Tiara

Tiara
Keputusanku


__ADS_3

Pagi harinya Tiara sudah memasak di dapur rumah Bapak Wijaya. Hari ini setelah bangun pagi dia merasa bersemangat untuk melakukan sesuatu pada Pak Wijaya. Anggaplah sebagai ucapan terimakasihnya karena Pak Wijaya sudah menyelamatkan dirinya dan Tegar.


Tiara memasak nasi goreng untuk menu sarapan pagi ini. Padahal koki di rumah Pak Wijaya sudah melarangnya tapi Tiara bersikeras ingin memasak. Dia membuat alasan kalau bayi yang ada dalam kandungannyalah yang menginginkannya.


Tiara memasak sambil bersenandung. Dia terlihat segar dan ceria. Pagi - pagi setelah selesai shalat subuh Tiara mandi dan segera turun ke lantai dasar dan melangkahkan kakinya ke dapur untuk memasak.


Koki di rumah Pak Wijaya tidak bisa melarangnya karena sebelumnya Pak Wijaya berpesan kepada mereka untuk memenuhi semua permintaan Tiara ataupun Tegar di rumah ini. Bagaimanapun mereka adalah tamunya Pak Wijaya.


Setelah selesai masak Tiara menghidangkannya di atas meja. Setelah semua selesai Tiara kembali ke lantai dua untuk membangunkan Tegar dan memandikannya setelah itu baru mereka turun ke bawah untuk menikmati sarapan pagi bersama.


"Pagi Pak Wijaya" sapa Tiara


"Pagi Ra, kata koki pagi ini kamu yang masak sarapan?" tanya Pak Wijaya.


"Iya, pagi ini entah mengapa aku ingin memasak di dapur" jawab Tiara.


"Sepertinya kamu sudah kembali bersemangat. Ayo kita makan, saya mau rasakan masakan kamu" sambut Pak Wijaya.


Tiara dan Tegar duduk di sisi kanan Pak Wijaya. Dan mulai mengambil makanan ke dalam piring mereka. Mereka mulai makan bersama.


"Mmm... enak masakan kamu" puji Pak Wijaya.


"Terimakasih Pak" jawab Tiara.


"Enak kan Opa? Mamaku memang paling pinter masak. Setelah itu baru eyangku" sambut Tegar.


"Oh ya.. kamu punya Eyang?" tanya Pak Wijaya.


"Iya eyang Iti. Nanti kalau ke rumah eyang, aku kenalin ya Opa sama eyang Iti" ucap Tegar.


Pak Wijaya tersenyum menanggapi ucapan Tegar.


"Iya, jangan lupa ya kenalin Opa sama Eyang Itinya Tegar" sambut Pak Wijaya.


Mereka melanjutkan makan.


"Jadi gimana Ra, kamu sudah memikirkan apa yang Bapak bicarakan tadi malam?" tanya Pak Wijaya.


"Sudah Pak. Saya akan mempertahankan rumah tangga saya. Tapi saya belum mau ke Jakarta dulu. Saya mau ke rumah Ibu saya dulu di Bandung" jawab Tiara.


"Bagus itu. Saya dukung keputusan kamu. Jadi wanita jangan terlalu baik Ra" nasehat Pak Wijaya.

__ADS_1


Sontak mata Tiara melotot.


"Hahaha.. maksud saya harus sedikit nakal. Kalau terus - terusan mengalah nanti kamu bisa di injak terus. Kasih pelajaran pada wanita itu, mantan pacarnya suami kamu. Kalau Suami kamu itu hanya milik kamu dan tidak mau berbagi dengan wanita lain" nasehat Pak Wijaya.


"Begitu ya Pak, saya akan coba belajar nakal" sambut Tiara.


Mereka akhirnya tertawa pagi itu. Pak Wijaya sudah berhasil membuat Tiara berubah fikiran dan bersemangat untuk memperjuangkan rumah tangga.


Sebelum mereka beranjak dari meja makan Pak Wijaya bertanya lagi pada Tiara.


"Bukan maksud saya ingin mengusir kamu dari rumah ini. Kapanpun kamu mau datang silahkan saja. Tapi kalau kamu terlalu lama di sini kasihan keluarga kamu Ra" nasehat Pak Wijaya.


"Iya Pak saya mengerti. Rencananya siang ini saya akan ke rumah orang tua saya" jawab Tiara.


"Mobil kamu masih di bengkel, belum selesai di perbaiki. Nanti siang saya antar saja kalian ke rumah orang tua kamu ya" Ujar Pak Wijaya.


"Terimakasih Pak, jadi merepotkan Bapak" balas Tiara.


"Ah tidak apa" jawab Pak Wijaya.


****


Di rumah kediaman orang tua Tiara.


"Hari ini kami akan menyeseri klinik di pinggiran kota Bandung Pa. Siapa tau ada Tiara dan Tegar di sana" jawab Bintang.


"Kalau begitu Papa akan membantu kamu. Kamu ke sebelah timur sedangkan Papa ke sebelah barat" perintah Pak Bambang.


"Baik Pa" jawab Bintang lesu.


Setelah selesai sarapan pagi mereka mulai bergerak. Pembagian tetap seperti hari kemarin. Pak Bambang bersama Ali dan Mang Kardi sedangkan Bintang bersama Bagas dan Roy.


"Bin laporan kantor polisi bagaimana?" tanya Bagas.


"Dari rekaman CCTV Tiara dan Tegar dibawa naik mobil ambulance tapi tidak tau dibawa ke Rumah Sakit mana. Mobilnya juga sudah di angkut oleh mobil derek. Prosesnya begitu cepat dan mereka menghilang begitu saja seperti ada yang sengaja menutupinya. Aku juga bingung mengapa bisa terjadi seperti ini. Bahkan polisi seperti menutup - nutupinya" ungkap Bintang.


"Mengapa bisa begitu ya. Apakah orang yang menyembunyikan Tiara adalah orang yang berpengaruh di kota ini sehingga polisi bisa menutup mulut?" tanya Bagas.


"Entahlah Gas, aku hanya berharap mereka orang baik dan bisa menyelamatkan keluarga kecilku" sambut Bintang.


Mereka melajukan mobil menuju klinik - klinik di pinggiran kota Bandung. Masuk dari satu klinik ke klinik yang lain tapi tak kunjung juga mereka menemukan keberadaan Tiara dan Tegar.

__ADS_1


Wajah Bintang terlihat semakin kusut. Setiap orang yang melihatnya pasti tau kalau Bintang sedang mempunyai masalah besar. Rumah tangganya sedang diterpa praha. Keselamatan keluarga kecilnya sedang di pertaruhkan di sini.


Bintang berjalan dengan gontai.. seperti kehilangan arah. Dia berjalan lurus ke depan menuju jalan raya. Gilirannya telihat kosong.


Bagas yang melihat Bintang langsung menarik Bintang menepi.


"Bintang awaaaaaas" teriak Bagas.


Braaaaakh.......


Mereka berdua jatuh di pinggir jalan dengan posisi terduduk.


"Bin... sadaaaar... kamu hampir saja membahayakan diri kamu. Tiara dan Tegar masih membutuhkan kamu, kamu jangan putus asa Bin" ucap Bagas mencoba mengingatkan Bintang agar tetap fokus dan waras


"Sudah dua hari Gas... Sudah dua hari mereka menghilang. Aku tak sanggup hidup tanpa mereka" ucap Bintang dengan tatapan kosong.


"Bintang... kamu harus kuat. Kamu bukan pria lemah. Kamu suami yang baik dan juga Papa yang baik untuk keluarga kecil kamu. Ini hanya cobaan Bin yang mana apabila kamu lulus menjalaninya kamu akan naik kelas. Sebentar lagi anak kamu ada dua. Mungkin Allah sengaja menempah kamu agar lebih kuat dari sebelumnya" sambut Roy memberi semangat.


"Lebih baik kita pulang dulu Roy.. Sepertinya Bintang butuh istirahat. Nanti kita lanjutkan pencarian" ucap Bagas.


"Iya, yok kita pulang" jawab Roy.


Mereka kembali ke rumah Tiara, begitu juga dengan rombongan Pak Bambang. Mereka pulang sebentar karena ada barang yang tertinggal di rumah.


Mobil mereka bertemu di pintu masuk komplek perumahaan Ibu Tiara di Bandung.


"Kalian sudah pulang?" tanya Pak Bambang.


"Keadaan Bintang tidak stabil Om, dia sangat terguncang saat ini" jawab Roy.


"Ya sudah lebih baik kita pulang dulu nanti kita lanjutkan kembali" balas Pak Bambang.


Mobil beriringan kembali menuju rumah Siti. Sesampainya mereka di depan rumah Siti mereka melihat ada mobil yang tergolong mobil mewah berhenti tepat di depan rumah Siti.


Bambang juga Bagas, Bintang dan Roy memperhatikan mobil tersebut. Mengapa mobil itu berhenti tepat di depan rumah Siti. Siapa gerangan pemilik mobil mewah itu.


Tak lama keluar seorang lelaki tua dari dalam mobil itu.


"Wijayaaaaaa... "


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2