Tiara

Tiara
Semua memberikan semangat untuk Tiara


__ADS_3

Setelah selesai menunggu di ruang pemilihan pasca operasi Tiara di pindahkan ke ruang ICU tapi keadaannya belum sadar. Dokter mengatakan itu hanya efek obat bius. Keadaan Tiara stabil dan operasinya berhasil.


Satu persatu keluarga diperbolehkan menjenguk Tiara bergantian di ruang ICU. Yang pertama masuk tentu saja Tegar dan Bintang. Mereka masuk setelah memakai pakaian steril. Bintang menuntun Tegar masuk ke ruang ICU.


Mereka berjalan masuk dan mendekati tempat tidur Tiara. Tegar tak tega melihat jarum infus dan selang oksigen juga beberapa alat - alat kesehatan yang menempel di tubuh Tiara.


Tegar langsung menangis dan menyentuh lembut tangan Tiara.


"Mamaaaaa... maafkan aku, aku salah Ma. Aku janji akan cepat bangun setiap hari agar Mama tidak perlu lagi repot - repot naik ke kamarku asalkan Mama bangun. Aku sedih melihat Mama seperti ini" ucap Tegar sambil terisak.


Bintang kasihan melihat putranya yang terus merasa bersalah kepada istrinya. Karena dia merasa dialah penyebab Mamanya jatuh dari tangga. Andai saja pagi itu Tiara tidak naik ke kamar Tegar untuk membangunkannya pasti hal ini tidak akan terjadi. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Mungkin ini lah cobaan untuk keluarga mereka.


Bintang terus berdoa semoga keluarga kecilnya sanggup menjalani semua ini. Semoga mereka kuat dan tetap semangat, saling mendukung dan menguatkan.


"Sayaaaaang sudah.. sudah.. jangan menangis dan bersedih. Kita harus membuat Mama selalu gembira agar Mama mau bangun.. Walaupun saat ini Mama sedang tidur tapi percayalah dia bisa mendengar apa yang kita katakan saat ini. Jadi lebih baik kita cerita tentang berita bahagia ya.. " ujar Bintang kepada Tegar. Bintang sengaja membujuk Tegar seperti itu agar Tegar tidak larut dengan rasa bersalahnya dan Tiara juga tidak sedih mendengarnya.


"Iya Papa... " Tegar menghapus air matanya.


"Sayaaang.. nih aku dan Tegar datang. Putra tampan kita dari tadi sangat rewel ingin melihat kamu. Baru saja setengah hari tidak bertemu dia sudah kangen berat. Kamu tau gak sayang Tegar sangat senang mempunyai adek. Dia ingin sekali cepat besar agar bisa menggendong putri kita" Bintang mulai ngobrol dengan Tiara sambil memegang lembut tangan Tiara.


"Iya Ma adek bayinya cantiiiiik banget. Kulitnya lembut aku jadi gemas pengen mencubit pipinya" sambut Tegar dengan antusias.


Tegar terlihat mulai bersemangat dan mulai bisa tersenyum kembali mengingat wajah adek bayinya.

__ADS_1


"Kamu cepetan bangun ya biar kita segera memberinya nama. Katanya kamu sudah menyimpan calon nama untuk putri kita. Bangun donk, aku pengen dengar siapa nama putri kita" ucap Bintang lagi.


"Benar Maaa, aku juga pengen dengar nama adek bayinya. Aku gak mau Om Bagas memanggilnya adek gembul. Walaupun memang pipi adek tembem dan gembul tapi aku tidak mau nama adekku gembul" protes Tegar.


Bintang tersenyum melihat wajah kesal Tegar karena di godain Bagas tentang nama adeknya.


"Mama cepat bangun ya, aku ingin peluk Mama. Tapi bukan di sini. Aku ingin peluk Mama di rumah, kita bisa bermain lagi di taman, Mama bisa masak makanan kesukaanku dan baaaanyak lagi lainnya yang bisa kita lakukan bersama. Aku janji tidak akan nakal lagi dan akan bantu Mama jagain adek bayi" sambung Tegar.


Bintang mengelus lembut kepala Tegar.


"Kamu dengan sayang permintaan putra kita. Dia ingin peluk kamu, kalau kamu terus tidur dia tidak bisa peluk kamu dengan leluasa. Cepat bangun ya" Bintang mengecup kening Tiara penuh kasih sayang.


"Tegar duluan keluar ya, Papa masih ada yang mau di omongin dengan Mama" ujar Bintang kepada Tegar.


Tegar berjalan menuju pintu keluar dan kini tinggal Bintang sendiri yang duduk di samping Tiara.


"Sayang kamu dengar tadi apa yang Tegar katakan. Dia sangat merasa bersalah dan menganggap dirinyalah penyebab kamu terjatuh. Kamu bangun ya agar Tegar senang kembali. Kami semua menunggu kamu terlebih putri kecil kita. Dia cantik sekali sayang, wajahnya persis kamu" ujar Bintang sambil mengenggam tangan Tiara.


Bintang mengelus lembut kepala.


"Aku tidak bisa berlama - lama sayang, Papa, Mama, Bapak, Ibu ingin melihat kamu. Kami harus bergantian. Dokter tidak mengizinkan kami masuk sekaligus. Aku harus pergi ya sayang. Cepat bangun, I Love you" Bintang mengecup kening Tiara sekali lagi.


Bintang berjalan keluar dari ruang ICU, kemudian di sambut oleh Bapak dan Ibu Tiara. Pak Wijaya dan Bu Siti masuk bersama - sama untuk memberikan semangat kepada Tiara. Setelah memakai pakaian steril mereka bergegas masuk ke ruang ICU untuk melihat Tiara yang masih tidak sadar.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum sayang" sapa Pak Wijaya..


"Bapak dan Ibu terkejut sekali mendengar kabar berita tentang kamu tadi pagi. Kami terus berdoa agar kamu dan putri kamu selamat. Bapak dan Ibu yakin kamu akan bisa melalui semua ini" sambung Pak Wijaya.


"Kamu putri Ibu yang kuat, sejak kecil kamu yang selalu menjadi sumber kekuatan Ibu untuk menjalani hidup ini. Bahkan saat kamu mengandung Tegar, kamu bisa melaluinya sendiri. Kamu cepat bangun ya nak, kamu semua menunggu kamu. Jangan lama - lama tidurnya, suami dan anak - anak kamu sangat butuh kamu. Terlebih putri mungil kamu yang sangat cantik. Wajahnya persis kamu waktu kecil hanya saja kulitnya lebih bening dari kamu" ujar Siti.


"Benar apa yang Ibu kamu bilang. Saat pertama lihat putri kecil kamu Bapak langsung ingat kamu waktu baru lahir. Kalian benar - benar mirip. Bangun nak, rumah tangga kamu sekarang sudah lengkap. Ada putra dan putri yang sangat membutuhkan kasih sayang kamu" Sambung Pak Wijaya.


Mereka bergantian mencium kening Tiara untuk memberikan semangat kepada Tiara. Walau Tiara belum sadar mereka berkeyakinan kalau Tiara tetap mendengar apa yang mereka katakan.


"Sayang Bapak dan Ibu pamit ya mau bergantian dengan mertua kamu. Eh iya Bapak cuma mau ingatin kamu. Jangan lama - lama boboknya nanti Bapak dan Ibu juga ikutan lama bersatu kembali. Kan kamu yang minta pernikahan Ibu barengan dengan syukuran kelahiran putri kamu. Kami tidak mau melaksankan semuanya tanpa kehadiran kamu" Ujar Pak Wijaya berusaha bercanda agar suasana tidak terasa sangat sedih. Walau hati mereka sebenarnya sangat sakit melihat anak mereka tidak sadar seperti ini.


"Ibu pamit ya Ra. Nanti kalau kamu bangun dan kita pindah kamar, Ibu janji akan terus jagain kamu" sambut Siti


"Dah Ara, jangan lama - lama tidurnya ya" ucap Pak Wijaya sebelum pergi dari ruang ICU.


Siti meneteskan air mata melihat kondisi putrinya yang seperti itu. Walau kata dokter tidak ada yang perlu di khawatirkan lagi tapi tetap saja mereka masih resah karena Tiara belum juga sadar. Ditambah lagi dengan apa yang Tiara alami. Mereka masih bingung bagaimana mengatakannya nanti kepada Tiara bahwa dia sudah tidak mempunyai rahim.


Semoga saat itu tiba Tiara kuat.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2