Tiara

Tiara
Wanita Penggoda


__ADS_3

"Mas pulang yuuuuk" ajak Dewi yang tiba-tiba datang dari belakang.


"Kamu sudah siap?" Bagas balik bertanya.


"Sudah" jawab Dewi.


Bagas bernafas lega. Syukurlah Dewi tidak dengan pembicaraan aku dengan Bintang tadi. Ujar Bagas dalam hati.


"Siapa yang barusan telepon Mas? Kok aku dengar namaku di sebut - sebut?" tanya Dewi curiga.


Dari tampang Dewi, Bagas menarik kesimpulan kalau Dewi tidak mendengar secara jelas apa isi pembicaraannya dengan Bintang.


"Bintang Wi, dia barusan nyariin kita. Takut kalau kamu aku culik" jawab Bagas.


"Iya untuk apa juga Mas Bagas culik aku. Kan gak ada untungnya?" ujar Dewi.


Banyak untungnya Wi nyulik kamu. Aku bisa nikahi kamu, bangun rumah tangga bareng kamu dan punya anak - anak yang lucu - lucu dengan kamu. Teriak hati Bagas.


"Emang harus ada untung dan ruginya Wi?" tanya Bagas.


"Ya kan aku bukan musuhnya Mas Bagas dan juga buka target Mas kan? Aku kan cuma guru kencan Mas dengan calon Mas yang di bawah umur" jawab Dewi.


Bagas bingung mau jawab apa lagi kalau sudah seperti ini. Dewi selalu saja bisa membuat Bagas kehilangan kata - kata dan mati ide. Padahal sama wanita lain dia pasti bisa balik menggoda mereka.


"Mungkin aku bisa culik kamu karena alasan yang terakhir Wi. Menculik kamu biar diajari lagi cara menggoda gadis di bawah umur. Agar dia tau isi hatiku dan dia mau menerimaku sebelum dia berumur dua puluh tahun" sambut Bagas.


Gantian Dewi yang terdiam mendengar jawaban Bagas.


Duh mengapa jantungku deg degan gini ya karena tatapan Mas Bagas.


"Kalau itu aku belum cukup ilmu Mas, aku aja sampai sekarang masih jomblo mana aku tau gimana ciri - ciri pria yang suka sama cewek dibawah umur seperti aku ini. Kalau anak remaja sih gak perlu pakai kode - kodean Mas langsung aja bilang suka dan ajak nikah" jawab Dewi.


"Masalahnya bukan aku gak mau ngutarain perasaanku padanya Wi tapi kakaknya melarangku. Aku harus mengatakan perasaanku saat wanita itu berumur dua puluh tahun" ujar Bagas pusing.


"Syarat yang aneh ya, penyiksaan itu namanya. Dua tahun memendam rasa pada wanita yang kita sukai" sambut Dewi.

__ADS_1


"Iya Wi sungguh sangat menyiksa. Kalau kamu jadi aku apa yang akan kamu lakukan?" selidik Bagas.


"Aku sih orangnya suka to the point aja Mas. Aku akan bilang suka kalau aku sudah suka seseorang, mengenai di terima atau nggak itu urusan lain dan soal syarat - syarat yang Mas katakan tadi itu sih urusan belakang. Kenapa aku bilang gitu? Ya karena kalau di tolak Mas masih punya kesempatan sampai dua tahun ke depan dan kalau di terima kan bagus bisa lebih cepat nikahnya" ujar Dewi.


Gleg... Bagas menelan salivanya. Aku kok gak pernah berfikiran seperti yang kamu katakan ya Wi. Aku terlalu takut kalau Bintang akan melarang hubungan kita sehingga aku manut aja sama semua syaratnya. Setelah aku pikir - pikir Bintang juga gak akan setega itu padaku kalau seandainya aku ngelanggar janji. Aku kan sudah cukup berjasa dalam proses penyelamatan kamu saat di culik. Waaah hebat kamu Wi, sepertinya aku harus merencanakan buat melamar kamu nih. Bagas jadi lebih bersemangat.


"Benar juga Wi, sepertinya aku memang harus segera ngungkapin perasaan aku padanya" ujar Bagas.


Entah mengapa kok Dewi merasa sedih ya. Kalau Bagas menikah dengan orang lain gak ada lagi yang mau menemani dia seperti ini. Perhatian kepadanya dan mengkhawatirkannya. Apa karena ketepatan Bagas orang pertama yang dia telepon saat dia diculik apa karena Bagas memang khawatir? Yang jelas Dewi gak tega melepas Bagas untuk orang lain.


"Sebelum pulang kita makan dulu yuk" ajak Bagas ketika mereka sudah keluar dari GRaPARI.


"Lho tadi kata Mas, Mas Bintang cariin kita?" tanya Dewi.


"Iya tadi, tapi sekarang kan dia udah tau kita kemana jadi dia gak kecarian lagi. Malah dia suruh Mas buat jagain kamu" jawab Bagas.


"Enggak ah mending makan di rumah aja" tolak Dewi.


"Di rumah gak ada yang masak Wi, semuanya kan baru pulang dari rumah Pak Wijaya lagian Ibu juga lagi capek, Tiara lagi hamil. Mereka juga aku rasa pesan makanan secara online" sambutan Bagas.


"Ya sudah deh kalau begitu. Aku juga udah laper banget Mas" jawab Dewi.


"Ya kan malu Mas kelihatan rakusnya" ungkap Dewi.


"Katanya suka terbuka gak mau basa basi, tuh malah malu - malu meong sok nolak pesona Mas" ledek Bagas.


"Apa pesona Mas?" tanya Dewi tak percaya dengan pendengarannya.


"Menolak ajakan Mas?" telinga kamu sensitif banget" ucap Bagas mengalihkan pembicaraan.


Mereka kini sudah sampai di sebuah Restoran di dalam Mall itu. Bagas dan Dewi duduk di meja yang terletak dari sudut tapi bisa jelas terlihat dari depan.


Mereka langsung memesan makanan yang mereka inginkan. Saat menunggu makanan datang tiba - tiba datang tiga orang wanita menghampiri mereka.


"Bagaaaaaas?" sapa wanita itu.

__ADS_1


"Eh iya Bagas, asik nih bisa pesta malam ini" sambut wanita satunya lagi.


Sedangkan wanita yang ketiga langsung duduk di atas pangkuan Bagas. Bagas yang belum siap untuk mengelak akhirnya pasrah dengan perbuatan mereka.


Sontak mata Dewi melotot melihat aksi tiga wanita yang ada di hadapannya.


"Siapa ank kecil ini Gas?" tanya wanita yang duduk di pangkuan Bagas.


"Cin kamu turun dulu. Gak enak di lihat orang" Bagas memaksa untuk melepaskan wanita itu.


"Ih kamu sudah berubah sekarang. Siapa wanita ini?" tanya wanita itu lagi.


"Calon istri aku?" jawab Bagas cuek.


"Apa? Hellooooow... Bagas sangat casanova mau menikah dengan cewek ingusan seperti ini? Kamu kira kami percaya dengan omongan kamu?" protes wanita itu tak mau tau.


"Kalian benar, aku ini memang sudah berubah. Aku juga sudah berhenti bermain dengan para wanita. Aku sekarang hanya fokus mengejar impianku. Menikah dengan wanita baik - baik dan mempunyai keturunan" jawab Bagas langtang.


"Ya tapi gak sama anak masih bau susu dan minyak telon Gas" sindir wanita yang lain.


Dewi merasa panas di ejek seperti itu, dia langsung menantang mereka.


"Eh tante jaga omongan kalian ya. Gini - gini seumur aku ini udah bisa juga nikah. Dan cium nih aku gak bau susu dan minyak telon. Aku pakai parfum" Dewi mengangkat ketiaknya dan mendekatkannya kepada tiga wanita itu.


"Tampangnya aja rupanya yang polos ternyata sikapnya barbar" ejek yang lain.


"Cin tolong jangan ganggu acara makan siang kami. Kalian lebih baik pergi saja sebelum aku berbuat kekerasan" ancam Bagas.


Tatapan Bagas terlihat tajam dan menakutkan membuat ketiga wanita itu takut dan tidak mau mendekati Bagas lagi. Kini hanya tinggal mereka berdua di meja itu.


"Apa maksud Mas mengatakan pada mereka kalau aku adalah calon istri Mas, bukannya Mas Bagas sudah punya calon sendiri?" tanya Dewi kepada Bagas.


Duh mati aku? Apa yang harus aku katakan pada Dewi?


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2