
Hari sudah semakin sore, dan hampir beranjak ke senja. namun Tiara, masih saja terkurung di dalam gudang dan belum dibukakan pintu oleh Bundanya. kepalanya yang tadi sudah berdenyut, kini semakin parah. bahkan kini untuk sekedar berdiri saja rasanya sudah sangat berat. " Semoga kali ini, Mbok Jum berhasil mendapatkan kuncinya. Ayah, bantu Tia,.." ucapnya lirih sebelum kesadarannya perlahan memudar.
Disisi lain ruangan, yang merupakan ruang televisi sekaligus ruang keluarga dari rumah yang Tiara tinggali, tampak seorang wanita cantik yang merupakan bunda dari Tiara, wanita itu sama seperti Tiara, sama-sama berkulit putih bersih, bermata biru langit. dan rambutnya juga sama, berwarna coklat yang panjangnya hanya sampai bahu. wanita itu tampak sedang duduk di kursi sofa empuk sembari menonton televisi besar yang berada di depannya. Nama dari bunda Tiara itu adalah Sarah carlotte Alviano. usianya saat ini kisaran empat puluh delapan tahun. Namun penampilannya tampak masih seperti seorang wanita yang baru berusia 30 tahun. sedangkan di bawah dari sofa empuk yang sedang ia duduki, tampak mbok Jum yang sedang berlutut dan membujuk wanita itu untuk membukakan pintu gudang agar Tiara bisa keluar dari gudang.
" Nyonya, Non Tia sudah seharian dikurung di dalam gudang dan belum makan mulai dari tadi pagi,.. saya takut nanti bila non Tia tidak segera dikeluarkan dari sana, maka penyakitnya kambuh." ucap mbok Jum mencoba membujuk wanita yang dipanggil bunda oleh Tiara itu. namun wanita itu tidak memberi respon apapun dan hanya mengacuhkannya saja sembari terus menonton tv.
" Nyonya, saya mohon berikan kuncinya kepada saya, agar saya bisa membuka pintunya. kasian non Tia nyonya,.. lagian non Tia tidak melakukan kesalahan besar nyonya, tadi non Tia hanya terburu buru untuk menjemur pakaian yang sudah dicuci hingga dia lupa untuk memeriksa wastafel." ucap nya lagi sembari mengeluarkan air mata
" kamu itu berisik banget sih,.. Tia itu anak saya. jadi terserah saya mau menghukum dan mengajari nya bagaimana. Dia itu sudah melalaikan tugas yang sudah saya berikan kepadanya. dan dia juga sudah mulai tidak bisa bertanggung jawab terhadap pekerjaan yang memang sudah menjadi tugasnya. jadi wajarkan jika saya menghukum nya demikian." akhirnya wanita itu berbicara juga.
Dan ingat satu hal, kamu itu hanya pembantu disini, jadi jangan mencoba mengajari Saya bagaimana caranya bertindak dalam mengajari anak. karna Tia itu anak saya. darah daging saya sendiri. dan bukan anak kamu." ucapnya lagi sembari menunjuk dan menatap mbok Jum tajam.
" Ta,.. tapi nyonya, kasihan non Tia,.. Dia itu sudah besar dan kini sudah menjadi seorang gadis. Tidak baik jika dia masih dihukum seperti ini" ucap mbok lagi Jum lirih dan air mata yang semakin mengaliri pipinya.
" Kamu tidak mengerti ya, dengan apa yang saya ucapkan barusan,.. Tia itu adalah anak saya, mau dia sebesar apapun, dia akan tetap menjadi anak saya. jadi terserah saya mau mengajarinya bagaimana."
" Tapi nyonya,.."
" kamu bisa diam dan pergi dari sini nggak..?? kamu itu sudah mengganggu saya disini,.."
__ADS_1
" Tapi nyonya, non Tia,.."
" pergi nggak,.."
" maaf nyonya, tapi kali ini saya tidak akan pergi sebelum nyonya mau memberikan kunci itu kepada saya." ucap mbok Jum kukuh.
" sudah mulai berani melawan kamu ya,.. mau saya pecat kamu dari sini hah,.."
" pecat saja saya nyonya, kalau dengan hal itu non Tia bisa keluar dari gudang,.."
" Kamu,.. berani kamu sekarang berkata begitu kepada saya ya.. apa kamu sadar bahwa saat ini pekerjaanmu sedang dipertaruhkan,.."
" saya tidak akan apa apa jika nyonya memecat saya sekarang. tapi non Tia mungkin akan dalam bahaya jika saat ini tidak segera dikeluarkan nyonya." ucap mbok Jum lagi sembari menatap sarah penuh dengan permohonan.
" Saya akan pergi malam ini. dan mungkin akan kembali besok lagi. saya ingin besok ketika saya sudah kembali, kamu sudah tidak berada lagi dirumah ini." ucapnya sebelum benar benar beranjak dari kursi.
mbok Jum segera meraih kunci yang baru dilemparkan oleh Sarah itu, lalu langsung bangkit berdiri dan berlari menuju gudang tempat dimana Tia sebelumnya dikurung tanpa menghiraukan Sarah yang langsung pergi dari ruang keluarga itu.
" Non,.. non Tia, mbok udah berhasil meminta kuncinya non, dan kini mbok akan membukakan pintunya. tunggu sebentar ya non,.." ucap mbok Jum tepat di depan ruangan tua dikurung sebelumnya sembari memasukkan kunci yang tadi dilemparkan oleh Sarah ke dalam lubang kunci.
__ADS_1
" non,.. apa non masih bisa mendengar suara mbok,.." ucap mbok Jum lagi sembari memutar kunci yang sudah masuk kedalam lubang kunci yang seketika memunculkan bunyi 'klik' pertanda jika pintu sudah terbuka.
" astaga non Tia,.. non, bangun non, apa non masih bisa mendengar suara mbok,.." ucap mbok Jum panik Karna setelah pintu terbuka barusan, mbok Jum langsung mendapati bahwa Tiara sudah tergeletak dilantai.
" Non, non Tia bangun non,.. jangan buat mbok takut non." ucap mbok Jum lagi sembari mengangkat kepala Tia dan menarunya didalam pangkuannya dan menepuk nepuk pipi Tiara pelan.
" non, non tia,.. jangan begini non,.. bangun. jangan buat mbok takut." ucap mbok Jum lagi sembari meneteskan air mata.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG
**see you in the next chapter 🙏😇