
Setelah setengah hari mereka berkencan menurut Bagas sedangkan menurut Dewi itu adalah kencan pura - pura untuk melatih dan mengajari Bagas berkencan dengan anak ABG yang masih di bawah umur. Mereka kembali pulang ke rumah Bapak Wijaya.
Mereka tiba di rumah beliau tepat jam tujuh malam saat Pak Wijaya bersama Siti dan Ali hendak makan malam bersama.
"Nak Bagas ayo ikut makan" ajak Pak Wijaya.
"Maaf Pak, Bu, saya kelamaan mulangin Dewi. Tadi saya sudah izin dengan Bintang untuk menjemput Dewi di kampus ketepatan saya ada pekerjaan selama seminggu ini di Bandung dan tempatnya sangat dekat dengan kampus Dewi jadi saya sekalian aja mampir menemui Dewi dan sekalian juga menjaga Dewi dalam keadaan yang sedang tidak aman sekarang" ungkap Bagas.
"Iya Bapak mengerti" sambut Pak Wijaya.
"Nak Bintang juga tadi sudah hubungi Ibu. Gak apa - apa nak Bagas. Malah Ibu sangat berterima kasih Dewi ada yang jaga. Kalau gak Ibu khawatir banget dengan keadaan Dewi di kampus" sambut Siti.
"Ayo mari.. mari.. kita makan dulu. Nanti kita lanjut ngobrolnya" ajak Wijaya.
Bagas dan Dewi ikut bergabung makan malam bersama Wijaya, Siti dan Ali.
"Dari mana saja kalian tadi?" tanya Wijaya.
"Ehm.. anu Pak, aku minta temani Dewi membeli sesuatu untuk kenalanku" jawab Bagas.
Gawat, kok berasa lagi ketemu dan minta izin calon mertua ya. Batin Bagas.
"Tuh tadi Dewi bawa apaan?" tanya Siti.
"Aa.. anu Bu" jawab Dewi takut.
"Tadi kami mencari sesuatu untuk kenalanku bu, ketepatan lewat di counter laptop. Aku beliin Dewi laptop untuk kuliah sebagai hadiah karena sudah temani aku berbelanja. Trus gara - gara itu ponsel Dewi hilang jadi kami mengurus kartunya untuk di blokir dan aktifin yang baru setelah itu beli HP yang baru untuk Dewi" jawab Bagas.
Untung otakku topcer punya seribu jawaban. Tenang Wi kita amaaaan. Tawa Bagas dalam hati.
"Pantesan tadi aku hubungi Kak Dewi hpnya gak aktif" sambut Ali.
"Iya karena hilang" ucap Dewi berbohong.
Iih Mas Bagas, gara - gara kamu nih aku jadi bohong. Batin Dewi kesal.
Bagas tersenyum tipis karena merasa sudah berhasil membohongi mereka semua.
__ADS_1
"Nak Bagas kok jadi repot - repot beliin Dewi laptop dan HP baru" ucap Siti.
"Ah gak repot kok Bu, Dewi kan adik iparnya Bintang sahabat saya jadi pantas saja kalau saya berbuat demikian" balas Bagas.
"Kalau begitu terimakasih ya Nak Bagas" sambung Siti.
"Aku juga mau Mas di beliin yang sama seperti Kak Dewi punya" potong Ali.
"Punya kamu biar Bapak aja yang beli ya. Besok kita cari laptop dan HP yang bagus untuk kamu" sambut Wijaya.
Ali melirik ke arah Ibunya tapi Siti tidak ada mengisyaratkan untuk menolak.
"Serius Pak?" tanya Ali berharap.
"Iya besok kita beli. Setelah Bapak antar Ibu kamu, Bapak akan jemput kamu ke sekolah dan kita langsung ke Mall untuk mencari laptop dan HP uang kamu inginkan" jawab Wijaya.
"Alhamdulillah.. terimakasih ya Pak" balas Ali senang.
"Aasiiik.. aku punya laptop dan HP baru" teriak Ali bahagia.
Setelah selesai makan Bagas pamit pulang karena dia harus kembali ke Kota sedangkan rumah Wijaya di kawasan Lembang yang agak jauh dari Kota Bandung letaknya.
"Pak, Bu aku pamit dulu ya. Mau balik ke Kota soalnya besok aku ada pertemuan dengan client" ucap Bahas.
"Hati - hati nak Bagas bawa mobilnya. Sudah malam hari ini, jalanan sepi dan gelap" sambut Siti.
"Iya Bu" jawab Bagas hormat.
"Kalau urusan pekerjaannya sudah selesai, nak Bagas mampir ke sini lagi. Kalau bisa menginap di sini biar kita nangkap ikan di kolam belakang" ajak Wijaya ramah.
"Siap Pak, saya akan meluangkan waktu saya untuk itu" sambut Bagas sambil tersenyum.
Wijaya tertawa ramah mendengar jawaban Bagas.
"Permisi Pak, Bu, saya pulang dulu" ujar Bagas pamit.
Dia segera masuk ke dalam mobilnya dan melaju kembali ke kota Bandung.
__ADS_1
Siti dan Wijaya menatap kepergian Bagas dari rumah Wijaya.
"Kamu tau, anak muda itu menyukai putrimu Dewi" ungkap Wijaya.
"Ah masak Mas, dari mana Mas tau?" tanya Siti terkejut.
"Dari tatapannya. Aku kan laki - laki juga jadi aku tau bagaimana pandangan seorang laki - laki yang sedang jatuh cinta. Dari tadi apa kamu gak merasa kalau Bagas berusaha melindungi Dewi dan dia sering mencuri - curi pandang ke arah Dewi?" tanya Wijaya.
"Aku gak perhatikan tadi Mas" jawab Siti.
"Tapi gak apa - apa dia anak muda yang baik, temannya Bintang lagi jadi kita tau asal usul bibit dan bobotnya. Lagian dia juga sudah mapan dan dewasa. Bisa melindungi Dewi" ucap Wijaya.
"Tapi Dewi masih kecil Mas, masih kuliah" sambut Siti.
"Kamu juga dulu menikah denganku usia kamu delapan belas tahun" ujar Wijaya.
"Itu kan zaman dulu Mas, lagian aku gak kuliah. Kalau Dewi kan masih kuliah. Nanti kalau dia kuliah kan repot kalau sudah hamil. Kalau dia hamil gimana?" Tanya Siti.
Sepertinya belum bisa memberikan izin kepada Dewi untuk menikah muda.
"Lagian usia mereka terpaut jauh Mas" sambut Siti.
"Zaman sekarang sudah banyak mahasiswa dan mahasiswi yang kuliah sambil menikah Sit, untuk menghindari dosa. Dari pada pacaran mending nikah aja kalau memang ada yang serius. Lagian bagus kalau jarak usia mereka jauh, si Bagas lebih sabar menghadapi Dewi. Lebih dewasa karena usianya. Kalau soal hamil yang kamu takutkan banyak jalan keluarnya. Kuliah kan bisa ajukan cuti. Kalau Dewi hamil dia bisa ajukan cuti atau kalau hamilnya sehat - sehat saja gak ada salahnya kan kuliah saat hamil? cara lain ya cegah kehamilannya sampai Dewi tamat kuliah tapi kalau cara itu aku kurang setuju karena usia Bagas sudah sama tuanya dengan Bintang kasihan kalau dia lama punya anak" ungkap Wijaya.
"Tapi Mas... " ucap Siti masih belum setuju.
"Apa lagi yang kamu takutkan?" tanya Wijaya.
"Siapa yang akan menikahkan dia Mas, Bapaknya saja buronan, Ali masih belum cukup umur untuk menikahkan Dewi. Mas Tarjo tidak punya keluarga, aku tidak tau siapa keluarga Mas Tarjo yang lain" jawab Siti.
"Oalaaah Sit kan ada wali hakim yang bisa kita wakilkan. Kalau ada cara yang mudah ngapain di persulit selama tujuannya untuk kebaikan. Malah kalau kita memperlancar hubungan mereka kita akan mendapatkan pahala yang sangat besar. Sudah mempermudah dan mencegah orang berbuat dosa. Dalam pernikahan itu banyak sekali kebaikannya Sit. Termasuk menjadi mak comblang dalam pernikahan saja kita sudah mendapatkan pahala" nasehat Wijaya.
Siti terdiam dan mencoba mencerna semua perbatasan Wijaya. Apa dia yakin untuk menikahkan Dewi di usianya yang baru berumur delapan belas tahun? Ah nanti sajalah tanya sama Dewinya langsung? Batin Siti.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG