Tiara

Tiara
Jujur pada hati


__ADS_3

"Aku tadi melihat seorang anak kecil Pa, mirip banget sama putra kita. Tapi saat aku melihat Papanya ternyata orang lain. Entah mengapa ketika melihatnya aku merasa sangat dekat. Rasanya orang asing yang seperti keluarga dekat" ungkap wanita itu.


"Mungkin hanya perasaan kamu saja Ma" balas suaminya.


Tiara sudah selesai dari toilet dan makanan mereka juga sudah datang. Mereka mulai menyantap hidangan malam itu bersama - sama.


"Mama tadi aku ketemu sama eyang cantik" ucap Tegar.


"Oh ya, siapa sayang?" tanya Tiara penasaran.


"Tadi ada Ibu - Ibu yang nyamperin Tegar. Mungkin dia gemas melihat Tegar" jawab Roy, dia tidak mau membuat Tiara khawatir.


"Ooh.. " balas Tiara.


Satu jam kemudian mereka selesai makan malam.


"Kita pulang yuk. Udah malam, nanti kamu ketiduran" ajak Tiara sambil mengelus lembut kepala putranya.


"Oke Ma" jawab Tegar.


"Yuk Mas" ajak Tiara.


Mereka berjalan melalui meja wanita yang tadi menengur Tegar.


"Ma, itu Eyang yang Tegar ceritain tadi" Tegar menunjuk kearah wanita itu.


"Eyang kami pulang duluan ya" sapa Tegar ramah.


"Iya, hati - hati di jalan ya dan jadi anak pintar" balas wanita itu sambil tersenyum.


Tiara dan Roy tersenyum ke arah wanita setengah tua itu dan suaminya. Sepasang pasutri itu membalas senyuman mereka.


"Bener kan Pa, anak kecil itu mirip Putra kita" ucap wanita itu pada suaminya.


"Anak itu mirip Mamanya Ma" jawab suaminya.


"Iya, Mamanya cantik banget. Pantas anaknya ganteng seperti itu" balas wanita itu sambil terus menatap kepergian Tiara beserta anaknya.


"Seandainya putra kita sudah menikah ya Pa dan mau balik ke rumah. Pasti rumah kita akan ramai" ucap wanita dengan mata berkaca - kaca.


"Kamu masih mengharapkan dia kembali? Anak itu sudah keluar dari rumah kita. Sekali dia pergi jangan harap dia bisa kembali lagi" tegas pria itu.


"Bagaimanapun dia anak kita Pa. Kita yang salah sebagai orang tua terlalu keras padanya" wanita itu mulai menangis.


"Tujuan kita baik Ma, agar dia menjadi pribadi yang lebih baik. Hanya tinggal di suruh sekolah yang bagus semua fasilitas lengkap malah memilih pergi dari rumah dan hidup sendiri. Dia fikir dia bisa hidup terus seperti itu?" ujar pria itu dengan wajah dingin.


Bagaimanapun dia masih menganggap anaknya itu adalah seorang pembangkang. Tidak mau ikut aturan dan petintah orang tua.

__ADS_1


Wanita disampingnya masih terus menangis.


"Sudahlah Ma, ngapain kamu tangisi anak durhaka itu" ucap sang suami.


"Dia anak kita Pa. Aku merindukannya" jawab istrinya.


"Lebih baik lanjutkan makan kamu sampai selesai dan tutup cerita tentang anak durhaka itu" tegas sang suami.


**********


Roy, Tiara dan Tegar kembali ke rumah Ridho setelah seharian pergi.


"Kalian kapan pulang?" tanya Roy.


"Besok pagi Mas. Sampai Bandung aku akan langsung ke Cafe" jawab Tiara.


"Jangan di paksain Ra. Kalau kamu capek pulang aja langsung ke rumah. Cafe kan bisa di cek besoknya. Lagian kasihan Tegar kecapekan" ujar Roy.


"Iya Mas, gak apa - apa. Sebentar aja kok, gak sampai malam" balas Tiara.


"Ya sudah, senyamannya kamu saja" sambung Roy.


Sesampainya di rumah Ridho mereka melihat mobil Bintang di depan pagar rumah Ridho. Mobil Roy masuk ke dalam halaman rumah Ridho.


Bintang keluar dari mobilnya dan segera menghampiri mobil Roy.


"Tegarnya sudah tidur Mas" jawab Tiara.


"Ya sudah kalau begitu biar aku saja yang bawa Tegar ke kamar" ujar Bintang.


Bintang segera membuka pintu belakang mobil Roy dan mengangkat Tegar dalam gendongannya dan membawanya masuk ke dalam rumah Ridho.


Setelah selesai baru Bintang keluar dari kamar dan menemui Tiara dan Roy yang masih berdiri dan berbicara di depan teras.


"Sudah malam Ra. Lebih baik kamu masuk ke kamar dan istirahat. Besok pagi kan mau balik ke Bandung. Nanti kamu ngantuk di jalan kalau malam ini kelamaan tidur" ucap Bintang mengingatkan.


"Iya Mas" jawab Tiara biasa saja.


"Aku juga mau pulang ya Ra. Hati - hati di jalan" jawab Roy.


"Tunggu Roy, kita bareng ya baliknya" ajak Bintang.


"Ra, aku pulang ya. Kamu hati - hati di jalan dan salam buat Tegar. Bilang malam ini aku datang untuk melihat dia, tapi dia sudah tidur" ujar Bintang lembut.


"Iya Mas, besok akan aku bilang ke Tegar" jawab Tiara.


Roy dan Bintang pulang dengan mobil masing-masing.

__ADS_1


"Ke apartemenku yuk" ajak Bintang.


"Ngapain?" tanya Roy.


"Ngobrol santai" bujuk Bintang.


"Baik lah" jawab Roy.


Selesai sudah pembicaraan mereka melalui ponsel. Mobil Roy mengikuti mobil Bintang dari belakang yang sedang menuju apartemen Bintang.


Karena hari sudah malam dan jalanan sepi, tidak lama mereka sudah sampai ke apartemen Bintang.


Bintang memberikan soda kepada Roy ketika mereka duduk di ruang tamu apartemen Bintang.


"Roy ada yang mau aku sampaikan pada kamu" ujar Bintang.


"Apa Bin?" tanya Roy penasaran.


"Tentang Tegar daaaan... Tiara" ujar Bintang.


Roy diam sesaat dan berusaha untuk menebak arah pembicaraan Bintang.


"Aku sadar Roy aku pria pengecut yang tidak berani berkomitmen. Aku... aku menyesal dan aku menyadari kesalahan yang telah aku perbuat kepada Tegar dan terlebih Tiara. Aku sudah merenggut kesucian Tiara sehingga Tegar lahir tapi tetap tidak mau bertanggung jawab. aku hanya menawarkan materi kepada mereka. Kalau di fikir - fikir aku tidak jauh beda dengan orangtuaku. Hanya memikirkan kebutuhan yang tercukupi tanpa memikirkan perasaan anaknya. Yaaaah... aku membenci mereka karena itu tapi aku melakukannya pada anakku. Aku hanya memberikan nafkah dan materi untuknya tanpa memberikan tanggung jawab atas hidupnya. Aku menyesal Roy... dan bersalah pada Tiara membiarkannya menanggung malu sendiri, melahirkan dan membesarkan anakku dan dia mengesampingkan ego dan nafsunya. Dia memilih tetap hidup sendiri membesarkan Tegar. Aku bersalah pada mereka. Aku ingin menebus kesalahanku Roy. Aku ingin bertanggung jawab pada mereka dan menikahi Tiara" ungkap Bintang.


Roy terkejut mendengarkan omongan Bintang.


"Mengapa kamu baru bicara seperti itu sekarang Bin?" tanya Roy.


"Aku baru menyadarinya satu bulan belakangan ini tapi aku masih belum mengakuinya Roy" jawab Bintang.


"Kamu hanya merasa bersalah Bin, Tiara tidak memerlukan itu. Menikah dengan landasan perasaan bersalah tidak akan kuat" protes Roy.


"Awalnya seperti itu Roy tapi semakin lama aku merasa nyaman bertemu Tiara dan entah mengapa aku tidak bisa lagi rasanya hidup tanpa mereka. Tiga bulan ini aku merasa mempunyai sebuah rumah tempat aku pulang setiap akhir minggu. Aku menikmati peranku sebagai seorang orangtua. Aku sering bertemu Tiara dan aku merasakan sesuatu yang berbeda dengan Tiara Roy. A.. aku rasa aku sudah mencintainya" ungkap Bintang.


"Tapi kamu sudah terlambat Bin, aku sudah melamar Tiara walau dia belum memberikan jawabannya tapi tinggal menghitung hari dan aku sangat yakin dia akan menerima lamaran ku".....


.


.


BERSAMBUNG


Hai readers.... jangan lupa proca ( protokol membaca) ya.. Notifikasi masuk, kamu buka novel Tiara, lalu kamu baca. Setelah di baca tinggalkan like, koment dan kembangnya sekebon 😁😁


Biar aku jadi tambah semangat di akhir minggu ini untuk up setiap hari.


Terimakasih

__ADS_1


😍😍😍


__ADS_2