Tiara

Tiara
Honeymoon


__ADS_3

Minggu pagi yang cerah, secerah hati Pak Wijaya dan Bu Siti yang sedang menikmati indahnya pagi ini di Hotel tempat mereka menginap.


Setelah shalat subuh mereka kembali berbaring di peraduan yang empuk. Saling berpelukan mesra melepas kerinduan yang sudah tersimpan bertahun - tahun lamanya.


"Kamu masih secantik dulu Sit" ucap Pak Wijaya memuji istrinya.


"Mas gak usah ketinggian mujinya, ya jelas beda donk Mas. Dulu kan aku masih muda sekarang udah jelita (jelang lima puluh tahun) masih aja di bilang cantik" elak Siti karena malu.


"Yang lihat kan aku, bagiku kamu masih cantik persis seperti pertama kali dulu aku melihat kamu" jawab Pak Wijaya.


Siti tampak semakin malu membuat Pak Wijaya ingin terus menggodanya.


"Bajunya bagus ya, aku suka" ucap Pak Wijaya sambil tersenyum.


"Maaaaas udah ah, aku kan malu. Ini nih kerjaan si Sekar, dia yang paksa aku beli baju ini. Udah gitu koper aku di kerjain lagi sama Dewi dan Tiara. Padahal aku sudah siapin daster" jawab Siti.


"Gak apa - apa, lebih baik pakai baju ini aku suka" balas Pak Wijaya.


"Gak pantes Mas, udah tua" ujar Siti.


"Siapa bilang kita sudah tua. Aku masih sanggup buat kamu hamil" goda Pak Wijaya.


Siti menatap ke dalam mata suaminya.


"Mas serius pengen punya anak lagi?" tanya Siti serius.


Pak Wijaya memeluk erat tubuh istrinya dan menghirup dalam aroma tubuhnya


"Gimana ya.. dibilang pengen ya gak begitu tapi kalau Allah sudah berkehendak kenapa kita tolak. Aku hanya bercanda kok pengen godain kamu. Aku gak memaksa kamu untuk hamil lagi. Sudah ada Tiara, Dewi dan Ali. Kita juga sudah punya dua cucu, Tegar dan Zia. Saatnya kita menikmati hari tua bersama anak dan cucu kita. Kamu gak usah kejauhan mikirnya dan akhirnya jadi beban. Dijalani aja, kalau Allah kasih kita kepercayaan untuk mempunyai anak lagi ya kita terima dan kita rawat sebaik mungkin" ungkap Pak Wijaya.


Ucapan Pak Wijaya membuat hati Siti tenang. Suaminya ini dari dulu memang paling bisa membuatnya sangat merasa di cintai, sehingga saat dia pergi dulu membuat Siti begitu galau dan sangat kehilangan.


Siti melirik jam di dinding, sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.


"Mas kita siap - siap yuk, ganti pakaian dan turun ke bawah untuk sarapan. Nanti jam sepuluh kita kan di jemput Mang Kardi trus ke Bandara" ujar Siti


Pak Wijaya melirik ke arah jam tangannya.

__ADS_1


"Sudah jam tujuh rupanya, gak kerasa ya waktu kalau dijalani bersama kamu. Rasanya cepat banget berjalan" sambut Pak Wijaya. Ya sudah yuk kita berbenah" ajak Pak Wijaya.


Siti dan Pak Wijaya mengganti pakaiannya, menyusun barang - barang mereka dan turun ke lantai dasar untuk sarapan.


Setelah sarapan mereka kembali ke kamar sambil menunggu jemputan datang. Mereka duduk di balkon kamar.


"Mas gimana ya nanti reaksi Tiara saat dia mengetahui kalau kandungannya sudah diangkat?" tanya Siti resah.


Pak Wijaya tampak sedang memandang wajah istrinya sambil membetulkan letak jilbab Siti.


"Sudah satu bulan, lama kelamaan Tiara pasti akan curiga Mas karena merasakan sesuatu. Kalau rahim sudah diangkat dia pasti tidak akan datang bulan. Pasti dia curiga mengapa dia tidak datang bulan" ujar Siti galau.


Pak Wijaya menarik nafasnya panjang.


"Ya mungkin waktunya sekitar satu bulan lagi kan. Saat ini kan Tiara masih masa nifas setelah melahirkan. Mudah - mudahan dalam satu bulan ini kondisi Tiara semakin membaik sehingga dia semakin kuat untuk menerima kenyataan hidupnya" jawab Pak Wijaya.


"Aku takut dia depresi Mas. Tiara kan masih muda. Belum juga tiga puluh tahun umurnya tapi sudah tidak punya kandungan. Dia pasti akan merasa rendah diri di depan Bintang karena dia sudah punya kekurangan" ungkap Siti


"Putri kita itu sangat kuat Sit, kita tidak boleh terlalu mengkhawatirkan sesuatu yang belum terjadi. Terkadang kenyataannya sering malah tidak seperti itu, bahkan sangat jauh sekali. Kita hanya dibayang - bayangi oleh ketakutan - ketakutan yang sebenarnya berasal dari bisikan setan. Pasrahkan hanya kepada Allah, doakan agar Tiara sehat dan kuat saat dia mengetahui kebenaran itu. Aku yakin dia pasti akan bisa melalui semuanya. Anak kita itu lebih kuat dari yang kita bayangkan. Jadi kamu jangan khawatir ya" sambut Pak Wijaya.


Tak lama ponsel Pak Wijaya berdering.


"Oh kamu sudah di bawah ya.. Ya sudah tunggu di loby saja. Saya dan istri saya akan segera turun" sambung Pak Wijaya kemudian telepon di tutup.


"Mang Kardi sudah sampai Mas?" tanya Siti.


"Sudah, yuk kita turun" ajak Pak Wijaya.


Siti kemudian meraih tas yang baru dia beli minggu lalu bersama Sekar kemudian memakai sepatu barunya juga dan berjalan menuju pintu keluar kamar mereka. Sedangkan Pak Wijaya membawa koper yang berisi pakaian mereka dan menyusul Siti, istrinya dari belakang. Mereka turun ke bawah dengan menggunakan lift.


Sesampainya di loby Mang Kardi sudah menyambut mereka dengan hormat. Mang Kardi meraih koper dari tangan Pak Wijaya dan menyimpannya di bagai mobil.


"Bintang dan Tiara sudah jalan Mang?" tanya Siti.


"Sudah Bu, tadi Mas Bintang sudah jalan bareng sama Mas Bagas dan yang lainnya. Katanya kita ketemu di Bandara saja" jawab Mang Kardi


"Kalau begitu jalan Mang, hati - hati ya, jangan terburu - buru" sambut Pak Wijaya.

__ADS_1


Mobil bergerak meninggalkan hotel dan menuju ke Bandara. Mereka turun di terminal keberangkatan luar negeri. Di sana sudah banyak peserta umroh yang menggunakan pakaian yang sama dengan yang dipakai Pak Wijaya dan Bu Siti.


Dari kejauhan mereka melihat Sekar dan Pak Bambang juga baru sampai. Di sana juga ada Bintang bersama keluarga kecilnya, Bagas, Dewi dan Ali yang menyambut kedatangan mereka.


"Waaah Bapak tampak keren dan semakin segar" goda Bagas.


Dewi mencubit pinggang Bagas memberi kode agar Bagas tidak menggoda Bapak Tirinya.


"Berasa kembali muda ya Jay" sambut Pak Bambang.


Pak Bambang hanya menjawab ucapan mereka dengan senyuman.


"Gimana Sit lingerienya jadi dipakai tadi malam?" tanya Sekar sambil berbisik.


Siti hanya menunduk malu.


"Yesss... jadi kan? Uh pasti Mas Jay senang tuh. Pantesan seger banget wajahnya udah berbuka setelah bertahun - tahun puasa" Sekar menyenggol lengan Siti.


Supir datang dengan membawa dua koper Siti dan Pak Wijaya.


"Ini Pak kopernya" ujar Supir sambil menyerahkan koper kepada Pak Wijaya dan Bu Siti.


"Terimakasih ya" jawab Pak Wijaya.


"Yuk Jay kita bergabung dengan rombongan" ajak Pak Bambang.


"Opa, Oma dan Eyaaang.. hati - hati di jalan ya.. " teriak Tegar.


"Iya sayang, kamu juga baik - baik ya di sini. Bantuin Mama jagain adek Zia" sambut Siti.


"Oke eyang.. jangan lupa pulangnya bawa adek ya dalam perut eyang" ujar Tegar.


"Tegaaaaar" cegah Bintang, Tiara, Dewi dan Ali...


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2