Tiara

Tiara
Rencana masa depan


__ADS_3

"Huuh... sok suci, ternyata kamu sama munafiknya seperti kakak kamu. Bersembunyi di balik jilbab. Wajah sok polos dan sok suci kelakuan gak jauh beda dengan wanita jalan*" ucap seorang wanita yang menghampiri meja Bagas dan Dewi.


Bagas yang mendengar dan melihat siapa wanita itu langsung berdiri.


"Jaga mulut kamu Siska. Jangan pernah sekalipun kamu berkata seperti itu pada istriku. Atau aku akan bertindak kasar kepada kamu" bentak Bagas marah.


Siska tampak terkejut melihat ke arah Bagas.


"Istri? Bukannya pernikahan kalian belum terjadi?" tanya Siska tak percaya.


"Hahaha.. kenapa kamu terkejut? Kamu dan Morgan punya rencana lain kan? Aku melihat kalian kemarin di Badung. Untuk menghentikan rencana busuk kalian akhirnya aku memutuskan untuk mempercepat pernikahanku dengan Dewi. Saat ini Dewi sudah resmi menjadi istriku dan tidak ada lagi yang bisa menghalanginya. Aku malah berterimakasih kepada kamu khususnya kepada Morgan. Berkat kalian aku jadi lebih cepat menikahi Dewi diluar rencana keluarga kami sebelumnya" tegas Bagas.


Siska tampak sangat terkejut mendengar kabar berita yang telah Bagas ucapkan.


Sial rencana aku mendekati Bintang gagal dan rencana Morgan merebut wanita ini juga gagal. Umpat Siska dalam hati.


"Jadi benar kalian sudah menikah?" tanya Siska untuk lebih yakin.


"Nih lihat cincin pernikahan kami. Makanya aku sudah bebas berbuat apapun dengan istriku. Istriku wanita terhormat tidak seperti kamu. Aku sangat menghargainya sebagai seorang wanita. Aku tidak akan menyentuhnya sembarangan bukan seperti kamu dan wanita - wanita murahan lainnya di luar sana. Jadi jangan pernah kamu menyebutnya wanita jalan* karena kamu sendirilah wanita jalan* itu. Wanita yang suka tidur pada pria manapun yang bisa membuat kamu puas dan bisa memberikan apapun yang kamu mau. Tapi itu hanya kebahagiaan semu dan sesaat. Suatu saat kamu akan menyesali semuanya Siska seperti aku dulu. Berubahlah sebelum semuanya terlambat" ujar Bagas.


Wajah Siska tampak merah karena malu mendengar semua perkataan Bagas.


"Sialan kamu Bagas" ucap Siska.


Siska segera meninggalkan Bagas dan Dewi berdua di Restoran itu kemudian dia melangkah pergi menjauh dan keluar dari Restoran tersebut.


"Mas apakah wanita itu marah?" tanya Dewi takut.


"Aku tidak perduli dia marah atau tidak sayang. Harusnya kamu yang marah karena dia sudah berkata kasar seperti itu. Lain kalau kalau dia bicara yang tidak - tidak kepada kamu lawan saja. Aku akan selalu ada mendukung kamu. Jangan takut, kamu harus bisa memperjuangkan apa yang telah kamu miliki. Kita sudah menikah, aku sudah menjadi milik kamu begitu juga sebaliknya. Kedepan mungkin bukan hanya Siska yang akan kamu temui seperti ini. Bisa saja para wanita - wanita yang dulu pernah dekat denganku. Aku tidak mau mereka menyakiti kamu sayang. Lawan saja, masalah yang lain biar Mas yang selesaikan" tegas Bagas.


Dewi tersenyum senang mendengar perkataan Bagas. Sejujurnya dia tadi memang ingin melawan tapi keburu Bagas sudah lebih dulu melawan Siska. Dewi sudah berjanji pada dirinya sendiri tidak akan lemah seperti kakaknya Ara. Sehingga beberapa kali wanita sialan tadi sempat hampir merusak rumah tangga kakaknya.

__ADS_1


Sejak menikah dengan Bagas Dewi sudah berjanji akan memperjuangkan apa yang telah dia miliki. Apalagi Bagas tadi sudah memberikan dukungan dan kebebasan untuknya membuat Dewi semakin bersemangat.


"Iya Mas. Lihat saja, istri kamu ini sangat bisa untuk diandalkan" Dewi berkata dengan mata berbinar penuh semangat.


Bagas tersenyum melihat semangat Dewi. Bagas tau istrinya ini memang tidak selembut Kakaknya Tiara tapi justru itu yang membuat Bagas sangat tertarik dengan Dewi. Dewi pasti kuat untuk menghadapi para mantan - mantannya terdahulu.


Sehingga Bagas tidak perlu takut Dewi akan terbawa suasana setiap kali ada wanita yang mencoba mengganggunya. Bagas hanya perlu memberikan sedikit semangat kepada Dewi agar dia lebih percaya diri.


Kamulah wanita satu - satunya yang aku cintai Wi. Sampai kapanpun aku akan tetap memperjuangkan kamu. Aku tidak akan terbujuk lagi dengan rayuan para wanita lain di luar sana. Percayalah... batin Bagas.


"Ayo sayang sekarang kita pesan makan malam kita, setelah itu baru kita nonton midnight malam ini" ujar Bagas.


"Terimakasih Mas.. " sambut Dewi senang dan memeluk lengan Bagas.


Pelayan mencatat semua pesanan Dewi dan Bagas untuk makan malam mereka malam ini. Tak lama kemudian makanan yang mereka pesan sudah sampai dan mereka langsung menikmati makan malam itu berdua.


Sesekali mereka bercanda dan berbincang - bincang ringan tentang masa depan rumah tangga mereka.


"Yank, nanti kamu mau anak berapa?" tanya Bagas.


"Yank.. usiaku sudah tiga puluh satu tahun. Kamu tolong donk pikirin hari tua kita nanti. Masak saat aku sudah tua, anak - anakku masih kecil - kecil yank. Lagian saat ini kan masa produktifku. Biarlah kita punya anak sekarang agar aku bisa bekerja keras untuk mencukupi semua kebutuhan kalian. Kamu dan juga anak - anakku. Aku ingin segera menyusun rencana masa depan. Membangun rumah untuk kamu dan anak - anak kita. Membuat tabungan pendidikan untuk mereka kelak. Jadi saat aku nanti sudah tua, kita tidak kesulitan lagi untuk memikirkan biaya pendidikan mereka. Terserah kemana mereka mau sekolah. Keujung dunia sekalipun akan aku dukung asal demi untuk kebaikan dan masa depan mereka. Aku harap kamu mau mengerti kondisiku saat ini yank" ucap Bagas memelas.


Dewi mengerti kegelisahan yang Bagas rasakan setiap membicarakan tentang umur dan anak. Beda usia mereka yang cukup jauh membuat Bagas sering membujuk Dewi untuk segera mendapatkan momongan.


"Lantas gimana nanti kuliahku Mas?" tanya Dewi masih belum yakin untuk mengambil sebuah keputusan.


"Kamu kan kuliah di kampus sepupuku. Nanti kalau kamu hamil kita bisa mengurus cuti kuliah kamu. Sebenarnya kalau kamu tidak mau kuliah lagi pun aku tidak keberatan sayang. Kamu kuliah juga untuk apa? Mau kerja? untuk apa kamu kerja lagi setelah tamat kuliah? Aku bisa mencukupi semua yang kamu mau" jawab Bagas.


"Aku tau Mas punya segalanya. Tapi aku butuh ilmu pengetahuan agar kelak aku bisa menjadi guru anak - anak kita di rumah. Kalau aku punya ilmu yang cukup, wawasan yang luas anak - anak kita pasti bisa menjadi anak - anak yang pintar Mas" ujar Dewi.


Mendengar jawaban Dewi Bagas sangat terkejut. Bagas tidak menyangka Dewi mempunyai pemikiran yang lain tentang tujuan dia kuliah. Bagas juga tidak mengangkat Dewi sudah semakin dewasa dalam hal memikirkan masa depan mereka.

__ADS_1


"Kalau itu tujuan kamu, kuliah lah sayang.. Mas setuju dan mendukung kamu. Carilah ilmu dan wawasan yang luas untuk bekal kamu mendidik anak - anak kita nanti. Tapi please... kabulkanlah permintaan untuk mempunyai anak. Satu aja dulu setelah itu kita bisa pikirkan adik - adiknya selanjutnya setelah kamu selesai kuliah... " bujuk Bagas sambil memohon.


Menurut Bagas ini adalah hal penting untuk masa depan rumah tangga mereka. Bagas takut dengan usia Dewi yang masih muda pasti akan banyak pria yang melirik kepadanya. Bagas tidak mau kehilangan Dewi, kehilangan cinta dan masa depannya.


Dewi menarik nafas panjang..


"Baiklah Mas aku mau" jawab Dewi.


"Alhamdulillah... terimakasih sayang.. Terimakasih.. kamu memang istriku yang puaaaaaling cantik dan baik sejagat raya" puji Bagas.


Bagas langsung memelul Dewi dan mencium kening Dewi. Hampir saja Bagas mencium bibir Dewi kalau saja Dewi tidak mencubit pinggangnya.


"Aaaaww... sakit yank" teriak Bagas.


"Disini rame Mas, di rumah aja nanti pacarannya" ujar Dewi.


Bagas langsung tersenyum bersemangat.


"Aseeeeek... janji ya yank. Di rumah nanti kita pacaran lagi. Kamu pakai baju yang kita beli tadi" sambut Bagas senang.


"Pakai yang paling sexy" bisik Bagas lagi.


Sontak wajah Dewi memanas dan berwarna merah karena malu. Membuat Bagas semakin gemas melihatnya.


.


.


BERSAMBUNG


Hai readers setia novel saya.. Dukung terus novel ini ya agar saya lebih semangat.

__ADS_1


Jangan lupa berikan like, koment, vote dan hadiah kalian.


Terimakasih


__ADS_2