Tiara

Tiara
Bertemu calon mertua


__ADS_3

Tiara sudah selesai mendandani Dewi. Walaupun dengan make up natural tapi karena Dewi memang tidak pernah memakai make up selain bedak dan lipgloss ala anak remaja. Malam ini tampilan Dewi sangat cantik sekali.


"Nah sudah selesai.. Kamu sangat cantik Wi. Kakak rasa gak kalah saing dengan para mantannya Mas Bagas. Jangan lupa kamu punya sesuatu yang tidak di miliki mereka yaitu hatinya Mas Bagas. Dia hanya memilih kamu Wi, percaya itu" ujar Tiara meyakinkan Dewi.


"Iya Mbak" jawab Dewi.


"Ya sudah kalau begitu kita turun yuk" ajak Tiara.


Dewi meraih ponselnya dan alat make up sederhananya dan memasukkannta ke dalam tasnya. Setelah itu turun ke bawah bersama - sama dengan Tiara.


"Kamu sudah siap?" tanya Tiara.


Dewi tersenyum dia menganggukkan kepalanya.


"Sudah Kak" sambut Dewi.


"Yuk kita turun" ajak Tiara.


Mereka keluar kamar dan turun ke bawah melalui tangga. Di bawah Bagas sedang berkumpul bersama Pak Wijaya, Bu Siti, Bintang, Ali dan Tegar di ruang keluarga.


Mereka sangat terkejut melihat penampilan Dewi malam itu. Dewi malu - malu turun ke lantai dasar.


"Ra kamu turun sama siapa itu?" goda Bintang.


"Dewi donk Mas, siapa lagi" jawab Tiara.


"Kok berasa ada bidadari turun dari lantai dua ya" ujar Bagas sambil tersenyum bahagia.


"Maaaaas" balas Dewi semakin malu.


Diri berdiri dan menghampiri Dewi.


"Kamu baik - baik ya nanti di rumah Bagas. Jangan lupa bersikap hormat pada orang tua" pesan Siti pada putrinya.


"Iya Buk, doain aku ya" ucap Dewi.


"Doa Ibu selalu menyertai kamu Nak, semoga kalian semua anak - anak Ibu bahagia" jawab Siti.


"Kamu seperti mau pergi perang saja Wi, semangat donk. Kamu tau wanita akan semakin cantik jika dia percaya diri. Karena saat wanita merasa sangat percaya diri aura dan inner beauty nya akan keluar dan terpancar di wajah kamu" sambut Pak Wijaya memberi semangat.


"Waah bapak sepertinya sudah berubah profesi menjadi ahli kecantikan" Sindir Bintang.


"Hahaha... belajar dari Bagas. Semakin sering bertemu Bagas Bapak jari lebih pintar memilih kata - kata untuk merayu wanita" ledek Pak Wijaya kepada Bagas.


"Aaah Bapak bisa aja. Aku jan jadi malu, bukan hanya Dewi saja yang malu malam ini" sambut Bagas.


"Kamu sih malu - maluin Gas" sindir Bintang.


"Sudah becandanya.. sebaiknya kalian berangkat sekarang Gas. Nanti kemalaman, gak enak kan ketemu orang tua kamu larut malam" ujar Siti.


"Baik Bu, kalau begitu kami pamit dulu ya" Bagas mencium tangan Situ dan Wijaya untuk berpamitan.

__ADS_1


Bagas dan Dewi berjalan keluar dari rumah Bintang dan masuk ke dalam mobil.


"Kamu sudah siap kan?" tanya Bagas.


Dewi menarik nafas panjang.


"Bismillah siap Mas" jawab Dewi.


"Alhamdulillah.. yuk kita jalan" ajak Bagas.


Mobil sudah berjalan keluar dari pekarangan rumah Bintang, masuk ke jalan raya dan melaju menuju rumah orang tua Bagas.


Satu jam kemudian mereka sudah sampai di rumah Bagas. Wajah Dewi terlihat pucat, kedua tangannya saling mengait dan meremas.


"Kamu takut?" tanya Bagas saat mobil berhenti di depan rumah Bagas.


"Aku hanya.. " jawab Dewi.


"Kamu gak percaya diri? Bukannya tadi Pak Wijaya berpesan seorang wanita akan semakin cantik kalau dia percaya diri. Kamu sangat cantik malam ini Wi. Hatiku tidak salah pilih. Aku yakin kedua orang tuaku juga akan berpikiran yang sama" tegas Bagas.


"I.. iya.. Mas" balas Dewi.


"Kita turun yuk" ajak Bagas


"Iya.. bismillah" ucap Dewi untuk menambah semangat dan rasa percaya dirinya.


Mereka berdua keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah orang tua Bagas.


"Assalamu'alaikum... " ucap Bagas begitu masuk ke dalam rumah.


"Siapa Bik?" tanya seroang wanita.


"Den Bagas Nya.. " jawab seorang asisten rumah tangga.


"Bagas? Tumben dia pulang ke rumah di hari ini. Ada apa ya?" tanya Mama Bagas. Mama dan Papa Bagas saling pandang.


"Mama Papa mana Bik?" tanya Bagas kepada salah satu asisten rumah tangga keluarga Bagas.


"Di ruang makan Den" jawab wanita yang ditemui Bagas saat masuk ke dalam rumahnya.


Setelah Bagas memimpin perusahaan orang tuanya Bagas memang jarang pulang ke rumahnya. Dia lebih memilih tinggal di apartemennya dengan alasan lebih dekat dari kantor dan dia ingin mandiri.


Biasa kalau tidak ada kepentingan ke luar kota setiap weekend baru Bagas datang ke rumah untuk menyapa kedua orang tuanya.


"Mama.. Papa... " Bagas mencium tangan kedua orang tuanya.


"Bagas.. Ketepatan sekali kamu datang saat kami sedang makan, ayo ikut makan bersama kami" sambut Papa Bagas penuh wibawa.


Mama Bagas melirik ke arah belakang.


"Kamu datang sama siapa Gas?" tanya Mama Bagas.

__ADS_1


"Eh perkenalkan Ma, Pa.. ini calonnya Bagas" jawab Bagas.


Pak Raksajaya dan istrinya saling pandang. Baru kali ini Bagas pulang ke rumah membawa seorang wanita. Apalagi mengenalkannya sebagai calon istri.


Mereka melirik ke arah Dewi yang sedang tertunduk malu.


Gadis yang masih sangat muda. Apa benar Bagas memilih gadis ini sebagai calon istrinya atau apakah? Astaghfirullah... semoga Bagas tidak berbuat macam - macam. Batin Istri Pak Raksajaya.


"Wii... sini.. " ajak Bagas memperkenalkan Dewi kepada orang tuanya.


"Dewi Pak, Bu" Dewi mencium tangan kedua orang tua Bagas dengan santun dan penuh hormat.


"Gadis yang manis" ucap Mama Bagas sambil tersenyum lembut.


Bagas tersenyum melihat sambutan kedua orang tuanya. Hal ini sudah dia duga sebelumnya. Papa dan Mamanya pasti akan senang dan mau menerima kedatangan Dewi di keluarga mereka.


"Ayo Wi duduk dan makan bareng bersama kami" ajak Mama Bagas.


"Iya Bu" jawab Dewi sungkan.


Bagas menarik kursi untuk Dewi dan mempersilahkan Dewi duduk. Hal itu tidak luput dari tatapan kedua orang tuanya. Dan mereka tersenyum bahagia.


Sepertinya kali ini Bagas serius dan aku lihat sepertinya gadis ini gadis baik - baik tidak seperti teman - teman wanita Bagas yang selama ini aku dengar dan aku lihat foto - fotonya. Batin Pak Raksajaya, Papanya Bagas.


Suasana makan malam terasa hangat.


"Ayo makan Wi, jangan sungkan. Anggap aja di rumah sendiri" perintah Mama Bagas.


"Ba.. baik Bu" jawab Dewi singkat.


Mereka makan malam bersama setelah itu baru mereka pindah ke rumah keluarga untuk berbincang - bintang.


"Jadi gimana ceritanya Bagas bisa bertemu dengan kamu Wi?" tanya Pak Raksajaya.


"Saya adik iparnya Mas Bintang Pak, temannya Mas Bagas" jawab Dewi mengenalkan dirinya.


"Bintang sahabat kuliah kamu Gas?" tanya Pak Raksajaya.


"Iya Pak" jawab Bagas sambil tersenyum.


Menarik... Sepertinya Bagas memang bertemu dengannya bukan seperti dia bertemu dengan wanita - wanita yang lainnya. Batin Pak Raksajaya.


"Berapa usia kamu Nak, sepertinya kamu sangat muda sekali?" tanya Mama Bagas dengan sangat ramah.


Deg.. mati aku. Batin Dewi. Dewi menarik nafas panjang untuk menjawab pertanyaan itu.


"Mmm... anu.. Bu.. Umur saja baru delapan bas ta.. hun.. " jawab Dewi gugup.


"Apa????"....


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2