Tiara

Tiara
Nasehat Teman


__ADS_3

Siang harinya Bintang mengajak Bagas bertemu. Mereka janjian makan siang di Cafe Kenanga yang sekarang milik Roy dan Dian.


Dian yang sudah hamil besar berjalan menghampiri mereka.


"Yan kamu kok masih kerja sih, aku serem lihat kamu mondar mandir jalan dengan perut sebesar itu" ujar Bintang.


"Iya, apa Roy gak kasih kamu jatah bulanan sampai kamu kerja keras banting tulang seperti ini" sambut Bagas.


"Enak aja, suami aku itu menyerahkan semua ATM nya padaku. Aku bebas membelanjakannya sesukaku" bantah Dian.


"Jadi kenapa kamu masih di sini? Harusnya kamu kan duduk santai di rumah menunggu waktu lahiran kamu" ujar Bagas.


"Aku bosan di rumah sepi cuma ada aku dan asisten rumah tangga. Kalau di sini aku lebih happy. Banyak teman - teman, pelanggan setia dan para sahabat datang seperti kalian ini. Lagian kalau sudah hamil besar emang harus banyak gerak bisa proses melahirkannya mudah" jawab Dian.


"Kalau kamu brojol di Cafe kan gak lucu nama anak kamu Cenang" oceh Bagas.


"Apa tuh Cenang?" tanya Dian dan Bintang.


"Cafe Kenangan" jawab Bagas polos.


"Hahaha.... " tawa Bintang pecah.


"Gak lucu" sambut Dian.


Tak lama Roy datang dan heran melihat wajah manyun istrinya.


"Kamu kenapa Yank? Di bully mereka?" tanya Roy penasaran.


"Iya Mas, masak Bagas bilang kalau anak kita lahir di sini namanya Cenang" jawab Dian.


"Apa Cenang?" tanya Roy bingung.


"Cafe Kenangan" jawab Bagas.


"Kurang asem kamu" Roy memukul kepala Bagas kesal.


"Buat capek - capek dan jauh lho Gas di bali, enak aja kamu gitu nongol malah kamu kasih nama Cenang" protes Roy.


"Habis Dian mau anak kamu lahiran di sini" ujar Bagas.


"Nggak lah, mana aku kasih izin. Anakku ya harus lahir di rumah sakit" jawab Roy.


"Lah kalau brojolnya di sini?" tanya Bagas.


"Kamu kira melahirkan gak pakai proses. Kalau Dian udah ngerasain kontrasi ya aku gak kasih dia ke Cafe lagi" jawab Roy dengan nada kesal.


"Btw ngapain kalian berdua ke sini ngerusuhin istriku?" tanya Roy.


"Nih, calon Kakak ipar ngajak aku ke sini. Katanya ada yang mau di omongin" jawab Bagas.


"Apaan Bin?" desak Roy tak sabar.

__ADS_1


"Tadi pagi Morgan dan Siska datang ke kantor aku" ungkap Bintang.


"Apa?" sambut Roy, Dian dan Bagas terkejut.


"Mereka berdua datang ke kantor kamu? Ngapain?" tanya Bagas.


"Apa hubungannya Siska sama Morgan?" tanya Dian.


"Meret punya hubungan kali yank" jawab Roy.


"Siska saat ini bekerja di perusahaan Morgan sebagai sekretarisnya" ungkap Bingang.


"Serius kamu Bin?" tanya Bagas serius.


Bintang menganggukkan kepalanya.


"Kok perasaan aku jadi gak enak ya" ujar Dian.


"Kamu merasakan kontraksi yank? Mau melahirkan?" tanya Roy khawatir.


"Bukan.. aku gak mau melahirkan. Maksud aku kedatangan Morgan dan Roy ke kantor Bintang. Pasti ada suatu rencana dan aku yakin niat mereka tidak tulus" jawab Dian.


"Oooh syukurlah aku sudah tegang sekali. Aku kira kamu udah mau lahiran padahal kan jadwalnya beberapa minggu lagi" Ujar Roy sambil bernafas lega.


"Ngapain mereka Bin?" tanya Bagas.


"Morgan kasih proposal kerja sama dengan perusahaannya. Nih kalian baca" ujar Bintang sambil melemparkan berkas yang berisi proposal Morgan.


"Gila Bin, isi proposalnya hanya menguntungkan perusahaannya saja. Kamu terima kerjasama ini?" tanya Bagas.


"Kamu bodoh Bin kalau menerimanya" sambut Roy.


"Menurut kalian?" tanya Bintang.


"Ya kamu harus menolaknya" jawab Roy dan Bagas berbarengan.


"Aku memang akan menolaknya, tapi aku heran mengapa dia mengincar aku. Padahal kan dari dulu Morgan selalu bersaingan dengan kamu" ujar Bintang pada Bagas.


"Jangan sampai Morgan dan Siska bekerjasama untuk mendapatkan sesuatu?" ujar Dian.


"Apa maksud kamu Yan?" tanya Bintang.


"Aku sih mikirnya Siska ingin mendekati kamu lagi. Tapi dia gak punya jalan untuk dekat dengan kamu. Nah dia mendekati Morgan dan mereka membuat rencana seperti ini" jawab Dian.


"Terus apa hubungannya antara Morgan dan Bintang?" tanya Bagas.


"Mmm... sepertinya aku mendapat sedikit jejak. Setelah dia memberikan proposal ini padaku. Morgan ada bertanya tentang kamu dan Dewi. Katanya dia sudah beberap kali melihat kamu dan Dewi. Morgan juga tau kalau Dewi itu adalah adik iparku" jawab Bintang.


"Naaah bisa jadi mereka bekerjasama untuk menghancurkan kalian" sambut Roy.


"Target Siska adalah kamu sedangkan Morgan targetnya Bagas" ungkap Dian.

__ADS_1


Bintang dan Bagas saling pandang.


"Kalian harus benar - benar bisa menjaga orang yang penting dalam hidup kalian. Kamu menjaga Tiara sedangkan Bagas menjaga Dewi" nasehat Roy.


Bagas dan Bintang terdiam.


"Kalian harus lebih hati - hati bertemu dengan mereka dan kamu Bin, tolak aja proposal Morgan dengan Tegas" sambung Roy.


"Huuuuh.... " Bintang menghela nafas.


"Untung kan aku cerita pada kalian, aku jadi mendapat pencerahan. Coba kalau aku diam aja bisa terperosok aku dalam jebakan mereka" ungkap Bintang.


"Itulah gunanya sahabat. Bukan teman di saat senang saja tapi saat sedang dalam keadaan sulit harus saling membantu" sambut Dian.


"Pas banget ya motto kamu dengan hubungan kamu dan Roy. Teman di saat sedih dan senang" ledek Bagas.


"Ya iya laaah" jawab Roy.


"Eh kalian mau pesan apa nih, dari tadi sibuk cerita terus?" tanya Dian.


"Ya ampun yank kamu belum melayani mereka?" tanya Roy terkejut.


"Mereka kan bukan pelanggan di sini, apalagi Bintang mantan pemilik cafe" jawab Dian.


"Aku biasa aja Yan" jawab Bintang.


"Iya sama" sambut Bagas.


"Sebentar ya.. Mas.. mas.. " Dian memanggil pegawai Cafenya dan memesan makanan dan minuman untuk Bintang dan Bagas.


"Nanti sore aku mau bawa Tiara ke dokter kandungan untuk cek keadaan Tiara" ungkap Bintang.


"Wah gimana kalau dia tau keadaannya Bin?" tanya Dian khawatir.


"Aku sudah bilang ke dokternya kalau Tiara masih belum tau mengenai pengangkatan rahimnya. Dan aku meminta dokter untuk tetap merahasiakannya, sampai nanti Tiara sudah benar - benar sembuh" jawab Bintang.


"Bin kamu harus lebih perhatian pada Tiara dan hati - hati saat menyampaikan kebenarannya. Itu sangat sensitif lho untuk seorang wanita. Tidak punya rahim lagi rasanya bukan seperti wanita lagi Bin. Pasti akan ada perasaan hidupnya tidak punya arti lagi. Apalagi Tiara masih muda, pasti banyak pemikiran - pemikiran yang mungkin akan mengganggu pikirannya. Dia akan memikirkan ini dan itu, dia pasti akan merasa tidak sempurna lagi di hadapan kamu. Kamu harus bisa meyakinkan Tiara, bagaimana pun keadaan Tiara kamu akan tetap mencintainya" nasehat Dian.


"Iya Yan aku mengerti. Mama dan Ibu mertuaku juga berkata demikian. Tolong doakan ya, agar kami kuat melewati semua cobaan ini" sambut Bintang.


Roy menepuk bahu Bintang untuk memberikan semangat.


"Dia tetap masih sempurna Bin, karena dia sudah memberikan dua anak untuk kamu. Apalagi yang kamu cari? Apa kamu gak trauma dengan wanita - wanita di luar sana yang semua seperti Siska? Mereka hanya memandang apa yang kamu punya tapi tidak tulus mencintai dan melayani kamu" ujar Roy.


"Kamu bentar Roy. Cukup Tiara satu dalam hidupku. Aku tidak butuh ribuan Siska yang datang Aku tidak perduli" tegas Bintang.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2