini Gas. Kita bisa nangkap ikan di kolam lagi" sambut Wijaya.
"Aku juga ada urusan penting besok Pak di Jakarta. InsyaAllah akhir pekan ini aku datang lagi ke sini, nanti aku mampir ya" balas Bagas.
"Aku juga mau lho Pak di ajak tangkap ikan di kolam" potong Bintang.
"Benarkah? bawa Tegar sekalian ya. Kamu juga ikutan Ali biar kita kuras kolam Bapak yang di ujung" jawab Wijaya antusias.
"InsyaAllah kami akan datang akhir pekan ya Pak. Kan tinggal tiga hari lagi" sambung Tiara.
"Kalau begitu Bapak akan siapkan semuanya" ujar Wijaya semangat.
Tiara tersenyum melihat wajah bahagia Bapaknya. Sebenarnya dia sangat merasa kasihan melihat Bapaknya di ujung usianya harus hidup sendiri dan kesepian. Mudah - mudahan setelah Ibunya menjanda Bapak dan Ibunya bisa kembali bersatu.
Mungkin ini adalah jalan terbaik yang Allah rangkai untuk mereka. Setelah melalui perjalanan hidup yang panjang mereka bisa bersatu lagi tanpa ada halangan dan rintangan lagi untuk mereka. Aamiin.. Doa Tiara dalam hati.
__ADS_1
"Kami pulang ya Pak, jangan lupa berjuang untuk kembali bersama Ibu" bisik Tiara kembali ke telinga Bapaknya.
"Iya.. iya.. doain ya nak" sambut Pak Wijaya.
Mereka semua meninggalkan rumah Wijaya dan beranjak menuju rumah Siti. Bintang di mobil bersama Tiara, Siti bersama Ali dan supir sedangkan Bagas mengajak Dewi bersamanya.
Karena suasana lagi berduka tidak ada yang mempermasalahkan Dewi naik ke mobil Bagas. Mereka sibuk dengan fikiran mereka masing - masing.
Di dalam mobil Bintang yang sedari tadi merasa curiga dengan istrinya segera menanyakan suatu hal yang mengganjal di dalam hatinya.
"Yank tadi aku dengar kamu bisik - bisik sama Bapak, sampai dua kali lagi. Ngapain sih?" tanya Bintang penasaran.
"Ih Mas mau tau banget" goda Tiara sambil tersenyum nakal.
"Ih kamu udah pinter ya godain Mas, awas nanti malam Mas godain kamu jangan sampai di tolak ya" ujar Bintang tertawa.
"Siapa takut" tantang Tiara sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Yank sekarang aja ya kita singgah di hotel terdekat" goda Bintang.
"Mas Bintaaaaaang ada aja modusnya.. hahaha.. aku tuh lagi bahagia sekarang" jawab Tiara.
"Bahagia kenapa? Pak Tarjo meninggal?" tanya Bintang.
"Jahat gak ya kalau aku bahagia di atas kesedihan Dewi dan Ali?" Tiara merasa tidak enak hati.
"Tergantung yank, kalau kamu terlalu berlebihan itu tak baik. Nanti bisa menyinggung perasaan mereka. Kamu bahagia karena Bapak mereka meninggal" jawab Bintang.
"Kalau soal itu aku tidak sebahagia itu Mas, aku hanya lega karena akhirnya masalah Pak Tarjo selesai. Mungkin itu sudah takdirnya Pak Tarjo harus berakhir di tangan polisi dengan peluru panasnya. Aku bahagia untuk Ibu dan Bapakku" ungkap Tiara.
"Ada apa dengan Ibu dan Bapak?" tanya Bintang bingung.
"Dengan meninggalnya Pak Tarjo status Ibu kan sekarang janda di tinggal mati. Itu artinya Ibu bebas sekarang, tidak ada lagi penghalangnya untuk menikah lagi. Jadi tadi aku kasih semangat kepada Bapak agar dia kembali mendekati Ibu lagi" jawab Tiara sumringah.
"Eh istriku pinter sekarang ya mau jadi mak comblang untuk Bapak dan Ibu balikan lagi" goda Bintang.
"Iya donk, biar semuanya bahagia" balas Tiara dengan senyuman manisnya.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG