Tiara

Tiara
Permintaan Maaf Part. 2


__ADS_3

"Siskaaaaaa.... " ucap mereka semua yang ada di ruangan Bagas.


"Maaf aku telat" ucap Bintang yang masuk lebih dulu dari Siska.


Kini pandangan mereka semua hanya tertuju pada Siska. Siska tertunduk malu dan tak bisa berkata - kata.


"Masuk Sis, tadi katanya mau jenguk Bagas. Nih bubur yang kamu minta" ujar Bintang sambil memberikan sebungkus bubur ayam permintaan Bagas.


"Ngapain kamu ajak nenek lampir ini ke sini?" tanya Roy tak suka.


"Dia mau bertemu kalian semua, ada yang Siska katakan pada kalian semua" jawab Bintang.


Tiara berjalan mendekati Siska.


"Ayo duduk dulu" perintah Tiara.


Siska langsung berlutut di hadapan mereka semua, tepatnya di depan tempat tidur Bagas yang dikelilingi oleh para sahabatnya.


"Maafkan aku.. maaf kan semua kesalahanku" ucap Siska pada akhirnya


Membuat semua yang ada di ruangan itu terkejut melihat sikap Siska barusan.


"Apa yang kamu lakukan Siska mengapa kamu berlutut seperti itu. Kami tidak berhak mendapatkan itu" ucap Tiara.


"Kamu memang sangat baik Tiara, walau aku sudah berulang kali mengejek dan menyakiti kamu tapi kamu tidak dendam padaku. Bahkan barusan kamulah yang sepertinya pertama kali menyambut aku dengan tulus" ungkap Siska.


Tiara menatap suaminya Bintang dengan tatapan bingung. Tapi Bintang membalas tatapan Tiara dengan senyuman dan anggukan seolah menyuruh Tiara tenang. Tidak ada apapun yang perlu di khawatirkan.


"Ada apa ini Bintang?" tanya Roy masih tidak mengerti.

__ADS_1


"Kalian dengarkan saja apa yang Siska katakan. Ayo Siska silahkan duduk. Kamu tidak perlu berlutut kepada sesama manusia" ucap Bintang.


Membuat semua orang kini beralih menatap Bintang, mengapa Bintang sesantai itu menghadapi Siska. Apa yang terjadi? sebuah pertanyaan yang ingin sekali mereka tanyakan pada Bintang.


Siska duduk di kursi yang sengaja di ambilkan oleh Tiara. Kini posisi Siska tepat di depan mereka semua. Tangan Siska saling meremas, terlihat dia memang sedang merasa canggung sekali.


Semua sedang menatapnya, menunggu Siska mengatakan sesuatu. Terlihat tatapan tak suka dari Roy, Dian, Dewi dan Bagas.


"Ma.. maaf kalau kedatangan aku ke sini tidak diundang. Aku tadi tak sengaja bertemu dengan Bintang di luar. Aku sudah cerita panjang lebar kepada Bintang dan dia mengajak aku ikut ke sini buat menyelesaikan semua permasalahan diantara kita" ucap Siska.


Tubuhnya bergetar karena saat ini dia memang sangat tegang sekali, ditambah lagi kondisi tubuhny memang sedang tidak baik - baik saja.


"A.. aku minta maaf kepada kalian semua karena selama ini aku sudah banyak bersalah. Sebelumnya aku juga sudah katakan kepada Bintang. Aku meminta dia membatalkan proses hukum untuk menuntutku daaan... Bintang mengabulkannya" ungkap Siska.


"Gila lo Bin, semudah itu lo mengabulkan permintaannya. Jangan lemah di depannya Bin, dia ini ular. Banyak akal busuk yang sudah dia rencanakan. Apapun akan dia lakukan untuk mencapai tujuannya" protes Roy.


"Sssst... tenang Roy. Dengarkan dulu penjelasan Siska" sambut Bintang menenangkan Roy.


Tiara berdiri di dekat Bintang. Bintang segera merangkul bahu istrinya dan menggenggam tangannya.


"Di.. Dian kamu bisa membuka amplop ini dan membacanya" Dengan tubuh yang tetap bergetar Siska memberikan amplop yang dia pegang kepada Dian istri Roy.


Dian seketika menatap Bintang dan Bintang mengangguk memberi isyarat kepada Dia untuk menerimanya. Diam segera mendekati Siska dan meraih amplop yang diberikan Siska kepadanya.


Lalu Dian kembali ketempatnya semula. Diam membuka amplop coklat itu dan mulai membacanya. Roy yang berada di samping istrinya, Dian. Dengan sangat penasaran ikut membaca isi kertas tersebut.


"Astaghfirullah... benarkah Siska?" tanya Dian tak percaya.


Siska mulai menangis dan menganggukkan wajahnya di hadapan semuanya.

__ADS_1


"Apa isinya?" ucap Bagas tak kalah penasaran.


"Siska menderita sakit kanker serviks stadium empat" jawab Dian.


"Innalillahi.... " sambut Dewi dan Tiara berbarengan.


"Aku datang ke sini bukan untuk mengharap belas kasihan kalian. Aku sudah ikhlas menerimanya. Aku hanya ingin mengakhiri hidupku dengan tenang. Salah satu caranya adalah aku meminta maaf dengan apa yang telah aku lakukan pada kalian sehingga membuat kalian membenciku. Umurku tidak akan lama lagi, mungkin hanya dalam hitungan bulan aku bisa bertahan. Di akhir usiaku aku ingin kembali ke kampung halaman. Aku akan tinggal dan mungkin menghabiskan nafasku di sana nanti. Oleh sebab itu aku meminta kepada Bintang untuk membatalkan tuntutan hukumnya. Aku tidak ingin aku mati di dalam penjara. Aku berharap kebaikan yang sama seperti yang Bintang lakukan untukku dari kalian. Tolong maafkan aku, agar langkahku menuju kematian lebih ringan. Aku takut dosa - dosaku yang sangat berat membebani langkahku untuk bertemu dengan Allah" Siska mulai terisak.


Tiara melangkah mendekati Siska. Tiara langsung merangkul bahu Siska yang tak henti bergetar karena menangis.


"Siska... aku akan mengikuti jejak Mas Bintang, dia adalah imamku saat ini. Apapun yang dia lakukan aku akan mendukungnya. Kalau Mas Bintang sudah membatalkan tuntutannya dan memutuskan untuk memaafkan kamu aku juga sama. Aku juga akan memaafkan kamu" ucap Tiara sambil mengelus punggung Siska mencoba menenangkan Siska.


Kini terlihat tubuh Siska sangat rapuh, mungkin kalau dia tidak sedang memakai lipstik, pasti akan terlihat wajahnya sangat picatt sekali saat ini.


"Terimakasih Tiara... kamu memang wanita yang sangat baik. Beruntung Bintang bisa bertemu kamu dan menikahi kamu. Padahal aku sudah banyak menyakiti kamu. Menyebut kamu sebagai wanita cacat tapi.... hiks.. hiks... kondisiku lebih buruk dari kamu. Kamu benar Tiara, aku terlalu bangga dengan kesempurnaan yang pernah aku punya hingga Tuhan mengambilnya dariku. Bahkan semua sudah berakhir sekarang, aku hanya diberikan waktu yang tidak banyak untuk memperbaiki diriku. Aku menyesal Tiara, sungguh sangat menyesal pernah berkata kasar kepada kamu" ucap Siska sambil terus terisak.


"Mengapa kamu memilih pulang ke kampung orang tua kamu Siska? Tetaplah di sini dan jalani pengobatan" tanya Dian.


"Kemungkinannya hanya satu persen Yan, semua sudah menyebar di dalam tubuhku. Pengobatan yang aku jalani hanya untuk memperlambat saja bukan menyembuhkan. Toh akhir dari semuanya adalah kematian. Aku tidak mau menyakiti diriku lebih banyak lagi. Biarlah aku akhiri semua ini dengan tenang dan damai. Menunggu detik - detik berakhirnya usiaku bersama orang-orang yang aku sayangi di kampung. Kelak jasadku juga akan aku minta di kuburkan di samping makam kedua orang tuaku" jawab Siska.


"Tapi setidaknya kamu sudah berusaha untuk memperjuangkan hidup kamu Siska" balas Dian lagi.


"Selama ini yang aku lakukan di Jakarta ini adalah memperjuangkan hidup Yan. Semua aku lakukan agar aku bisa bertahan hidup di Jakarta. Semua cara aku lakukan agar aku bisa bertahan hidup di sini. Aku sudah lelah... sangat - sangat lelah. Aku ingin pulang, walau waktunya hanya tinggal sedikit lagi aku akan memanfaatkannya dengan sebaik mungkin. Aku akan belajar ilmu agama lagi di sana dan mempersiapkan diriku untuk bertemu dengan Allah" jawab Siska.


"Boleh aku bertanya sesuatu Siska. Beberapa bulan belakangan ini aku menyimpannya sendiri. Ini tentang Morgan. Dua bulan yang lalu aku melihat kamu dan Morgan bertengkar di salah satu parkiran Mall di Bandung. Aku lihat kamu menangis saat itu dan Morgan juga terlihat sangat murka. Apa yang terjadi pada kalian berdua? Hingga pada saat pernikahanku kamu tidak datang berdua dengan Morgan?" tanya Roy penasaran.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2