
Acara berlangsung sampai sore hari. Satu persatu tamu undangan dan kerabat sudah pulang ke rumah mareka. Kini hanya tinggal Pak Wijaya bersama keluarga kecilnya, anak - anak, cucu dan besannya Bambang Prakasa.
"Selamat ya Jay semoga pernikahan kamu dan Siti sakinah mawaddah warahmah. Dan langgeng sampai kakek nenek" ucap Pak Bambang.
"Mas ini gimana sih, Mas Jay dan Siti kan emang udah jadi kakek nenek" protes Sekar.
"Eh iya ya aku lupa" Pak Bambang memukul kepalanya.
"Semoga langgeng sampai maut memisahkan" sambung Pak Bambang.
"Aamiin.. " Sambut Pak Wijaya, Siti dan Sekar.
"Nih kado pernikahan dari kami" Sekar memberikan sebuah amplop kepada Siti.
"Apa ini?" tanya Siti.
"Di buka aja" Sekar mengedipkan sebelah matanya.
Perasaan Siti langsung tak enak karena mengingat sahabatnya ini suka membuat ulah yang terkadang terdengar ekstrim. Tetapi itulah sebenarnya yang paling dia suka dari Sekar. Karena Sekar selalu bertindak berani mengikuti kata hatinya.
Siti membuka amplop yang diberikan Sekar dan membaca kertas yang ada di dalam amplop tersebut.
"Voucher satu malam di Hotel XXX" ucap Siti.
"Yup. Besok kan kita akan pergi umroh bareng, jadi malam ini kalian nikmati dulu malam pertama di Hotel itu. Besok baru dilanjutkan di Mekah" sambut Sekar
Sekar mendekat ke wajah Siti dan berbisik tepat di telinganya.
"Jangan lupa bawa baju tidur yang kemarin kita beli biar malam ini kamu dapat pahala besar" goda Sekar.
Sontak wajah Siti memerah karena malu.
"Selamat bersenang - senang Pak, itu Mang Kardi di depan sudah siap untuk mengantarkan kalian untuk berangkat ke Hotel" ungkap Bintang.
"Terimakasih semuanya. Berkat bantuan kalian mungkin acara pernikahan kami tidak akan berlangsung seperti ini" jawab Pak Wijaya.
"Sudah sepantasnya kami membuat Bapak dan Ibu senang di hari bahagia ini"' sambut Tiara.
__ADS_1
"Ini Pak, Bu koper kalian. Kami sudah mempersiapkannya" Dewi datang dengan membawa satu koper untuk Siti dah Pak Wijaya.
"Dan jangan lupa, besok pagi jam sepuluh kalian akan di jemput supir untuk langsung berangkat ke Bandara. Nanti di sana Bapak dan Ibu akan bertemu dengan Tante dan Om" ujar Bagas.
"Baiklah, terimakasih semuanya" balas Pak Wijaya.
"Dah Opa, Oma nanti pulangnya harus bawa adek bayi ya" sambut Tegar.
Bintang lansung melirik ke arah Bagas sedangkan yang punya badan hanya tersenyum penuh arti.
Pasti anak semprul ini nih yang ngajari putraku bicara seperti itu. Batin Bintang.
Pak Wijaya dan Siti berjalan menuju pintu keluar rumah Bintang. Di depan sudah menunggu Mang Kardi dengan mobil pengantin yang di hias memakai pita.
Mang Kardi sudah membuka pintu penumpang di belakang dan mempersilahkan untuk Pak Wijaya dan Siti naik ke dalam mobil. Dia juga mengambil alih koper mereka dan memasukkannya ke dalam bagasi mobil.
"Selamat malam pertama" ucap Sekar.
"Huus... kamu ini Ma, kelakuan udah kayak anak kecil saja" cegah Pak Bambang.
"Lho kan emang benar Pa, malam ini kan memang malam pertama buat mereka" jawab Sekar pura - pura polos.
Mobil sudah menyala dan siap membawa Pak Bambang dan Siti ke hotel tempat mereka akan menginap malam ini. Semua keluarga yang di tinggalkan melambaikan tangan ke arah mereka.
Pak Bambang tidak pernah melepaskan genggaman tangannya walau sebentar. Dia sangat - sangat bahagia saat ini bisa bersama dengan wanita yang dia cintai.
Satu jam kemudian mereka sudah sampai di hotel dan disambut ramah oleh para pelayan hotel. Mereka diantar sampai ke kamar yang sudah dipesan khusus untuk mereka malam ini.
Pak Bambang dan Bu Siti sangat terkejut melihat penampakan kamar ini. Benar - benar di hiasi dengan sangat romantis. Berasa pengantin baru yang masih muda.
Siti hanya diam tak berani berkata - kata sangkin gugupnya. Pak Wijaya menarik tangan Siti dan mereka duduk di pinggir tempat tidur mereka malam ini.
"Kamu kok diam aja dari tadi?" tanya Pak Wijaya.
Siti menundukkan wajahnya karena malu.
"Ternyata kamu masih seperti dulu ya, selalu malu saat - saat seperti ini" ujar Pak Wijaya.
__ADS_1
Pak Wijaya menarik wajah Siti agar berhadapan dengan wajahnya. Sesaat mereka saling tatap. Pak Wijaya menyentuh kepala Siti dan mengucapkan doa suci untuk pengantin baru yang baru saja menikah.
Air mata Siti menetes karena haru. Ingatannya kembali ke masa lampau, saat Pak Wijaya dulu untuk yang pertama kalinya menyentuh dirinya sesaat setelah mereka melangsungkan akad nikah.
Sungguh perjalanan hidup yang tak pernah dia rencanakan. Hanya Allah lah yang menentukan perjalan hidup umat manusia. Setelah menikah dan kemudian berpisah berpuluh puluh tahun akhirnya hari ini mereka bisa bersatu kembali dalam ikatan suci.
Perlahan Pak Wijaya memegang wajah Siti dengan kedua tangannya dan kemudian mencium kening Siti lembut. Siti memejamkan matanya menghayati momen ini.
"Yuk kita mandi untuk membersihkan diri setelah itu kita shalat ashar berjamaah" ajak Pak Wijaya.
"Iya Mas" jawab Siti.
Siti langsung bangkit dari duduknya kemudian membuka koper dan mengambil pakaian Pak Wijaya dan meletakkannya di atas tempat tidur.
Ibadah pertama setelah dia menikah dengan Pak Wijaya hari ini yaitu menyiapkan kebutuhan suaminya untuk mandi.
"Mas mandi duluan ya, aku mau membersihkan make up ku dulu" perintah Siti.
"Iya" Pak Wijaya segera membuka jasnya dan berjalan menuju kamar mandi. Sedangkan Siti mulai membuka jilbab dan pernak pernik hiasan gaun pengantinnya kemudian membersihkan wajahnya yang penuh dengan make up. Tak lama kemudian Pak Wijaya keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya.
Jantung Siti berdetak tak karuan. Ternyata Pak Wijaya masih merawat tubuhnya. Dadanya masih terlihat kekar, tidak ada tanda - tanda lemak berlebih di tubuhnya. Siti langsung menundukkan wajahnya. Kemudian berjalan menuju kamar mandi untuk gantian mandi.
Pak Wijaya mengerti kalau saat ini Siti sedang malu dan salah tingkah. Dia hanya tersenyum bahagia sambil menikmati suasana ini. Kini Siti sudah kembali menjadi istrinya.
Tak lama kemudian Siti juga keluar dari kamar mandi dengan menggunakan bathrobe yang ada di kamar mandi. Karena terlalu gugup dia lupa membawa pakaian ganti. Pak Wijaya tersenyum lebar melihat itu.
Siti segera mengacak kopernya dan setengah berlari menuju kamar mandi. Membuat Pak Wijaya tertawa melihat tingkah Siti seperti gadis remaja.
Setelah selesai memakai bajunya akhirnya Siti keluar dari kamar mandi.
"Sudah siap? Yuk kita shalat" ucap Pak Wijaya.
"Iya Mas" Siti segera membentang sajadah untuk mereka lalu memakai mukenanya dan mereka mulai shalat ashar bersama.
Ibadah kedua yang mereka lakukan setelah akad nikah hari ini. Semoga Allah senantiasa meridhoi pernikahan mereka hingga maut memisahkan. Mereka layak bahagia setelah melewati berbagai rintangan hidup yang sempat membuat mereka terpisah.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG