Tiara

Tiara
Rumah Pak Bambang


__ADS_3

"Apa? Mas Bagas suka sama Dewi?" tanya Tiara.


"Iya" jawab Bintang.


"Serius Mas?" Tiara masih tidak percaya.


"Iya, masak Mas main - main yank untuk hal beginian" jawab Bintang.


"Kok bisa? Dewi kan masih kecil, maksud aku di kan masih adek - adek, masih polos dan lugu sementara Mas Bagas udah dewasa gitu?" tanya Tiara.


"Ya sebenarnya itulah cinta yank, kita tidak bisa memilih dimana dia akan berlabuh. Terkadang bisa diluar logika" jelas Bintang.


"Trus Mas dukung?" Tiara yang semula tiduran kini balik duduk.


"Ya nggaklah.. Dewi kan masih harus kuliah dulu. Lagian dia baru delapan belas tahun belum cukup umur untuk menikah" tegas Bintang.


"Mas Bagas bisa terima?" Tiara mengelus kepala Bintang yang sedang tiduran di pahanya.


"Awalnya dia keberatan tapi karena melihat keseriusannya Mas jadi kasihan kalau harus mematahkan hatinya. Seingat Mas dia sudah lama sekali serius sama seorang wanita. Dulu waktu kuliah dia pernah sempat serius mencintai wanita tapi dia dikhianati, itulah makanya dia berubah jadi playboy. Ni kedua kalinya Mas melihat tatapan serius dari matanya. Dia terus menerus memandangi wajah Dewi dari kejauhan" ungkap Bintang.


"iiih kok bisa sih Mas Bagas suka sama Dewi. Aku masih gak percaya Mas dengarnya. Mas Bagas sudah setua Mas menyukai anak ABG seumur Dewi" gumam Tiara.


"Hahaha... Mas aja gak akan pernah percaya yank kalau gak lihat mupengnya wajah Bagas" Bintang tertawa mengingat wajah Bagas yang sedang jatuh cinta.


"Pantesan tadi ramah gitu sama Dewi sampai minta bekal" ujar Tiara.


"Emang sengaja dia. Mas kasih dia syarat" ucap Bintang.


"Syarat apa?" tiara makin penasaran.


"Kalau Dewi sudah berusia dua puluh tahun, baru dia boleh deketin Dewi. Cuma deketin doank. Kalau Dewi juga suka ya lanjut kalau nggak ya dia harus mundur. Makanya tadi dia minta bekal untuk bersabar selama dua tahun" ungkap Bintang.


"Hahaha... Terus dia setuju gitu nunggu dua tahun lagi?" Tiara merasa lucu dengan syarat yang ditawarkan Bintang pada sahabatnya.


"Setuju, walau dia udah gak sabar. Mas bilang Mas sekalian mau lihat keseriusannya tobat dari penyakitnya selama ini mempermainkan wanita. Kalau dia serius mau menikah dengan Dewi dia harus bersih dulu dari wanita manapun" sambung Bintang.


"Hihihi... lucu ya Mas kalau ngebayangin Mas Bagas jadi adik ipar kita" Tiara tertawa geli.


"Iya yank, dia harus kita plonco. Dia harus panggil kita Kakak ipar" sambut Bintang.


"Hahaha... adik iparku lebih tua tiga tahun dariku. Kalau Ibu tau gimana ya reaksi Ibu" ucap Tiara.


"Jangan yank, mending Ibu gak usah tau. Kita dua aja dulu yang tau. Belum juga jelas Si Bagas sabar menunggu dua tahun. Nanti taunya dia ketemu wanita lain kan gak enak aku sama Ibu. Bagas kan sahabat aku" cegah Bintang.


"Iya Mas, aku gak akan cerita sama Ibu" jawab Tiara.


"Ya udah kita tidur yuk, Mas udah ngantuk banget nih" ajak Bintang.

__ADS_1


Tiara kembali ke posisi semula berbaring di samping Bintang dan tak lama kemudian mereka pun tertidur.


******


Dua hari yang lalu Bintang sudah pergi ke luar kota untuk mengurus pekerjaannya. Kini hanya tinggal Tiara dan Tegar di rumah bersama asisten rumah tangganya.


Sesuai dengan izin Bintang sebelumnya hari ini rencananya Tiara akan pergi ke rumah Pak Bambang. Tiara sudah memasak beberapa makanan untuk dia bawa ke rumah Pak Bambang.


Komunikasi mereka yang semakin akrab membuat hubungan mereka semakin dekat. Tiara sudah menganggap Pak Bambang sebagai keluarga.


Mereka sering bertukar kabar. Beberapa kali bertemu di luar bahkan pernah melihat Tegar di sekolah ketika mereka kangen sama Tegar.


Sekitar jam sepuluh pagi Tiara dan Tegar sudah bersiap hendak pergi ke rumah Pak Bambang.


"Yuk sayang kita pergi ke rumah Opa" ajak Tiara.


Pak Bambang baru saja mengirimkan alamat rumahnya ke handphone Tiara. Tiada membacanya kemudian mengajak Tegar masuk kedalam mobil.


Tiara mulai menyalakan mobilnya dan melajukan mobilnya menuju alamat yang dia baca tadi.


Satu jam kemudian dia sudah sampai di depan rumah mewah.


"Ini rumah Opa Ma?" tanya Tegar.


"Menurut alamat yang Mama baca, ini memang rumahnya sayang" jawab Tiara.


"Waaah besar sekali ya Ma rumahnya Opa" puji Tegar.


Pak Bambang dan istrinya sudah menunggu kedatangan Tiara dan Tegar di depan rumah mereka.


"Opaaaaa... Omaaaa" teriak Tegar.


"Akhirnya kamu datang juga. Opa sudah tunggu dari tadi" sambut Pak Bambang.


"Assalamu'alaikum Pak, Bu. Apa kabar?" Tiara mencium tangan Bambang kemudian memeluk Bu Bambang.


"Yuk kita masuk" ajak Bu Bambang.


"Eh sebentar Bu, ada yang ketinggalan" ucap Tiara.


"Apa yang tinggal?" tanya istri Pak Bambang itu.


"Itu.. saya tadi masak sesuatu untuk dibawa ke sini" jawab Tiara.


"Ooo" balas Bu Bambang.


"Sebentar ya Bu, saya ambil dulu di mobil" Tiara kembali ke mobilnya dan mengambil makanan yang dia bawa dari rumahnya tadi.

__ADS_1


Setelah itu Tiara kembali dengan membawa bungkusan di tangannya.


"Yuk kita masuk... " ajak Bu Bambang.


Mereka masuk ke dalam rumah mewah itu. Dan duduk di ruang tamu rumah Pak Bambang.


"Ini Bu saya bawa sedikit makanan buatan saya" Tiara menyerahkan bungkusan yang dari tadi dia pegang.


"Terimakasih Tiara, jadi merepotkan kamu. Kalian mau datang ke rumah kami saja kami sudah sangat senang" jawab Bu Bambang.


"Ibu bawa ke dapur dulu ya, biar di letak di wadah" sambung Bu Bambang.


"Iya Bu" jawab Tiara sambil tersenyum.


"Tegar Opa punya sesuatu buat kamu" Pak Bambang memberikan beberapa bungkusan yang berisikan banyak mainan untuk Tegar. Dia sudah mempersiapkannya sejak jauh - jauh hari.


"Waaaah banyak sekali mainannya" teriak Tegar senang.


"Bilang apa sayang sama Opa dan Oma" perintah Tiara lembut.


"Makasih Opa.. Oma... " ucap Tegar.


Tegar langsung membuka beberapa bungkusan yang berisikan mainan dan kemudian mulai memainkannya ditemani oleh Pak Bambang.


Bu Bambang baru datang dari dapur membawa wadah makanan yang di masak Tiara dari rumah.


"Apa itu Ma?" tanya Pak Bambang..


"Ini Pa, Tiada buat cake. Sepertinya enak nih Pak, cobain deh" jawab istrinya..


Bu Bambang mengambil sepotong cake yang dibuat Tiara, dia meletakkannya diatas piring kecil kemudian memberikannya kepada suaminya.


Pak Bambang langsung memakan cake yang dibuat dibuat Tiara.


"Mmm benar Ma, enak sekali cakenya. Ternyata Tiara pintar masak ya" puji Pak Bambang.


"Ah biasa aja Pak, ketepatan itu memang cake kesukaan Tegar dan suami saya. Jadi saya sering membuatnya" jawab Tiara.


"Bi... minumnya mana ini? Kok lama banget, tamunya sudah dari tadi lho" panggil Bu Bambang.


"Iya Nya, sebentar" jawab seseorang dari belakang.


Tak lama keluar seorang wanita dari arah belakang.


"Bik Sumi..... "


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2