Tiara

Tiara
Pergi untuk selamanya


__ADS_3

"Bapaaaaaaaaaaaaaak" teriak Ida dan Dewi bersamaan.


Tarjo jatuh tersungkur di tanah, dadanya mengeluarkan darah kental membasahi seluruh bajunya. Ida turun dari mobil dan mengangkat kepala Tarjo di atas pahanya.


Polisi kemudian mendekat, Bagas segera sigap menyelamatkan Dewi dari dalam mobil. Dia membuka ikatan tali di tangan Dewi. Dewi kemudian mendekati Tarjo yang masih sadar dengan nafas yang tersenggal - senggal dan menahan rasa sakit di dadanya.


"Bapak" tangis Dewi kembali pecah.


Sejahat apapun Tarjo kepadanya Tarjo tetaplah Bapaknya, dia adalah orang tua kandung Dewi. Kalau tidak ada dia tentu Dewi tidak akan terlahir ke dunia ini.


Cepat masukkan dia ke ambulance " perintah kepala Polisi.


Ambulance memang sudah dipersiapkan untuk menjaga hal - hal yang tidak di inginkan. Tarjo segera diangkat dan di masukkan ke dalam ambulance. Sedangkan Ida diamankan polisi dan dimasukkan ke dalam mobil polisi.


"Biarkan aku menemani Bapak di ambulance Pak, Mas" pinta Dewi sambil memelas. Air matanya terus mengalir.


"Tapi Wi" Ujar Bintang.


"Tidak Mas, walaupun Bapak jahat dia tetap Bapak aku. Izinkan aku berbakti kepada Bapak mungkin untuk yang terakhir kalinya. Aku ingin menemani Bapak di saat - saat terakhirnya" pinta Dewi.


Wijaya mengelus puncak kepala Dewi.


"Kamu anak yang baik, pergilah temani Bapak kamu di ambulance" perintah Wijaya.


"Terimakasih Pak" jawab Dewi.


Dewi segera berlari masuk ke dalam mobil ambulance dan duduk tepat di samping Tarjo yang merintih kesakitan.


Semua mobil sudah siap untuk mengiringi Tarjo sampai ke Rumah Sakit terdekat. Bintang teringat istri dan mertuanya. Dia segera menghubungi Tiara.


"Assalamu'alaikum sayang" ujar Bintang.


Wa'alaikumsalam. Gimana Mas, apa ada kabar terbaru? Gimana Dewi, apakah dia ditemukan?" rentetan pertanyaan dari Tiara karena dia sangat mengkhawatirkan keadaan Dewi.


"Ceritanya panjang sayang, Dewi selamat tapi yang penting sekarang adalah kamu, Ibu dan Ali segera ke Rumah Sakit XXX" perintah Bintang.


"Ada apa Mas? Mengapa kami harus ke pergi ke Rumah Sakit? Siapa yang sakit?" tanya Tiara tak sabar.


"Nanti aku ceritakan semuanya ya, sekarang yang bisa aku katakan Bapak tiri kamu terkena tembakan polisi dan saat ini sedang dalam perjalanan menuju Rumah Sakit XXX. Kita ketemu disana ya sayang" jawab Bintang.


"Astaghfirullah Bapak" jawab Tiara.


"Sudah ya sayang, kami semua sekarang sedang menuju Rumah Sakit itu" Bintang menutup teleponnya.


"Kenapa Ra, siapa yang masuk Rumah Sakit? Bapak kamu atau?" tanya Siti penasaran.


"Bapak Bu, Pak Tarjo terkena tembakan polisi dan saat ini sedang dibawa ke Rumah Sakit XXX" jawab Tiara.


"Innalillahi Maaaas.. mengapa bisa terjadi hal ini pada kamu Mas?" Siti menangis mengingat suaminya. Bagaimanapun pria itu saat ini masih berstatus suaminya. Sungguh dia tidak menyangka hal ini akan terjadi pada Tarjo. Walaupun Tarjo selalu menyakitinya tapi dia tidak pernah mendoakan hal yang buruk pada Tarjo.

__ADS_1


"Ayo Buk, Al kita ke Rumah Sakit XXX. Kita lihat kedaan Bapak di sana" ajak Tiara.


Tiara memeluk Siti dan berjalan menuju mobil Tiara. Mobil di kemudikan oleh supir yang sengaja dibawa Bintang untuk berjaga - jaga di rumah Siti di Bandung.


Mereka bergerak langsung menuju Rumah Sakit XXX. Ali duduk di depan di samping supir sedangkan Tiara dan Siti duduk di kursi penumpang. Mereka tetap saling berpelukan untuk saling menguatkan.


*****


Sementara di dalam mobil ambulance.


Dewi terus menggenggam tangan Tarjo yang terlihat semakin lemah. Karena darah terus mengalir dari dadanya. Sesekali Tarjo batuk - batuk dan merintih kesakitan.


"Pak yang kuat ya Pak, Bapak pasti bisa. Bertahan ya Pak" ucap Dewi memberi semangat kepada Tarjo.


Tarjo melirik ke arah Dewi.


"Ka.. kamu ti.. dak ben.. ci pa.. da.. Ba.. pak?" tanya Tarjo terbatas - bata.


Dewi menggelengkan kepalanya.


"Sampai kapanpun Bapak adalah Bapakku, Bapak kandungku. Aku tidak akan membenci Bapak. Aku sayang sama Bapak" Dewi menangis terisak.


"Nak.. Ba.. pak.. su.. dah.. ja.. hat.. ke.. pa.. da.. ka...mu" ujar Tarjo.


"Jangan pergi Pak, Bapak harus tetap hidup. Selama Bapak mau bertaubat dan berjanji untuk berubah Allah pasti akan memberikan ampunanNYA" sambut Dewi terus memberikan semangat agar Tarjo bisa bertahan.


"Ba.. pak..ti.. dak.. ku.. at.. la.. gi.. nak.. ja.. di.. lah.. a.. nak.. yang ba.. ik.. ja.. ga.. i.. bu.. dan.. a.. dik.. ka.. mu" ucap Tarjo.


"Tidak Pak, jangan pergi. Aku tidak mau Bapak menyerah. Aku masih membutuhkan Bapak. Jangan pergi Paaaak.. Aku sayang Bapak.. " jawab Dewi semakin histeris.


"Ban.. tu.. Ba.. pak.. naaak.. Ba.. pak.. i.. ngin.. per.. gi.. meng.. ha.. dap.. NYA.. Do.. a.. kan.. ba. . pak.. ya.. " pinta Tarjo sambil terputus.


Tarjo menarik tangan Dewi ke dadanya. Dewi semakin terisak.


"To.. long.. naaak.. wak.. tu.. ba.. pak.. ti.. dak..ba.. nyak" pinta Tarjo.


Dewi mulai menghapus air matanya. Dia harus kuat, mungkin ini adalah permintaan terakhir Bapaknya. Permintaan yang sangat terhormat untuk seorang anak bisa menuntun dan menemani orang tuanya disaat - saat terakhir hidupnya.


Dewi menarik nafasnya panjang.


"Bismillahirrahmanirrahim... " ujar Dewi..


Tarjo terlihat mengikuti kata - kata Dewi.


"Bis.. mil.. la.. hir.. rah.. ma.. nir.. ra.. him.. " ujar Tarjo mengikuti ucapan Dewi.


"ashadu an la ilaha illa -llah" Tuntun Dewi.


"As.. ha.. du.. an.. la.. ila.. ha.. illa.. llah" Tarjo mengikuti.

__ADS_1


Airmata Dewi semakin deras mengalir tapi dia harus menahannya. Dia tidak boleh mengeluarkan suara lain selain ucapan sahadat.


"Wa ashadu anna muhammadan rasulullah" sambung Dewi dengan khusyuk.


"Wa.. as.. ha.. du.. an.. na.. mu.. ham.. ma.. dan.. ra.. su.. lu.. llah... " sambut Tarjo.


Tarjo menarik nafas panjang untuk yang terakhir kalinya kemudian menghembuskan nafasnya yang terakhir.


"Innalillahi Bapaaaaaaaaak" tangis Dewi pecah memeluk erat Bapaknya.


"Bapaaaaaak mengapa Bapak pergi.. " teriak Dewi.


Mobil terus melaju menuju Rumah Sakit XXX. Di belakang mobil ambulance di ikuti oleh rombongan Bintang, Bagas dan Wijaya juga para polisi.


Dewi masih terus meratapi Tarjo yang sudah menghembuskan nafas terakhirnya.


"Ibu... Ali... Kak Ara.. Bapak huhu.. huhu... hiks.. hiks.. Bapaaaaaak" teriak Dewi.


Mobil ambulance tiba di Rumah Sakit dan langsung parkir di depan ruang ICU. Para Dokter dan perawat menyambut dengan sigap tapi begitu mereka membuka pintu ambulance mereka menyaksikan peristiwa yang memilukan.


Bagas, Bintang dan Wijaya mendekati pintu ambulance.


"Dewi.. " panggil Bintang dan Bagas.


"Mas Bapak.. Bapak sudah tiada Mas Hu.. huuuu... Bapaaaaak" Dewi kembali memeluk Tarjo dan menangis histeris.


Tak lama kemudian Siti, Tiara dan Ali sampai di Rumah Sakit dan berlari menuju mobil ambulance yang sudah ramai di kelilingi para perawat, dokter, Bintang, Bagas dan Wijaya.


Mereka berjala menuju posisi paling depan.


"Dewi... "


"Kak Dewiiiii..... " ujar Siti, Tiara dan Ali.


"Ibu, Mbak Ara, Ali Bapak huuuuuu... huuu.... Bapak sudah tiada" teriak Dewi.


Tiba - tiba terdengar teriakan seorang wanita dari belakang.


"Bapaaaaaaaaak" teriak wanita itu.


Sontak Siti, Tiara dan Ali melirik ke belakang ke arah suara wanita yang menjerit histeris.


"Idaaaaaaa"


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2