Tiara

Tiara
Honeymoon di rumah saja part. 2


__ADS_3

Setelah selesai mencuci piring Bagas segera menyusul istrinya ke ruang TV. Dia melihat Dewi sedang sibuk menyusun cemilan di meja. Setelah itu dia menyalakan smart TV yang ada di ruang TV.


"Mas tolong carikan filmnya" pinta Dewi. Dewi memberikan remote TV kepada Bagas. Bagas meraihnya kemudian mulai mencarinya.


"Apa judul filmnya?" tanya Bagas.


"Frozen flower" jawab Dewi.


"Yakin film korea?" tanya Bagas.


"Iya" jawab Dewi.


"Jangan cerita remaja donk yank, aku lagi gak mood nonton film remaja saat ini" protes Bagas.


"Nggak Mas. Kata teman aku filmnya tentang kisah kerajaan gitu" jawab Dewi.


"Okey aku suka kalau film yang seperti itu" sambut Bagas.


Bagas mulai mengetik judul Filmnya tak lama kemudian dia menemukan film yang di cari. Mereka mulai menonton Film tersebut.


Awalnya mereka duduk berdampingan tapi setelah itu kepala Dewi bersandar di bahu Bagas. Tanpa mereka sadari karena terlalu asik nonton kini kepala Bagas sudah ada di atas kedua paha Dewi.


Mereka tampak semakin serius menonton film tersebut sampai di tengah - tengah cerita. Sang Raja yang ternyata seorang ga* menyuruh jendral perangnya yang pada saat itu adalah kekasih Sang Raja untuk tidur dengan permaisuri agar permaisuri mengandung dan hamil.


Karena Sang Raja sangat mencintai Jendral Perang dia sangat senang jika memiliki anak dari benih Sang Jendral. Terjadilah adegan delapan belas tahun ke atas.


Bagas langsung duduk dan fokus menonton. Sisa - sisa gaira*nya tadi malam kembali bangkit.


Benar dugaanku film ini pasti ada apa - apanya. Kalau tidak ngapain coba temannya Dewi menyuruh Dewi menonton film ini setelah menikah. Waaah sepertinya aku harus mengucapkan terimakasih kepada teman Dewi yang merekomendasikan film ini untuk di tonton Dewi. Teriak Bagas senang dalam hati.


Dewi tampak menutup matanya dan tak mau menonton adegan tersebut.


"Yank kenapa di tutup matanya, rugi donk. Kamu jadi gak tau jalan ceritanya" goda Bagas.


"Tapi filmnya ada adegan gituan Mas" ucap Dewi polos.


"Adegan apa?" goda Bagas. Dia semakin mendekatkan tubuhnya ke tubuh Dewi.


"Itu Mas udah ah aku malu.. " Dewi menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Adegan kita tadi malam kan?" Bagas semakin semangat menggoda istrinya.


Dengan polosnya Dewi mengangguk.


"Dari pada nonton lebih baik kita buat film kita sendiri yang lebih hot dari film itu. Gimana?" ajak Bagas.


"Buat film gimana?" tanya Dewi bingung. Dewi menurunkan tangannya dan menatap wajah Bagas.


"Mengulang adegan tadi malam" ajak Bagas semakin semangat.


"Tapi masih sakit Mas" ucap Dewi.

__ADS_1


"Gak sakit lagi sayang. Itu hanya tahap awal setelah itu percaya deh sama Mas pasti sakitnya sudah hilang" Bagas mencoba meyakinkan Dewi.


Antara takut sakit dengan takut dosa tapi Dewi lebih takut dosa karena menolak ajakan suami akhirnya dia menganggukkan kepalanya.


Bagas langsung mengecup kening Dewi dan menggendongnya. Kemudian Bagas membawa Dewi ke kamar dan meletakkannya kembali di atas tempat tidur.


Mereka mengulang kembali pertarungan mereka tadi malam. Bagas tidak mau melewatkan kesempatan manis ini. Ini namanya pucuk di cinta ulam pun tiba.


Tau aja temannya Dewi kalau aku emang menantikan hal ini. Terimakasih ya teman Dewi.. Batin Bagas.


Dan akhirnya mereka tidur terlelap sambil berpelukan. Selain lelah mereka juga ngantuk karena tadi malam kurang tidur akibat bertempur panas.


Hingga siang hari keduanya terbangun karena perut mereka lapar.


"Ya Allah Mas udah jam berapa ini?" Dewi tersentak dan melihat jam dinding.


"Ada apa yank?" tanya Bagas.


"Udah siang Mas, aku lapar. Kita juga harus shalat dzuhur" jawab Dewi.


Bagas membuka matanya dan melirik jam dinding. Sudah jam setengah dua siang. Pantas saja perutnya sudah berontak ternyata sudah hampir lewat jam makan siang.


"Ya sudah kita pesan makan online aja, sambil nunggu makanan datang kita mandi dan shalat ya" ucap Bagas.


"Iya Mas, Mas aja yang pesan ya. Aku mandi duluan" pinta Dewi.


"Kamu mau makan apa?" tanya Bagas.


"Apa aja Mas yang penting halal" jawab Dewi asal. Dia segera turun dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi.


"Hehehe iya Mas. Udah ya aku mau mandi" Dewi segera meninggalkan Bagas dan masuk ke kamar mandi.


Bagas kemudian meraih ponselnya dan mencari makanan yang ingin dia makan.


"Makan pizza aja deh. Aku tiba - tiba pengen itu. Dewi pasti suka juga" gimana Bagas.


Dia segera memesan pizza di Restoran yang paling dekat dari apartemennya. Tak lama kemudian Dewi sudah keluar dari kamar mandi memakai bathrobenya.


"Masih sakit?" tanya Bagas menunjuk ke arah bagian bawah tubuh Dewi.


"Sudah gak begitu sakit Mas" jawab Dewi malu.


Bagas tersenyum manis menatap Dewi.


"Benar kan apa yang Mas bilang. Coba lagi deh nanti malam pasti semakin gak sakit" ucap Bagas mengambil kesempatan.


"Beneran gak sakit?" tanya Dewi polos. Bagas semakin bersemangat.


"Iya beneran, kalau gak percaya nanti malam kita coba aja lagi" jawab Bagas.


"Iya deeh, terserah Mas Bagas aja" balas Dewi.

__ADS_1


Yes... berhasil. Sorek Bagas dalam hati.


"Mas mandi gih, habis nanti waktu shalat dzuhur" perintah Dewi.


"Iya, Mas mandi nih. Nanti kalau ada yang datang kamu ambil aja uang di dompet Mas. Mas tadi sudah pesan pizza. Kamu mau kan?" tanya Bagas.


"Mau Mas" jawab Dewi.


"Oke, Mas mandi sekarang" Bagas langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi.


Dewi sengaja menunggu Bagas mandi agar mereka bisa shalat dzuhur berjamaah. Tak lama kemudian Bagas keluar dari kamar mandi dan memakai baju yang sudah disiapkan Dewi di atas tempat tidur.


"Sudah datang makanannya?" tanya Bagas yang melihat Dewi sudah memakai mukena.


"Belum Mas. Kan masih sebentar Mas, mana mungkin secepat itu mereka datang" jawab Dewi.


Dewi membentang sajadah untuk mereka shalat. Dan akhirnya mereka shalat dzuhur berjamaah.


Setelah selesai shalat Dewi segera menyiapkan alat makan mereka sambil menunggu pesanan mereka datang. Tak lama kemudian terdengar suara bel apartemen berbunyi


"Maaas tolong bukain donk, aku lagi malas pakai jilbab lagi" pinta Dewi dari kamar mandi.


"Iya, tunggu sebentar" jawab Bagas.


Bagas langsung meraih dompetnya dan keluar dari kamar menuju keluar tapi Bagas ingat dia belum lepas sarung. Bagas segera membuka sarungnya dan memakai celana dengan terburu - buru.


Bagas setengah berlari ke arah pintu apartemen karena bel terus berbunyi. Bagas segera membuka pintunya.


"Bapak Bagas?" tanya si pengantar.


"Iya benar. Berapa semuanya?" tanya Bagas.


"Tiga ratus delapan puluh lima ribu rupiah Pak" jawab si pengantar.


"Tunggu sebentar" Bagas segera mengambil uang dari dompetnya. Si pengantar segera menerimanya dan menghitungnya.


"Pak tunggu kembalinya" ujar si Pengantar.


"Sudah untuk kamu saja sebagai tipsnya" sambut Bagas.


Wajah si Pengantar terlihat sangat senang karena Bagas banyak melebihkan uangnya.


"Terimakasih banyak Pak, selamat makan. Eh iya lupa Pak, celana Bapak cantik sekali sekaligus Sexy" puji si Pengantar.


Sontak Bagas melirik ke arah bawahnya melihat celana apa yang dia pakai.


O.. Ooo.. tenyata celana tidur Dewi berwarna pink dan tipis.


Mati aku.. salah pakai celana. Ujar Bagas dalam hati.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2