Tiara

Tiara
Ketetapan tanggal pernikahan


__ADS_3

"Kami keluarga besar Dian juga menyambut baik niat keluarga Bapak datang ke rumah kami ini untuk melamar putri kami" jawab Papa Dian.


"Syukurlah ternyata dua keluarga kita memiliki satu tujuan. Kalau begitu ada baiknya kita menetapkan tanggal pernikahan untuk putra - putri kita" usul Papa Roy.


"Yah kami mengikuti saja kapan keluarga Bapak bisa mengingat keluarga Bapak kan lebih sering berada di luar kota ataupun luar negeri. Kalau keluarga kami bisa saja menyesuaikannya" balas Papa Dian.


"Kalau begitu bagaimana bulan depan saja? Satu bulan ini kami masih berada di Indonesia. Jadi bisa sekalian mempersiapkan segala sesuatunya untuk pernikahan Roy dan Dian" ujar Papa Roy.


"Apakah tidak lebih baik kita tanyakan dulu pada anak - anak Pak? Kan mereka yang akan menjalaninya. Kita hanya tinggal merestui mereka saja, mereka yang sudah siap atau belum dengan usul kita itu?" sambut Papa Dian.


"Iya.. Baiklah Roy, Dian gimana apakah kalian setuju kalau pernikahan kalian kita tetapkan saja bulan depan?" tanya Papa Roy.


Semua mata tertuju pada Roy dan Dian.


"Apa gak bisa lebih di percepat lagi Pa?" tanya Roy.


Sontak Dian mendelikkan matanya ke arah calon suaminya itu.


"Hahaha... kamu sepertinya sudah tidak sabar ya" goda Papa Dian.


Semua yang hadir di ruangan tersebut ikut tertawa.


"Bintang saja dalam waktu satu minggu bisa melangsungkan pernikahannya" jawab Roy.


"Aku kan hanya pesta sederhana saja Roy. Bedalah sama kamu" balas Bintang.


"Sekarang sudah ada WO yang mempersiapkan semuanya. Kita tidak perlu repot - repot lagi. Tinggal minta konsep pernikahan seperti apa mereka pasti akan membuatnya" sambut Roy.


"Tapi kan gak secepat itu juga Roy" bantah Dian.


"Lho Yan sama calon suami kok masih panggil nama sih, gak sopan itu?" protes Mama Dian.


Dian langsung tertunduk malu karena semua mata menatap ke arahnya.


"Tidak apa - apa Tante, sudah biasa" jawab Roy.


"Kamu juga masih panggil Tante. Tanggal pernikahan sedang di tetapkan artinya kita akan menjadi keluarga. Mulai hari ini panggil kami Papa dan Mama seperti Dian memanggil kami. Sebentar lagi kamu juga akan menjadi putra Kami" perintah Mama Dian.


"Iya Tan.. eh Ma" jawab Roy.


"Sama jeng kalau begitu Dian juga panggil yang sama ya sama Mama dan Papa" Mama Roy ikut menimpali.

__ADS_1


"Iya.. mmm Ma.. " jawab Dian malu.


"Trus mulai belajar merubah panggilan kamu pada Roy. Walau Roy adalah mantan teman kamu, kini kan dia sudah jadi Calon suami kamu" potong Mama Dian.


Roy tersenyum menang, pasti calon istrinya itu tidak akan bisa menolak permintaan keluarganya.


"Panggil Mas aja Yan" ucap Mama Roy.


"I.. Iiiya Ma" jawab Dian.


"Jadi gimana ini kepastian tanggal pernikahannya?" tanya Papa Dian.


"Bulan depan aja Pa biar gak terlalu terburu - buru. WO nya saja belum tau siapa yang mau di pilih" ujar Dian.


"Gimana Roy?" tanya Papa Roy.


"Aku ikut aja Pa. Yang penting semua setuju" jawab Roy.


"Ya sudah kalau begitu kita sepakat ya tanggalnya satu bulan ke depan" putus Papa Dian.


"Lokasinya dimana Pak eh Dek aja ya biar lebih akrab? Sebentar lagi kita juga akan jadi besan" tanya Papa Roy pada Papa Dian.


Ketepatan memang Papa Roy lebih tua usianya dari Papa nya Dian.


"Iya benar sekali jawaban kamu. Lebih baik kita duduk santai sambil memantau perkembangan pesta pernikahan mereka" sambut Papa Roy.


"Gak bisa begitu juga Mas. Kamu kan tau selera Roy bagaimana. Nih anak kalau gak di jaga ketat bisa aneh - aneh keinginannya" potong Mama Roy.


"Kalau itu urusan para Ibu - Ibu sajalah. Pria memilih mundur. Sepertinya kami sudah tidak cocok mengurus pernikahan lagi. Mending kami tinggal lihat dan jalani saja prosesnya. Ya kan Dek?" ucap Papa Roy.


"Iya Mas, perempuankan lebih ribet dah lebih banyak permintaannya" sambut Papa Dian.


"Nanti biar aku dan Dian aja Pa, Ma yang cari lokasi pestanya dan WOnya. Pokoknya Papa dan Mama terima beres deh" tegas Roy.


"Yan pilih yang bagus ya, jangan biarkan Roy yang memilih. Nanti dia minta yang aneh - aneh" ucap Mama Roy.


"Iya Ma" jawab Dian.


Akhirnya semua merasa lega dengan hasil pertemuan keluarga. Kini pembicaraan mereka sudah berganti dengan pembicaraan keluarga, bisnis dan lainnya.


Bagas yang sejak di rumah Roy terpesona dengan tampilan Dewi dari tadi bulak balik melirik ke arah Dewi.

__ADS_1


"Woy Gas, jaga pandangan kamu" bisik Bintang.


"Kenapa, perasaan mataku masih memandang yang wajar untuk di pandang. Dan mataku ini sangat tau mana objek yang bagus untuk di pandang" jawab Bagas cuek.


"Iya tapi jangan ke arah situ aja. Aku tau siapa yang sedang kamu pandangi?" sambut Bintang.


"Dasar pedofil" umpat Bintang.


Bagas tertawa karena umpatan Bintang kepadanya.


"Kami fikir aku akan setuju kalau adik iparku jadi target kamu selanjutnya?" bisik Bintang.


"Justru karena dia adek ipar kamu aku tidak akan menjadikannya target selanjutnya. Aku serius Bin" tegas Bagas.


"Kami fikir aku percaya? Cih.. aku tidak akan memberi izin pada kamu sebelum adik iparku berumur dua puluh tahun dan sebelum kamu menunjukkan bahwa kamu memang benar - benar tobat dan serius" jawab Bintang.


"Kalau aku menyanggupi semua syarat yang kamu berikan apakah kamu akan memberikan restu?" tanya Bagas.


"Belum tentu, lihat saja nanti. Semua tergantung usaha kamu" jawab Bintang.


"Aseeek... bersiaplah Kakak ipar. Kamu akan menjadi Kakak ipar aku" tegas Bagas.


"Coba saja kalau kamu berhasil" tantang Bintang.


"Seeep.. aku setuju" Bagas duduk tegak dan memberikan tangannya kepada Bintang.


"Aku tak perlu deal.. deal-an. Emangnya adik iparku itu barang apa bisa diperjual belikan" ucap Bintang kesal.


"Hahaha.. itu kan fikiran kamu Bin, aku tidak pernah menganggapnya sebagai barang. Justru karena aku begitu menghormatinya makanya aku meminta restu kamu dulu. Kalau aku menganggap adik ipar kamu sama seperti wanita - wanita yang selama ini aku temui aku tidak perlu meminta restu kamu. Aku langsung mendekatinya dan merayunya Bin" ucap Bagas serius.


Bintang menatap tajam kearah mata Bagas.


Sial... sepertinya dia benar - benar serius dengan ucapannya. Aku harus benar - benar menilai keseriusan Bagas. Mudah - mudahan setelah hari ini dia lupa dengan niatnya ini. Batin Bintang.


"Aku tidak butuh kata - kata. Aku butuh sikap kamu yang benar - benar tegas menunjukkan bahwa kamu sudah berubah" tegas Bintang.


"Kamu bisa melihat dan menilainya sendiri Bin, tapi jika saat itu tiba pelase.. restui niatku" janji Bagas.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2