
Empat bulan kemudian Cafe berjalan dengan lancar dan pengunjungnya semakin ramai.
Tiara sangat menikmati pekerjaannya di sini. Seperti pesan Bintang yang selalu dia ingat dan menjadi motivasi pada dirinya sendiri. Tiara menganggap Cafe ini adalah miliknya.
Sehingga Tiara dengan enjoy dan tanpa beban bekerja di Cafe ini. Pengunjungnya lebih banyak para pemuda dan remaja. Karena konsep Cafe ini memang di rancang sedemikian romantis dan nyaman.
Apalagi kalau malam weekend, malam sabtu, malam minggu dan malam senin di tambah malam - malam saat libur umum. Cafe pasti padat pengunjung.
Jumlah pendapatan selalu meningkat membuat Roy senang dan memberikan bonus tambahan kepada Tiara atas kerja kerasnya.
Tiara juga bekerja dengan jujur. Dengan bantuan Dian, Roy menambah fasilitas baru. Motor Tiara berganti dengan mobil Sedan.
Roy menambah fasilitas mobil dengan sistem bonus. Kalau dalam satu tahun pendapatan cafe meningkatkan mobil tersebut akan menjadi milik pribadi Tiara.
Walau mobil sedan seribu umat, murah dan banyak dipakai orang di Indonesia ini tetapi Tiara sudah sangat bersyukur bisa mendapatkan fasilitas seperti ini.
Dia bertekad akan lebih keras lagi bekerja mengembangkan Cafe ini menjadi lebih besar lagi. Tegas Tiara pada dirinya sendiri.
"Hore.... Mama mobil baru" teriak Tegar.
Tiara tersenyum mendengar ucapan putranya.
"Kita harus ucapkan apa sayang?" tanya Tiara.
"Alhamdulillah........ " ucap Tiara dan Tegar bersama - sama.
"Keliling Kota yuk Ma naik mobil baru" ajak Tegar.
"Boleh.. tapi kalau lagi jalan - jalan jangan bobok ya. Kasihan kan Mama nyetir sendiri, kamunya malah bobok" pinta Tiara.
Karena kebiasaan Tegar setiap naik mobil, jika mobil sudah berjalan dan Tegar sudah nyaman maka Tegar akan tidur sepanjang perjalanan.
"Iya Ma, aku janji tidak akan bobok" jawab Tegar.
Tiara tersenyum menatap putranya. Mereka masuk ke dalam mobil dan mobil melaju mengelilingi Kota Bandung di malam hari.
"Kamu senang sayang?" tanya Tiara.
"Senang sekali Mama... besok aku diantar naik mobil kan Ma?" tanya Tegar.
"Iya sayang" jawab Tiara.
"Ini mobil kita?" tanya Tegar.
"Nggak sayang, ini mobilnya Om Roy. Dia kasih Mama pinjam selama di Bandung" jawab Tiara lagi.
"Om Roy baik banget ya Ma mau pinjamin kita mobil. Nanti kalau aku ketemu Om Roy, aku akan ucapin terimakasih sama Om Roy" jawab Tegar.
"Anak baik... " Tiara mengelus puncak kepala Tegar.
Mereka kembali ke arah rumahnya setelah berkeliling kota Bandung.
__ADS_1
*******
Minggu depan pesta pernikahan Ridho dan Tari di Jogja. Tiara berencana meminta cuti pada Roy.
Tiara mencoba menghubungi Roy karena dia merasa tidak sopan kalau meminta izinnya melalui pesan.
"Assalamu'alaikum Mas Roy" ucap Tiara.
"Wa'alaikumsalam. Apa kabar Ra?" tanya Roy, karena memang mereka sudah lama tidak berhubungan lewat telepon.
"Alhamdulillah baik. Mas juga kan?" Tiara bertanya balik.
"Iya aku juga baik. Ada yang ingin kamu bicarakan?" tanya Roy.
"Mmm... Mas Roy bolehkah aku cuti tiga hari?" tanya Tiara langsung.
"Cuti? kamu mau liburan?" tanya Roy penasaran.
"Aku mau ke luar kota, sahabat dekatku menikah" jawab Tiara.
"Kapan kamu mau cutinya?" tanya Roy.
"Mulai hari Jumat ya Mas sampai minggu" balas Tiara.
"Ooo... baiklah kalau begitu. Tidak masalah, kamu bisa mengambil cuti. Selamat liburan, hati - hati di jalan" ucap Roy.
"Terimakasih Mas" sambut Tiara.
Tegar memang anak yang mandiri dan tidak membuat Tiara kesulitan. Tiara cukup menyediakan buku gambar dan crayon untuk Tegar mewarnai.
Itu sudah cukup membuat Tegar betah bermain di ruangan Tiara. Dan Tiara bisa bekerja dengan tenang.
"Sayang jumat kita pergi ya" ucap Tiara saat mengantarkan makan siang untuk Tegar
"Kemana Ma?" tanya Tegar
"Kenikahan Papa Dho sama Tante Ai" jawab Tiara.
"Di Jakarta?" Tegar balik bertanya.
"Nggak sayang, kita ke Jogja, rumah Mamanya Tante Ai" balas Tiara.
"Naik apa Ma? Naik mobil?" Tegar terlihat sangat antusias.
"Kita naik kereta aja sayang. Kamu belum pernah naik kereta kan?" ujar Tiara.
"Waaaah asiiiiik... naik kereta yeey... aku naik kereta" Tegar terlihat sangat senang.
Tiara tersenyum melihat Tegar teriak kesenangan.
"Tapi aku libur sekolah donk Ma? " tanya Tegar.
__ADS_1
"Iya, sekali - sekali tidak apa - apa kan? Nanti Mama permisiin sama guru Tegar di sekolah" balas Tiara.
"Oke Ma. Aku seeeeeenang sekali naik keretaaaaa" sambut Tegar.
Tak lama Tiara menghubungi Tari.
"Assalamu'alaikum Tar.. " sapa Tiara.
"Wa'alaikumsalam Ra. Gimana, dikasih cutinya?" tanya Tari tak sabar.
"Dikasih donk, aku dan Tegar berangkat ke Jogja hari Jumat naik kereta" jawab Tiara.
"Oke Ra, aku udah booking Hotel untuk kalian. Hotel yang sama dengan tempat kami menginap" ujar Tari.
"Gak usah Tar, yang biasa saja. Kami menginap di Hotel biasa saja gak apa - apa kok asalkan tidak jauh dengan gedung tempat kalian menikah" tolak Tiara.
"Kami kan menikah nya di Hotel Ra jadi sekalian aku pesan beberapa kamar untuk kamu dan keluarga Mas Ridho" jawab Tari.
Nyeeees....
Entah kenapa hati Tiara terasa nyeri, masih teringat perkataan orangtua Ridho saat acara wisuda Ridho.
Kedua orangtua Ridho tidak suka kalau Ridho menjalin hubungan dengan dirinya. Apakah nanti disana kedua orang tua Ridho tetap tidak akan menyambut baik dirinya sebagai sahabat Ridho dan Tari.
Apakah ketika melihat Tegar mereka akan mengatakan sesuatu tentang Tegar. Tiara tidak ingin anaknya mendengar satu kata menyangkut statusnya. Anaknya sangat pintar pasti setelah itu Tegar akan melemparkan banyak pertanyaan kepada Tiara sampai dia mendapatkan jawaban yang dia inginkan.
Huh.... Tiara menarik nafas panjang. Ridho memang berasal dari keluarga sederhana tetapi masih kental darah ningrat yang masih menjunjung tinggi status di masyarakat.
Bagi mereka status Tegar sama sekali tidak akan di terima karena Tegar lahir diluar pernikahan dan tidak jelas siapa Bapaknya.
Sebenarnya Tiara sangat enggan bertemu mereka dan ingin rasanya menolak tawaran Tari. Tapi Tiara berfikir lagi, dia tidak ingin membuat masalah dihari bahagia Ridho dan Tari. Biarlah Tiara mengalah. Nanti saat acara sebisa mungkin Tiara akan menjauh dari kedua orang tua Ridho.
"Ya sudah kalau begitu Tar terserah kamu saja. Nanti kalau kami sudah sampai di Jogja, aku kabari lagi ya. Selamat perawatan ya calon pengantin baru. Yang bagus perawatannya biar nanti pas acara manglingi" goda Tiara.
"Hahaha... iya Ra, tau aja kamu aku lagi perawatan. Udah dulu ya Ra nanti kita teleponan lagi" balas Tari.
Tari menutup teleponnya sedangkan Tiara masih diam terpaku.
Sungguh dia sangat bahagia atas pernikahan kedua sahabatnya itu. Mereka pantas bahagia. Ridho dan Tari adalah orang yang baik dan mereka sangat serasi.
Salah satu alasan Tiara menerima tawaran kerja di Bandung adalah ingin menghindari kedua sahabatnya itu. Karena Tiara tidak ingin Tari cemburu padanya dan Tiara juga tidak ingin Tegar terlalu dekat dengan Ridho.
Bagaimanapun Ridho akan membangun rumah tangganya sendiri dan kelak dia juga akan mempunyai anak. Biarlah mulai sekarang Tegar dan Ridho berjauhan agar Ridho bisa fokus pada masa depannya.
Tari akan menikah, apakah aku juga akan merasakan hal yang sama? Pantaskah aku bahagia seperti mereka? Tapi hidupku sudah catat. Siapa lagi pria yang mau menerima aku dan Tegar dengan lapang dada.
Tiara segera tersadar dari lamunannya dan melanjutkan pekerjaannya di Cafe.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG