
"Ma.. maaf Mas aku datang bulan sore ini" jawab Dewi terbata - bata.
"Aa.. apa..? Jadi kita gak bisaaa?" tanya Bagas.
Dewi menganggukkan kepalanya malu.
Bagas langsung putus asa mendengar ucapan Dewi.
"Ya ampun Wi... Mas udah panas ini, gimana dingininnya coba. Kamu lagi pakai lingerie sexy gitu buat yang dibawah ngaceng gak bisa di ajak kompromi" jawab Bagas pasrah.
"Ma.. maaf Mas tapi kan aku tidak merencanakannya" jawab Dewi dengan wajah sedih.
Bagas menatap wajah Dewi dan tak tega melihat wajah istrinya sedih di malam pertama mereka.
Begini nih nasib nikah sama anak ABG, masih polos dan lugu. Kalau yang udah berpengalaman bisa kasih service yang lain. Batin Bagas.
"Tenang... kamu jangan sedih ya.. Kita kan masih bisa pacaran selama satu minggu ini" ujar Bagas.
"Pacaran gimana Mas?" tanya Dewi polos.
"Ya pacaran halal donk, bisa sentuh - sentuh, icip - icip dan cium - cium" tangan Bagas mulai melalang buana kemana - mana menggelitiki tubuh Dewi membuat Dewi meronta.
"Maaaaaas... geli aaaah" Dewi tertawa sambil bergerak melawan membuat bagian bawah Bagas semakin berdenyut.
Sialaaaan.. makin tidak bisa aku bendung nih. umpat Bagas dalam hati. Bagas menarik nafas dalam dan menghentikan aksinya.
"Ya sudah kamu tidur gih, pasti capek kan seharian tadi terima tamu. Tadi juga udah aku tidur dan terbangun karena aku datang" Bagas membelai lembut rambut Dewi
"Beneran Mas gak apa - apa?" tanya Dewi polos.
Entah mengapa pertanyaan polos Dewi semakin membuat Bagas panas.
Ya Tuhaaaan benar - benar ya cobaan malam ini. Teriak Bagas dalam hati.
"Iya gak apa - apa tapi kasih bonus dulu donk sebelum tidur" pinta Bagas
"Bonus apaan?" tanya Dewi lagi, masih dengan wajah polosnya.
Bagas segera mendekatkan wajahnya ke wajah Dewi. Membuat Dewi memejamkan matanya dan menahan nafas pasrah. Bagas yang awalnya sudah sangat bersemangat tiba - tiba tertawa melihat tingkah Dewi.
"Hahaha... sayaaaang.. jangan lupa bernafas. Tenang aku tidak akan menerkammu malam ini" ucap Bagas.
Kata - kata Bagas sontak membuat Dewi semakin malu dan tanpa sadar dia memukul dada Bagas karena sangat malu.
__ADS_1
"Aaaah Mas Bagas" Dewi memberontak.
Bagas langsung menangkap tangan Dewi dan menggenggamnya.
"Kamu cantik sekali malam ini sayang.. Aku semakin bahagia sudah menikah dengan kamu. Terimakasih kamu sudah mau menerimaku apa adanya" ujar Bagas sambil menatap mata Dewi dengan sangat lekat.
Membuat Dewi semakin terpesona dengan wajah Bagas.
"Aku juga sangat bahagia Mas menjadi istri Mas. Terimakasih Mas juga sudah mau menjadi suamiku. Maaf kalau diawal pernikahan kita aku sudah membuat kamu kecewa" jawab Dewi.
"Tidak sayang aku tidak kecewa. Ini semua cobaan untukku agar aku bisa menjadi orang yang lebih bersabar" sambut Bagas sambil membelai pipi Dewi.
Perlahan - lahan Bagas memegang wajah Dewi lembut dengan kedua tangannya kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Dewi. Dengan penuh kelembutan Bagas mengecup bibir Dewi.
Awalnya hanya berniat sebentar tapi ternyata bibir Dewi sangat manis malam ini sehingga membuat Bagas ingin merasakan lebih dan lebih. Tangannya juga tak bisa dia atur. Tatapan matanya yang semula lembut kini terlihat semakin membara.
Sentuhan halus perlahan - lahan menjadi lebih bersemangat hingga Bagas tersadar saat mendengar suara desaha* nafas Dewi.
Akh... Sial.. aku hampir tak bisa mengendalikan diriku. Umpatnya dalam hati.
Bagas menghentikan aksinya.
"Sekarang kamu tidur ya, aku takut aku akan melakukan yang terlarang bagi kita" Bisik Bagas di telinga Dewi dengan suara yang berubah menjadi serak.
Bagas membelai lembut rambut istrinya. Dewi mencoba memejamkan matanya. Perlahan demi perlahan mungkin karena lelah campur belaian Bagas yang membuat Dewi lebih tenang akhirnya Dewi tertidur pulas dalam pelukan Bagas.
Kini nafas Dewi sudah terdengar teratur. Bagas baru bisa bernafas lega.
Oh Tuhaan begitu berat cobaan malam ini. Ujar Bagas dalam hati.
Bagas merenggangkan pelukannya dan membiarkan Dewi tidur dengan nyeyak. Sesaat Bagas memperhatikan wajah Dewi yang sedang tidur.
"Kini saatnya aku menuntaskan sesuatu yang tertahan dibawah sana" bisik Bagas takut membuat Dewi terbangun.
Bagas turun dari tempat tidur dan segera berjalan ke kamar mandi untuk berendam air dingin untuk mendinginkan hasratnya yang sudah naik dari tadi.
"Nasib... nasib.. malang benar nasib kamu Jun.." Ucap Bagas sambil menatap bagian bawah tubuhnya.
*******
Keesokan harinya Dewi terbangun karena mendengar alarm ponselnya untuk mengingatkannya shalat subuh setiap paginya.
Mata Dewi terbuka perlahan, alangkah terkejutnya dia ketika menyadari tubuhnya berada dalam pelukan seorang laki - laki yang tidur bertelanjang dada.
__ADS_1
Hampir saja dia melompat dan berteriak, seketika Dewi sadar kalau saat ini dia sudah menikah dengan Bagas. Dewi menatap wajah teduhnya Bagas saat tertidur.
Rasanya masih seperti mimpi bisa seperti ini dengan Bagas. Dewi kembali teringat kejadian mereka tadi malam saat Bagas menciumnya dengan penuh gairah.
Seketika wajah Dewi memerah karena malu. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Gerakannya itu membuat Bagas terbangun dan menatap sosok bidadari cantik di hadapannya.
"Pagi sayaaang.. apa tidur kamu nyenyak malam ini" sapa Bagas dengan suara serak khas orang yang baru bangun tidur.
Bagas perlahan menarik tangan Dewi yang mencoba menutupi kedua wajahnya sendiri. Kini tatapan mereka beradu.
"Maaas sudah pagi, Mas harus bangun dan shalat subuh" ucap Dewi mengingatkan.
Bagas mencoba meraih ponsel yang ada di nakas samping tempat tidurnya.
"Jam berapa ini?" tanya Bagas sambil melirik ponselnya. Ternyata sudah setengah lima pagi. Bagas segera melepaskan pelukannya dari tubuh Dewi dan bergegas turun dari tempat tidur.
Dia membersihkan tubuhnya kemudian , menggosok gigi dan berwudhu. Pagi ini Bagas tidak ingin mandi karena tadi malam dia sudah lama berendam untuk meredakan hasratnya.
Setelah selesai wudhu Bagas keluar dari kamar mandi dan memakai pakaian untuk dia shalat dan setelah itu Bagas melaksanakan shalat subuh di dalam kamar hotel.
Dewi sudah menyiapkan semua perlengkapan shalat Bagas saat Bagas di dalam kamar mandi tadi. Bagas shalat dengan khusyuknya setelah itu dia kembali naik ke atas tempat tidur untuk mencari kehangatan dalam pelukan istrinya.
"Kamu belum salim aku lho.. aku kan baru selesai shalat" ucap Bagas sambil mencium gemas pipi Dewi.
Dewi segera meraih tangan Bagas dan menciumnya dengan takjim. Setelah itu Bagas mencium kening Dewi. Baru setelah itu dia semakin merapatkan tubuh Dewi ke dalam pelukannya.
"Aaaah... ternyata begini ya nikmatnya menikah. Hatiku sangat tenang dan damai" ucap Bagas sambil mempererat pelukannya ke tubuh Dewi.
Dewi merapatkan wajahnya tepat di dada Bagas.
"Hangat Mas.. dari tadi aku kedinginan, bajunya tipis banget" sambutan Dewi.
"Kasiannya istri Mas, mau Mas hangatkan seperti tadi malam" bisik Bagas.
Seketika wajah Dewi memanas mengingat ciuman panas Bagas tadi malam.
"Maaaas.... " ucap Dewi malu. Tapi bukan Bagas namanya sang mantan casanova yang tak bisa merayu wanita apalagi wanita ini adalah istrinya sekarang. Dengan bebas dia bisa melakukan apa saja pada istrinya itu.
Tapi dalam keadaan sadar Bagas harus tau sampai mana batasannya. Bagas kembali mengulangi ciuman panasnya tadi malam membuat Dewi tak bisa berkutik lagi hanya bisa memasrahkan dirinya di tangan hangat suaminya.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG