
"Bin gawat teleponnya terputus. Sepertinya mereka sudah sampai lokasi dan Dewi ketahuan sedang melakukan panggilan. Mereka bertengkar dan telepon Dewi di rebut dan akhirnya mati" ujar Bagas.
"Kamu sudah lacak posisi terakhir Dewi Gas?" tanya Bintang.
"Sudah aku mencari titik kordinatnya. Dia diculik saat di Mall XXX kemudian dia dibawa ke luar kota Bandung dan saat ini sedang menuju Sumedang" jawab Bagas.
"Pantau terus lokasinya Gas, aku akan infokan ke Pak Wijaya setelah itu aku jemput Tiara dan langsung menuju Bandung" ungkap Bintang.
"Aku juga akan ke Bandung sekarang Bin" tegas Bagas.
"Iya hati - hati Gas, kalau kamu lebih dulu sampai Bandung kamu langsung gerak bersama Pak Wijaya. Dia punya anak buah yang banyak Gas. Aku rasa sangat cukup membantu. Aku juga akan minta bantuan anak buah Papaku dan beberapa anak buahku" perintah Bintang.
"Iya Bin, jangan lupa kita harus kerjasama dengan polisi. Feelingku ini ada tautannya dengan Tarjo. Ida itu kan temannya Tiara yang menjebak Tiara dulu ngapain coba dia menculik Dewi" ujar Bagas.
"Iya, firasatku juga berkata begitu" sambut Bintang.
"Ya sudah kita bergerak sekarang" ujar Bagas.
Telepon terputus Bintang segera keluar dari kantornya dan menuju rumahnya. Di perjalanan Bintang sibuk menelepon Tiara dan Papanya.
"Halo Pa, aku mau minta bantuan Papa" ucap Bintang.
"Bantuan apa Bin?" tanya Pak Bambang.
"Tolong surug Mang Kardi ke rumahku untuk jemput Tegar dan aku titip Tegar di rumah Papa malam ini. Aku dan Tiara mau ke Bandung. Barusan Dewi di culik Ida Pa, teman kuliah Tiara yang dulu menjebak Tiara. Firasatku dia bekerjasama dengan Tarjo. Saat ini Dewi dibawa ke luar kota Bandung ke arah Sumedang. Aku juga minta bantuan beberapa orang anggota Papa untuk menyebar mencari keberadaan Dewi" ungkap Bintang.
"Baik Nak, Papa kan tugaskan beberapa anak buah Papa untuk membantu kamu di sana. Tegar biar Papa yang jemput langsung sama supir Papa, ketepatan Papa lagi di jalan yang tak jauh dari daerah rumah kamu" jawab Pak Bambang.
"Baik Pa, terimakasih" balas Bintang.
Bintang melaju menuju arah rumahnya. Sambil menyetir dia kembali menghubungi Wijaya.
"Halo Pak" ujar Bintang.
"Ya Bin, ada perkembangan baru? Saya sudah lapor ke polisi mengenai penculikan Dewi" jawab Wijaya.
"Info terbaru dari Bagas, benar Dewi di culik saat dia berada di Mall XXX dan saat ini dibawa ke luar kota Bandung ke arah Sumedang" lapor Bintang.
__ADS_1
"Bapak akan kerjasama dengan Polisi. Polisi juga sedang melacak GPS dari HP Dewi dan mencari lokasi Dewi sekarang" jawab Wijaya.
"Oke Pak, aku sedang dalam perjalanan ke rumah mau jemput Tiara setelah itu kami langsung pergi ke Bandung" ujar Bintang.
"Iya, Bapak akan tunggu kalian" balas Wijaya.
"Oh iya Pak ada yang lupa, kalau Bagas lebih dahulu sampai Bandung, Bapak duluan saja cari Dewi nanti aku nyusul. Bagas bisa diandalkan dia akan membantu kita penuh karena dia.. " ungkap Bintang.
"Menyukai Dewi" potong Wijaya.
"Bapak tau?" tanya Bintang terkejut.
"Setiap pria dewasa pasti akan tau tatapan pria yang sedang jatuh cinta. Bapak juga sudah tanya langsung padanya dan dia sudah mengaku pada Bapak secara jujur. Bapak suka anak itu. Dia jujur dan terbuka pada perasaannya dan juga bertanggung jawab. Menurut Bapak dia sudah benar - benar bertaubat" jawab Wijaya.
"Aku hanya tidak mau dia mempermainkan Dewi adik iparku. Aku kenal dia sejak muda Pak. Dia itu playboy makanya aku lebih berhati - hati. Aku memberinya waktu dua tahun dan melihat keseriusannya" ungkap Bintang.
"Iya dia sudah cerita semuanya pada Bapak bagaimana kamu memberinya syarat untuk mendekati Dewi. Tapi kalau melihat bagaimana dia menjaga Dewi selama satu minggu penuh di Bandung ini Bapak yakin dia sangat serius" ujar Wijaya.
"Nanti saja Pak kita bicarakan lagi setelah Dewi kita temukan. Yang penting adalah keselamatan Dewi dan kalau memang benar Tarjo dan Ida bekerja sama aku harap mereka berdua tertangkap dan dihukum dengan hukuman yang paling berat" sambung Bintang.
"Iya itu pasti dia sudah mempunyai banyak kesalahan yang tak bisa dimaafkan lagi" tegas Wijaya.
"Iya dari tadi dia hanya menangis, Ali sudah menenangkannya. Mudah - mudahan Dewi tidak apa - apa dan kita semua kuat menghadapi masalah ini. Semua pasti ada jalan keluarnya dan semoga itu terbaik untuk kita" doa Wijaya.
"Aamiin... " sambut Bintang.
"Aku tutup teleponnya ya Pak. Assalamu'alaikum" Bintang menutup teleponnya.
"Wa'alaikumsalam" jawab Wijaya.
Tak lama kemudian Bintang sudah sampai di rumahnya dan disana sudah tampak mobil Papanya terparkir di depan rumahnya. Ternyata Papanya lebih dahulu sampai ke rumahnya.
"Papa sudah lama datangnya?" tanya Bintang.
"Belum lama, baru saja" jawab Bambang.
"Yank sudah siap semuanya?" tanya Bintang kepada Tiara.
__ADS_1
"Sudah Mas" Jawab Tiara.
Bik Inah asisten rumah tangga di rumah Tiara membawa sebuah tas yang berisi perlengkapan Tegar selama di titip di rumah Opanya.
"Sayang Mama dan Papa pergi dulu ya, kami tidak bisa membawa kamu ikut serta bersama kami. Jadi untuk sementara kamu menginap di rumah Opa dulu ya. Nanti kalau urusan Papa dan Mama sudah selesai kami akan jemput kamu di rumah Opa" Ujar Bintang kepada putranya.
"Iya Pa" jawab Tegar pengertian.
"Jangan nakal di rumah Opa ya.. makan yang banyak dan jangan telat tidurnya" sambut Tiara.
"Iya Mama" balas Tegar.
Mereka memeluk Tegar erat dan menjabat tangan Wijaya hormat sambil berpamitan.
"Anak buah Papa akan ikut bersama kalian di belakang. Kalian hati - hati ya.. Kalau ada apa - apa jangan lupa segera hubungi Papa" perintah Bambang.
"Iya Pa, kami berangkat dulu. Assalamu'alaikum" ucap Bintang pamit.
"Wa'alaikumsalam" jawab Bambang.
Bintang dan Tiara berangkat ke Bandung di ikuti beberapa anak buah Bintang dan Bambang yang berjalan tepat di belakang mobil Bintang. Mereka langsung bergerak menuju Bandung untuk bertemu dengan Wijaya dan Bagas baru kemudian bersama - sama mencari kebiasaan Dewi.
Sementara di sebauh rumah gubuk di pinggiran kota Sumedang. Mobil Ida parkir tepat di depan rumah tersebut. Ida menyeret paksa Dewi yang dalama keadaan mata tertutup dan tangan sudah di ikat Ida menggunakan tali.
"Mbak Ida kita dimana ini?" tanya Dewi takut.
"Sudah diam saja dan ikut aku masuk" perintah Dewi.
Mereka masuk ke dalam rumah gubuk tersebut Kemudian Ida meletakkan Dewi di sebuah bangku yang terbuat dari kayu. Ida membuka ikatan selendang pada wajah Dewi. Dewi kini bisa melihat jelas siapa orang yang ada di depannya.
"Selamat datang di gubuk derita kami nak, apakah kamu sudah melupakan Bapak? Tidak pernah kah kamu merindukan kehadiranku?" tanya pria itu.
"Ba... bapaaaaak" panggil Dewi.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG