
Bagas, Dewi dan Ali duduk dikantin sambil memesan makan siang mereka. Dewi duduk di samping Bagas sedangkan Ali duduk di depan mereka.
"Gimana ujiannya yank?" tanya Bagas.
"Yank.. yank.. kepala peyang?" tanya Dewi.
"Tuh Al benar kan yang Mas bilang tadi. Harus kudu kejar terus kalau gak dia akan lari" ujar Bagas.
Ali hanya manggut - manggut
"Apaan? Mas bilang apaan sama Ali?" tanya Dewi ingin tau.
"Gak ada, aku cuma bilang sama Ali kalau kamu itu cantik dan aku sangat mencintai kamu" jawab Bagas dengan senyum penuh percaya diri.
Ali tertawa mendengar jawaban Bagas. Dewi menatap horor ke arah Bagas.
"Bohong.. " bantah Dewi.
"Bohong apanya?" tanya Bagas.
"Aku tau Mas bohong. Mas pasti bukan cerita itu pada Ali. Udah deh Mas, aku kan sangat tau apa yang ada di pikiran kamu. Pasti kalian sedang membicarakan cewek kan dari tadi?" desak Dewi.
"Dijawab iya salaah.. dijawab nggak, malah gak percaya" Bagas menghembuskan nafasnya kasar.
"Kami membicarakan kamu, kamu kan cewek masak iya cowok. Trus aku mau nikah sama cowok gitu? Iiiiih.. jeruk makan jeruk" sambung Bagas.
"Jadi gimana ujiannya?" tanya Bagas lagi.
"Alhamdulillah bisa dan InsyaAllah benar semua" jawab Dewi.
"Bagus itu baru namanya calon istrinya Mas Bagas" Bagas membelai kepala Dewi.
Semua wanita yang duduk di kantin seketika iri melihat Dewi yang diperlakukan sangat lembut oleh Bagas.
"Maaas jangan gitu ah" ujar Dewi.
"Jangan gitu gimana?" tanya Bagas bingung.
"Jangan sok mesra. Aku malu ini kan kampus, banyak teman - teman aku juga di sini. Mereka pasti ngelihat" jawab Dewi.
"Ya biarin aja, sebulan lagi kan kita mau nikah. Itu artinya sebentar lagi kamu akan menjadi istri Mas. Kalau mereka iri ya nikah sono sama calonnya masing-masing. Aku gak akan protes" ujar Bagas.
"Iya tapi aku malu Mas. Biasa aja sikapnya" komentar Dewi.
Tiba - tiba ada seorang pria tegap yang masuk ke dalam kantin dan menghampiri meja Bagas, Dewi dan Ali.
"Wah.. wah... gak nyangka kamu sebegitu takutnya kehilangan calon istri ya. Baru aku kirim foto Dewi yang aku ambil diam - diam udah langsung terbang ke sini. Padahal foto Dewi masih dengan pakaian lengkap lho. Gimana kalau aku kirim foto Dewi tanpa pakaian" ucap Morgan.
__ADS_1
Bagas langsung berdiri, tangannya mengepal dan rahangnya mengeras. Ingin sekali dia meninju Morgan saat ini tapi Dewi menahan dan menggenggam kuat tangan Bagas.
"Maaas" cegah Dewi.
"Jaga kata - kata kamu Morgan atau kamu akan menyesal" ancam Bagas.
"Uuuuh takuuut... " Morgan tertawa.
"Hai cantiik senang bertemu kamu lagi. Langsung ngadu rupanya sama pacarnya. Langsung ya bawa dua bodyguard untuk jagain" sindir Morgan.
"Apa mau kamu Morgan?" tanya Bagas
"Aku mau Dewi" jawab Morgan tanpa rasa takut.
"Kamu boleh ambil semua yang pernah singgah dalam hidupku tapi tidak dengan Dewi karena Dewi tidak hanya singgah tapi dia adalah hidupku" tegas Bagas.
"Nah itu dia yang lebih menarik. Karena dia adalah hidup kamu aku jadi lebih bersemangat untuk meraihnya" ujar Morgan.
Bagas langsung menarik kerah Morgan.
"Maaas" Dewi menahan dengan sekuat tenaga begitu juga dengan Ali.
"Mas tolong jangan buat keributan di sini. Ini kampus Mas" ujar Ali.
"Kalau kamu ingin merebut Dewi, langkahi dulu mayatku. Selama ini aku tidak pernah marah jika kamu mengambil para mantan pacarku. Tapi tidak untuk Dewi aku akan mempertahankannya dengan seluruh hidupku" tegas Bagas.
"Kita lihat saja nanti, sekuat apa kamu mempertahankan wanitamu. Pernikahan kalian masih satu bulan lagi bukan? Masih banyak waktu dan kesempatan. Apa saja bisa terjadi" ujar Morgan.
"My lady... sampai ketemu lagi" Morgan mengedipkan sebelah matanya kearah Dewi.
Dewi menggenggam tangan Bagas dengan kuat. Morgan segera pergi dari kantin meninggalkan Bagas , Dewi dan Ali yang masih geram melihat tingkahnya.
"Gila ya... " ujar Ali.
"Kalian lihat kan, dia memang benar - benar gila makanya aku langsung datang ke Bandung. Jadi aku bukan cemburu buta tapi karena keberadaan Morgan itu memang sangat mengancam" sambut Bagas.
"Iya Mas. Aku tidak akan berani lagi dekat - dekat dengan dia" ujar Dewi dengan tangan yang menggeletar.
"Kamu tidak apa - apa Wi?" tanya Bagas khawatir.
"A.. aku tidak apa - apa" jawab Dewi.
"Tapi tubuh kamu bergetar. Apa kita pulang saja" ujar Bagas.
"Aku masih ada ujian satu mata kuliah lagi nanti jam satu" ungkap Dewi.
"Kamu yakin bisa ujian dengan keadaan seperti ini?" tanya Bagas meyakinkan.
__ADS_1
"Bisa.. aku hanya shock, sebentar lagi juga akan tenang" jawab Dewi.
"Duduk dulu Kak" saran Ali.
Bagas menuntun Dewi duduk dan mencoba menenangkannya.
"Sudah kamu tenang saja, ada kami di sini. Kan sudah Mas bilang selama kamu ujian Mas akan terus menemani kamu. Setelah itu kita ke Jakarta untuk mengurus pernikahan kita" ujar Bagas.
"Iya Mas" jawab Dewi.
Ancaman Morgan tadi entah mengapa mengingatkan Dewi pada kenangan lama saat dulu dia di culik oleh Bapak dan juga kakak kandungnya sendiri.
"Kakak serius baik - baik saja. Wajah Kakak pucat lho?" tanya Ali.
Bagas menatap wajah calon istrinya.
"Iya Wi, wajah kamu pucat dan tubuh kamu tak berhenti bergetar" tanya Bagas khawatir.
"A.. aku teringat saat aku di culik Mas. Aku takut hal itu terjadi lagi. Aku sangat takut" akhirnya air mata Dewi jatuh juga.
Bagas menggenggam tangan Dewi.
"Kamu tenang aja, hal itu tidak akan terjadi. Aku tidak akan membiarkan Morgan melakukan hal itu. Kalau kamu takut nanti saat kamu ujian aku dan Ali akan menunggu kamu di depan kelas. Gimana?" Bagas memberi penawaran.
Dewi menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah kamu makan aja dulu biar bisa ujian. Kalau laper kan gak konsen nanti jawab soal ujiannya" ujar Bagas.
Walau berat tapi Dewi mencoba menelan makanan yang tadi mereka pesan.
"Aku juga akan ikut Mas Bagas Kak selama liburan. Kami berdua akan menjaga Kakak jadi kakak gak perlu takut. Bila perlu kita lapor aja kejadian ini sama Bapak biar dia siapin orang orangnya untuk jagain Kak Dewi" sambut Ali.
"Gak usah Al, cukup kita aja bisa kok jagain Dewi. Aku rasa Morgan hanya ingin menakut-nakutiku. Sejauh ini aku dan Morgan tidak pernah ada konflik secara langsung. Dia hanya selalu membayang - bayangi langkahku kemana saja. Baik urusan binis ataupun wanita" ungkap Bagas.
"Baiklah Mas kalau begitu. Aku jadi sedikit lebih lega" ujar Ali.
"Yang penting kita harus selalu waspada" jawab Bagas.
Siang itu Bagas dan Ali menemani Dewi makan kemudian mengantarkan Dewi sampai kekelasnya sampai Dewi selesai ujian. Hal itu membuat Dewi sedikit berasa lega, walaupun begitu dia belum bisa sepenuhnya mengusir rasa trauma setelah kejadian penculikannya dulu.
Dewi memang masih merasa sangat takut tapi dia berusaha melawan rasa takut dalam hatinya. Dewi menarik nafas sangat dalam dan berdoa semoga hal yang buruk tidak terjadi lagi kepada dirinya dan calon suaminya.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1