
Bruuuuk....
Bintang menabrak sesuatu.
"Siska kamu ngapain di sini?" tanya Bintang terkejut.
"A.. aku.. mau.. mmm Bin bisa kita ngobrol sebentar. Aku ingin bicara penting dengan kamu. Sangat penting" pinta Siska.
"Kamu kan sedang dalam proses laporan hukum. Mau mengelak dengan alasan kesehatan?" tanya Bintang curiga.
"Please Bin aku ingin meminta waktu pada kamu. Aku tau aku sudah banyak bersalah pada kamu dan istri kamu. Anggaplah aku sebagai teman lama, itu saja" jawab Siska dengan wajah memelas.
Sebenarnya Bintang sangat enggan menemui Siska lagi tapi kali ini Bintang merasa ada yang aneh pada Siska. Bintang merasa kasihan dengan penampilan Siska saat ini. Wajahnya tampak pucat dan penampilannya tidak rapi. Bukan seperti Siska biasanya.
"Ya sudah kita bicara di kantin Rumah Sakit" ucap Bintang.
"Terimakasih Bin" sambut Siska.
Mereka berdua berjalan menuju kantin Rumah Sakit. Siska mengikuti Bintang dan duduk di hadapan Bintang.
Bintang kembali memperhatikan penampilan Siska. Tampak tangan Siska bergetar.
Mengapa Siska seperti ini? Apakah dia grogi? Tidak.. Siska biasanya selalu percaya diri. Aku merasa seperti tidak melihat Siska saat ini, dia seperti orang lain. Batin Bintang.
"Ada apa? Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Bintang.
"Mmm... anu.. Aku mau meminta sebuah permohonan pada kamu" jawab Siska.
"Permohonan apa?" tanya Bintang.
"Mm... a.. anu.. Aku i.. ngin meminta kamu membatalkan pengaduan kamu ke polisi" jawab Siska.
"Kalau soal itu mohon maaf Siska aku tidak bisa. Apa yang kamu lakukan padaku sungguh sangat keterlaluan. Dan kamu juga sudah berulang kali ingin merusak rumah tanggaku dan menyakiti istriku" tolak Bintang.
__ADS_1
"Please Bin, aku tidak ingin menghabiskan sisa umurku di penjara" pinta Siska.
Mata Siska mulai berkaca - kaca.
"Apa maksud kamu?" tanya Bintang.
"Bulan ini aku sudah telat datang bulan Bin. Aku sangat senang sekali. Awalnya aku akan menjebak kamu, aku akan meminta pertanggungjawaban kamu atas apa yang telah kita lakukan satu bulan yang lalu di hotel" ungkap Siska dengan nada menyesal.
"Kita tidak melakukan apa - apa Siska. Saat itu kau sedang tertidur. Pelayan palsu yang kamu bayar itu sudah mengakuinya kalau dia yang memberikan obat tidur dalam minuman yang aku pesan" tolak Bintang.
"Iya Bin semua benar. Saat ini aku akan mengakui semuanya kepada kamu. Malam itu aku yang memang sangaja menjebak kamu. Aku membayar pelayan palsu untuk memberikan obat tidur di makanan kamu. Aku juga meminta kunci cadangan kamar kamu dan masuk pelan - pelan ke kamar kamu. Saat itu kamu sudah tidur dengan nyenyak. Aku membuka semua pakaian kamu dan juga pakaian aku. Aku mengambil beberapa foto mesra kita berdua. Tak lama kemudian Roy datang ke kamar kamu. Selanjutnya seperti yang kamu dengar dari Roy" ungkap Siska.
Bintang sangat terkejut mendengar pengakuan Siska. Lama berpacaran dengan Siska membuatnya mengetahui sifat Siska yang pantang menyerah jika menginginkan sesuatu.
Siska akan melakukan segala cara demi untuk meraih apa yang dia inginkan. Tapi kali ini apa rencana lain Siska. Mengapa dia berpura-pura baik. Apakah ingin mencari simpatik Bintang.
"Satu bulan ini aku menunggu kabar gembira datang. Agar aku bisa kembali bersama kamu. Dan aku memang sudah telat seminggu aku berharap aku hamil hingga kemarin aku mengalami pendarahan. Aku fikir aku sudah keguguran. Padahal aku belum memeriksa apakah aku hamil. Baik melalui test pack atau ke dokter kandungan. Kemarin aku periksa ke dokter Bin, saat itu aku bertemu Bagas juga. Ternyata istrinya hamil dan mereka sedang memeriksakannya ke Dokter kandungan" sambung Siska.
Siska menarik nafas panjang.
"Kamu memang keguguran? Tapi aku pastikan itu bukan anakku" jawab Bintang.
Air mata Siska jatuh perlahan dikedua pipinya. Lalu dia menggelengkan kepalanya.
"Kamu salah Bin. Kamu salaaaah" Ujar Siska.
"Lantas?" tanya Bintang penasaran mengapa Siska bisa sesedih ini.
"Aku.. aku menderita kanker serviks" jawab Siska sambil terisak.
"Innalillahi... " sambut Bintang.
"Hari ini aku menjalani pemeriksaan lengkap, Dokter bilang sudah stadium empat dan ganas. Mungkin aku bisa bertahan tiga bulan lagi" jelas Siska.
__ADS_1
Bintang tak bisa berkata - kata. Dia hanya bisa menatap ke dalam mata Siska mencari kebenaran dari kata - katanya tapi...
Akh.. benarkah Siska? Bisakah aku mempercayai ucapan kamu? Terlalu banyak kebohongan dan sandiwara dalam hidup kamu sehingga sangat sulit bagiku untuk percaya. Seandainya memang benar apakah itu ganjaran atas semua perbuatan kamu selama ini? Tanya Bintang dalam hati.
"Kenapa kamu melihat aku seperti itu Bin. Kamu tidak percaya?" tanya Siska.
"Sorry Siska, kamu terlalu pintar bersandiwara sehingga aku sulit untuk bisa percaya dan menerima semua penjelasan kamu" elak Bintang.
Siska mengeluarkan beberapa lembar hasil pemeriksaan Dokter yang ada di dalam amplop yang sedari tadi dia pegang. Dengan tangan yang terus bergetar perlahan - lahan dia memberikannya kepada Bintang.
"Kalau kamu tidak percaya, lihat ini Bin dan baca. Aku tidak berbohong. Apa yang aku katakan semuanya benar Bin" ucap Siska mencoba meyakinkan.
Bintang meraih kertas - kertas itu dan mulai membacanya. Alangkah terkejutnya Bintang ketika membaca isinya. Dilembar itu tertulis kalau Siska memang benar menderita kanker serviks stadium empat.
"Sis... ka.. " ucap Bintang merasa kasihan mengetahui keadaan Siska saat ini.
"Mungkin ini hukuman untukku Bin. Selama ini aku terlalu bangga pada tubuhku, aku menjual tubuhku pada pria yang bisa memberikan aku kepuasan dunia, harta, rumah, mobil, uang yang tak pernah putus. Asalkan mereka bisa memberikannya kepadaku dengan senang hati aku akan melayani mereka. Bahkan aku sampai mengkhianati cinta kamu yang tulus padaku" ungkap Siska sambil menangis terisak.
Bintang merasa kerongkongannya jadi kering. Dia tak bisa berkata apa - apa untuk menghibur Siska. Bagaimanapun jahatnya Siska dengan semua yang telah dia lakukan untuk Bintang dan Tiara. Tapi Siska memang pernah lama mengisi hati Bintang.
Bahkan sempat menjadi satu - satunya wanita yang Bintang inginkan untuk menjadi pendamping hidupnya. Dia berikan semuanya apa yang diminta Siska. Tapi benar kata Siska, begitu dia menemukan pria yang lebih kaya darinya Siska meninggalkannya dan mengkhianati cintanya.
Apakah benar karma itu ada? Dia selalu mengejek Tiara wanita cacat karena sudah tidak mempunyai kandungan lagi tapi dia.. Ternyata penyakit yang dia derita lebih berbahaya dari Tiara. Begitu cepat balasan yang Allah berikan kepadanya dan sehebat juga sekuat apapun Siska tidak akan bisa melawan atau menolak kehendak Allah.
Siska bangkit dari duduknya dan keluar dari kursinya kemudian dia berlutut di depan Bintang.
"Maafkan aku Bintang.. maafkan atas semua yang pernah aku lakukan kepada kamu. Aku sungguh sangat menyesal, tapi semua sudah terjadi. Aku tidak bisa lari dari kenyataan ini bahwa umurku memang tidak panjang lagi. Tolong Bin.. tolong berikanlah sedikit keringanan dan belas kasih kamu padaku. Disaat - saat terakhir hidupku aku tidak ingin menghabiskannya dalam penjara. Biarkanlah aku meninggalkan dunia ini dengan tenang dan damai. Aku ingin menebus semua dosa - dosaku selama ini dengan lebih mendekatkan diri kepada Tuhan. Walau aku sangat sadar semua tidak akan bisa terhapus. Dosaku sangat banyak Bin. Tapi aku yakin Tuhan Maha Pengampun.. Dia pasti akan mengampuni dosa-dosaku" pinta Siska sambil terisak.
Bintang sangat terkejut dengan apa yang telah dilakukan Siska. Seketika Bintang juga berdiri dari duduknya.
"Berdiri Siska, jangan lakukan ini di hadapanku" ucap Bintang
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG