Tiara

Tiara
Wajah kecilmu


__ADS_3

"Makasih ya Sum kamu sudah menceritakan kebenarannya padaku. Makasih sayang kamu sudah menjaga anak Mama. Mama sangat senang sekali mengetahui kalau kamu adalah menantu Mama" Bu Bambang memeluk erat tubuh Tiara.


Tiara jadi ikut terharu.


"Mama kok gak perhatiin jelas nama istrinya Bintang ya, padahal kan nama kamu ada di undangan?" tanya abu Bambang lagi saat dia mengingat saat Bintang datang ke rumah untuk mengundangnya.


"Nyonya kan langsung menyimpan undangannya Den Bintang karena takut ketahuan Bapak. Ya wajah Nyonya lupa nama istrinya" jawab Bik Sumi.


"Iya Sum, kamu benar" balas Bu Bambang.


Bu Bambang kembali menatap wajah menantunya. Hari ini kejutannya sangat indah sekali sampai dia sulit untuk mempercayainya.


"Bintang pergi kemana?" tanya Bu Bambang.


"Mas bintang pergi ke Medan Ma. Lagi ada kerjaan di sana, nanti malam baru bisa pulang" jawab Tiara.


"Ra, tolong susun rencana dengan Bintang ya. Ibu pengen ngobrol panjang dengannya. Waktu dia datang ke rumah ini untuk mengantarkan undangan pernikahan kalian, kami belum sempat ngobrol panjang. Ibu kangen sekali dengannya" pinta Bu Bambang.


"Nanti aku fikirkan ya Ma setelah Mas Bintang balik ke Jakarta" ucap Tiara.


"Eh kamu mau lihat gak gambar Bintang dulu?" tanya Bu Bambang dengan wajah yang sudah mulai kembali ceria.


"Mau Ma" jawab Tiara.


"Yuk kita ke atas, kita lihat album foto Bintang di kamarnya" ucap Bu Bambang.

__ADS_1


Bu Bambang dan Tiara naik ke lantai dua dimana kabar Bintang terletak. Kamar yang rapi dan bersih. Walau penghuninya sudah tiga belas tahun tapi kamarnya masih di rawat oleh Bik Sumi.


Bu Bambang dan Bik Sumi masih menanti dan berharap Bintang akan datang kembali ke rumah ini. Walau mereka tidak memperlihatkan kesedihan lagi di depan Pak Bambang tapi mereka masih sering masuk ke kamar ini untuk mengenang Bintang.


Sampailah mereka di kamar Bintang. Bu Bambang mencari album foto diantara rak buku belajar Bintang. Kemudian album foto itu dia serahkan kepada Tiara.


Tiara membukanya dan dia sangat terkejut melihat kemiripan wajah Bintang kecil dulu dengan wajah Tegar sekarang.


"Mereka sangat mirip kan?" tanya Bu Bambang kepada Tiara.


"Iya Ma, mirip sekali ya. Pantas saja begitu Mas Bintang bertemu Tegar dia langsung jatuh hati ternyata dari wajah mereka sudah mengikat batin mereka" jawab Tiara.


"Ini foto Bintang saat dia TK, yang ini dia sudah SD. Ini saat Bintang perpisahan sekolah di SD" ucap Mama Bintang.


"Ini foto Mas Bintang usia berapa tahun Bu?" tunjuk Tiara ketika melihat foto Bintang saat dia mulai beranjak dewasa.


"Itu dia sudah SMU" jawab Bu Bambang.


"Mungkin nanti wajah tegar sudah besar juga seperti ini ya" sambung Tiara.


Bu Bambang tersenyum melihat menantunya itu. Mereka saling bercerita bagaimana Bintang dulu saat kecil, apa kebiasan buruk dan jeleknya, dah juga apa makanan favoritnya.


Bu Bambang senang sekali mendengar cerita tentang anaknya yang kini sudah sangat dekat dengannya.


"Bintang pergi setelah dia tamat SMU. Dua sering protes mengapa kami jarang sekali ada di rumah. Mama selalu ikut kemanapun Papa pergi sedangkan Papa sibuk dengan urusan bisnisnya sampai kami melupakan Bintang. Bintang selalu kesepian di rumah, hanya Bik Sumi yang selalu menjaga dan menemaninya di rumahnya. Puncak pengharapannya adalah saat Bintang perpisahan sekolah di SMU. Dalam acara perpisahan sekaligus wisuda kami sebagai orang tuanya tidak bisa hadir. Bik Sumi juga yang menemaninya ke sekolah, menggantikan kami. Kata Bik Sumi saat itu wajah Bintang terlihat sangat sedih sekali. Semua teman - temannya di temani oleh orang tua mereka tapi hanya dia yang ditemani pengasuhnya. Sepulang dari sekolah, Bintang membawa beberapa pakaiannya, buku tabungan dan beberapa barang berharga miliknya. Mungkin untuk dijadikannya modal bertahan hidup. Saat itu Papa sangat marah sekali, menurut Papa Bintang adalah anak yang pembangkang dan tidak mau mendengarkan ucapan orang tua. Mama mencoba mencarinya diam - diam tapi suatu hari Papa mengetahuinya dan Mama sangat marah kepada Mama. Sejak saat itu Mama berhenti mencarinya. Hanya doa yang Mama ucapkan di setiap doa, agar Allah selalu menjaganya dimana pun dia berada. Bertahun - tahun kemudian Papa mulai mendengar ada perusahaan baru yang sangat pesat berkembang. Wajah Bintang mulai sering masuk majalah bisnis. Mama sangat senang melihat Bintang sudah berhasil menjadi seorang pengusaha muda. Berulang kali Mama ingin menemuinya tapi Papa marah dan mengancam akan meninggalkan Mama karena Mama sudah melawan padanya. Mama bingung harus bagaimana, tapi Mama sangat bersyukur Bintang bisa hidup dengan nyaman tidak kurang satu apapun. Hingga setelah puluhan tahun Bintang kembali ke rumah ini untuk memberikan undangan pernikahannya. Mama sangat bahagia sekaligus sedih" ungkap Bu Bambang sambil berlinang air mata.

__ADS_1


"Senang karena dia sudah dewasa, sudah siap berumah tangga mempunyai keluarga kecilnya. Senang karena di hari bahagianya ternyata dia masih ingat pada kami. Tapi Mama juga sangat sedih karena lagi - lagi dalam acara terpenting dalam hidup Bintang kami sebagai orang tuanya tidak pernah bisa hadir. Kalau saja saat itu Papa dalam keadaan sehat mungkin Mama akan tega untuk meninggalkan Papa dan pergi ke Bandung menyaksikan pernikahan kalian. Tapi Papa baru saja pulang dari Rumah Sakit usai operasi padang ring di jantungnya" sambung Bu Bambang.


Bu Bambang menarik nafasnya panjang.


"Sepeninggal Bintang dari rumah ini waktu itu, Mama hampir tidak bisa membendung air mata Mama di hadapan Papa. Mama tahan sekuat tenaga agar Papa tidak sampai tau yang bisa mengakibatkan kumat lagi penyakit jantungnya. Akhirnya Mama mengirim Bik Sumi sebagai perwakilan kami orang tuanya untuk menghadiri acara pernikahan kalian. Setelah dia kembali, kamu tau apa yang dia katakan pada Mama?" tanya Bu Bambang.


Tiada menggelengkan kepalanya.


"Bik Sumi bilang istrinya Bintang sangat cantik dan solehah. Mama tidak berhenti bersyukur. Setidaknya, tidak dari kami dia dapatkan kebahagiaan tapi dari kamu dia bahagia. Dia bisa menjalani kehidupan rumah tangga bersama keluarganya" Bu Bambang menggenggam tangan Tiara da mengelus tangan Tiara penuh kasih sayang.


Tiada membalasnya dengan senyuman.


"Terimakasih Ma, karena Papa dan Mama aku jadi bisa mempunyai suami sehebat Mas Bintang. Mungkin dia belajar dari pengalaman hidupnya. Dia selalu meluangkan waktunya bersama Tegar. Dia memang pernah mengatakan kalau dia menikah, dia tidak ingin Tegar mengalami hal yang sama seperti yang dia rasakan. Dan dia juga tidak ingin Tegar sendirian, Mas Bintang berkeinginan untuk menambah anak lagi Ma.


"Iya bagus itu, biar cucu Mama rame. Dan rumah ini tidak sesepi waktu dulu" sambut Bu Bambang.


Tiba - tiba terdengar suara.


"Ngapain kalian masuk ke kamar ini?


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2