
Seminggu kemudian tibalah waktu persidangan akhir Tarjo. Satu hari sebelum hari persidangan Siti dan kedua anaknya sudah sampai di Jakarta. Mereka menginap di rumah Bintang.
"Eyaaaang.... " sapa Tegar.
"Sayaaang eyaaang" jawab Siti.
Tegar memeluk Siti kemudian bergantian memeluk Ali dan Dewi.
"Masuk Bu... " ajak Tiara.
"Bintang sudah pulang?" tanya Siti.
"Belum bu" jawab Tiara.
"Nih Ibu bawain makanan kesukaan kamu" Siti menyerahkan makanan yang dia bawa untuk Tiara dalam wadah.
"Waaah enak sekali ini. Terimakasih ya bu" sambut Tiara senang.
"Kak, kami ke belakang dulu ya mau temani Tegar dan Ali berenang" ucap Dewi.
Kini hanya tinggal Tiara dan Siti yang duduk di ruang keluarga.
"Gimana keadaan kamu?" tanya Siti.
"Alhamdulillah baik Bu. Bapak merawat aku dengan baik walau dia tidak tau kalau aku anaknya. Bapak memanggil dokter khusus untuk memeriksaku dan kehamilanku" jawab Tiara.
Tampak wajah Siti jadi murung dan bersedih.
"Gimana perasaan Ibu setelah bertemu Bapak lagi?" tanya Tiara.
"Ibu gak tau Ra... Ibu bingung. Apakah Ibu harus bahagia atau sedih" ucap Siti.
"Bapak gak senang bertemu Bapak lagi, setelah puluhan tahun tidak bertemu?" selidik Tiara.
__ADS_1
"Tentu saja Ibu senang, Ibu sangat senang sekali ternyata Bapak kamu masih hidup. Ibu senang bisa melihatnya lagi dalam keadaan sehat dan sukses sekarang tapi sekaligus Ibu merasa sedih karena mengapa dia datang terlambat" ungkap Siti.
"Tapi Bapak kan sudah cerita Bu, kalau beberapa tahun kemudian dia pulang ke kampung untuk mencari kita. Ibu tau, bahkan sampai sekarang dia masih mencari kita lho Bu. Bapak tidak menikah lagi karena masih berharap bertemu kita lagi, bertemu Ibu" Tiara menjelaskan.
"Bapak kamu tidak pernah memberi kabar Ra, sehingga Ibu lelah menantinya. Belum lagi omongan tetangga yang tidak - tidak tentang dia. Ibu tidak tahan hidup sendiri lagi membesarkan kamu Ra. Makanya Ibu membawa kamu meninggalkan kampung sampai akhirnya bertemu dengan Mas Tarjo" sambung Siti.
Tiara menarik nafas panjang.
"Bagaimana perasaan Ibu kepada Bapak?" Tanya Tiara tanpa basa - basi.
"Ibu dan Bapak sudah tidak punya hubungan apa - apa lagi Ra. Bertahun - tahun Ibu ditinggalkan tanpa kabar berita. Setelah Ibu berkenalan dengan Mas Tarjo, Ibu menggugat cerai Bapak dan gugatan Ibu dikabulkan oleh hakim. Ibu sah bercerai dengan Bapak kamu baru Ibu menikah dengan Mas Tarjo" ungkap Siti.
"Benarkah Bu? Ibu sudah menggugat cerai Bapak?" tanya Tiara.
"Sudah Nak, Ibu punya surat - suratnya dan sampai sekarang masih ada Ibu simpan. Kalau tidak Ibu tidak bisa menikah sah dengan Bapak Tiri kamu" jawab Siti.
Tiara tampak sedih dan terpukul. Harapannya untuk membuat Ibu dan Bapaknya rujuk kembali sudah pupus.
"Ibu bisa menggugat cerai Pak Tarjo Bu" ucap Tiara.
"Bagaimana kalau Bapak Tarjo menceraikan Ibu?" Tanya Tiara.
"Itu lain cerita, kalau Ibu di ceraikan Mas Tarjo berarti status Ibu bebas. Ibu bisa menikah dengan siapapun termasuk dengan Bapak kamu lagi" ungkap Siti.
"Ya sudah kita suruh saja dia menceraikan Ibu" ucap Tiara spontan.
Siti tersenyum memandang putrinya.
"Menyuruh Mas Tarjo menceraikan Ibu sama saja dengan Ibu menuntut cerai dia dengan tujuan agar kembali bersama Bapak kamu. Tidak bisa nak, itu namanya ada niat terselubung. Kita tidak bisa semudah itu mempermainkan pernikahan" jelas Siti.
"Tapi Ibu kan tidak mempermainkan pernikahan Bu. Ibu memang tersiksa dalam pernikahan Ibu dengan Pak Tarjo karena menyiksa Ibu" desak Tiara.
"Tapi dia suami sah Ibu sekarang dan Ibu tidak mau bercerai dengannya hanya karena ingin balik dengan Bapak kamu. Menurut Ibu itu mempermainkan pernikahan nak. Ada maksud terselubung meminta cerai. Kecuali Mas Tarjo sendiri yang menceraikan Ibu" ucap Siti kembali.
__ADS_1
Tiara kembali terdiam mencoba mencerna perkataan Ibunya.
"Mana mau Pak Tarjo menceraikan Ibu? Dia kan egois banget. Aku yakin kemarin dia menculik Tegar karena ingin mencari tau keberadaan Ibu dan adik - adik" sambung Tiara.
"Sudah nak... gak usah kamu fikirin. Pasrahkan semua kepada Allah. Yakinlah Allah pasti akan memberikan jalan yang terbaik untuk hidup kita. Allah tidak tidur dan DIA sangat sayang kepada orang - orang yang sabar nak" nasehat Siti.
Tiara memeluk Ibunya erat.
"Ibu wanita yang solehah.. Ibu sangat sabar dalam menjalani hidup Ibu termasuk menghadapi Pak Tarjo. Dari dulu aku sering mengajak Ibu lari dan meninggalkan Pak Tarjo tapi Ibu tidak pernah mau. Aku sempat tidak yakin Ibu akan ikut kami ke Bandung ketika kami menjemput Ibu dulu" ungkap Tiara.
"Saat itu Bapak Tiri Kamu bukan hanya menyakiti Ibu, tapi dia sudah berani menyakiti adik kamu. Dia juga sudah pernah berencana menjual kamu. Sejak Ibu tau dia tega melakukan itu pada kamu, kesabaran Ibu mulai goyah. Puncaknya ya saat dia memukul Ali. Ali kan anak kandungnya dan dia sudah tega menyakiti Ali. Untuk apa Ibu pertahankan hidup dengan pria seperti itu" jawab Siti.
"Ibu kuat ya, aku gak tau seandainya aku ada di posisi Ibu apakah aku akan sekuat Ibu" ujar Tiara.
"Allah tidak akan memberi cobaan kepada kita kalau kita tidak sanggup menjalaninya. Allah Maha Tahu nak" tegas Siti.
"Aku selalu bertanya pada diriku sendiri, kenapa Ibu tidak pernah mau meninggalkan Bapak walau Bapak sudah menyakiti Ibu sampai seperti ini? Aku tidak pernah menemukan jawabannya sampai Mama Sekar bercerita tentang hidup Ibu. Sejak kecil Ibu sudah di tinggal Eyang Uti dan saat Ibu remaja Eyang Kakung juga meninggal. Ibu hidup sendiri dan hanya mempunyai satu sahabat yaitu Mama Sekar. Tapi lagi - lagi Mama Sekar meninggalkan Ibu. Kemudian Ibu menikah dengan Bapak tapi Bapak pergi dan meninggalkan Kita. Mama Sekar bilang karena itulah Ibu tidak mau berpisah dengan Pak Tarjo. Apa betul Bu?" Tanya Tiara penasaran.
Siti tersenyum tipis.
"Sekar selalu saja bisa membaca fikiranku. Itulah kelebihannya dan mengapa aku bersahabat dengannya. Aku tidak perlu susah - susah menceritakan isi hatiku padanya dia sudah lebih dahulu tau" Siti mengusap lembur rambut Tiara.
"Kamu tau sayaaaang.. sangat sakit rasanya di tinggalkan. Ibu sangat hapal bagaimana sakitnya perasaan itu. Satu persatu orang yang Ibu sayangi pergi meninggalkan Ibu sendiri. Rasanya dunia ini sedikit pun tidak berpihak pada Ibu. Bagi Ibu, sangat menakutkan kata - kata di tinggalkan itu. Makanya Ibu berkali - kali berfikir untuk meninggalkan Bapak kamu" ungkap Siti.
"Apakah Ibu menyesal?" tanya Tiara.
Siti menggelengkan kepalanya.
"Tidak.. Ibu tau keputusan Ibu untuk meninggalkan Bapak kamu adalah keputusan yang terbaik" ucap Siti penuh keyakinan.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG