Tiara

Tiara
Menghibur Dewi


__ADS_3

Sepulang dari rumah Wijaya Bagas membawa Dewi singgah ke Mall terdekat.


"Mas kita ngapain ke sini?" tanya Dewi bingung.


"Mau beli sesuatu" jawab Bagas.


"Mas mau beli sesuatu, kenapa dari tadi gak bilang" ujar Dewi.


"Habis kamu baru tanyanya sekarang" balas Bagas.


Wajah Dewi jadi memerah karena malu, ingatannya kembali saat dia sedang di culik oleh Bapak kandungnya kemarin. Tarjo mengatakan kalau Bagas menyukainya. Dewi melirik ke arah Bagas.


"Apa lirik - lirik, aku sumpahin naksir baru tau" goda Bagas.


"Ih Mas Bagas" elak Dewi.


Jantung Dewi berdebar dengan kencang. Dia mengikuti Bagas yang berjalan di sampingnya.


Apa iya Mas Bagas menyukaiku? Dia bilang punya calon yang seumuran denganku tapi keluarganya gak kasih izin untuk segera menikah. Siapa yang gak ngizinin aku nikah ya. Ah aku kok jati GR gini. Bisa aja Bapak bohong. Batin Dewo.


Bagas mengajak Dewi ke counter laptop.


"Lho Mas mau cari laptop lagi. Untuk siapa?" tanya Dewi bingung.


"Laptop untuk kamu" jawab Bagas.


"Untuk aku? Untuk apa, laptopku yang lama kan masih ada. Lagian umurnya baru seminggu juga masak udah di ganti" protes Dewi.


"Laptop kamu kan lagi di sita polisi untuk barang bukti lagian gak usah pakai laptop itu lagi, buang aja. Itu punya kenangan buruk untuk kamu" ujar Bagas.


Wajah Dewi tampak sedih.


"Maaf Wi bukannya mau buat kamu sedih karena teringat lagi sama Bapak kamu tapi maksud aku laptopnya di buang aja untuk buang sial. Aku masih bisa belikan kamu yang baru dan lebih bagus lagi" ungkap Bagas tulus.


"Tapi Mas" Dewi terlihat keberatan.


"Gak apa - apa. Gak bakal ada yang marah. Kita beli yang baru aja ya" bujuk Bagas.


Dewi tampak sedang berpikir.


"Terserah Mas Bagas aja deh" akhirnya Dewi menyerah, perlahan - lahan dia semakin kenal sikap Bagas yang tidak suka dengan penolakan. Jadi percuma saja menolak tawaran Bagas.


Bagas tersenyum menang.


"Nah gitu donk, jadi anak penurut" Bagas mengelus puncak kepala Dewi dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


Ser.. lagi - lagi dada Dewi berdetak kencang karena perlakuan Bagas.


Bagas segera memilih laptop yang bagus untuk dipakai Dewi kuliah tak lupa Bagas tetap memasang GPS di laptop itu untuk jaga - jaga saja siapa tau terjadi hal yang sama seperti kejadian penculikan Dewi kemarin.


Setelah selesai memprogram laptop Dewi, Bagas mengajak Dewi ke counter handphone.


"Ngapain lagi Mas?" tanya Dewi pasrah.


"Beli Handphone untuk kamu. Nanti nomornya bisa kita cetak di GraPARI terdekat setelah ini" jawab Bagas seenaknya.


Dewi hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Mas Bagas kok baik banget samaku. Kak Ara dan Mas Bintang aja gak kepikiran beliin aku laptop dan handphone baru" ujar Dewi.


"Itu karena aku perhatian sama kamu dan pengen menghibur kamu. Kamu jangan sedih - sedih lagi ya. Kalau sedih wajah kamu jelek banget, kelihatan tua. Kamu mau dikira orang kita ini seumuran?" tanya Bagas.


"Enak saja aku seumuran Mas Bagas. Usia kita bedanya tiga belas tahun Mas. Boros banget wajah aku kalau seumuran dengan Mas Bagas" protes Dewi dengan bibir yang manyun.


Bagas tertawa karena gemas melihat wajah kesal Dewi.


"Hahaha.... kamu itu lucu Wi" Bagas mengambil foto wajah Dewi yang lagi kesal.


Rasanya dia semakin jatuh dalam jurang cinta tanpa parasut. Terjun bebas sampai kesasar hati Dewi dan terkurung di sana sehingga tak bisa dan tak ada keinginan lagi untuk melirik wanita lain.


"Kalau begitu senyum donk" bujuk Bagas.


Dewi langsung senyum manis, dan kesempatan itu diabadikan Bagas dengan sebuah jepretan dari handphonenya.


Mereka memilih handphone yang bagus untuk Dewi. Bagas melarang Dewi untuk membeli handphone dengan model yang sama seperti handphonenya yang lalu.


Tentu dengan alasan yang sama untuk buang sial.


"Mas, handphone aku yang lama jangan di buang ya. Kalau aku kasih ke orang lain boleh gak?" tanya Dewi.


"Kamu mau kasih ke siapa?" tanya Bagas.


"Mau aku kasih ke Ali. Dari kemarin dia naksir berat sama handphone aku yang itu" jawab Dewi.


"Untuk Ali? Ya udah beli aja sekarang. Ngapain dia pakai bekas kamu. Mana handphonenya udah di banting - banting sama si Ida kurang ajar itu" gumam Bagas kesal.


"Sayang Mas kalau di buang gitu aja" protes Dewi.


"Gak apa - apa" jawab Bagas.


"Aku jual aja ya Mas. Baru uangnya nanti aku belikan Ali handphone baru. Kemarin Pak Wijaya mau beliin Ali laptop dan handphone baru tapi Ibu melarang Pak Wijaya beli semuanya. Ali belum punya laptop jadi hanya laptop aja yang dibelikan Pak Wijaya untuknya" ungkap Dewi.

__ADS_1


"Terserah kamu deh kalau maunya begitu" balas Bagas.


"Sisa uangnya mau aku sumbangkan ke panti asuhan" Dewi teringat Bapaknya yang sudah meninggal. Dewi ikhlas kalau sisa uang jual laptop dan handphone dia wakafkan atas nama Bapaknya. Hitung - hitung untuk bekal Bapaknya di akhirat kelak.


"Kamu emang baik Wi, gak percuma aku pilih kamu" sambut Bagas.


"Apa Mas?" tanya Dewi spontan.


Aku gak salah dengar kan? Barusan Mas Bagas bilang gak percuma kalau dia pilih aku? Tanya Dewi dalam hati.


"Kamu itu baik banget, gak percuma Bu Siti mendidik kamu jadi anak solehah" ralat Bagas.


Setelah ponselnya selesai di beli mereka langsung mengurus kartu baru untuk Dewi di GraPARI. Kartu di cetak dengan nomor yang sama orang lain gak repot kalau mau hubungi Dewi.


Saat Dewi lagi di GraPARI tiba - tiba ponsel Bagas berbunyi.


"Halo Bin, ada apa?" tanya Bagas.


"Kamu bawa lari kemana adik ipar aku. Kok sampai sekarang belum sampai juga ke rimah?" Suara Bintang terdengar lantang.


"Tenang aku gak akan culik dia kok. Aku kan udah janji sama kamu dan Tiara kalau aku akan meminta Dewi dengan baik - baik. Aku akan membuatnya mencintaiku tanpa paksaan. Tapi calon kakak ipar kalau pernikahannya di percepat boleh ya.. please.... " rengek Bagas yang seperti anak - anak.


"Enak saja kamu. Tidak bisa" tolak Bintang.


"Kami gak pengertian banget sih Bin, kayak gak pernah kehilangan aja. Waktu aku dengan Dewi di cilok rasanya jantungku hampir copot Bin. Apalagi waktu lihat dia disekap di rumah gubuk itu. Pengen banget aku berlari untuk menyelamatkannya. Kalau saat itu ada apa - apa dengan Dewi atau kalau seandainya Tarjo beja* itu sampai menjual dia kepada Juragan Kampung mungkin aku akan menjadi narapidana juga seperti Tarjo dan si Ida itu. Aku akan menghabisi siapa saja yang sudah menyakiti Dewi, tidak terkecuali Bapak kandungnya sendiri" ungkap Bagas.


"Dewi itu masih shock dan berduka. Kamu malah bicara yang nggak - nggak Gas.. Gaaaaas" jawab Bintang.


"Namanya usaha Bin, lebih cepat lebih baik. Itu pepatah yang bagus Bin" bujuk Bagas.


"Untuk kamu yang bagus itu pepatah biar lambat asal selamat. Terima saja nasibmu bung. Udah cepat pulang ya, aku tunggu" Bintang lansung menutup panggilan teleponnya.


"Aaaaah... Bintang gak asik ah. Aku kan pengen segera menikah dengan Dewi" gumam Bagas sendiri.


"Mas pulang yuuuuk" ajak Dewi yang tiba-tiba datang dari belakang.


Sontak tubuh Bagas jadi tegang.


Mati... apa dia dengar ya tadi? tanya Bagas dalam hati.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2