Tiara

Tiara
Berdamai Part. 2


__ADS_3

"Bu, Ra, Dewi dan Ali... maaf kan semua kesalahanku pada kalian ya... dan tolong jangan biarkan aku sendiri... Aku tidak punya saudara lagi di dunia ini. Aku tidak punya siapa - siapa lagi di sini" isak Dewi dan air matanya deras mengalir dari sudut matanya.


Tiara menggenggam tangan Ida dengan lembut.


"Da... kami sudah memaafkan kamu dan kami tidak akan meninggalkan kamu. Kamu adalah saudara kami" ucap Tiara memberikan semangat.


"Wiii... Ali... maafkan Mbak Wi.. kalian adalah adik - adikku juga. Tolong maafkan aku, maafkan ayah kita" ucap Ida sambil terisak.


Dewi berdiri di samping Dewi dan ikut menggenggam tangan Ida.


"Mbak Ida, aku sudah memaafkan Mbak Ida. Mbak Ida kan Kakakku juga. Kita semua bersaudara. Mbak yang sabar ya jalani semua ini nanti kalau hukuman Mbak sudah selesai kita akan bantu Mbak Ida. Yang penting Mbak Ida berusaha untuk hidup lebih baik lagi" jawab Dewi.


"Mbak sudah kapok dek, gak ada yang Mbak dapatkan dari semua ini. Yang ada hidup Mbak semakin hancur. Kehilangan Bapak, kehilangan suami dan kehilangan saudara. Kini Mbak tinggal sebatang kara" ujar Ida.


"Yang penting Mbak sehat dulu, jalani hukuman dengan baik" balas Dewi.


"Daaa.. jalan hidup masih panjang. Allah selalu beri kita jalan terbaik asal kita terus memperbaiki diri. Usia kita masih muda Da, hukuman kamu lima tahun, kalau kamu jalani dengan baik bisa jadi nanti akan mendapatkan potongan atau keringanan hukuman. Setelah itu mari kita mulai lembaran hidup yang baru" sambut Tiara.


"Apakah aku masih pantas untuk itu Ra?" tanya Dewi.


"Pantas Da, sangat pantas. Asal itu tadi kamu benar - benar ingin merubah hidup kamu lebih baik lagi. Allah masih kasih kamu kesempatan Da. Lagian kalau kita hidup dengan baik dan selalu mendoakan Bapak. InsyaAllah Bapak juga akan terbantu" jawab Tiara.


"Bapaaak... " Ida menangis ketika mengingat Bapaknya.


"Maafkan Bapak Bu, selama hidupnya dia sering menyakiti Ibu" ucap Ida.


"Ibu sudah memaafkan Bapak Da" jawab Bu Siti.


"Trus siapa mereka?" tanya Ida kepada Pak Wijaya dan Bagas.


"Ini Pak Wijaya Bapaknya Tiara, sekarang Ibu sudah menikah kembali dengan Bapaknya Tiara. Dan ini adalah Bagas suaminyaa Dewi" ucap Bu Siti memperkenalkan suami dan menantunya kepada Dewi.


"Kamu sudah menikah Dek?" tanya Ida lembut.


Dewi tersenyum dan mengangguk.

__ADS_1


"Sudah Mbak, nih sekarang aku lagi hamil tiga bulan" jawab Dewi.


"Oh pantas saja tubuh kamu sedikit berisi" jawab Ida.


Ida menatap ke arah Bintang.


"Maaf Maaas siapa namanya?" tanya Ida.


"Saya Bintang" jawab Bintang.


"Mas Bintang maafkan atas sikapku dulu ya kepada kamu dan Tiara" ucap Ida tulus .


"Tidak apa Da, kami sudah memaafkan semuanya" jawab Bintang.


"Aaah... rasanya lega sekali dan aku sangat tenang. Selama ini aku selalu di bayang - bayangi oleh rasa bersalahku yang sangat besar kepada kalian. Kini aku sadar Allah masih sangat menyayangiku. Dia masih memberikan kesempatan untukku bertaubat dan dia sudah memberikan aku bonus di depan. Aku kembali mendapatkan keluarga. kini aku tidak sendiri, aku punya keluarga lagi yaitu kalian. Terimakasih.. terimakasih semuanya" ungkap Ida terharu.


Semua tersenyum menyambut niat baik Ida untuk menjalani hidup kedepannya dengan mencoba untuk memperbaiki dirinya.


Setelah selesai menjenguk Ida di penjara mereka pulang ke rumah tapi sebelumnya mereka singgah ke ruang orang tua Bintang untuk berkunjung. Karena sudah lama Pak Wijaya dan Bu Siti tidak bertemu dengan sahabat mereka.


"Wa'alaikumsalam.. eh Siti.. Lho rame toh. Paaa.. Paaaa ada Mas Jay dan yang lainnya datang Pa" teriak Bu Sekarang senang.


"Eh cucu Omaaaa, sini Oma gendong" ucap Bu Sekar sambil menyambut dan menggendong Zia kedalam pelukannya.


Tiara tersenyum dan memberikan Zia ke tangan mertuanya. Zia tampak sangat senang dan tersenyum manis.


"Masuk.. masuk.." ajak Bu Sekar.


Bintang dan rombongan segera masuk ke dalam rumah orangtuanya dan duduk di ruang keluarga.


"Kalian dari mana?" tanya Pak Bambang Prakasa.


"Kami dari rumah sakit" jawab Pak Wijaya.


"Rumah Sakit? Siapa yang sakit?" tanya Pak Bambang.

__ADS_1


"Ida, Kakaknya Dewi dari anaknya Almarhum Tarjo" jawab Pak Wijaya lagi.


"Wanita yang membantu Tarjo untuk menculik Dewi kan?" tanya Pak Bambang, dia tampak terkejut.


"Iya Pak, Ida sakit di penjara dan di bawa ke Rumah Sakit. Dia meminta perawat Rumah Sakit untuk menghubungi kami. Dia ingin bertemu dengan kami di sana" jawab Bintang.


"Ngapain meminta kalian datang?" tanya Bu Sekar kali ini.


"Dia ingin meminta maaf kepada kami semua atas apa yang telah dia lakukan kepada kami Ma sebelumnya" jawab Tiara.


"Iya Kar, bagaimanapun dia adalah Kakaknya Dewi dan Ali juga. Mereka saudara satu Bapak, mereka bersaudara. Ida ingin memperbaiki hubungannya kepada Allah dan hubungannya kepada sesama manusia. Bukannya satu niat baik harus kita tanggapi dengan lebih baik lagi?" ujar Siti.


"Iya sih, tapi kamu emang selalu baik sih Sit dari dulu. Gampang benget memaafkan orang yang sudah jelas - jelas menyakiti kamu. Persis sama seperti Tiara" sindir Sekar.


"Berulang kali Siska mengganggu hidupnya tapi dia selalu tabah dan mau memaafkan" sambung Sekar.


"Maaa... Siska sudah meninggal. Tak baik membicarakan keburukan orang yang sudah meninggal" cegah Tiara.


"A.. apa? Siska sudah meninggal? Kapan?" tanya Sekar terkejut.


"Minggu lalu Ma. Dia menderita kanker serviks dua bulan yang lalu. Kankernya sangat ganas dan Siska juga menolak untuk melakukan pengobatan. Dia lebih memilih hidup dengan tenang di kampung halaman orang tuanya di Bandung. Jadi selama dua bulan ini dia hidup memperbaiki diri dan menyambut akhir hidupnya dengan lebih mendekatkan diri kepada Allah" jawab Tiara.


"Ya Tuhaaan... ternyata hidupnya harus berakhir seperti itu" ujar Sekar masih tak percaya.


"Yah begitulah maut Kar. Tidak ada yang tau kapan menghampiri kita. Usia tidak menjamin dia akan pergi lebih dahulu. Bisa saja orang yang lebih muda malah mendahului yang tua. Tak yang terpenting dari semua itu adalah bagaimana kita menyambut kematian itu dengan segala persiapan menghadapi sang Ilahi, Maha Pencipta. Siska sudah bertekad untuk bertaubat dan memperbaiki hidupnya di detik - detik terakhir. Kita belum tau bagaimana akhir hidup kita. Kita harus mempersiapkannya sedini mungkin karena bisa saja usia kita akan berakhir sebentar lagi" sambut Bu Siti.


"Iya Sit. Tapi alangkah lebih baiknya kita yang memiliki umur lebih tua, lebih dulu bersiap - siap. Malu kalau kata orang tidak sadar akan usianya yang sudah larut" balas Bu Sekar.


"Yah semoga kita semua bisa mengambil hikmah pada semua yang terjadi baik di depan mata kita atau tidak" Pak Bambang menimpali.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2