
"Mmm... anu.. Bu.. Umur saja baru delapan belas ta.. hun.. " jawab Dewi gugup.
"Apa????" tanya Pak Raksajaya dan istrinya bersamaan.
"Kamu gak salah Gas? Dia masih kecil sekali lho?" tanya Pak Raksajaya kepada putrinya.
"Aku gak salah Pa, dia memang berumur delapan belas tahun. Masih kecil kalau mengikuti usia pernikahan zaman sekarang. Kalau usia zaman dulu banyak kok Pa yang udah menikah di usia segitu" jawab Bagas.
Dewi menunduk malu.
"Kamu sudah tampat SMU sayang?" tanya Bu Raksajaya.
Dewi menganggukkan kepalanya.
"Sudah Bu" jawab Dewi.
"Sudah kuliah? Dimana?" selidik Bu Raksajaya.
"Sudah Bu tingkat satu. Saya kuliah di Universitas XXX Bandung" jawab Dewi.
"Lho itu kan Universitasnya sepupu kamu Bharata kan Gas?" tanya Pak Raksajaya.
"Iya Pa" jawab Bagas.
"Sudah lama kenal Bagas?" tanya Pak Raksajaya
"Sudah sekitar satu tahun Pak" jawab Dewi.
"Sejak kapan menjalin hubungan dengan Bagas?" tanya Mama Bagas.
Dewi menatap Bagas.
"Dewi gak mau aku ajak pacaran Pa, dia maunya nanti langsung nikah aja kalau Dewi sudah siap" jawab Bagas.
"Lho jadi Dewi belum siap nikah toh jadi mengapa kamu sebut Dewi sebagai calon istri kamu Gas?" tanya Pak Raksajaya.
Dewi kembali menundukkan wajahnya.
"Aku mencintai Dewi Pa dan dia juga sama tapi Dewi gak mau pacaran katanya lebih banyak dosanya jadi saat ini kami masih dalam tahap persiapan pernikahan dan perkenalan keluarga. Aku sudah kenal dengan keluarga Dewi jauh sebelum aku mencintai Dewi. Sekarang giliran Dewi yang berkanalan dengan Papa dan Mama" ungkap Bagas.
"Jadi keluarga kamu mengetahui hubungan kamu dengan Bagas?" tanya Bu Raksajaya.
"Iya Bu" jawab Dewi.
__ADS_1
"Dan mereka menyetujuinya?" tanya Bu Raksajaya lagi
Dewi mengangukkan kepalanya.
"Mengizinkan kamu menikah?" tanya Bu Raksajaya terkejut.
"Kalau saya sudah siap Ibu memberi izin menikah Bu, dari pada pacaran kata Ibu banyak dosanya, apalagi pacaran anak zaman sekarang sudah suka kehidupan bebas" jelas Dewi.
Benar juga kata gadis ini, buktinya Bagas putra kami sudah terjerumus dalam kehidupan bebas. Batin Pak Raksajaya.
"Kamu sudah tau kalau dulu Bagas juga sudah terjerumus kehidupan bebas?" selidik Pak Raksajaya.
"Tau Pak" jawab Dewi.
"Kamu bisa menerimanya?" tanya Bu Raksajaya tak percaya.
"Semuakan hanya masa lalu Bu, asalkan Mas Bagas benar - benar mau berubah dan tidak akan kembali ke kehidupannya yang dulu kenapa tidak. Allah saja mau memaafkan hambanya yang banyak dosa, mengapa kita sebagai manusia yang juga punya banyak khilaf tidak bisa memafkan kesalahan orang lain" jawab Dewi bijak.
Bagas tersenyum puas dengan jawaban Dewi.
Aku padamu Wi.. kamulah Dewi pahlawan hidupku. Teriak Bagas dalam hati.
Tampak Pak Raksajaya manggut - manggut.
"Tapi kalau saya dan Mas Bagas berjodoh sebelum menikah saya ingin Mas Bagas dalam keadaan bersih dan sehat lahir dan bathin" sambung Dewi.
"InsyaAllah aku sehat Wi, selama ini aku selalu main aman" jawab Bagas cepat.
Bu Raksajaya langsung memukul baju Bagas.
"Aaaaww... sakit Ma" pekik Bagas.
"Ada ya orang bangga dengan masa lalunya" sindir Mama Bagas.
"Bukan bangga Ma, aku hanya jujur dan tidak mau menutupi masa laluku. Bukan berniat untuk membanggakan diri Ma" bela Bagas.
"Jadi apa yang membuat kamu belum siap untuk menikah? Apa karena usia kamu?" tanya Pak Raksajaya.
Dewi menggelengkan kepalanya dan menatap kearah Bagas.
"Pa.. Ma.. karena aku dan Dewi sudah berniat serius aku akan mengatakan yang sebenarnya. Bapak dan Ibu Dewi berpisah beberapa bulan yang lalu karena selama ini Bapaknya suka memukuli Ibunya. Ibu Dewi bersama Dewi dan Adiknya pindah ke Bandung. Ibunya membuka mengelola Cafe milik Bintang di sana, Dewi dan Adiknya juga pindah sekolah ke sana. Sampai sebulan yang lalu Dewi di culik oleh Bapaknya yang merupakan buronan polisi karena kasus penculikan anak Bintang beberapa bulan yang lalu. Pada saat penyelamatan Dewi kemarin Bapak Dewi meninggal tertembak polisi" jawab Bagas.
Jadi kamu anak dari buronan yang sudah menculik cucunya Pak Bambang Prakasa?" tanya Pak Reksaja tak percaya. Dia sungguh terkejut mendengarkan penjelasan Bagas barusan.
__ADS_1
Dewi menganggukkan kepalanya lalu menunduk kebawah.
"Gas kamu yakin dengan keputusan kamu?" tanya Pak Raksajaya.
Bagas mengangguk yakin.
"Aku sangat yakin Pa, setelah bertemu dengan Dewi aku sekarang berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi Pa. Aku berjanji tidak akan menjalani kehidupanku yang dulu. Aku ingin berubah dan serius menjalani hidup. Dan aku akan menjalaninya bersama Dewi Pa" tegas Bagas.
Pak Reksajaya menatap wajah putra tunggal mereka. Tampaknya memang Bagas benar - benar serius kali ini. Sejak pertama Bagas datang tadi dengan membawa Dewi bersamanya Pak Reksajaya sudah mengerti kalau Bagas memang serius.
Bu Reksajaya melirik ke arah suaminya.
"Kalau begitu kita kembali pada pertanyaan Bapak tadi. Apa yang membuat kamu belum siap untuk menikah?" tanya Bu Reksajaya lembut.
"Aku masih trauma dengan pernikahan Bu. Karena Ibuku dulu selalu menjalani rumah tangga dengan kepedihan. Dia selalu mendapatkan perlakuan kasar dari Bapak sehingga aku takut untuk menikah" jawab Dewi jujur.
"Tapi aku sayang Mas Bagas hanya saja... hanya saja.. aku.. aku... " sambung Dewi, air matanya mulai mengalir.
Bu Reksajaya tak tega melihat Dewi menangis seperti itu. Dia mengelus lembut tangan Dewi.
"Sudah.. sudah.. kamu jangan menangis ya.. Ibu mengerti kok apa yang kamu takutkan. Tidak semua pernikahan akan berakhir sama dengan nasib pernikahan orang tua kamu. Contohnya pernikahan Bapak dan Ibu, juga banyak pasangan suami istri diluar sana yang tidak mengalami hal yang sama seperti yang Ibu kamu jalani" nasehat Mamanya Bagas.
Dewi menghapus air matanya dan berhenti menangis.
"Kamu gadis baik, sederhana, walaupun usia kamu masih muda tapi cara berpikir kamu sudah sangat dewasa. Bapak salut dengan keberanian kamu untuk menerima Bagas sebagai calon pria masa depan kamu" sambut Pak Reksajaya.
"Kalau begitu silahkan kalian saling mengenal lebih jauh lagi dan belajar bagaimana rumah tangga yang baik. Di depan kalian banyak sekali contoh rumah tangga yang bisa kalian jadikan pedoman dan panutan untuk masa depan kalian. Tinggal kalian tentukan pernikahan yang bagaimana nanti yang akan kalian jalani" nasehat Pak Reksajaya.
"Jadi gimana Pa?" tanya Bagas penasaran.
"Bagaimana apanya Gas?" Pak Reksajaya balik bertanya karena bingung.
"Apakah Papa dan Mama menyetujui hubungan kami? Apakah Papa dan Mama bisa menerima wanita pilihanku yang kelak akan aku nikahi?" tanya Bagas.
Pak Reksajaya dan istrinya saling pandang. Sejenak suasana menjadi hening. Bagas dan Dewi menunggu jawaban orang tua Bagas dengan jantung yang tak berhenti berdetak kencang.
Pak Reksajaya menarik nafas panjang lalu berkata..
"Pada dasarnya Papa dan Mama merestui niat suci kalian tapi.... "
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG