Tiara

Tiara
Meyakinkan Papa dan Mama


__ADS_3

Bagas kembali ke rumah orang tuanya. Seperti pesan Papanya tadi sebelum pergi mengantarkan Dewi kembali ke rumah Bintang. Papanya memintanya untuk menginap di rumah orang tuanya karena ada suatu hal yang akan disampaikan Papanya kepada Bagas.


Pak Reksajaya dan istrinya memang sengaja menunggu kepulangan Bagas dari rumah Bintang. Mereka menunggu Bagas di eyang TV sambil menonton sinetron kesayangan istri Pak Reksajaya.


"Kamu sudah pulang sayaang" sapa Mama Bagas ketika Bagas sampai di rumah.


"Iya Ma" Bagas langsung mengambil tempat duduk tepat di samping Mamanya.


Bagas membaringkan kepalanya di atas kedua paha Mamanya.


"Katanya sudah mau menikah tapi kelakuan masih juga seperti anak - anak" sindir Pak Reksajaya.


Bagas tersenyum mendengar perkataan Papanya.


"Aku hanya ingin menempatkan dimana saat ini aku berada Pa. Kalau aku di kantor aku harus terlihat berwibawa dan bijaksana. Kalau aku bersama teman - teman aku harus terlihat friendly. Kalau aku bersama Dewi aku harus bisa melindunginya dan menyayanginya. Dan kalau aku di rumah aku bisa bermanja - manja begini sama Mama" jawab Bagas.


Bu Reksajaya tersenyum dan mengelus lembut rambut putranya yang sedang berbaring diatas kedua pahanya.


"Kamu serius ingin menikah dengan gadis itu?" tanya Bu Reksajaya lemah lembut.


"Serius Ma, makanya aku bawa dia kerumah ini dan aku kenalkan dengan Papa dan Mama.


" Kamu yakin dia akan kuat berada disamping kamu?" tanya Pak Reksajaya.


Bagas langsung duduk di samping Mamanya.


"Mengapa Papa bertanya seperti itu? Papa meragukan keseriusanku?" tanya Bagas serius.


"Papa tidak meragukan keseriusan kamu Gas. Papa ragukan kekuatan gadis itu. Dia masih sangat muda dan polos. Papa melihat dia sangat baik tapi dia masih lugu Gas sedangkan kamu terlalu berpengalaman dibanding dia. Kamu punya segudang wanita di masa lalu kamu dengan berbagai jenis wanita yang... sangat jauh berbeda dengannya. Baik usianya, fisiknya dan karakternya. Papa takut dia tidak kuat menghadapi wanita - wanita di masa lalu kamu" ungkap Pak Reksajaya.


Bagas terdiam sesaat.

__ADS_1


"Inilah saatnya aku meyakinkannya Pa. Makanya dia aku ajak berkenalan dengan Papa dan Mama agar dia yakin dan siap menikah denganku. Bukan aku tidak bisa meyakinkannya sendiri tapi aku juga butuh orang - orang yang ada disekelilingku membantuku untuk meyakinkannya untuk tegar dan kuat berada di sampingku" ungkap Bagas.


Pak Reksajaya dan istrinya mendengarkan penjelasan Bagas dengan seksama.


"Aku sudah meminta bantuan Bintang, istrinya Bintang, yaitu Tiara yang tak lain adalah kakak Dewi, Ibunya dan Pak Wijaya Bapak kandung dari Tiara. Mereka bersedia membantuku untuk meyakinkan Dewi dan memberikan pandangan kepada Dewi bagaimana rumah tangga yang akan di jalani bersamaku kelak" sambung Bagas.


"Aku tidak memaksanya untuk secepatnya menikah denganku Pa, aku masih dalam tahap mengenalkan padanya bahwa ini loh duniaku. Kamu harus bisa menerima dan kuat untuk berada tetap di sisiku. Berdiri tegak bersamaku dan saling berpegangan erat dalam menghadapi masalah - masalah dalam rumah tangga yang nanti akan kami hadapi. Dewi juga berjanji akan mempersiapkan dirinya ke jenjang pernikahan. Dia meminta waktu kepadaku dan aku akan dengan sabar menunggunya karena hanya dia wanita yang aku inginkan menjadi pendamping hidupku Pa, Ma. Tolonglah mengerti dan dukung aku. Aku ingin berubah menjadi lelaki yang bertanggung jawab, menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Menjadi manusia yang baik dan menjadi hamba Allah yang taat. Dewi yang menyadarkan aku semua Pa, Ma. Dengan keluguan dan kesederhanaan yang dia punya dia tunjukkan padaku bagimana jalan yang benar. Bagaimana menjadi manusia yang lebih baik lagi. Harusnya aku yang malu di tegur oleh gadis yang saaangat jauh usianya dariku" ungkap Bagas.


Pak Reksajaya kali ini benar - benar melihat perubahan yang sangat besar dari cara berfikir putranya ini. Dulu Bagas hanya tau dan suka bersenang - senang. Tidak pernah memikirkan hidup dan masa depan yang lebih serius seperti ini.


Hebat.. benar - benar hebat gadis itu bisa membuat putraku seperti ini. Aku dan istriku saja hampir menyerah menghadapinya. Batin Pak Reksajaya.


"Maksud Papa Gas, Papa itu khawatir Dewi akan menyerah ditengah jalan. Sementara kamu sudah sangat - sangat mencintainya" sambut Mama Bagas.


"Semuanya masih dalam proses. Aku juga tidak bisa menjamin Dewi akan kuat dan tegar berada di sampingku Pa, Ma.. Tadi siang saja aku bertemu dengan salah satu mantanku. Dan Dewi terlihat minder dengan keadaannya dan semua yang dia miliki. Tapi alhamdulillah aku bisa membuatnya yakin kalau hanya dia yang aku inginkan. Aku tidak butuh wanita lain. Walau lebih banyak wanita cantik di luar sana tapi tidak ada yang seperti Dewi. Perlahan - lahan Dewi mulai percaya diri. Makanya dia mau aku ajak datang ke sini" ungkap Bagas.


"Aku hanya meminta doa restu Papa Mama dan tolong bantu aku untuk menciptakan kehangatan keluarga bersama Dewi. Karena dia butuh itu, dia trauma dengan rumah tangga Ibunya bersama Bapaknya yang tak pernah bahagia dan selalu di siksa. Sejauh itu Dewi adalah gadis yang pemberani, ceria dan cantik. Dengan sedikit lagi polesan ditambah pendewasaan dirinya dia akan menjadi gadis yang sempurna dan siap untuk menjadi pendamping hidupku " tegas Bagas.


"Papa masih ragu dan ingin merubah keputusan Papa?" tanya Bagas kepada Papanya.


Pak Reksajaya terdiam sesaat.


"Papa tidak akan merubah keputusan Papa. Dia gadis yang tepat untuk menjadi pendamping hidup kamu. Secepatnya bujuk dan yakinkan dia untuk menikah dengan kamu. Setelah kalian menikah, segera pindahkan dia kuliah ke Jakarta. Kamu kan tinggal telepon Kakak sepupu kamu si Bhrata. Papa ingin segera menimang cucu" jawab Pak Reksajaya.


"Pa... Papa lupa gadis itu baru berusia delapan belas tahun. Dia masih sangat muda Pa. Mungkin kita bisa menunggunya sampai usia dua puluh tahun dan siap secara umur menjadi seorang Ibu" sambut istri Pak Reksajaya.


"Kamu sih Gas ketemu gadis seperti itu masih umur belia. Papa kan harus menunggu lagi untuk menimang cucu" protes Pak Reksajaya.


Bagas tersenyum mendengar jawaban Papanya.


"Bagas yang akan menjadi calon suaminya aja sabar Pa, masak Papa gak sabar menunggu menjadi seorang Kakek" sindir Bagas sambil tertawa.

__ADS_1


"Kamu sudah pintar sekarang menggoda Papa ya" ledek Mama Bagas.


"Eh Ma.. Mama tau, selain cantik, baik dan alim Dewi juga punya kelebihan lain lho Ma. Mama pasti suka punya menantu seperti dia" ujar Bagas tersenyum manis.


"Oh ya, apaaan kelebihannya?" tanya Mama Bagas penasaran.


"Dia pinter banget memasak Ma. Masakannya enak banget" ucap Bagas bangga.


"Wah menang banyak kamu ya. Selain dia masih muda dia juga pinter memanjakan lidah dan perut kamu" sindir Mama Bagas.


"Aku kan juga ingin membahagiakan Mama dan Papa. Di hari tua punya menantu baik dan bisa mengurus rumah tangga bisa memperpanjang umur lho Pa" ujar Bagas.


"Ngaco kamu. amana ada pribahasa seperti itu. Itu hanya karangan kamu saja" umpat Papa Bagas.


Bagas berdiri dan berlalu dari hadapan Papa dan Mamanya.


"Mau kemana kamu?" tanya Pak Reksajaya.


"Mau istirahat tidur dan mimpi indah bareng Dewi" jawab Bagas ceria.


Pak Reksajaya dan istrinya hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah putra mereka itu.


Sambil berjalan Bagas terus bernyanyi.


"Dewwiii.. kalaulah hidupku.. aku cinta padamu sampai mati.... ooh Dewi belahlah dadaku. agar kau tau.... " senandung Bagas.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2