Tiara

Tiara
Pengganggu


__ADS_3

"Kamu mau juga Wi?" tanya Bagas.


Dia tak mau kalah dengan pasangan tua yang ada di hadapannya.


"Gak usah Mas, ini saja sudah cukup" jawab Dewi.


"Tapi Wi... " ucap Bagas.


"Maaaaas jangan iri dengan apa yang orang lain dapatkan karena kalau kita selalu melihat ke atas kita tidak akan pernah merasa puas dan kita juga lupa bersyukur. Aku tidak mau hidup seperti itu Mas. Iri dengan apa yang orang lain dapatkan. Aku ingin ikhlas menerima apapun yang aku punya dan bersyukur atas apa yang sudah aku miliki. Ini saja sudah cukup Mas" Potong Dewi.


"Kamu jangan sungkan Wi, aku bisa membelikannya untuk kamu" balas Bagas.


"Aku tau Mas, aku sangat tau Mas mampu. Bahkan kalau aku meminta semua perhiasan yang ada di toko ini aku rasa Mas mampu untuk membelinya tapi bukan itu yang aku mau. Aku takut aku akan menjadi wanita rakus dan lupa diri. Tolong jangan berikan aku sesuatu hal yang terlalu berlebihan" pinta Dewi.


Bagas tersenyum sambil menatap wanitanya.


"Kamu memang wanita yang spesial Wi, di luar sana beribu wanita yang akan menerima jika aku menawarkan akan memberikan perhiasan untuk mereka tapi kamu berbeda. Kamu malah menolaknya dan merasa cukup hanya aku belikan cincin pernikahan saja" puji Bagas.


"Bagiku kamu saja sudah cukup Mas, yang lain tidak wajib. Kapan - kapan kan bisa gak harus sekarang" balas Dewi


"Baiklah, tapi nanti saat aku membelikan kamu sesuatu jangan di tolak ya" pinta Bagas.


"Asal bermanfaat dan tidak berlebihan ya Mas" sambut Dewi.


"Iya.. akan aku ingat permintaan kamu" tegas Bagas sambil tersenyum.


Mereka kembali menatap dua orang tua yang sedang larut dalam romantisme percintaan mereka.


"Sudah selesai Pak?" tanya Bagas.


"Sudah.. Kalian cuma beli cincin nikah saja?" tanya Pak Wijaya.


"Iya Pak, Dewi nolak saat saya tawarkan yang lain" jawab Bagas.


"Dewi itu masih remaja Gas, baru delapan belas tahun. Biasanya gadis seumuran itu belum mengerti dan belum butuh perhiasan. Nanti saat kalian sudah menikah dan seiring berjalannya waktu pasti dia mulai menyukainya hanya tinggal menunggu waktu karena sejatinya semua wanita itu menyukai perhiasan" nasehat Pak Wijaya.


"Iya Pak, akan saya ingat itu" balas Bagas.


"Kemana nih kita setelah ini?" tanya Pak Wijaya

__ADS_1


"Mas aku lapar" ujar Dewi kepada Bagas.


"Kita cari makan dulu yuk Pak" ajak Bagas.


"Boleh, ayo Sit" sambut Pak Wijaya.


Mereka berjalan menuju sebuah Restoran yang terkenal di Mall itu. Bagas memesan satu meja untuk tempat merek makan berempat.


Pelayanan mengantarkan mereka ke sebuah meja di ruang VIP dan memberikan daftar menu untuk merek baca dan pesan.


Satu persatu mereka menyebutkan pesanan mereka dan sang pelayan mencatatnya dengan baik. Setelah itu pelayan undur diri untuk mempersiapkan pesanan mereka.


Sambil menunggu makanan datang mereka berempat berbincang - bincang.


"Bagaimana nanti rencana kalian setelah menikah?" tanya Pak Wijaya.


"Saya dan Dewi belum ada membahas masalah itu Pak tapi kalau rencana saya setelah kami menikah Dewi akan saya pindahkan kuliah di Jakarta. Ketepatan pemilik yayasan tempat Dewi kuliah di Bandung adalah sepupu saya" jawab Bagas.


"Wah bagus itu jadi lebih mudah kan ngurus kepindahan Dewi" sambut Pak Wijaya.


"Kalian akan tinggal dimana?" tanya Bu Siti.


"Iya Gas, lebih baik seperti itu dulu. Dewi juga masih kuliah. Kamu gak buru - buru ingin punya momongankan?" tanya Pak Wijaya.


"Kalau ditanya pengen ya tentu pengen Pak, usia saya kan tidak muda lagi. Tapi sesiapnya Dewi aja Pak. Dewi juga masih kuliah kan, dia juga nanti akan pindah kuliah. Pasti butuh waktu untuk adaptasi. Kasihan kalau semua dia lalui secara sekaligus. Bisa - bisa Dewi repot dan stress" balas Bagas.


"Syukurlah kalau kamu mengerti keadaan Dewi" sambut Siti.


Bagas tersenyum membalas ucapan Siti.


"Bapak dan Ibu nanti gimana, kalian akan tinggal dimana?" tanya Dewi.


"Kita tinggal di Lembang ya Wi sampai waktu kamu akan menikah. Ibu sudah membicarakannya dengan Mas Jay, kita akan pindah ke rumah Mas Jay di Lembang. Kalian akan di fasilitasi mobil dan supir untuk mengantar kalian kuliah" jawab Siti.


"Aku ikut apa kata ibu saja" sambut Dewi.


Tiba - tiba datang seorang pria menghampiri Bagas dan menyapanya.


"Hai Gas ketemu lagi" ucap Pria itu.

__ADS_1


Refan melirik ke arah suara dan sangat terkejut ketika melihat Morgan ada di sana.


"Morgan?" ucap Bagas.


"Kenapa, seterkejut itukah kamu melihatku? Seperti aku ini adalah hantu?" tanya pria yang bernama Morgan.


Bagas hanya diam tak membalas ucapan Morgan. Sementara Morgan masih melirik ke arah Dewi.


"Masih dengan wanita yang sama? Tumben kamu betah? Biasanya kan kamu hanya jalan satu kali saja dengan seorang wanita?" sindir Morgan sambil tersenyum licik dan melirik ke arah Pak Wijaya dan Bu Siti.


"Jaga ucapan kamu Gan" ujar Bagas. Rahang Bagas mengeras dan tangannya mengepal karena menahan emosi.


Dewi sangat terkejut mendengar ucapan pria yang ada di dekatnya. Pria ini sepertinya pernah dia lihat tapi dimana ya? Pikiran Dewi.


Dewi baru teringat ketika dia dan Bagas pulang dari panggilan pertama polisi dalam kasus penculikannya.


Bukankah pria ini yang dia dan Bagas temui di mushala Restoran XXX saat mereka makan siang sepulang dari kantor polisi. Bagas terlihat sangat kesal dan emosi saat itu dan sekarang juga sama.


"Kenapa, kamu takut karena di sini ada orang tua? Hahaha... biar sekalian mereka tau kelakuan kamu dulu yang suka gonta ganti pacar" ujar Morgan sengaja membuat Bagas malu di hadapan calon mertuanya.


Bagas semakin emosi dan hendak berdiri menyamperin Morgan tapi Pak Wijaya menahannya.


"Ehm... maaf Nak, kalau maksud kamu ingin memberi tahu kami mengenai masa lalu Bagas kamu tidak perlu repot. Karena kami sudah tau semua. Bagas sudah jujur kepada kami tentang dirinya dulu. Kami tidak menilai seseorang dari masa lalunya tapi kami menghargai keputusannya untuk mengubah hidupnya menjadi lebih baik lagi di masa yang akan datang. Jadi apapun yang kamu katakan tentang Bagas percuma saja. Kamu buang - buang waktu" bela Pak Wijaya.


Wajah Morgan terlihat terkejut mendengar ucapan Pak Wijaya.


"Aku harap kamu bisa segera tinggalkan kami di sini, kami ingin makan dengan tenang tanpa gangguan dari siapapun. Aku menganggap kamu mengerti dari setiap perkataanku ini. Aku masih meminta kamu pergi dengan sopan. Tapi kalau kamu masih ingin mencari - cari masalah aku tidak akan tinggal diam" tegas Bagas.


"Ciiih... jangan bangga dulu bung.. kamu jadi besar kepala karena sudah di bela sama Pak Tua itu. Dia bisa berkata seperti itu karena belum lihat watak asli kamu. Lihat saja, jika mereka mengetahui kebejatan kamu dulu aku yakin kamu tidak akan bisa mengangkat kepala kamu lagi" ancam Morgan.


"Tidak ada yang akan aku rahasiakan tentang masa laluku.. sehingga tidak ada yang harus aku takutkan. Sekarang aku berkeyakinan selama aku tulus berniat untuk berubah, beribu cara Allah akan membersihkan kotoran yang akan menghadang di masa depanku" tegas Bagas.


"Hahaha.... sudah sok alim sekarang bawa - bawa nama Tuhan. Kita lihat saja nanti" ujar Morgan.


Pria itu pergi meninggalkan meja Bagas dengan calon istri dan calon mertuanya. Dewi merasa lega karena pria jahat itu sudah pergi dari hadapan mereka.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2