
Keesokan harinya Bagas dan Dewi sudah bersiap - siap akan pergi ke Bali untuk honeymoon. Sesuai dengan permintaan Dewi yang menginginkan jalan - jalan ke Bali, dengan penuh rasa sayang Bagas mengabulkan permintaan Dewi.
Setelah sarapan pagi mereka berangkat menuju Bandara diantar oleh pihak Hotel.
"Sudah siap yank?" tanya Bagas kepada istrinya.
"Sudah Mas" jawab Dewi yakin.
"Yuk kita berangkat" Bagas menggenggam tangan Dewi menuju mobil.
Supir sudah membukakan pintu mobil untuk mereka. Bagas dan Dewi masuk ke dalam mobil kemudian mobil melaju menuju Bandara.
Satu jam kemudian mereka sudah sampai di Bandara. Bagas dan Dewi berjalan menuju ruang tunggu.
"Aku tidak menyangka akan bertemu dengan kalian lagi" ucap seorang pria.
Bagas dan Dewi menoleh ke arah pemilik suara. Alangkah kesal dan emosinya Bagas ketika melihat si pemilik suara tersebut ternyata Morgan.
"Sempit banget ya Jakarta ini. Mengapa nasibku harus terus bertemu dengan kamu, kyak gak ada tempat lain aja" sambut Bagas.
"Kalian mau berangkat ke Bali juga? honeymoon?" tanya Morgan.
"Bukan urusan kamu" balas Bagas.
"Lihatlah manis pelitnya suami kamu.. Bulak balik pergi ke luar negeri, bahkan dia memiliki rumah di Singapura masak kamu di bawa honeymoonnya ke Bali. Kalau kamu jadi istriku aku akan bawa kamu ke Maldives atau Turki" ujar Morgan.
"Itu rencana selanjutnya karena itu keinginan Mas Bagas. Kali ini Mas Bagas sedang mengabulkan permintaan aku untuk ke Bali. Karena aku sendiri yang meminta ke sana" sambut Dewi tegas.
"Atau kita ubah aja sayang tujuan kira sekarang. Malas banget ketemu dia lagi di Bali" ujar Bagas.
"Hahahah... kamu malas apa takut?" sindir Morgan.
"Sudah Mas, ini hanya ketepatan saja. Aku yakin di Bali kita gak akan ketemu sama dia" ucap Dewi menenangkan Bagas.
Tak lama pesawat mereka sudah siap, mereka masuk ke dalam pesawat yang sama. Untung saja letak tempat duduk mereka berjauhan. Kalau tidak bisa jelek moodnya Bagas hari ini.
"Sudah Mas jangan dipikirin. Kita nikmati aja honeymoon kita ini dengan indah. Ngapain juga terpengaruh orang yang gak penting dalam hidup kita. Mending mikir yang enak - enak" bujuk Dewi yang mulai merasa aura Bagas berubah jadi panas.
__ADS_1
Mendengar kata enak - enak Bagas jadi kembali bersemangat.
"Benar juga yang kamu bilang, mendingan kita enak - enakan berdua. Anggap aja pesawat ini milik kita berdua yang lain pada ngontrak" ujar Bagas.
"Bener Mas" sambut Dewi.
Dan mereka tertawa bersama. Morgan memperhatikan kebahagiaan Bagas dan Dewi dari kejauhan.
Morgan memperhatikan, sejak dekat dengan Dewi ada perubahan dalam diri Bagas. Bagas tampak berpenampilan santai, apa adanya dan lebih sederhana. Dia juga tampak sering tersenyum dan terlihat sangat bahagia.
Benarkah Bagas bahagia hanya mendapatkan wanita yang sederhana seperti itu? Apa kehebatan wanita itu sampai Bagas sang playboy bisa berubah sedrastis itu.
Sekarang wajah Bagas tampak lebih tenang dan adem. Pokoknya bahagia deh.. membuat Morgan semakin penasaran.
Bagas lebih enjoy menjalani hidup, lebih lepas dan santai. Seperti tidak mempunyai beban pikiran. Dia juga terlihat lebih muda dan sering tertawa.
Morgan jadi teringat kata - kata Bagas saat kemarin dia datang ke acara resepsi pernikahan Bagas dan istrinya.
"Sini aku ajarkan hidup yang tenang. Mumpung masih banyak waktu untuk berubah. Carilah wanita yang memang masih bebas belum menjadi milik orang lain. Hidup kamu pasti akan lebih tenang. Ingat usia, tidak mungkin selamanya kamu akan hidup seperti ini" ujar Bagas kemarin.
Dia mengulang semua yang telah dia lakukan dalam rekaman di kepalanya. Begitu banyak yang telah dia lakukan sejak dia berusia delapan belas tahun. Berapa banyak wanita yang telah dia singgahi? Sudah tidak terhitung lagi. Beberapa dari mereka hamil dan aborsi.
Apa yang sudah dia dapatkan dari semua ini? Kepuasan? Puas atas apa? Bangga? Bangga karena apa? Bangga sudah bisa menang dari Bagas saingannya sejak kuliah. Toh Bagas juga sudah mundur dari dunia persaingan mereka.
Bagas sudah bahagia? Lantas aku saat ini bagaimana? Apa yang aku rasakan? Hampa? Untuk apa aku melakukan semua itu? Bahkan aku tak tau tujuan aku melakukan semua itu. Sampai kapan aku terus melakukannya? Apakah aku tidak ingin punya anak? Tapi anak dari siapa? Anak dari wanita - wanita yang tak jelas yang selalu aku temui di bar dan diskotik. Batin Morgan.
Akh.... pusing...
Morgan akhirnya mengantuk dan tertidur. Hingga mereka sampai di Pulau Dewata.
Bagas dan Dewi bersiap - siap untuk turun begitu juga dengan Morgan.
"Mas nanti kita shalat dulu ya, setelah itu baru jalan - jalan. Kalau udah shalat kan udah tenang jalan - jalannya" ajak Dewi.
"Iya sayang" sambut Bagas.
Apa? Bagas sekarang shalat? Sejak kapan? Apakah sejak bertemu dengan wanita itu? Apa itu rahasia Bagas sekarang tampak lebih tenang dan bahagia? tanya Morgan dalam hati.
__ADS_1
Bagas dan Dewi turun dari pesawat dan langsung menuju musholla di Bandara. Morgan tanpa sadar berjalan mengikuti mereka dari belakang.
Morgan duduk tak jauh dari musholla di Bandara. Dia memperhatikan semua gerak gerik Bagas. Melihat Bagas berwudhu dan shalat.
Wajah Bagas tampak tenang dan adem sekali. Morgan jadi bertanya - tanya, apa yang Bagas rasakan saat ini tapi ego Morgan masih tinggi. Rasanya sangat malu kalau harus bertanya seperti itu pada Bagas.
Setelah Bagas dan Dewi selesai shalat mereka keluar dari Musholla. Saat Bagas bertemu dengan Dewi, Morgan melihat Dewi mencium tangan Bagas penuh hormat sedangkan Bagas membalasnya dengan mencium kening istrinya.
Bagas dan Dewi saling tatap dan tersenyum mesra. Membuat hati Morgan terasa sakit. Bukan sakit karena cemburu tapi rasa sakit seperti apa ya? Morgan sendiri tak bisa menjawabnya.
Bagas dan Dewi melanjutkan perjalanan mereka sesampainya di depan Bandara mereka sudah di jemput oleh seorang supir yang Morgan duga dikirim dari pihak Hotel tempat Bagas menginap bersama istirnya.
Setelah itu Morgan juga naik ke mobil yang sudah menjemputnya dan berjalan menuju Hotel tempat dia menginap selama di Bali. Morgan ke Bali karena ada urusan bisnis yang harus dia jalani.
Kini Bagas dan Dewi sudah sampai di Hotel, mereka terlebih dahulu check in dan meletakkan tas dan koper mereka sebelum memulai petualangan mereka di Bali.
Kini mereka sudah sampai di kamar yang sengaja Bagas pesan dengan view yang paling bagus langsung terlihat Pantai Kuta dari balkon kamar.
Dewi terpesona dengan pemandangan dan mewahnya kamar mereka. Sehingga dia tidak bisa berkata - kata lagi. Bagas memeluk tubuh istrinya dari belakang.
"Bagaimana sayang, kamu suka?" tanya Bagas.
"Suka sekali Mas" jawab Dewi dengan senyum bahagia.
"Selamat honeymoon sayang, aku berharap setelah pulang dari sini kita akan mendapat kabar gembira lainnya" bisik Bagas di telinga Dewi.
"Kabar gembira aapa Mas?" tanya Dewi polos.
"Kabar bahwa di dalam sini sudah ada bayinya. Itu artinya kerja kerasku beberapa minggu ini untuk membuat kamu hamil sudah berhasil" jawab Bagas sambil mengecup lembut pipi Dewi.
Sontak hal itu membuat wajah Dewi merona karena malu.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1