
Sekitar jam sebelas siang Bintang dan keluarga kecilnya sudah sampai di Apartemen Bintang di Jakarta. Tiara menggenggam tangan Tegar dan menuntunnya masuk ke lift, sedangkan Bintang membawa dua koper besar milik istri dan anaknya.
Dengan jantung yang berdebar kencang Tiara mencoba bersikap biasa saja, padahal dia sudah sangat resah sejak mereka berangkat ke Jakarta tadi pagi.
Bintang memperhatikan perubahan sikap Tiara ini. Dia melihat Tiara sedikit berkeringat dan lebih banyak diam. Apalagi saat mereka di lift, Tiara sama sekali tidak ada mengeluarkan suaranya.
Kini mereka sudah sampai di depan pintu apartemen Bintang.
"Sayang tekan tombolnya, sandinya tanggal pernikahan kita" perintah Bintang.
Tiara menekan tombol pengaman pintu apartemen Bintang.
Tit.. tit.. tit.. tit.... tiiiiiiiit.. ceklek...
Pintu terbuka dan mereka masuk, Tiara memperhatikan letak dan isi apartemen Bintang. Persis sama seperti lima tahun yang lalu saat dia masuk ke dalam apartemen ini.
Ingatannya tentang malam itu terbayang lagi dan berputar di kepalanya. Wajah Tiara terlihat semakin berkeringat. Bintang langsung mengaktifkan pendingin ruangan.
Bintang meletakkan koper di dekat sofa dan menuntut istri dan anaknya ke dalam kamar.
"Sayang ini kamar kamu ya.. Beranikan tidur sendiri?" tanya Bintang kepada Tegar.
"Berani Pa, waaah kamarku bagus ya" Jawab Tegar.
Sebelumnya memang Bintang sudah merenovasi kamar itu menjadi kamar anak laki-laki. Dia mengganti semua isi kamar itu dan disesuaikan dengan pernak pernik anak laki-laki.
Mulai dari wallpaper, tempat tidur, meja belajar dan beberapa mainan untuk Tegar. Tegar sangat senang sekali melihat isi kamarnya.
Tiara tersenyum menatap putranya.
"Ini rumah kita sekarang sayang" ujar Tiara.
"Iya Ma" jawab Tegar.
"Nah kamu main dulu ya, Papa mau tunjukkan kamar Papa Mama dulu ya sama Mama kamu" ucap Bintang.
"Iya Pa" balas Tegar.
Bintang menggenggam tangan Tiara dan mengajaknya kekamar mereka.
__ADS_1
"Tangan kamu berkeringat sayang" Bintang juga melihat kening Tiara juga berkeringat.
"Tubuh kamu juga berkeringat, kamu kenapa? Kamu saki?" tanya Bintang khawatir.
Tiara menggelengkan kepalanya.
Sampai lah mereka di dalam kamar Bintang. Tiara melihat isi kamar mereka masih tetap sama dengan lima tahun yang lalu.
"Untuk kamar kita aku memang sengaja tidak merubahnya. Takut kalau kamu tidak suka. Lebih baik kita ganti bersama, gimana kamu setuju?" tanya Bintang.
"Iya Mas" jawab Tiara pelan.
"Hey sayaaang.. sepertinya kamu tidak bersemangat?" Bintang melihat Tiara duduk di atas sofa dengan lemas.
"Kamu kenapa? Ada yang sedang kamu fikirkan? Cerita padaku" pinta Bintang.
Bintang duduk di sebelah Tiara.
"Aa.. aku teringat kejadian malam itu Mas dan.. dan.. aku takut" ungkap Tiara akhirnya.
"Apa yang kamu takutkan? Semua ini juga milik kamu sekarang sayaaang. Kamu kan istri aku dan kita sudah menikah" hibur Bintang.
Bintang sangat terkejut melihat sikap istrinya. Dia langsung memeluk tubuh istrinya yang memang terlihat sedang ketakutan. Bajunya basah karena keringat.
"Sudah.. sudah.. kalau begitu kita ganti semua isi kamar ini. Kamar ini langsung kita renovasi saja sesuai keinginan ini. Biar malam ini kita menginap di hotel saja. Besok setelah selesai semuanya baru kita kembali ke apartemen ini. Kamu mau?" tanya Bintang.
Tiara menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah kalau begitu aku hubungi dulu pengelola apartemen dan meminta mereka untuk segera merenovasi kamar kita" ujar Bintang.
Bintang segera meraih ponselnya dan menghubungi pengelola apartemen. Dia mengutarakan keinginannya untuk merenovasi kamarnya juga ruang tamunya yang membuat Tiara teringat pada kejadian lima tahun yang lalu.
Bintang meminta semua selesai paling lama besok sore. Dia juga meminta beberapa gambar perabotan yang akan mengisi apartemennya nanti. Agar Tiara bisa memilih sesuai dengan seleranya.
Apapun akan dia lakukan demi istrinya dan demi keluarga kecilnya.
"Sudah yank, sebentar lagi mereka akan mengirimkan kepada kita beberapa gambar perabotan dan wallpapernya. Nanti kamu bisa pilih sendiri. Kalau begitu yuk kita keluar dari apartemen ini dan cari Hotel yang tidak jauh dari sini. Yuk kita ke kamar Tegar dan ajak dia pergi" perintah Bintang.
Bintang bangkit dari duduknya dan menarik Tiara keluar dari kamar mereka berjalan ke kamar Tegar.
__ADS_1
"Sayang kita malam ini nginap di hotel aja yuk" ajak Bintang.
"Lho kenapa Pa?" tanya Tegar bingung.
"Kamar Papa dan Mama belum selesai di renovasi. Besok sore baru kita kembali lagi ke sini" jawab Bintang.
"Oooh, baiklah.. " Tegar meraih tas ranselnya yang selalu dia bawa kemana-mana saat berpergian.
Bintang bergegas membawa koper yang dia bawa tadi dan kembali membawanya masuk ke dalam bagasi mobilnya. Mereka langsung mencari hotel yang terdekat dengan apartementnya dan menikmati makan siang di Restoran hotel sebelum naik ke kamar mereka.
Tegar terlihat sangat bersemangat makan siangnya.
"Anak Papa laper ya?" Bintang mengacak rambut Tegar.
"Iya Pa, aku udah laper banget" jawab Tegar.
Bintang melirik ke arah istrinya, kelihatannya semangat Tiara belum kembali. Tiara terlihat melamun dan hanya mengaduk - aduk isi piringnya.
"Sayang.. " Bintang menyenggol lengan Tiara.
"Haa... eh iya Mas, ada apa?" tanya Tiara terkejut.
"Kok malah melamun, makan donk" bujuk Bintang.
"I.. iya Mas" jawab Tiara. Baru Tiara mulai makan.
"Maaf ya sayang, aku tidak pernah memikirkan perasaan kamu dan mengingatkan kamu atas kejadian dulu" ucap Bintang.
"Tidak apa - apa Mas. Mas gak salah kok, aku saja yang tidak bisa melupakan kejadian yang sudah lampau" jawab Tiara.
"Itu wajar sayang, mungkin itu adalah mimpi buruk dalam hidup kamu. Karena kamu tidak pernah membayangkan hal itu akan terjadi pada kamu. Dan kejadian itulah asal mula semua penderitaan kamu selama lima tahun ini. Tapi maaf.. maaf kalau kamu mendengar kata - kata ini dari mulutku. Aku bersyukur malam itu bertemu dengan kamu. Kalau saja itu tidak terjadi tentu aku tidak akan pernah bisa bertemu dengan kamu. Aku tidak akan pernah merasakan kebahagian seperti ini, memiliki kamu dan anak kita. Memiliki rumah tangga yang sempurna. Semua bagaikan mimpi bagiku " Bintang menarik tangan Tiara dan menggenggamnya setelah itu dia mencium mesra tangan Tiara. Mencoba untuk menghibur perasaan galau Tiara saat ini.
Bintang sangat mengerti, Tiara pasti mengalami trauma terhadap kejadian lima tahun lalu. Bintang masih ingat hasil rekaman video, bagaimana sedihnya Tiara saat itu. Sambil menangis Tiara keluar dari kamar dan apartemennya. Mungkin saat - saat itu adalah saat terburuk dalam hidup Tiara
"Maaf sayaang... "
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG