Tiara

Tiara
Lamaran Roy


__ADS_3

"Aku didesak keluargaku agar secepatnya menikah Ra. Jadi aku ini sekarang sedang serius mencari calon istri. Apakah kamu mau menjadi istriku?" tanya Roy.


"Ma.. Mas... serius?" tanya Tiara tak percaya.


"Kan barusan aku sudah bilang, aku sedang serius mencari calon istri" jawab Roy tersenyum.


"Ta.. tapi Mas, a.. aku ini" ucapan Tiara terputus.


"Kamu apa? Kamu wanita kotor dan hina karena memiliki anak tanpa pernikahan? Aku sudah tau semua cerita kamu dari Dian dan Bintang. Kamu dijebak sama teman kamu kan sampai kamu mabuk kemudian kamu dan Bintang melakukannya tanpa sadar. Aku yakin Ra, kalau seandainya malam itu kamu dalam keadaan sadar kamu pasti tidak akan mau melakukannya" ucap Roy.


"Tapi Mas aku... " ucap Tiara ragu.


"Kamu sudah tidak suci lagi? sudah punya anak? Ra aku juga bukan pria baik-baik. Aku jujur kepada kamu karena saat ini aku memang tidak ingin main - main lagi. Aku ingin berubah Ra, aku ingin serius menjalani hidup ini. Sudah saatnya aku pulang setelah lelah berkelana kemana-mana. Aku juga bukan pria suci Ra. Tapi kamu jangan takut, aku tetap menjaga kesehatanku. Saat ini aku masih single dan tidak punya pacar. Aku juga tidak punya anak dari wanita manapun. Walau aku suka bermain dengan wanita tapi aku tetap bermain aman. Mungkin kamu menilai aku terlalu percaya diri ya..? Bukan Ra, aku hanya tidak mau berbohong. Aku ingin memulai hidup baru dan aku tidak mau memulainya dengan sebuah kebohongan. Makanya aku berkata jujur kepada kamu tentang kejahatan aku selama ini. Aku sudah berubah Ra dan aku akan serius untuk berumah tangga" ungkap Roy panjang.


"Tapi Mas aku mempunyai Tegar" balas Tiara.


"Aku siap menerima kamu dan Tegar. Aku sudah pernah bertanya pada Bintang tentang hubungan kalian. Dia bilang kalian tidak mempunyai hubungan apapun selain sebagai Papa dan Mamanya Tegar. Kamu adalah wanita yang bebas dan kamu boleh memilih siapapun yang akan menjadi suami kamu" ungkap Roy.


Nyessss... Entah mengapa perkataan Roy tentang Bintang membuat dada Tiara menjadi sesak. Ternyata Bintang juga mengatakan itu pada teman - temannya.


"Tapi Mas, aku tidak bisa menjawabnya sekarang. Ini terlalu cepat dan aku belum siap" jawab Tiara.


"Aku tidak akan memaksa kamu Ra. Kalau kamu mau memberiku kesempatan izinkan aku untuk mendekati kamu. Kamu boleh mengenal aku lebih dulu. Aku sabar kok Ra" ucap Roy.


"Ta.. tapi Mas mengapa Mas memilih aku?" tanya Tiara.


"Aku tau kamu wanita yang baik, jujur dan setia. Aku tidak munafik, di luar sana mungkin aku bisa menemukan wanita yang lebih segalanya dari kamu tapi aku sudah cukup tau Ra. Untuk saat ini harga kesetiaan sangat mahal. Wanita yang selama ini aku temui tidak ada yang baik untuk kujadikan seorang istri. Setiap memandang kamu aku merasa nyaman dan tenang. Aku membutuhkan itu dalam kehidupan ini. Hanya itu yang belum aku temukan Ra" ungkap Roy jujur.


"Ma.. Mas terlalu tinggi menilai aku" bantah Tiara.


"Tidak.. kamu pantas mendapatkannya. Aku kan tidak sebentar mengenal kamu di tambah lagi aku juga sudah tau semua kisah kamu dari Dian. Aku rasa aku tidak salah menilai kamu" jawab Roy.


Tiara hanya diam dia tidak tau harus berkata apa. Saat ini fikirannya sedang kacau karena masalah dia, Bintang dan omongan tetangga.


"Aku anggap diam kamu adalah setuju. Kita mulai dari tahap pengenalan saja ya Ra, mudah - mudahan setelah kamu mengenal aku lebih dalam hati kamu terbuka untuk aku" bujuk Roy.


Tiara tetap diam.


"Kita lanjutkan perjalanan kita ini, atau kamu mau aku antar pulang?" tanya Roy penuh perhatian


"Ja.. jangan Mas, kita lanjut saja ke Cafe" jawab Tiara.

__ADS_1


Roy melajukan mobil menuju Cafe.


Tiara dan Roy berada di Cafe sampai malam dan sampai Cafe tutup. Setelah selesai menutup Cafe mereka kembali ke rumah yang di kontrakkan Roy untuk Tiara sebagai fasilitas.


Sesampainya di rumah Bintang sedang menggendong Tegar yang sedang tertidur.


"Kenapa Mas? Kok Tegar gak di letak di kamar?" tanya Tiara.


"Tegar demam Ra" jawab Bintang.


"Apa Mas, Tegar demam?" tanya Tiara terkejut.


Tiara segera memegang kening Tegar.


"Ya ampun Mas, panas sekali badan Tegar. Kenapa Mas gak telepon aku?" tanya Tiara.


"Aku gak enak ganggu kamu kerja. Lagian Tegar sudah aku kasih obat. Tadi dia tunjukin kotak obat dan aku sudah baca aturan pakainya. Setelah makan dia aku kasih obat trus aku gendong dan dia tidur" ungkap Bintang.


"Ya sudah Mas bawa Tegar ke kamar aku" pinta Tiara.


Bintang membawa Tegar dan meletakkannya di ranjang Tiara. Tiara segera membuka baju Tegar dan menggantinya dengan pakain yang tipis kemudian mengompresnya.


"Baju Tegar apa gak terlalu tipis Ra, nanti dia kedinginan?" tanya Bintang.


Roy masuk ke dalam kamar Tegar, mandi dan berganti pakaian. Saat dia keluar kamar mandi dia melihat Bintang mengambil bantal dan membawanya keluar.


"Kamu mau tidur dimana Bin?" tanya Roy.


"Maaf Roy, malam ini aku mau jagain Tegar. Kasihan kalau Tiara jaga Tegar sendirian, dia sudah capek tadi pulang dari Cafe" jawab Bintang.


"Ya sudah. Kalau kondisi Tegar semakin parah mending kita bawa ke dokter Bin" ujar Roy.


"Kata Tiara gak usah, biar Tegar di rawat sendiri aja dulu lagian baru tadi dia mulai demamnya" jawab Bintang.


Mereka sama - sama tidak mengerti cara menjaga anak yang sakit karena mereka sama - sama laki - laki yang belum menikah.


Bintang segera keluar kamar dan masuk ke kamar Tiara.


"Lho Mas mau ngapain di sini?" tanya Tiara.


"Mau gantian sama kamu jagain Tegar" jawab Bintang.

__ADS_1


"Gak usah Mas, aku bisa sendirian kok jaga Tegar. Udah biasa juga seperti ini setiap Tegar sakit" tolak Tiara


"Biarin kali ini aku ikut jagain Tegar Ra, selama ini kamu yang berjuang sendiri menjaga dan membesarkan anak kita" ucap Bintang.


Tiara melihat keseriusan dari wajah Bintang membuat Tiara tidak tega mengusir Bintang dari kamarnya.


"Ya sudah, Mas tolong jagain Tegar dulu ya. Aku mau mandi dan shalat isya" ucap Tiara.


Bintang segera duduk di samping ranjang Tiara. Tiara masuk ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Tak lama kemudian Tiara keluar dan shalat isya.


Setelah selesai shalat isya Tiara melipat mukenanya dan menggantinya dengan jilbab rumahan.


"Kamu gak gerah pakai jilbab di kamar Ra?" tanya Bintang.


"Mas itu bukan muhrim aku, jadi gak boleh buka jilbab sama pria yang bukan muhrimnya" ungkap Tiara.


"Ooo.. " jawab Bintang. Maklum ilmu agama Bintang memang sangat minim, sejak muda dia terbiasa mengejar mimpi dan dunianya. Tidak ada yang mengajarkan ilmu agama kepadanya. Tidak Papa dan juga Mamanya.


Tiara mengecek tubuh Tegar.


"Mas tidur saja di ranjang dekat Tegar" perintah Tiara.


"Terus kamu tidur dimana?" tanya Bintang.


"Nanti aku tidur di sofa aja Mas" jawab Tiara.


Bintang pindah dari tempat duduk ke atas ranjang di samping Tegar. Tak lama Bintang ikut tertidur karena dari pagi dia sibuk di kantor, siang berangkat ke Bandung kemudian dia terus keluar membawa Tegar bermain. Tubuhnya sangat letih malam ini.


Tiara menatap dia pria di depannya. Wajah mereka memang sangat mirip. Tuhan memang Maha Adil ya nak, membuat wajah kamu begitu mirip Papa kamu agar Papa kamu mengenali kamu. Kalau seandainya wajah kamu tidak mirip dia mungkin sampai sekarang kamu tidak pernah bertemu Papa kamu. Batin Tiara.


Tiara duduk di sofa setelah mengecek tubuh Tegar. Panasnya sudah turun membuat hati Tiara sedikit tenang.


Tiara mulai meregangkan tubuhnya dan tak lama kemudian dia pun terlelap di sofa. Roy yang tidak bisa tidur mencoba mengintip ke kamar Tiara.


Dia melihat Bintang tidur di atas tempat tidur dan Tiara tidur di sofa. Mereka sama - sama kelelahan menjaga buah hati mereka.


Haaaah.. apakah aku akan menjadi orang jahat, yang telah tega memisahkan mereka bertiga? tanya hati Roy.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2