
"Duh.. bagaimana ini?" tanya Tiara pada diri sendiri.
Tiara turun dari ranjang dan berjalan ke arah sisi Bintang yang sedang tertidur. Tiara mencoba membangunkan Bintang tapi sepertinya Bintang sangat kelelahan dan sulit sekali dibangunkan.
"Mas... Maaas.... Maaas.... " panggil Tiara.
Sepertinya dia sudah nyenyak sekali, kasihan juga kalau harus dibangunkan. Lebih baik aku saja yang mengalah dan tidur di kamarnya Mas Bintang. Tapi mana kunci kamarnya ya?
Tiara mencoba mencari di sekitar Bintang, hanya ada ponselnya saja yang dia letak di atas nakas samping tempat tidur.
Apa ada di kantong Mas Bintang? Duh gimana caranya aku mengambilnya? Batin Tiara.
Tiara mondar mandir berjalan di samping Bintang. Karena dia juga sudah ngantuk sekali akhirnya Tiara memberanikan diri untuk mencari kunci dalam kantong celana Bintang.
Malam ini Bintang hanya memakai baju kaos oblong, jadi sudah pasti kunci kamarnya ada di kantong celana.
Pelan - pelan Tiara mencoba meraba pinggang Bintang. Tangannya bergetar karena merasa sangat takut kalau tindakannya ini bisa membuat Bintang bangun dan salah sangka.
Tiara mulai memasukkan tangannya ke dalam kantong Bintang dan mulai meraba mencari kunci kamar.
Ya Tuhan maafkan aku... Mengapa kantongnya sangat dalam sekali. Batin Tiara.
Tiba-tiba Bintang terbangun karena sentuhan Tiara yang tanpa sadar membangunkan sesuatu yang lain dalam tubuhnya.
Dia sangat terkejut melihat wajah Tiara sangat dekat dengan tubuhnya dan apa yang di lakukan Tiara di bawah sana. Tiara meraba pahaku.
Sontak Bintang terkejut dan refleks duduk sehingga tanpa sadar Tiara juga melihat ke wajah Bintang dan tanpa sengaja bibit Bintang mendarat di pipi Tiara.
Ya Tuhaaaan.... Batin Tiara.
"Ka.. kamu ngapain Tiara?" tanya Bintang untuk menghilangkan rasa terkejutnya.
"Ma.. maaf Mas, aku sedang mencari kunci kamar Mas. Dari tadi aku sudah mencoba membangunkan Mas tapi Mas gak bangun juga jadi aku berinisiatif untuk pindah ke kamar Mas. Mas yang tidur di sini bersama Tegar. Tapi aku tidak menemukan kunci kamar Mas, jadi aku mencoba mencarinya di kantong celana Mas. Maaf.. kalau aku lancang" jawab Tiara dengan wajah merah karena malu.
"Eh.. tidak apa - apa Ra. Aku mengerti, ya sudah karena aku sudah bangun aku saja yang akan pindah kamar" balas Bintang.
Bintang segera turun dari tempat tidur dan melangkah keluar kamar Tiara dan langsung masuk ke dalam kamarnya.
Kamu bukan hanya membangunkan aku dalam tidur saja Ra, tapi kamu sudah berhasil membangunkan sesuatu yang sudah lama tidur di bawah sana. Batin Bintang.
__ADS_1
Ingatan Bintang kembali berputar saat Tiara meraba pahanya dan tanpa sengaja tadi dia sempat mencium pipi Tiara.
Ya Tuhaaaan sepertinya aku harus mandi lagi malam ini. Ucap Bintang pada diri sendiri.
Bintang segera masuk ke kamar mandi dan berendam air hangat di dalam bathup untuk menghilangkan hasratnya yang sempat terbangun tadi.
Sementara di kamarnya Tiara sibuk menenangkan jantungnya yang dari tadi berdetak kencang dan tak tentu iramanya.
Ya Tuhaaaan... apakah Mas Bintang salah sangka padaku. Ukh... mengapa aku mempunyai ide seperti itu tadi.
Tiara memukul kepanya.
Bodoh.. bodoh.. bodoh.. Lebih baik tadi aku tendang saja dia sampai jatuh dari tempat tidur, dengan begitu pasti dia bangun dan mengira kalau dia jatuh karena dirinya sendiri.
Sehingga peristiwa tadi tidak akan pernah terjadi. Tiara merutuki dirinya sendiri yang telah bertindak bodoh.
Bagaimana besok aku melihat wajahnya. Aku tak sanggup menemuinya. Ya Allah bagaimana ini....
Tiara kesal pada diri sendiri sampai akhirnya dia lelah dan mulai ngantuk.
Sudahlah masalah besok biarlah besok saja di hadapi mau bagaimana lagi. Nasi sudah menjadi bubur. Lebih baik sekarang aku tidur. Tubuhku rasanya sangat remuk dan mataku sangat sulit untuk terbuka.
Tiara berbaring di samping Tegar dan mulai memejamkan matanya. Tak lama kemudian dia tertidur.
"Mama dan Papa baik - baik saja?" tanya Tegar bingung.
"Kenapa kamu bertanya begitu sayang?" tanya Bintang.
"Habisnya Papa dan Mama dari tadi diam saja. Apa Papa dan Mama sakit?" tanya Tegar lagi
"Mama gak sakit sayang" jawab Tiara.
"Papa juga" sambut Bintang.
"Sudah selesai makannya kan? Yuk kita pulang. Mama kan harus cek Cafe hari ini" ucap Tiara.
Mereka kembali ke Bandung dan karena sudah kesiangan akhirnya mereka langsung ke Cafe.
Sampai di Cafe wajah Roy terlihat berubah. Bintang tau apa penyebabnya. Dia lupa mengabari Roy kalau tadi malam dia gak bisa balik ke Hotel karena menginap di Ciater.
__ADS_1
Pasti Roy mengira aku tidur di rumah Tiara. Batin Bintang.
"Kita balik siang ini yuk Bin, besok aku akan berangkat ke Singapore. Sampai di Jakarta aku masih sempat istirahat" ajak Roy.
"Oke sebentar ya Roy aku pamitan dengan Tegar dulu" balas Bintang.
Bintang menemui Tegar yang sudah bermain di ruang kerja Tiara.
"Maaf ya Mas tadi malam gak balik lagi ke Cafe" ucap Tiara.
"Gak apa - apa Ra, jarang - jarang kan kalian pergi bertiga. Mungkin gak ada salahnya mengabulkan permintaan Tegar sekali - sekali. Kasihan dia juga butuh perhatian kedua orang tuanya. Gimana Ra, apakah kamu sudah bisa menjawab permintaanku bulan lalu?" tanya Roy.
"Ma.. maaf Mas. Sepertinya aku tidak bisa. Tegar tidak setuju kalau dia punya Papa lagi selain Mas Bintang dan Ridho. Dia pernah menangis karena itu" ucap Tiara jujur.
"Aku tau Ra, mungkin kamu belum ada rasa padaku. Tapi gak mungkin selamanya kamu sendiri kan? Tegar butuh status Ra dan aku siap untuk menjadi Papanya secara hukum. Atau kamu menyukai orang lain?" tebak Roy.
"Bu.. bukan begitu Mas. Aku hanya belum memberi pengertian kepada Tegar tentang keadaanku. Mungkin lambat laun dia akan mengerti dan mau menerima" jawab Tiara.
"Aku kasih kamu waktu lagi untuk memastikan isi hati kamu. Aku tunggu jawaban kamu bulan depan ya" desak Roy.
"Ba.. baik Mas" jawab Tiara.
Roy pergi meninggalkan Tiara sendiri dan menyusul Bintang. Mereka balik ke Jakarta dengan mengendarai mobil Bintang.
Tiara menatap kepergian dua pria yang sangat berpengaruh dalam hidupnya. Pria yang satu adalah ayah dari anaknya sedangkan pria yang satu lagi adalah pria yang telah merubah dan membantu hidupnya setengah tahun belakangan ini.
Tiara tidak bisa mengabaikan keberadaan Roy dalam hidupnya sekarang. Karena dengan bantuan Roy, perlahan Tiara bisa bangkit menata hidupnya kembali dan meraih kesuksesannya.
Tiara juga seperti merasa berhutang budi kepada Roy, karena Roy sudah banyak memberikan bantuan dan fasilitas yang bisa dikatakan mewah bagi Tiara.
Rumah, motor dan mobil juga gaji yang cukup besar dari kerjanya yang telah mengelola Cafe Roy sampai berkembang seperti sekarang ini.
Disamping itu Roy juga sangat baik dan bertanggung jawab. Bisa menerima dia apa adanya.
Tapi mengapa sangat sulit menerima Roy dalam hatinya. Apakah perlahan-lahan hatinya sudah ada nama Bintang yang jelas - jelas tidak pernah mau menikahinya.
Tiara merasa berada diantara dua pilihan.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG