
Hari minggu pagi mereka masih berada di perkebunan teh Pak Wijaya. Bintang sedang menemani Tiara berjalan menyusuri perkebunan teh menikmati udara pagi yang bersih dan sejuk.
"Yank nanti kalau kita sudah tua seperti Ibu dan Bapak kita pindah ke tempat seperti ini ya.. Biar perusahaan Tegar yang kelola. Aku mau menikmati hari tua dan hidup dengan tenang berdua dengan kamu di tempat yang seperti ini" ujar Bintang sambil menggenggam erat tangan istrinya.
Tiara tersenyum manis mendengar perkataan suaminya.
"Kamu jatuh cinta pada tempat ini Mas?" tanya Tiara
"Iya sayang, tapi aku lebih jatuh cinta pada kamu" Bintang memeluk Tiara dari belakang.
"Makasih Mas kamu sudah sangat menyayangiku" ujar Tiara.
"Aku yang lebih berterima kasih kamu mau hidup bersama denganku" balas Bintang.
Mereka kembali berjalan, kali ini Bintang merangkaul bahu Tiara sedangkan Tiara memeluk pinggang Bintang dari samping.
"Mas gimana menurut Mas hubungan Dewi dengan Bagas? Aku kok kasihan lihat Mas Bagas patah hati gitu Mas" ujar Tiara sambil melangkah perlahan.
"Biarin aja yank biar dia kena batunya. Dulu waktu aku patah hati karena putus dengan Siska dia yang paling kencang mengetawaiku. Sekarang biar dia rasain gimana rasanya patah hati" sambut Bintang.
"Ih kamu ternyata pendendam ya" protes Tiara.
"Bukan pendendam yank aku hanya ingin beri dia pelajaran bahwa segala sesuatunya ada timbal baliknya. Aku dulu sudah setia mencintai Siska dengan tulus eh malah di khianati tapi aku bangun dan berusaha bangkit. Setelah aku berhasil melalui semua cobaan akhirnya aku mendapatkan kamu yang jauh lebih baik segalanya dari Siska. Begitu juga Bagas, dulu dia terlalu banyak mempermainkan perasaan wanita kini baru dia sadari bagaimana rasanya patah hati. Kalau dia sabar menjalaninya pasti akan indah pada waktu yank. Kita harus bisa ambil hikmah dari setiap peristiwa " ungkap Bintang.
"Aku akan coba nanti bicara sama Dewi Mas" ucap Tiara
"Jangan terlalu dipaksakan yank, Dewi itu masih muda. Mungkin dia masih mau bebas. Masih belum mau terlalu cepat terikat dalam hubungan pernikahan. Atau mungkin dia merasa kali si Bagas udah ketuaan untuk dia" Bintang tersenyum nakal setiap mengingat Bagas patah hati. Entah mengapa Bintang merasa terhibur dan merasa lucu membayangkan wajah Bagas.
__ADS_1
Sebenarnya Bintang bukan tipe teman yang senang melihat penderitaan temannya tapi karena sebelumnya Bagas itu orang yang penuh percaya diri dalam hal mendekati wanita kini tiba - tiba bisa mati kutu dan salah langkah menghadapi Dewi. Bintang merasa lucu melihat wajah Bagas yang terlibat sedih.
Jahat gak ya bersikap seperti itu kepada Bagas? Untuk saat ini Bintang masih ingin menikmati wajah putus asanya Bagas. Entah nanti kedepannya dia sudah puas baru mungkin mencoba untuk membantu sahabatnya itu.
"Yank kamu sudah capek jalannya?" tanya Bintang kepada istrinya.
"Lumayan Mas, yuk balik" ajak Tiara.
"Ya sudah kita balik yuk. Nanti kamu kecapean lagi, nanti sore kita juga harus balik ke Bandung. Kamu harus banyak istirahat. Apalagi belakangan ini terlalu banyak beban pikiran yang kamu alami setelah peristiwa pelarian Pak Tarjo, penculikan Dewi sampai akhirnya tewasnya Pak Tarjo di tangan polisi" ungkap Bintang.
"Iya Mas, tapi aku yakin putri kita ini anak yang kuat dan pemberani. Kerasa bedanya Mas, dulu waktu hamil Tegar setiap aku mempunyai beban pikiran aku akan mengalami pendarahan. Bahkan aku pernah pingsan" ujar Tiara.
"Mungkin karena saat itu kamu menjalaninya sendiri yank. Maaf kalau dulu kamu harus menjalani semuanya sendiri" sambut Bintang.
"Bukan salah kamu Mas, dulu memang aku yang mengambil keputusan seperti itu. Padahal Ibu, Ridho dan Mbak Dian sudah berulang kali mengingatkan aku untuk memberitahu kamu tapi aku tetap kekeh memilih menjalaninya sendiri. Aku tidak ingin mengusik hidup kamu"
"Haaaaah.... aku tidak pernah membayangkan sekarang aku bisa sebahagia ini hidup bersama kamu, bersama anak - anak kita" sambung Tiara.
"Terlebih aku sayang, aku benar - benar mendapatkan banyak mukjizat dalam hidup ini. Mengetahui bahwa Tegar adalah putraku, menikahi kamu, berdamai dengan orang tuaku dan sekarang kita semua bisa berkumpul dengan keluarga kita secara lengkap utuh dan bahagia" ungkap Bintang.
"Aku juga Mas gak menyangka kini hidupku utuh, ada kamu, anak - anak, Ibu, adik - adik, mertua yang baik seperti Papa dan Mama kamu dan terakhir yang paling hebat ternyata aku masih punya seorang Bapak yang hebat seperti Pak Wijaya. Sama sekali tak pernah aku bayangkan dan impikan bahwa aku masih bisa merasakan kesempurnaan hidup. Rasanya malu kalau tidak pandai bersyukur kepada Allah karena DIA sudah memberikan aku banyak keajaiban dalam hidup ini" Tiara meneteskan air matanya.
"Tuh kan nangis lagi" ledek Bintang.
"Ini tangis kebahagiaan Mas. Tak semua arti tangisan itu kepedihan dan kesedihan. Terkadang rasa bahagia yang di iringi rasa syukur juga akan meneteskan air mata" ungkap Tiara.
Bintang menahan wajah Tiara kemudian menangkap wajahnya dengan kedua tangan Bintang. Setelah itu Bintang mendekat dan mengecup lembut kening Tiara.
__ADS_1
Bintang dan Tiara kembali berjalan sambil bergandengan tangan menuju rumah Pak Wijaya. Sementara di teras belakang rumah Pak Wijaya Siti sedang menemani putrinya duduk berdua. Sudah seminggu ini Dewi memilih lebih banyak diam dan menyendiri.
"Wi... ada sesuatu yang ingin Ibu tanyakan kepada kamu" ujar Siti.
Dewi melirik ke arah Ibunya.
"Ibu mau tanya apa?" Dewi bali bertanya.
"Mengenai Bagas" jawab Siti.
Dewi terlihat sangat berat menarik nafasnya seperti ada beban besar yang menghimpit dadanya.
"Nak Bagas sudah cerita semuanya pada Ibu saat kamu pulang ke rumah sambil menangis seminggu yang lalu. Awalnya Bintang Kakak Ipar kamu sangat marah kepada Bagas" cerita Siti.
Dewi kembali menatap Siti menunggunya untuk melanjutkan pembicaraan.
"Dia mengira Bagas sudah melakukan sesuatu hal yang buruk kepada kamu, mengingat latar belakang Bagas yang suka bermain wanita. Tapi ternyata tidak" Siti menarik nafas panjang.
"Sebenarnya sudah lama Ibu tau perasaan Bagas kepada kamu, mungkin sekitar sebulan yang lalu saat kita masih tinggal di rumah Mas Wijaya. Saat itu Mas Wijaya mengatakan kepada Ibu kalau Bagas menyukai kamu. Awalnya Ibu tidak percaya mengingat usia kalian sangat terpaut jauh. Apalagi Bagas selama ini punya banyak pacar, tak mungkin rasanya dia bisa jatuh cinta kepada gadis seperti kamu, putri Ibu. Mas Wijaya mengatakan kepada Ibu untuk melihat saja dulu apa yang sedang terjadi diantara kalian. Ibu perhatian sikap Nak Bagas perlahan - lahan dari hari ke hari, bagaimana perhatiannya kepada kamu. Bagaimana sikapnya kepada kamu dan bagaimana dia sabar menghadapi kamu. Sampai pada saat kamu di culik dia yang pertama kali mengetahui kalau kamu di culik. Dia yang sibuk mencari tau keberadaan kamu dari laptop dan handphone kamu. Kamu tau ternyata diam - diam dia sudah memasang GPS di laptop dan handphone kamu. Dari situlah kami bisa mengetahui dimana keberadaan kamu. Dia langsung berangkat dari Jakarta menuju Bandung tanpa sempat memikirkan hal lain. Yang terpenting kamu di temukan dengan selamat. Ibu juga melihat wajah khawatirnya dan wajah ketakutannya akan kehilangan kamu. Di situ Ibu yakin kalau dia benar - benar mencintai kamu" ungkap Siti.
Dewi terdiam menunduk sambil meremas bajunya. Bingung harus bersikap bagaimana.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1