
"Wi... bagaimana menurut kamu? Apakah kamu bersedia kalau keluarga Mas Bagas melamar dan mengikat kamu dalam sebuah pertunangan?" tanya Siti.
Semua menatap ke arah Dewi. Jantung Bagas berdetak dengan kencang.
"Maaf Bu aku tidak setuju dengan pertunangan" jawab Dewi.
Bagas langsung lemas mendengar jawaban Dewi.
"Karena dalam agama dan kebiasan keluarga kita bukannya Ibu bilang itu tidak ada?" tanya Dewi.
Dewi menatap ke arah Siti. Walau suaranya agar bergetar karena takut, grogi dan salah tingkah tapi Dewi berusaha mengambil keputusan dengan sebaik mungkin. Dewi saling meremas kedua tangannya.
"Memang tidak ada Wi" jawab Siti.
"Kalau begitu jangan ada pertunangan Bu di antara kami. Langsung menikah saja" jawab Dewi.
Bagas yang tadi sudah menunduk lemas kini langsung semangat dan menatap ke arah Dewi dengan perasaan yang tidak percaya. Benarkah Dewi mengatakan itu?
"Maksud kamu tidak ada pertunangan tapi langsung menikah aja?" tanya Siti untuk lebih meyakinkan.
"Iya.. tapi kalau Mas Bagas sabar boleh tidak menikah nya setelah Ibu dan Bapak menikah dan pada saat aku libur semester?" tanya Dewi sambil tertunduk malu.
"Boleh.. boleh.." jawab Bagas langsung.
Sontak Roy, Dian dan Bintang tersenyum melihat tingkah sahabat mereka itu. Pasti Bagas senang sekali mendengar jawaban Dewi tadi. Selama ini dia sudah sangat pasrah dengan waktu dua tahun yang diberikan Bintang dan juga dinl setujui Dewi.
Tiba - tiba waktu dua tahun bisa berubah menjadi hitungan bulan.
"Bagaimana Mas Reksa?" tanya Siti kepada Papanya Bagas.
"Maaf saya tidak mengerti dengan perkataan Dewi tadi. Setelah Bapak dan Ibu menikah. Maksudnya apa ya?" tanya Pak Reksajaya bingung.
Semua yang mendengar pertanyaan Pak Reksajaya langsung tersenyum kecuali Istrinya Pak Reksajaya.
"Maaf Reksa, saya dan Ibunya Dewi dua puluh sembilan tahun yang lalu pernah menikah. Saat putri saya berumur tiga tahun saya pergi meninggalkan mereka selama puluhan tahun. Ternyata Siti sudah menikah dengan Bapaknya Dewi dan lahirlah Dewi dan Ali. Beberapa bulan yang lalu Bapaknya Dewi meninggal. Dan saya berniat untuk menikahi Siti kembali" ungkap Pak Wijaya.
"Ooh.. maaf saya jadi bertanya diluar batas" sambut Pak Reksajaya.
"Gak apa - apa, saya mengerti kok" balas Pak Wijaya.
"Kalau begitu maunya Dewi dan Bagas juga sudah menganggupinya kami sebagai orang tua hanya bisa mendukung dan mendoakan agar semua berjalan dengan lancar sesuai rencana dan keinginan mereka berdua" sambung Pak Reksajaya.
__ADS_1
"Syukurlah kalau keluarga Mas setuju" balas Siti.
"Naaaah kita sudah dapat kata mufakat dan jalan keluar kan malam ini tentang hubungan Bagas dan Dewi? Semoga Bagas sabar ya, walaupun yang kami lihat sepertinya sudah gak sabaran lagi" sindir Pak Bambang.
Sontak yang lain tertawa mendengar perkataan Papanya Bintang itu.
"Kalau begitu kami sudah lega sekali mendapatkan jawaban dari keluarga Dewi. Apalagi kami sudah dengar langsung jawaban Dewi, kami yakin Bagas pasti sabar" sambut Pak Reksajaya.
Semua tersenyum lega, akhirnya selesai sudah ketegangan Bagas. Sebelumnya mereka semua sudah tau bagaimana tegangnya Bagas menunggu hasil keputusan dari Dewi.
"Kalau begitu kami pamit pulang dulu ya Bambang, Wijaya" ujar Pak Reksajaya.
"Silahkan.. silahkan.. lain waktu singgah ke rumah saya di Bandung" jawab Pak Wijaya.
"Lho rumah kamu di Bandung, dimana di Bandungnya?" tanya Reksajaya ramah.
"Di Lembang" jawab Pak Wijaya.
"Waah enak tinggal di sana, udaranya masih sejuk dan sangat asri" ujar Pak Reksajaya.
"Gas, ada waktu ajak Papa kamu main ke rumah Bapak biar kita tangkap ikan lagi di kolam" perintah Pak Wijaya.
Mereka tertawa, tali silaturahmi sudah tersambung kini tinggal membahas masalah penting antara dua keluarga tapi menunggu beberapa bulan lagi sesuai keinginan Dewi.
Pak Reksajaya pamit undur diri. Dia, istrinya dan Bagas saling berjabat tangan dengan keluarga Bintang. Saat Bagas berpapasan dengan Dewi, Bagas memberi isyarat kode untuk bertelepon. Dewi mengerti isyarat yang diberikan Bagas, dia segera menganggukkan wajahnya dan menunduk. Kini wajah Dewi sudah bersemu merah.
"Bin, Roy aku duluan ya" ujar Bagas kepada dua sahabatnya.
"Cie.. yang sudah bisa tidur dengan tenang. Aku kira tadi, malam ini kamu bakalan patah hati lagi karena di tolak nikah" ejek Bintang.
Bagas tak perduli ejeken temannya, dia tetap tersenyum karena hatinya sangat senang malam ini. Dalam hitungan bulan dia akan segera menyusul para sahabatnya untuk menikah.
Dalam hati Bagas sedari tadi sudah pesta kembang api merayakan jawaban Dewi yang selama ini sangat di tunggu - tunggu Bagas. Benar kata orang, perjuangan tidak akan mengkhianati hasil.
Ingin rasanya Bagas terbang dan melompat kegirangan kalau dia tidak tau malu saat ini. Untung dia masih sadar dan tidak melakukan hal itu. Kalau tidak kedua sahabatnya ini pasti sudah sangat senang menertawakannya setelah itu.
"Sebentar lagi akan ada yang segera melepas masa lajang dan selamat tinggal playbook cap komodo" Goda Roy.
"Terserah kalian yang penting aku kaweeeen" balas Bagas.
"Bukannya kamu udah sering kawin" sindir Roy.
__ADS_1
Sontak Bagas menurut mulut Roy.
"Kalau ngomong itu pakai sensor Bro" protes Bagas.
"Halaaaah semua orang juga udah pada tau. Malah Papa kamu tadi sempat dengan sengaja memperjelas kenakalan kamu dulu" sambung Roy.
"Ya tapi aku kan sudah tobat dan tidak akan melakukannya lagi demi Dewi" jawab Bagas.
"Gaaaas" panggil Pak Reksajaya.
"Iya Pak. Gara - gara kalian nih" ujar Bagas kesal.
Bintang dan Roy tertawa mendengar ocehan Bagas.
"Wi Mas pulang ya, jangan bobok dulu. Tunggu Mas telepon kamu ya" ujar Bagas pelan kepada Dewi.
"Iya Mas" jawab Dewi malu.
"Acie.. cie... yang sebentar lagi mau nikah" ledek Roy.
"Hahaha.... " sambut Bintang tertawa.
"Sirik.. " Bagas berjalan meninggalkan Bintang, Roy dan Dewi. Dia setengah berlari mengejar kedua orang tuanya yang berjalan di depan. Kemudian Bagas membuka pintu mobil dan masuk kedalamnya di susul oleh Papa dan Mamanya.
Keluarga Bagas segera meninggalkan rumah Bintang begitu juga dengan keluarga kecil Roy. Roy dan Dian juga sudah masuk ke dalam mobil dan berjalan meninggalkan rumah Bintang.
Kelurahan Bintang kini bersiap untuk istirahat. Pak Wijaya dan istrinya Sekar memutuskan untuk menginap di rumah Bintang karena hari sudah semakin larut.
Mereka masuk ke dalam kamar masing - masing begitu juga dengan Dewi. Dewi naik ke lantai dua tempat kamar dia berada saat menginap di rumah Kakaknya.
Dewi segera bersih - bersih dan berganti pakaian setelah itu dia berbaring di atas tempat tidur sambil menunggu telepon dari Bagas karena tadi sebelum pulang Bagas berpesan akan menelepon Dewi lagi sebelum tidur.
Tak lama kemudian telepon Dewi berbunyi.
"Assalamu'alaikum Dewi ku.... " sapa Bagas dengan ceria.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1