
Keesokan harinya sebelum balik ke Bandung Tiara mengajak Tegar berkeliling Kota Jogja dengan mengendarai Delman.
Mereka berjalan - jalan di Malioboro dan berbelanja oleh - oleh untuk karyawan di Cafe.
"Banyak sekali Ma belanjaan kita?" tanya Tegar.
"Ini semua untuk Om dan Tante di Cafe sayang" jawab Tiara.
"Oleh - oleh ya Ma?" tanya Tegar lagi.
"Iya" balas Tiara sambil memilih barang yang akan di beli.
"Aku mau donk Ma untuk guru dan teman - temanku" pinta Tegar.
"Boleh, nanti kita cari ya untuk guru dan teman - teman kamu" balas Tiara.
Mereka memberi oleh - oleh untuk semua.
"Yuk sayang kita balik ke Hotel nanti kita kesiangan, terlambat sampai Stasiun Kereta" ajak Tiara.
"Ayok Ma" sambut Tegar.
Mereka kembali ke Hotel dan segera berbenah untuk pulang. Sebelum meninggalkan Hotel mereka menyantap makan siang lalu pamit kepada pengantin baru yang masih menginap di Hotel tersebut.
"Hai pengantin baru.." sapa Tiara ketika mereka ketemu di Loby Hotel.
"Maaf ya Ra, kami tidak bisa menemani kalian jalan - jalan Kota Jogja" sambut Tari merasa bersalah.
"Gak apa - apa. Aku ngerti kok" jawab Tiara sambil tersenyum.
"Hai sayang, kamu senang jalan - jalan tadi?" tanya Ridho.
"Senang Papa Dho. Tadi aku dan Mama sudah belanja oleh - oleh yang banyak untuk teman - temanku" lapor Tegar.
"Wah pasti teman - teman kamu akan senang sekali menerimanya" sambut Ridho.
"Kami balik ke Bandung ya.. Kalian masih seminggu kan cutinya?" tanya Tiara.
"Iya. Besok pagi kami langsung ke Bali" jawab Tari.
"Selamat honeymoon ya" ujar Tiara tersenyum menggoda.
"Iya. Makasih Ra" balas Tari.
"Papa Dho dan Tante Ai mau ke Bali?" tanya Tegar.
__ADS_1
"Iya, kamu mau ikut?" Ridho menawarkan.
"Tidak.. tidak... aku tidak mau kebanyakan libur. Aku hanya minta oleh - oleh saja dari Papa Dho dan Tante Ai" pinta Tegar.
"Oke sayang nanti Tante bawakan oleh - oleh yang buaaanyak untuk kamu" jawab Tari.
"Yeay.. yeay.. Makasih Tante Ai" Tegar lompat kesenangan.
"Kami balik sekarang ya, nanti terlambat" ucap Tiara pamit.
"Maaf ya Ra gak diantar sampai Stasiun" ucap Ridho.
"Gak masalah Dho, nikmati aja suasana pengantin barunya" goda Tiara.
"Kamu bisa aja" balas Ridho.
"Yuk sayang, taxinya sudah datang" ajak Tiara.
"Yuk Ma" jawab Tegar.
"Hati - hati ya Ra, Gar" ucap Tari.
"Gaaar jaga Mama kamu" pesan Ridho.
"Oke Papa... sampai ketemu lagi" pamit Tegar.
"Lho bukannya itu Tiara dan anak kecil. Apakah itu anaknya? Bukannya semalam dia katakan dia sedang tidak bersama anaknya?" Bintang bicara sendiri.
"Jadi anaknya laki - laki. Mengapa dia tidak mau terus terang kepadaku ya. Akh sudahlah mungkin dia punya alasan sendiri" jawab Bintang sendiri.
Bintang tidak ingin terlalu mencampuri Tiara. Apalagi mereka baru akrab kemarin. Walau entah mengapa Bintang merasa nyaman di dekat Tiara tapi dia tidak mau memaksa Tiara lebih.
Dia takut Tiara memiliki pemikiran negatif padanya. Lain kali Bintang yakin pasti akan bertemu lagi dengan Tiara dan Dia mempunyai hubungan di Cafe secara tidak langsung.
Saat taxi berjalan Tiara sempat melihat sekelebat tubuh Bintang.
Seeeer.. apakah dia melihat aku bersama Tegar? Hampir saja... Mudah - mudahan dia tidak sempat melihat wajah Tegar tadi.
Semakin lama kami semakin dekat dengan pria itu. Apakah aku harus lari lagi untuk menjauhkannya dari Tegar. Apakah aku egois memisahkan anakku dari Papanya? Tapi rasa takutku akan kehilangan Tegar sangat besar.
Sudah banyak yang mengatakan aku egois, aku juga sudah berusaha untuk berubah tapi sungguh aku sangat takut.
Mungkin seperti inilah yang Ibu rasakan dulu. Kami sama - sama sangat takut kehilangan orang yang sangat kami sayangi walau terkadang rasa takut itu sangat banyak merugikan.
Bedanya aku takut kehilangan anakku sedangkan Ibu lebih takut kehilangan suaminya sehingga merelakan kepergianku.
__ADS_1
Tapi semakin aku dewasa aku semakin menyadari. Ibu pasti punya alasan sendiri mengapa dia berbuat seperti itu sama seperti aku yang saat ini memutuskan untuk berbuat seperti ini.
Bantu aku ya Allah... tunjukilah aku jalan yang benar. Jika memang apa yang aku lakukan ini benar maka jauhkanlah dia dari kami tapi jika memang salah buatlah dia bisa menerima kami ya Allah. Doa Tiara dalam hati.
"Mama sedang memikirkan apa?" tanya Tegar yang heran melihat Mamanya dari tadi diam saja.
"Ha.. ah Mama tidak memikirkan apa - apa sayang. Mama hanya memikirkan kamu. Kenapa anak Mama ini sangat tampan" goda Tiara sambil memeluk Putra tersayangnya.
"Pasti dari Papa, karena orang - orang bilang aku tidak mirip sama Mama. Kalau aku tidak mirip sama Mama berarti aku mirip Papa donk. Benar gak Ma?" tanya Tegar.
Deg...
Oh Naaak.. pertanyaan kamu itu sangat sulit untuk kujawab. Karena jika aku salah menjawab kamu akan bertanya yang lain. Pertanyaan yang akan semakin sulit untuk Mama jawab.
"Maaf sayang, Mama sudah lupa wajah Papa kamu" jawab Tiara pada akhirnya.
"Apakah Mama tidak menyimpan foto Papa?" tanya Tegar lugu.
Tiara menggelengkan kepalanya.
"Tidak, sudah lama hilang. Kita kan dulu sering berpindah - pindah. Mungkin hilang saat kita pindah kontrakan" jawab Tiara berbohong.
Apakah yang aku lakukan salah Tuhaaan.. Sebenarnya berat sekali harus terus berbohong seperti ini tapi aku tidak tau harus berkata apa lagi.
"Apakah Papa tidak mempunyai keluarga Ma?" tanya Tegar.
"Mama tidak tau sayang, Mama tidak kenal dengan keluarga Papa kamu. Mama hanya kenal dengan Papa kamu saja tidak ada yang lain" jawab Tiara.
Benarkan... dia akan mulai bertanya hal - hal yang akan sulit aku jawab dan jawabanku pasti semua adalah kebohongan. Ucap Tiara dalam hati.
Sebenarnya Tiara selalu merasa bersalah saat dalam situasi seperti ini tapi lagi - lagi Tiara tidak punya keberanian untuk mengatakan kebenarannya.
Tegar semakin besar, semakin pintar dan semakin banyak bertanya. Sampai kapan Tiara akan melakukan semua ini? Apakah sampai dia tidak punya jawaban lagi dari setiap pertanyaan putranya. Hanya Tuhan yang bisa menjawab semuanya.
"Ayo sayang kita turun. Kita sudah sampai di stasiun" ajak Tiara.
Untung kali ini Tiara di selamatkan oleh keadaan. Mudah - mudahan setelah ini Tegar lupa pada pertanyaan - pertanyaan yang tersusun di kepalanya.
Mereka segera masuk ke dalam stasiun dan naik ke atas kereta mencari tempat duduk mereka dan bersiap untuk kembali ke Bandung.
Selamat tinggal Jogja.. Tempat pertama aku bisa bicara lama dengan kamu dan tanpa aku dan kamu sadari kita sebenarnya sedang bercerita tentang kisah kita. Kisah aku, kamu dan anak kita.
Tiara meremas dadanya yang terasa sangat perih karena menahan perasaan bersalah, pada putranya, pada dirinya dan juga kepada Bintang.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG