
Seminggu sudah berlalu acara lamaran Roy dan Dian. Tiara semakin sibuk menemani Dian mempersiapkan pernikahan mereka. Maklum pekerjaan Roy juga sangat sibuk, dia tidak bisa bulak balik pulang pergi Singapore - Jakarta.
WO sudah mereka dapatkan, gaun pengantin sudah di rancang, undangan juga sudah di cetak. Kini mereka sedang mengunjungi team WO untuk melihat souvenir pernikahan Dian dan Roy nanti.
Mereka janjian di kantor WO di salah satu gedung perkantoran di pusat Kota Jakarta. Dian dan Tiara sampai di kantor itu sekitar jam sebelas siang.
"Tegar gimana Ra, siapa yang jemput?" tanya Dian mengingatkan..
"Aku sudah bilang Mas Bintang Mbak, Tegar di jemput sama supir kantornya Mas Bintang kemudian di bawa ke kantornya Mas Bintang. Nanti baru aku jemput pulangnya" jawab Tiara.
"Oh begitu.. Maaf ya Ra jadi merepotkan kamu" ucap Dian.
"Ih Mbak Dian seperti sama orang lain saja. Mbak Dian kan sahabat suamiku dan juga orang yang paling banyak berjasa dalam hidupku. Jadi sudah sepantasnya aku membantu Mbak Dian seperti ini. Mas Bintang juga selalu memberikan semangat padaku agar aku membantu proses pernikahan Mbak Dian" ungkap Tiara.
"Makasih ya Ra" ujar Dian.
"Sama - sama Mbak" balas Tiara.
Mereka sedang menunggu pemilik WO yang akan mengurus semua rencana pernikahan Dian dan Roy.
"Selamat siang" ucap seorang wanita.
"Siang" jawab Dian dan Tiara.
"Lho Tiara Purnama kan?" tanya wanita itu, dia terlihat terkejut.
"Putri" jawab Tiara.
"Lho kalian saling kenal?" tanya Dian bingung.
"Putri ini teman kuliahku Mbak" jawab Tiara.
"Ih udah lama banget gak ketemu kamu Ra. Sejak wisuda kamu menghilang begitu saja. Makin cantik saja kamu Ra" puji Putri.
"Ah kamu bisa saja. Apa kabar kamu? Kamu pemilik WO ini?" tanya Tiara.
"Baik Ra, ini usaha yang aku bangun bersama suamiku begitu kami tamat kuliah. Awalnya hanya kecil - kecilan setelah semakin berkembang kami menikah dan Alhamdulillah sekarang sudah menjadi seperti ini" jawab Putri.
"Waaaah hebat kamu Put" puji Tiara.
"Kamu dimana sekarang dan apa kegiatannya?" tanya Putri.
"Aku masih di Jakarta, jadi Ibu rumah tangga" jawab Tiara.
"Yah gak apa - apa Ra yang penting bahagia. Dari pada aku sampai sekarang sudah tiga tahun menikah belum dikaruniai momongan" sambut Putri.
"Sabar dan terus berusaha Put, Mudah-mudahan Allah akan titipkan anak - anak yang soleh dan solehah pada kamu dan suami" ucap Tiara.
"Aamiin... " sambung Putri.
"Eh maaf Mbak Dian jadi nostalgia. Sampai lupa tujuan kalian datang kesini. Ini silahkan di pilih beberapa contoh souvenir yang Mbak sukai. Kalau Mbak sudah oke, kami akan membungkusnya cantik" Putri memberikan beberapa contoh souvenir untuk pernikahan Dian dan Roy.
Tiada dan Dian memilih yang tebaik, walaupun semuanya memang bagus.
"Mm.. ini bagaimana Ra?" tanya Dian kepada Tiara.
__ADS_1
"Bagus Mbak. Coba Mbak foto dan tunjukin pada Mas Roy dia suka gak?" saran Tiara.
"Iya sebentar ya" Dian melakukan apa yang di sarankan Tiara.
Tak lama Roy video call.
"Assalamu'alaikum Mas" ucap Dian.
"Wa'alaikumsalam sayang. Kamu pergi sama siapa?" tanya Roy lembut.
"Sama Tiara" Wajah Dian memerah karena Roy memanggilnya sayang di depan Tiara dan Putri.
"Gimana Mas suka gak dengan pilihanku?" tanya Dian.
"Suka, apapun yang kamu suka aku pasti suka" jawab Roy.
"Kalau begitu aku pilih yang itu aja ya" balas Dian.
"Oke, mana Tiara? Aku mau ngomong sesuatu padanya" pintar Roy.
Dian menyerahkan ponselnya kepada Tiara.
"Ra.. titip calon istriku ya. Tolong jagain, kalau ada cowok yang gangguin kamu foto dan laporin ke aku ya biar aku langsung terbang ke Indonesia" perintah Roy.
Tiara tersenyum mendengar perkataan Roy yang terdengar berlebihan itu, tapi Tiara mengenal Roy dengan sangat baik. Dia tau Roy hanya bercanda tapi memang dia sangat mencintai Dian.
"Siap Mas, aku akan jaga Mbak Dian dengan baik" jawab Tiara sambil tersenyum.
"Iiih apaan sih" gumam Dian di sebelah Tiara.
"Udah ya Mas" ucap Dian malu.
"Tunggu dulu, aku masih kangen" gombal Roy.
"Maaaas malu ah banyak orang" elak Dian.
"Hahaha.. Nanti kalau sudah sampai Cafe kamu telp lagi ya" pinta Roy.
"Iya Mas" jawab Dian segera.
"Dah calon istriku. Assalamu'alaikum" Roy mengakhiri pembicaraan mereka.
"Wa'alaikumsalam" balas Dian.
Telepon terputus dan Dian segera menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas.
"Romantis ya Mbak, Mas Roy nya. Walau berjauhan tapi tetap mesra" goda Putri pemilik WO.
"Dia emang suka usil Put. Ya sudah Put, saya pilih yang ini saja" jawab Dian.
"Baik, kalau begitu akan kami sediakan sesuai dengan jumlah undangan" balas Putri.
"Ada lagi yang ingin di tanyakan Put, mumpung kami masih di sini biar sekalian?" tanya Dian.
"Untuk sementara gak ada Mbak, kalau ada lagi nanti kami akan mengabari Mbak atau kita bisa berkomunikasi melalui telepon" jawab Putri.
__ADS_1
"Kalau begitu kami bisa pamit ya, maklum Ibu yang satu ini mau jemput anak nya pulang sekolah" ucap Dian sambil melirik ke arah Tiara.
Tiara membalasnya dengan senyuman.
"Iya Mbak, eh Ra aku baru ingat. Minggu depan ada undangan reuni kampus kita. Khusus untuk stambuk kita. Ketepatan aku salah satu panitianya. Aku minta nomor telepon kamu donk. Nanti aku akan kirim undangan reuni ke hp kamu" ucap Putri.
"Reuni?" Entah mengapa Tiara merasa sangat enggan mengingat kampus. apalagi mengingat Ida teman kampusnya. Rasanya dia ingin menolak permintaan Putri yang ini tapi dia gak tega menolaknya.
"Iya, kamu datang ya. Kan kita sudah lima tahun Ra gak ketemu. Teman - teman yang lain pasti senang bertemu dengan kamu lagi" ucap Putri.
Tiara melirik ke arah Dian, Dian memberi kode untuk memberikan nomor ponselnya saja.
"Ini Put nomor hpku. 081********" Tiara menyebutkan nomor ponselnya.
Putri langsung menyimpan nomor ponsel Tiara di dalam ponselnya.
"Oke Ra, secepatnya aku akan kirim undangannya ke kamu ya" ucap Putri.
"Iya Put. Kami pamit dulu ya, Assalamu'alaikum" ucap Tiara.
"Wa'alaikumsalam" jawab Putri.
Mereka saling berpelukan sebelum berpisah dan meninggalkan kantor WO tersebut.
Dian dan Tiara sudah masuk ke dalam mobil Dian.
"Jadi Aku antar kamu ke kantor Bintang ya?" tanya Dian.
"Iya Mbak, nanti dari sana baru kami balik ke apartemen" jawab Tiara.
Dian melihat perubahan raut wajah Tiara setelah bertemu dengan Putri tadi.
"Kenapa Ra, kamu tidak suka bertemu dengan Putri. Apa Putri dulunya musuh kamu di kampus?" tanya Dian penasaran.
"Tidak Mbak, aku tidak pernah ada masalah dengan Putri. Putri teman yang baik kok" jawab Tiara.
"Trus kenapa kamu terlihat seperti sedang banyak fikiran?" tanya Dian bingung.
"Aku hanya memikirkan tentang undangan reuni yang tadi Putri katakan Mbak. A.. aku entahlah, rasanya aku sangat malu datang ke acara itu" ungkap Tiara.
"Kenapa kamu malu? Karena kamu bukan siapa-siapa, hanya seorang Ibu Rumah Tangga?" tebak Dian.
"Bukan begitu Mbak" bantah Tiara.
"Jadi? Ra, Bintang itu pengusaha muda yang sedang baik daun saat ini. Prestasi dan wajahnya sering muncul di majalah - majalah bisnis. Kamu menikah dengan pria hebat Ra jadi kamu jangan malu seperti itu" ucap Dian.
"Bukan karena itu Mbak. Mbak tau kan bagaimana masa lalu aku. Orang yang merusak hidupku dan menjebakku adalah sahabat aku sekaligus teman kuliahku. Aku tidak siap kalau bertemu dia Mbak dalam acara itu" ungkap Tiara.
"Justru inilah kesempatan terbaik kamu Ra. Tunjukkan padanya bahwa kamu tidak terpuruk malah kamu mendapatkan benda berharga setelah kejadian itu. Walaupun awalnya sangat pahit tapi semuanya berakhir dengan bahagia" balas Dian.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1