Tiara

Tiara
Kuras ATM Part. 2


__ADS_3

"Ya ampun Kaaar.. aku gak sanggup melihatnya" Siti menutup matanya karena malu persis seperti anak ABG.


"Hahahah.. ternyata kamu masih polos seperti dulu ya" tawa Sekar.


Sekar memilih lingerie untuk Siti.


"Gak mah Kar, aku malu memakai pakaian itu, lagian masuk angin. Di Lembang kan dingin Kar" tolak Siti.


"Menyenangkan hati suami itu ibadah. Kamu kan paling tau soal itu. Dan menyenangkan hati suami itu bukan hanya pinter masak, pinter mengurus rumah tangga dan mengurus anak. Tapi juga harus menarik di atas ranjang" ujar Sekar.


Siti memejamkan matanya tiba - tiba dia merasa pusing dengan aksi Sekar kali ini.


"Memakai pakaian seperti ini salah satu cara menyenangkan hati suami. Kamu gak percaya? tanya gih Mas Jay. Atau mana handphone kamu" pinta Sekar.


"Untuk apa?" tanya Siti.


"Aku mau foto terus tanya sama Mas Jay, Mas Jay suka kamu pakai yang mana?" jawab Sekar.


"Sekaaaar, jangaaan.. aku malu" cegah Siti.


"Makanya dari pada kamu malu sama aku kan mending di beli aja nanti kamu pakainya pas di hadapan Mas Jay aja. Di awal pasti malu tapi gak sampai lima menit jadi mau" goda Sekar.


Wajah Siti sudah panas dan merah karena malu. Dia tau dari dulu sahabatnya ini memang sangat berani dalam hal apapun dan juga ceria. Makanya Siti sangat suka berteman dengan Sekar. Sekar selalu membela Siti yang seorang yatim piatu.


Berteman dengan Sekar membuat Siti tidak kesepian lagi dan aman. Sekar pasti akan melindunginya.


Siti kini hanya bisa pasrah saat Sekar memilih beberapa baju tidur untuknya. Sekar juga memilih pakaian dalam untuknya.


Setelah tangan Sekar penuh dia membawa semua barang belanjaan itu ke meja kasir. Dan menyuruh Siti untuk membayarnya.


"Akhirnya selesai semua... " ucap Sekar lega.


Bukan hanya Sekar yang lega tapi Siti jauh lebih lega lagi. Belanja dengan Sekar membuat Siti tegang selama berada di Mall ini.


"Sudah kan, bisa kita pulang?" tanya Siti.

__ADS_1


"Oke, sekarang kita pulang" jawab Sekar.


Mereka berjalan menuju parkiran tapi tiba - tiba Sekar berhenti di depan toko parfum.


"Apalagi Sekaaaaaar?" tanya Siti. Perasaannya jadi gak enak ketika melihat senyum Sekar terbit di wajah cantiknya.


Sekar memberi kode untuk masuk ke dalam toko.


"Kamu mau saat Mas Jay cium kamu tercium bau bawang dan aneka masakan dapur?" tanya Sekar.


"Ya habisnya kan aku ngurus Cafe, pasti donk sesekali aku ke dapur dan nempel bau dapur" jawab Siti polos.


"Makanya beli parfum donk biar Mas Jay nempel terus sama kamu karena mencium wangi parfum kamu" balas Sekar.


"Ya ampun kamu ini... " ujar Siti.


Sekar menarik Siti masuk ke dalam toko parfum. Sekar meminta wangi yang lembut untuk cewek. Pegawai memberikan beberapa merk parfum Chance woman dari Channel.


Sekar mencium wangi parfum tersebut dan menyukainya.


Siti mengikuti perintah Sekar.


"Suka?" tanya Sekar.


Siti mengangguk kan kepalanya.


"Ya udah Mas kami beli yang ini" pinta Sekar.


Siti sudah mengerti apa yang harus dia lakukan tanpa di minta Siti sudah mengeluarkan kartu ATM Pak Wijaya dan membayar tagihan parfum tersebut.


Setelah selesai mereka kembali berjalan pulang ke arah parkir mobil.


"Udah ya Kar, aku gak mau singgah kemana - mana lagi. Kakiku udah pegal" ujar Siti.


"Tenang, pegalnya kan sekarang. Nanti kamu pasti akan berterima kasih padaku" jawab Sekar sambil tersenyum senang.

__ADS_1


Mereka masuk ke dalam mobil dan melaju pulang ke rumah Bintang.


******


Di rumah Pak Wijaya menerima laporan penggunaan kartu ATM nya. Dia tersenyum melihat daftar belanjaan Sekar dan Siti.


Ternyata Siti membeli mukena, gaun, tas dan sepatu dan alat make up. Aaah... wanita memang tak lepas dari semua itu. Batin Pak Wijaya.


Tak lama Pak Wijaya mendapat laporan lagi.


Apa ini? Lingerie, bra dan pakaian dalam.. hahaha... aku yakin ini pasti ulah Sekar. Sitiku wanita polos, pasti Sekar yang sudah mengajarinya berbuat seperti ini. Sepertinya aku harus berterima kasih pada Sekar setelah ini. Ujar Pak Wijaya dalam hati.


Dia masih tersenyum menatap jumlah daftar belanja Sekar dan Siti. Baginya tak masalah uangnya habis selama itu untuk kebutuhan Siti dan dapat membuat Siti bahagia.


Toh selama ini Siti dan Tiaralah yang menjadi alasannya untuk hidup sukses. Dia ingin saat menemukan mereka kembali dia bisa memberikan apa yang dulu tidak bisa dia berikan kepada anak dan istrinya.


Pesan kembali masuk, dengan tidak sabar Pak Wijaya kembali membuka pesan di handphonenya. Dia ingin tau barang apalagi yang dibeli Siti untuk barang seserahan pernikahan mereka yang akan berlangsung dia minggu lagi.


Pak Wijaya terkejut lalu tersenyum melihat pesan tersebut. Ternyata Siti membeli parfum. Pak Wijaya tersenyum lebar.


Semua yang kamu beli pasti untuk menyenangkan aku kan Sit. Aaaakh... rasanya tak sabar menunggu waktu dua minggu lagi.. Sorak hati Pak Wijaya.


"Duh dari tadi aku perhatiin Bapak senyum - senyum terus sambil melihat handphone. Dapat pesan dari penggemar nih Pak" goda Bagas.


"Hahaha kamu Gas ada aja. Bapak mana punya penggemar. Bapak kan tidak seperti kamu punya wajah tampan dan mapan di usia muda. Bapak melewati masa mudah dengan kerja keras. Hanya Siti satu - satunya wanita di hati dan hidup Bapak" jawab Pak Wijaya.


"Lantas apa yang membuat Bapak tersenyum bahagia seperti itu. Aku jadi penasaran?" tanya Bagas jujur.


"Bertahun - tahun Bapak banting tulang untuk meraih kesuksesan. Tujuannya hanya satu saat Bapak bertemu dengan istri dan anak, Bapak akan memberikan semua yang Bapak punya kepada mereka. Tapi seperti yang kamu tau, ketika Bapak menemukan Siti kembali ternyata dia sudah menjadi milik orang lain. Ternyata takdir berkata lain, Siti kini menjadi wanita bebas lagi dan bisa Bapak miliki kembali" jawab Pak Wijaya.


Sambil tetap menggenggam handphonenya Pak Wijaya terus berbicara dengan binar bahagia di matanya.


"Saat ini Siti sedang berbelanja dengan Sekar membeli barang - barang seserahan untuk pernikahan kami nanti. Barusan Bapak mendapat laporan daftar penggunaan kartu ATM Bapak. Bapak merasa bahagia bisa memenuhi semua apa yang di butuhkan Siti. Akhirnya Bapak bisa membuatnya bahagia. Memberikan apa yang selama ini tidak pernah Bapak berikan kepadanya. Rasanya hidup Bapak sebagai seorang laki - laki jadi lebih berarti, ternyata kehadiran Bapak masih sangat bermanfaat untuk orang yang sangat kita cintai. Dan hatiku memang tak salah memilih. Dia belanja bukan semata - mata untuk keperluan dan kebutuhan dia sendiri tapi yang dia beli tujuannya juga untuk membuat aku bahagia. Kelak kamu pasti akan merasakan apa yang Bapak rasakan saat kamu bisa mengabulkan dan memenuhi keinginan wanita yang kamu cintai. Apalagi yang dia beli adalah untuk membahagiakan kamu" ungkap Pak Wijaya.


Kata - kata Pak Wijaya di akhir sungguh membuat Bagas iri. Baru kali ini dia melihat seorang pria merasa puas sudah memberikan izin wanita yang dia cintai untuk membeli apapun yang dia inginkan.

__ADS_1


Apakah aku nanti bisa sebahagia Bapak saat aku akan menikah dengan Dewi? tanya Bagas dalam hati.


__ADS_2