
Bagas dan Dewi sudah sampai di parkiran hotel ketika adzan magrib berkumandang.
"Mas udah adzan. Mas shalat di mesjid aja gih biar aku naik duluan. Laki - laki kan sebenarnya shalatnya memang di mesjid Mas" perintah Dewi.
Bagas tak bisa menolak perintah Dewi, apalagi Dewi menyuruhnya untuk berbuat kebaikan.
"Ya sudah kalah begitu Mas ke mesjid depan ya" jawab Bagas.
Dewi tersenyum membalas ucapan suaminya. Bagas segera berlari menuju mesjid sedangkan Dewi masuk ke dalam hotel dan check-in di bantu oleh seorang pelayan hotel.
Dewi masuk ke kamar mereka dan mulai membersihkan tubuhnya dan berganti pakaian. Sebenarnya dia sangat tegang sekali saat ini. Apa yang akan dia lakukan setelah menikah dengan Bagas.
Perut Dewi semakin sakit, tegang karena situasi ini atau karena mau datang bulan. Jadwal dia datang bulan memang sudah waktunya makanya beberapa hari ini moodnya sering turun naik.
Bagas sebenarnya terkena imbas juga, dua hari yang lalu harus membelikan Dewi banyak coklat di mini market demi membujuk kekasih hatinya yang sedang merajuk.
Dewi kembali ke kamar mandi, benar saja apa yang dia perkiraan. Untung dia sudah membawa persediaan. Dewi segera memakai pembalut dan tiduran di tempat tidur.
Tiba - tiba Dewi teringat pesan Sekar sebelum dia berangkat ke hotel. Dewi segera meraih bungkusan yang diberikan Sekar tadi dan membukanya.
Alangkah terkejutnya Dewi melihat baju tidur yang begitu tipis berwarna merah hati.
Ya Tuhaaaan... apakah aku harus memakainya? Tapi pesan Tante Sekar ini harus aku pakai malam ini. Duh bagaimana ini? Dewi mengalami perang batin.
Dewi mondar mandir dengan gusar di depan tempat tidur sampai akhirnya Dewi memutuskan sesuatu dan segera melangkah menuju kamar mandi.
Lebih baik aku pakai saja, toh malam ini aku dan Mas Bagas juga gak bisa melakukan apapun. Aku kan sedang datang bulan. Dewi tersenyum dalam hati dan dengan santainya memakai lingerie yang di berikan Sekar kepadanya.
Melihat pantulan tubuhnya di cermin membuat Dewi malu sendiri. Dia terlihat seperti wanita... Dewi segera menutupi bagian dadanya.
Duh.. malunya.. gimana ini? tanya Dewi. Tapi aku kan sudah janji sama Tante Sekar untuk memakai pakaian ini malam ini. Nanti kalau Tante Sekar nanya sama Mas Bagas aku kan malu kalau ketahuan bohong? Ya sudah deh aku pakai saja. Dewi kembali meyakinkan dirinya.
Dia segera keluar dari kamar mandi dan langsung naik ke atas tempat tidur dan menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Mas Bagas kok lama banget ya shalat di mesjidnya? Atau apa dia gak tau ya nomor kamarnya? Eh tadi kan dia yang kasih aku tiket menginap di hotel ini. Dia pasti sudah melihat nomor kamarnya" ujar Dewi sendiri.
Sampai terdengar Adzan Isya akhirnya Dewi tertidur di kamar hotel karena lelah seharian ini menjadi pengantin.
*****
Sementara di dalam mesjid setelah usai shalat maghrib.
"Nak mau kemana?" tanya seorang Bapak kepada Bagas saat Bagas baru saja selesai shalat maghrib berjamaah di Mesjid.
"Mau balik Pak" jawab Bagas sopan.
"Ikutan pengajian yuk, cuma tiga puluh menit. Ustadznya adalah ustadz terkenal lho dan materinya sangat bermanfaat untuk kita terapkan sehari - hari" ajak Pria tua itu.
"Tapi Pak... " Bagas mencoba untuk mengelak.
__ADS_1
Aku ini pengantin baru Pak dan pengen cepat - cepat bertemu istriku dan menikmati malam panjang bersamanya malam ini.
"Udah nak ikut aja cuma sebentar kok. Cuma tiga puluh menit kamu sediakan untuk akhirat tidak akan mengurangi waktu kamu dua puluh tiga jam tiga puluh menit untuk dunia. Malah Allah akan memberikan balasan yang lebih lagi untuk kamu dikemudian hari" bujuk pria itu.
Bagas merasa bahwa kata - kata Bapak itu sangat membuatnya mati kutu. Sehingga tidak sanggup untuk menolak ajakan pria itu.
Apakah arti tiga puluh menit di sini dibandingkan waktu dua puluh tiga jam tiga puluh menit di luar sana mengurus masalah dunia ini. Pikir Bagas.
"Baiklah Pak, saya ikut" jawab Bagas.
"Nah gitu donk. Semoga Allah melancarkan semua urusan dunia kamu dan kamu akan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat" doa pria itu untuk Bagas.
"Aamiin... terimakasih atas doa Bapak untuk saya" sambut Bagas.
Bagas merapatkan diri dan kembali duduk di dekat pria itu untuk mengikuti pengajian di mesjid ini.
Tak lama acarapun di mulai. Benar kata pria tua tadi penceramahnya sangat bagus. Kata - kata yang dia ucapkan sangat mudah dan gampang terserap oleh akal pikiran Bagas.
Bagas yang sedari tadi ogah - ogahan jadi tambah semangat bahkan jadi lupa waktu. Akhirnya adzan isya yang mengingatkannya bahwa dia di mesjid ini sudah lebih tiga puluh menit.
Waduuuh... aku kok jadi lupa sama Dewi. Duh dia pasti udah nungguin aku dari tadi. Tapi sudah nanggung, lebih baik aku shalat isya dulu baru kembali ke hotel. Batin Bagas.
Bagas melaksanakan shalat isya berjamaah di mesti dan setelah selesai shalat dia segera bergegas menuju hotel. Sebelum naik ke kamarnya Bagas meminta room service untuk menyiapkan makan malam untuk dia dan Dewi malam ini.
Pasti Dewi belum makan, lebih baik aku pesan sekalian. Batin Bagas.
Setelah selesai memesan makanan ke pelayan hotel Bagas langsung naik ke kamarnya. Dengan semangat empat lima Bagas melangkah dengan sangat cepat menuju kamarnya.
Bagas menekan bel beberapa kali tapi tetapi tidak ada sahutan atau pintu yang terbuka. Pelayan hotel yang datang ke kamar mereka membawa makan malam segera turun ke bawah untuk mengambil. kunci kamar yang lain.
"Maaf merepotkan mungkin istri saya sudah tidur sana baru pulang shalat di mesjid depan tadi" ucap Bagas
"Iya Pak gak apa - apa" balas pelayan.
Pintu sudah terbuka dan benar saha Bagas melihat istrinya sudah tertidur di atas tempat tidur. Bagas membawa masuk hidangan makan malam untuk mereka ke dalam kamar.
Kemudian Bagas mendekati istrinya yang sedang tidur, alangkah terkejutnya Bagas melihat tampilan istrinya yang sedang tidur nyenyak.
Ya Allah.. cantiknya istriku tanpa jilbab. Ternyata wajah kamu seperti ini sayaaaang... Bagas mengelus lembut pipi Dewi dan membuat Dewi terkejut dan terbangun.
"Maaas oh ya ampuuun... aku terkejut sekali" Dewi langsung memegang dadanya dan menurunkan selimut yang menutupi tubuhnya sehingga Bagas bisa melihat dengan jelas apa yang dipakai Dewi.
Seketika ada sesuatu yang meronta di bawah sana. Tapi Bagas harus bersabar karena dia dan Dewi belum makan malam.
Sabar Gaaas sebentar lagi... Ucap Bagas dalam hati untuk menenangkan dirinya.
"Kita makan dulu yuk yank. Kamu pasti udah lapar ya dari tadi?" tanya Bagas lembut.
"Iya, Mas kok lama banget sih shalatnya. Aku udah nungguin dari tadi" jawab Dewi cemberut.
__ADS_1
"Maaf ya yank, tadi setelah shalat isya Mas di ajak ikut pengajian di mesjid jadi keterusan sampai shalat isya" jawab Bagas.
Bagas menggenggam tangan Dewi dan menariknya.
"Kita makan dulu yuk" ajak Bagas.
Tapi Dewi tetap bertahan.
"Kenapa?" tanya Bagas bingung.
"Aku malu Mas. Ini baju yang dikasih tante Sekar, katanya aku harus memakainya malam ini" Dewi tertunduk malu.
"Oh iya sayang memang harus kamu pakai untuk menyenangkan suami. Kamu mau dapat pahala kan malam ini?" tanya Bagas sambil tersenyum.
Dewi menganggukkan kepalanya masih menunduk.
"Yuk kita makan dulu" Bagas semakin tersenyum bahagia melihat istrinya manut seperti itu.
Dewi berjalan bergandengan dengan Bagas dan mereka mulai menikmati hidangan makan malam berdua di kamar hotel.
Waaah malam ini adalah makan malam terindah seumur hidupku dengan makanan yang sangat lezat dan pemandangan yang sangat indah. Indahnya tak bisa aku lukiskan. Ternyata begini rasanya menikah. Batin Bagas.
Setelah selesai makan Dewi segera mengambil pakaian Bagas di koper dan meletakkannya di atas tempat tidur. Dewi tak berani melirik ke arah Bagas sedangkan pandangan Bagas dari tadi tak lepas dari gerak - gerik Dewi.
"A.. aku akan siapkan air mandi kamu ya Mas" ujar Dewi.
"Iya sayang" jawab Bagas.
Dewi segera ke kamar mandi untuk menyiapkan air mandi Bagas di bathup. Kemudian Dewi menggosok giginya sebelum tidur baru setelah itu Dewi keluar kamar mandi.
"Mas udah siap, buruan sebelum semakin malam" perintah Dewi.
Dengan penuh semangat Bagas langsung masuk ke kamar mandi sedangkan Dewi langsung naik ke atas tempat tidur dengan jantung yang berdebar.
Bagas sengaja mempersingkat mandinya karena dia sudah tidak sabar. Dia segera menyudahi mandinya dan keluar dari kamar mandi. Bagas naik ke atas tempat tidur dan mulai merayu Dewi.
"Wi... " panggil Bagas.
Dewi yang sedang memejamkan matanya kembali membukanya.
"Bolehkah aku meminta hakku malam ini?" pinta Bagas.
"Ma.. maaf Mas aku datang bulan sore ini" jawab Dewi terbata - bata.
Mata Bagas langsung melotot karena mendengar jawaban Dewi.
Ya Tuhaaaan... bagaimana nasib junior ku.. jeritnya dalam hati.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG