
"Gimana Dok?" tanya Bagas tak sabar.
"Selamat Pak, Bu.. sebentar lagi kalian akan menjadi orang tua" jawab Dokter.
"Maksudnya istri saya hamil kan dok?" tanya Bagas kurang yakin.
Dokter tersenyum kembali.
"Iya Pak, alhamdulillah Ibu sedang hamil saat ini" jawab Dokter.
"Alhamdulillah.. " sambut Dewi dan Bagas.
"Kok bisa begitu ya Dok? Istri saya yang hamil saya yang mabok?" tanya Bagas masih tidak mengerti.
"Itu namanya kehamilan simpatik Pak. Dimana istri yang hamil tapi Bapak yang merasakan mual muntah karena hamil muda. Ya mudah - mudahan hanya trimester pertama saja" jelas Dokter.
"Maksud trimester pertama?" tanya Dewi ingin tau.
"Tiga bulan pertama saat Ibu hamil. Tiap orang beda - beda. Kebanyakan orang memang mengalami ini hanya tiga bulan pertama tapi ada juga yang mengalami hal ini selama usia kehamilan" ungkap Dokter.
"Selama sembilan bulan gitu dok?" tanya Bagas khawatir.
"Iya Pak" jawab Dokter.
"Ya Tuhan, sehari aja rasanya gak karuan gimana kalau sembilan bulan. Bisa kurus kering aku. Semua isi perut keluar semua" ujar Bagas.
Dokter tersenyum melihat wajah Bagas.
"Tenang Pak, nanti saya kasih obat pereda mual ya. Syukur yang ngalami hal ini Bapak jadi bisa dikasih obat. Bayangkan kalau hal ini Ibu yang alami, sementara wanita hamil kan tidak boleh minum obat sembarangan. Gimana coba kalau Bapak di posisi Ibu menahan mual dan muntah tanpa ada obat pereda. Udah begitu di dalam perut juga butuh nutrisi yang banyak. Harus makan makanan yang bergizi sementara kalau habis makan biasanya semuanya akan dimuntahkan kembali karena mual. Begitu terus sampai sembilan bulan. Banyak lho Ibu hamil akhirnya di rawat di rumah sakit karena mengalami dehidrasi dan kurang gizi" ungkap Dokter.
"Duh jangan sampai deh Dewiku yang mengalaminya, biar aku saja tak mengapa. Asal Dewi dan anakku sehat - sehat" sambut Bagas.
"Nah itu Pak, ada baiknya juga kan? Kita hidup emang harus banyak bersyukur" balas Dokter.
"Iya Dok" jawab Bagas.
Dokter selesai memeriksa kandungan Dewi.
"Mohon maaf usia Ibu berapa tahun ya? Sepertinya masih muda?" tanya Dokter.
"Sembilan belas tahun" jawab Dewi.
"Waah masih muda ya. Ini saya kasih resep obat penguat kandungan. Walau keadaan kandungan tiap orang beda - beda tapi kita harus waspada. Bisa saja kandungan Ibu belum begitu matang sehingga bisa mengakibatkan keguguran" ucap Dokter.
__ADS_1
"Mm.. anu Dok, apakah berpengaruh pada hubungan inti*?" tanya Bagas.
"Itu juga tergantung dengan kandungan masing - masing Pak, ada wanita yang punya kandungan lemah dan ada juga yang kuat. Kalau kuat sih gak berpengaruh Pak tapi kalau lemah kita khawatir akan mengganggu janin. apalagi masih dalam usia kehamilan yang sangat muda. Saya sarankan jangan terlalu sering ya Pak dan lakukan dengan perlahan dan sebisa mungkin si Ibu merasa nyaman. Karena kalau si Ibu melakukan hubungan inti* kandungan berkontraksi. Bisa membahayakan janin kalau tidak kuat" jelas Dokter.
"Baiklah Dok, saya mengerti" jawab Bagas.
Dokter kemudian menuliskan resep obat untuk Dewi dan Bagas.
"Ini Pak resep yang harus ditebus. Untuk Ibu selain obat penguat kandungan saya memberikan resep vitamin untuk Ibu hamil" ujar Dokter.
"Iya Dok, terimakasih" sambut Bagas.
Bagas meraih resep dokter yang diberikan Dokter.
"Sudah selesai Dok?" tanya Bagas kemudian.
"Sudah Pak, setelah keluar dari ruangan ini silahkan Bapak dan Ibu tebus resepnya di apotek dan semuanya bisa langsung di minum mulai hari ini sesuai dengan cara pakai yang sudah saya buat" ujar Dokter.
"Baik Dok. Kalau begitu kami izin pamit Dok, terimakasih banyak" ucap Bagas.
"Iya Pak, sama - sama" jawab Dokter sambil tersenyum ramah.
Bagas dan Dokter saling bergandengan tangan keluar dari ruang praktek dokter. Tapi saat mereka hendak keluar tanpa sadar mereka bertemu dengan Siska di ruang tunggu.
"Siska, ngapain lo di sini?" tanya Bagas.
Tak lama nama Siska di panggil, Siska kemudian masuk ke dalam ruang pemeriksaan Dokter.
"Kok perasaanku gak enak ya yang saat melihat Siska?" ucap Bagas pada Dewi.
"Emang kenapa Mas?" tanya Dewi bingung.
Bagas berpikir sejenak.
"Ah sudah lah.. Apapun yang terjadi dengan Siska bukan urusanku" tegas Bagas.
Bagas merangkul bahu Dewi dan mengajaknua berjalan menjauh dari praktek Dokter kandungan.
"Yuk yank kita tebus obat dulu. Agar aku bisa makan dengan tenang malam ini" ajak Bagas.
Dewi pasrah mengikuti suaminya, mereka berjalan bergandengan tangan menuju apotek dan menebus resep dokter.
Setelah selesai semua urusan rumah sakit mereka pulang kembali ke apartemen.
__ADS_1
"Gak mau singgah kemana gitu sebelum pulang?" tanya Bagas.
Dewi menatap wajah suaminya.
"Gak usah deh Mas, kasihan kamu udah pucat. Pasti mabok lagi kan?" tanya Dewi.
Bagas menganggukkan kepalanya.
"Iya yank tapi aku lapar pengen makan sesuatu. Tapi aku lemas banget nih. Pengen segera sampai di apartemen dan tiduran" jawab Bagas.
"Ya sudah kalau begitu kita pesan makanan pakai ojol aja ya Mas" ucap Dewi.
"Iya yank, bisa pesan sekarang biar saat kita tiba di apartemen makanannya juga sampai. Jadi kita gak terlalu lama menunggu" pinta Bagas.
"Baiklah, kalau begitu aku pesan sekarang ya makanannya. Mas mau makan apa?" tanya Dewi.
"Aku pengen makan sate kacang" jawab Bagas.
"Lho tumben, biasanya Mas sukanya sate padang?" tanya Dewi heran.
"Gak tau yank, tiba - tiba aku pengen makan sate padang" ungkap Bagas.
"Hahaha.. ternyata emang beneran ada ya yang namanya kehamilan simpatik? Alhamdulillah Mas yang mengalaminya. Aku jadi bisa kuliah dengan tenang" ujar Dewi.
Seketika Bagas teringat bahwa Dewi memang sebentar lagi akan kuliah. Libur semesternya sudah hampir habis.
"Iya ya benar juga yang kamu bilang. Gak apa deh yank, aku yang rasain semuanya. Aku ikhlas karena emang aku yang paling mengingkan semua ini. Yang penting kamu sehat, anak kita juga sehat dan kamu bisa kuliah dengan tenang. Nanti saat kamu melahirkan aja baru ajukan cuti kuliah sementara ya. Biar nanti Mas yang minta izinnya sama Mas Broto" ucap Bagas.
"Iya Mas" jawab Dewi dengan tatapan iba dan penuh kasih sayang kepada suaminya.
Gak nyangka Bagas yang gokil dan sering bertingkah laku kekanak-kanakan bisa menjadi pria yang sangat dewasa sept saat ini. Dewi semakin bahagia menjalani hari - harinya sebagai istri Bagas.
Walau usai pernikahan mereka baru berusia enam minggu tapi Dewi sudah bisa merasakan kasih sayang yang sangat besar dari suaminya kepadanya dan calon anak mereka.
Dari awal Bagas sudah rela berkorban dan ikhlas menjalani kehamilan simpatik yang dialaminya asalkan Dewi dan anak mereka bisa berkembang dengan baik dan tidak mengalami seperti yang dia rasakan.
Dewi memeluk tubuh Bagas dengan mesra.
"Terimakasih ya Mas sudah menjadi suami dan calon Papa yang tangguh untuk kami" ucap Dewi.
Bagas tersenyum mendengar ucapan Dewi kemudian dia mengecup lembut kening istrinya penuh dengan kasih sayang.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG