Tiara

Tiara
Part 12


__ADS_3

" Lalu bagaimana kehidupan teman mu setelah itu??"


" Setelah itu, ia melarikan diri dari rumah dan tidak pernah kembali. Dan kalau di hitung dimulai dari ia melarikan diri, itu sudah sebulan."


Mendengar kata 'sebulan', Tiara tak bisa tak terkejut. " Hah sebulan?? Bukan kah itu sudah cukup lama?? Lalu, apakah keluarga dari teman mu itu tidak mencari nya??"


" Aku tidak tau dan tidak peduli dengan hal itu. Karna menurutku, mau itu di cari atau tidak, itu tidak penting dan bukan urusan ku lagi."


" Kenapa begitu??"


" Bukan kah mereka yang bilang kalau teman ku itu bukan saudara mereka lagi? Lalu untuk apa peduli lagi dengan mereka yang bahkan dengan tega memutus kan hubungan darah dengan teman ku itu, hanya karna mendengar keluhan dari mulut orang asing, yang bahkan kebenaran nya masih belum dapat di pastikan." Ketus saat menjawab.


Mengangguk saat mendengar jawaban ketus dari orang di samping nya itu, Tiara kemudian tampak mengambil sebuah keputusan.


Kalau di pikir-pikir, setelah mendengar cerita keseluruhan dari anak di samping nya ini, Tiara bisa langsung menarik kesimpulan bahwa kisah yang barusan di ceritakan anak ini adalah kisah nya sendiri.


Kenapa begitu?? Itu karna melihat dari cara nya yang menceritakan kisah itu.


itu terlalu terlalu lancar dan detail.


Karna bagaimana mungkin seseorang dapat menceritakan kisah orang lain dengan begitu baik kalau ia tidak mengalami nya sendiri?? Lagipula dari sekian ribu kata yang di ucapkan anak itu, pada bagian-bagian tertentu, ada emosi yang keluar saat ia menceritakan nya. Jadi sudah dapat di pastikan seratus persen, bahwa itu adalah kisah dari hidup nya sendiri.


Menyadari itu, Tiara tak bisa tak bersimpati. Sembari langsung menatap mata sang pemuda, Tiara lalu langsung bertanya.


"Lalu, apa rencana mu selanjutnya??"


" Hah??"


" Iya,.. apa rencana mu selanjutnya? Kau tak ingin sehabis aku pergi kau langsung mengakhiri hidup lagi bukan?? Atau kapan kau akan kembali ke rumah mu, karna bagaimana pun kau masih harus membalaskan dendam mu dengan mereka karna mereka bahkan tidak mau mendengarkan sepatah kata pun penjelasan dari mulut mu."


Tampak sedikit terkejut dan kebingungan, lalu langsung bertanya.


" Hah?? Balas dendam untuk siapa??"


" Berhentilah pura-pura bodoh. Aku tau kalau kau, tau apa maksud ku."

__ADS_1


" Hmmph. Jadi, kau tau kalau kisah itu merupakan kisah ku sendiri??"


Tersenyum lembut, Tiara kemudian membalas.


" Tentu saja. Kau tidak berfikir kalau aku sebodoh itu bukan, hingga bahkan tidak bisa menyadari kisah yang begitu detail dan emosional saat kau ceritakan."


" Aku tidak ingin kembali."


" Lalu bagaimana dengan masa depan dan sekolah mu? Bagaimana dengan biaya hidup mu?? Karna bagaimana pun, kau masih lah anak di bawah umur. Dan akan sangat sulit untuk menemukan pekerjaan sendiri."


" Aku tidak memerlukan sekolah. Pengetahuan bisa di ambil dari pengalaman sedangkan Ijazah bisa di beli dengan uang. Dan yang lebih penting, hidup ku bisa ku tanggung sendiri."


" Tanggung sendiri dengan apa? Apa kau punya uang??"


" Tidak."


" Lalu apa kau sudah punya pekerjaan??"


" Tidak juga."


" Lalu kau mau menanggung dengan menggunakan apa?" Bingung dengan jalan pikiran orang di samping nya.


" Syukur lah... Lalu, tadi kau kenapa? Kenapa kau ingin mengakhiri hidup mu??"


" Tadi itu aku hanya khilaf. Aku lelah, dan pikiran ku sedang kosong. Makanya aku bisa bertindak konyol seperti itu."


" Lalu sekarang bagaimana??"


" Sekarang aku sudah bisa berfikir jernih. Jadi tidak akan mengulangi hal konyol seperti yang tadi."


Mendengar itu, Tiara langsung tersenyum lega. Berfikir sejenak, lalu melanjutkan.


" Lalu sekarang kau tidak punya uang kan?? melihat dari wajah mu yang kuyu itu, aku pastikan kalau kau belum makan seharian ini. jadi, sembari menunggu pekerjaan mu besok untuk mendapatkan uang, kau mau membeli makan dengan apa??" Menatap dengan bingung.


" Aku bisa puasa sampai besok."

__ADS_1


Mendengar itu, Tiara hanya bisa memutar bola mata malas." Hmph.. lalu sebelum sampai besok, kau sudah mati kelaparan duluan." Berbicara dengan ketus sembari mengangkat tangan nya dan merogoh saku baju nya.


" Ini ada sedikit uang. Nggak tau ini akan cukup atau nggak. Tapi yang pasti, ini bisa membelikan mu makanan." Langsung mengangkat tangan anak laki-laki itu lalu memasukkan uang itu ke dalam genggaman anak itu.


Melihat itu, anak laki-laki itu tak bisa tak terkejut.


" Uang?? Aku tidak membutuh kan nya. jangan mengasihani ku seperti itu." Langsung hendak menarik tangan nya dan mengembalikan uang itu. Namun, belum juga ia sempat menarik tangan nya, Tiara sudah lebih dulu menyela.


" Jangan di tolak. karna aku akan marah bila kau melakukan nya. aku memberikan ini bukan karna bersimpati kepadamu. melainkan karna salut."


" Salut,.. salut karna apa??" Menyerngit bingung sembari menatap wajah anak kecil di samping nya.


Tersenyum tulus saat mendengar pertanyaan dari anak di samping nya itu, Tiara kemudian menjawab." Aku salut karna seumur hidup, baru pertama kali ini aku bisa melihat dan menemukan seseorang yang memiliki kepribadian keren seperti mu. kau tau, menurutku kau itu masih kecil. tapi pemikiran mu sudah bisa sampai seperti ini. dan yang lebih penting, aku suka gayamu. dan mungkin untuk kedepan, setelah aku kembali, aku akan belajar dari caramu memikirkan dan memperlakukan masalah seperti yang sekarang ini." menarik tangan dan meninggalkan uang di genggaman tangan anak laki-laki yang masih menatapnya bingung.


" Kalau begitu, aku akan mengambil nya. dimasa depan, aku pasti akan membalasnya.


Oh ya, gimana dengan mu? apa kau masih akan diam saja setelah perlakuan ibumu sudah begitu kejam?" Mengangkat alisnya saat ia bertanya.


" Eh, kau sadar juga kalau kisah yang ku ceritakan itu cerita hidup ku rupanya." Menarik nafas lalu melanjutkan.


" Aku tidak tau. tapi yang jelas, seperti kataku sebelum nya, aku akan belajar dari caramu bertindak."


" Bagus kalau begitu. jangan mau di pijak-pijak oleh orang lain, walau itu merupakan keluarga mu sendiri. setidak nya bila kau tidak tega untuk membalas, maka jauhi saja mereka. agar rasa sakit mu tidak bertambah." Tersenyum kecil saat ia menatap Tiara yang langsung menunduk sedih.


" Hmm. aku akan melakukan nya.


Oh ya,.. sedari tadi kita bercerita, aku belum memperkenalkan diri. Namaku Tiara. Kalau namamu??" Bertanya dengan antusias.


" Namaku Moran "


"Moran,.. namamu bagus. tapi sepertinya dari warna kulit dan bentuk matamu, kau anak blesteran ya??"


" Iya. aku blesteran China-indo." Menjawab dengan tersenyum lalu kembali bertanya.


"kau juga pasti blesteran kan?? soalnya warna bola mata dan warna rambut mu berbeda dari kami."

__ADS_1


" Iya. aku juga blesteran." Tersenyum saat menjawab lalu suasana kembali hening.


~Bersambung~


__ADS_2