
Setelah selesai menangkap ikan Dewi dan Siti dibantu oleh asisten rumah tangga Pak Wijaya memasak untuk makan siang mereka. Beraneka ragam jenis makanan.
Ada ikan bakar, ikan disiram saos asam manis dan ikan goreng tepung. Mereka juga memasak sayur cah kangkung dan lalapan. Setelah para lelaki semuanya selesai mandi dan segar mereka duduk di gazebo belakang rumah Wijaya makan siang sambil menikmati pemandangan kebun teh.
"Rumah kamu memang luar biasa Jay, pemandangannya sangat sejuk di mata. Seminggu di sini aku rasa berat badanku akan bertambah karena enak makan dan tidur" ujar Pak Bambang.
"Itulah cita - cita sejak dulu, pengen tinggal di perkebunan teh seperti ini. Hati sangat tenang dan hidup tentram" jawab Wijaya.
"Yank kamu jangan mondar mandir gitu, aku serem lihat kamu jalan" ucap Bintang melihat Tiara jalan mengantar makanan ke gazebo dengan perutnya yang besar.
"Pelan - pelan kok Mas" jawab Tiara.
"Sudah masak makanannya?" tanya Bagas.
"Sudah Mas, sabar ya" jawab Tiara.
"Yuk Al, kita bantuin ngangkat ke sini" ajak Bagas.
Ali dan Bagas jalan ke dapur untuk mengambil makanan dan membawanya ke gazebo.
"Mana makanan yang sudah masak Wi, biar aku angkat?" tanya Bagas pada Dewi.
"Ini Mas" Dewi menyerahkan beberapa piring yang sudah diisi oleh makanan. Tanpa sadar Bagas menyentuh tangan Dewi.
Seeer... Dewi menundukkan wajahnya.
"Maaf Wi, aku gak sengaja. Maaf benar - benar gak sengaja" jawab Bagas tulus.
"Iya Mas gak apa - apa" jawab Dewi. Dewi langsung membalikkan badannya.
Duh gawat situasi seperti ini malah jadi begini. Semoga Dewi tidak salah sangka dan mengira aku mengambil kesempatan dalam kesempitan. Batin Bagas.
Bagas mulai mengangkat makanan bolak balik dari dapur ke gazebo belakang rumah Pak Wijaya.
Setelah selesai diangkat semuanya mereka makan siang bersama di tengah kebun sayur Pak Wijaya yang berada di tengah - tengah kebun teh milik Pak Wijaya.
Satu persatu makanan mereka cicipi.
"Mmmmm... enak sekali bu sambal terasinya" puji Bagas.
"Sambel terasinya buatan Dewi Mas Bagas" sambut Tiara.
Sontak wajah Bagas berubah.
Duh aku harus jawab apa ini, aku puji nanti dikira cari muka kalau aku diam saja nanti... Bagas bingung sendiri jadinya.
"Enak Wi. Pinter kamu ngulek terasinya" puji Bagas akhirnya.
__ADS_1
Wijaya, Siti, Bintang dan Tiara mengetahui kecanggungan antara Bagas dan Dewi. Mereka ingin membantu tapi mereka tidak ingin ikut campur dalam urusan kisah cinta antara Bagas dan Dewi.
"Makasih Mas" jawab Dewi.
Mereka makan siang dengan lahap mungkin karena tadi kecapean baru main di kolam. Semua masakan Siti dan Dewi habis dan kandas semua di makan.
"Nanti kalau sidang Ida dimulai kalian siap - siap ke Jakarta lagi ya" ujar Wijaya.
"Iya Mas" Balas Siti.
"Nanti aku akan antar kalian ke Jakarta. Aku juga mau ikut dan melihat persidangan" sambung Wijaya.
"Kamu siap - siap Wi. Nanti pasti kamu akan di tanya - tanya" ujar Bagas mengingatkan.
"Iya benar, kan kamu korban di sini" sambung Bintang.
"Kalian juga pasti akan di panggil. Kamu Jay, Bintang dan Bagas. Kalian akan menjadi saksi saat kejadian penyelamatan Dewi minggu lalu" ujar Bambang.
"Iya Pa. Kami sudah siap kok" jawab Bintang.
"Kamu gimana Wi?" Tanya Bagas.
Bagas terlihat sangat mengkhawatirkan keadaan Dewi. Dewi terlihat masih diam dan memikirkan sesuatu.
"A.. aku harus jawab apa?" tanya Dewi ketakutan.
"Iya Wi, kamu jangan takut. Jawab yang tegas dan sebenarnya" sambut Bintang.
"Kami akan menemani kamu di setiap penyelidikan" sambung Bagas.
Dewi menatap wajah Bagas, ada ketulusan dan kesungguhan di sana.
"Oh iya, Ibunya Ida itu masih ada?" tanya Sekar Mamanya Bintang.
"Mamanya Ida sudah lama meninggal. Kalau gak salah saat kami baru masuk kuliah" jawab Tiara.
"Sejak itu dia tinggal sama siapa?" tanya Sekar lagi.
"Setau aku sama keluarga Ibunya Ma" balas Tiara.
"Kira - kira sejak kapan ya dia tau Tarjo itu Bapaknya?" tanya Sekar kembali.
"Itu dia Ma yang aku gak tau, tapi menurutku saat mereka menjebakku sekitar lima tahun yang lalu saat itu Ida sudah tau kalau Bapak itu adalah Bapak kandungnya. Kalau tidak gak mungkin dia mau membantu Bapak" jawab Tiara.
"Mungkin dia sengaja berteman dan mendekati Kak Ara karena memang ingin balas dendam. Saat kejadian penculikan aku kemarin sedikitpun Mbak Ida gak ada perasaan kasihan melihatku. Dia malah tertawa dan menyumpahiku" sambut Dewi sedih.
"Kamu jangan bersedih Kak, kita gak perlu saudara seperti dia. Aku tidak akan pernah menganggapnya saudaraku" ujar Ali.
__ADS_1
"Husss... kamu gak boleh begitu Al" potong Siti.
"Mbak Ara saja yang beda Bapak tapi saya sama kami Bu, masak dia saudara satu Bapak begitu membenci kami" sambung Ali.
"Itu karena didikan Ibu kalian yang mengajarkan kasih sayang dan persaudaraan pada kalian. Makanya kalian saling menyayangi" ujar Pak Bambang.
"Iya aku yakin semua pasti karena didikan kamu Sit" sambut Sekar.
"Alhamdulillah anak - anak memang tidak sulit untuk di didik dan mereka juga manut dan pengertian dengan keadaan kami" ungkap Siti.
"Itu semua karena didikan kamu. Aku juga sangat bersyukur kamu bisa mendidik Tiara menjadi wanita terhormat. Walau memang kisah masa lalunya yang pernah cacat tapi itu semua kan karena kecelakaan" puji Wijaya.
"Iya Mas" jawab Siti.
"Gimana kehamilan kamu nak?" tanya Wijaya penuh kelembutan pada Tiara.
"Alhamdulillah sehat Pak, kemarin periksa terakhir ke dokter Alhamdulillah adiknya Tegar perempuan" jawab Tiara.
"Waaaah Alhamdulillah.. lengkap sudah cucu Opa. Ada Tegar dan nanti adik perempuannya. Kamu harus bisa menjaga adik kamu dengan baik Tegar" Wijaya memeluk cucu kesayangannya.
"Kalian lupa ya ngabari Papa dan Mama" sambut Sekar.
"Maaf Ma kemarin lupa karena peristiwa penculikan Dewi" jawab Tiara jadi sungkan kepada mertuanya.
"Gak apa - apa nak, Mama hanya bercanda. Yang penting kamu dan anak kamu yang di dalam perut ini sehat - sehat sampai lahiran" Sekar membelai lembut punggung Tiara.
"Sudah siang... sepertinya sudah waktunya kamu istirahat. Dari tadi kamu kebanyakan jalan. Sana masuk ke dalam dan tidur siang" perintah Sekar.
"Iya Ma, aku juga mau ajak Tegar tidur siang. Dia pasti capek tadi main di kolam" jawab Tiara.
"Iya tuh lihat matanya sudah redup, udah ngantuk apalagi sudah kenyang makan siang barusan" sambut Siti.
"Mas tolong gendong Tegar ke dalam yuk. Lihat tuh anak kamu sudah ngantuk berat" ajak Tiara.
"Iya sebentar ya" Bintang berdiri kemudian menggendong Tegar dan membawanya masuk ke dalam sambil menggandeng Tiara mereka berjalan dengan mesra.
"Lihat mereka.. begitulah kehidupan. Belum tentu sesuatu yang di mulai dengan sebuah keburukan akan berakhir buruk. Asal kita mau berusaha berubah dan terus memperbaiki diri pasti akan berakhir indah. Siapa sangka pertemuan mereka yang bisa di bilang buruk bisa berakhir manis. Mereka dapat berkumpul bersama dan bahagia. Semoga kita semua bisa mengambil hikmah dari kisah mereka" ujar Pak Bambang.
Bagas melirik ke arah Dewi.
Semoga kamu mengerti apa yang Pak Bambang katakan Wi. Memang aku mulai mendekati kamu dengan cara yang salah tapi niatku tulus untuk berubah dan aku ingin bahagia bersama kamu. Batin Bagas.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1