Tiara

Tiara
Teguran Pak RT


__ADS_3

Tak lama setelah Roy pergi Pak RT datang lagi ke rumah Tiara.


"Assalamu'alaikum.. " panggil Pak RT dari luar.


"Wa'alaikumsalam" jawab Bintang dari dalam.


Bintang membuka pintu dan melihat tamu seorang laki-laki.


"Mau cari siapa ya Pak?" tanya Bintang..


"Ibu Tiaranya ada Pak?" tanya laki-laki itu.


"Tiara lagi belanja ke pasar Pak" jawab Bintang.


"Maaf Bapak Papanya Tegar ya?" tanya laki-laki itu lagi.


"Iya " jawab Bintang bingung, mengapa laki-laki itu bisa tau


"Ketepatan sekali, tadi saya fikir Papanya Tegar sudah pergi karena mobilnya barusan lewat saya lihat" ungkap Pak RT.


"Ha iya... mobil saya dibawa sama teman Pak, saya sedang jagain Tegar lagi sakit, Mamanya lagi keluar kasihan Tegar ditinggal sendiri" balas Bintang.


"Begini Pak, maaf mengganggu waktu Bapak sebentar. Saya bisa bicara dengan Bapak sebentar saja" pinta Pak RT.


"Boleh.. boleh... silahkan duduk Pak" Bintang dan Pak RT duduk di teras rumah Tiara.


"Perkenalkan Pak saya ketua RT di komplek ini" Bintang dan Pak RT saling berjabat tangan,


"Saya Bintang" sambut Bintang.


"Mmm... begini Pak Bintang, ketepatan Pak Bintang ada jadi saya langsung saja bicara sama Pak Bintang. Kemarin saya sudah sempat bertemu dengan Ibu Tiara tapi saya rasa tidak ada salahnya kalau saya bicarakan juga dengan Pak Bintang. Maaf ya bukan saya ikut campur dengan masalah pribadinya Pak Bintang dan Ibu Tiara. Saya hanya ingin menjaga kedamaian dan ketentraman komplek ini saja Pak. Gak enak ada beberapa warga yang keberatan kalau Bapak dan Ibu Tiara tinggal satu rumah tanpa ada ikatan pernikahan. Ibu Tiara sudah cerita kepada saya antara hubungan Bapak dengan beliau. Jadi saya sebagai ketua RT berkewajiban mengingatkan warganya untuk menjaga hukum agama dan adat istiadat kita sebagai orang timur Pak. Maaf lho Pak kalau saya lancang" ungkap Pak RT hati - hati.


"Iya Pak, Tiara juga sudah menyampaikan kepada saya mengenai itu. Saya mengerti maksud dan tujuan bapak, walau kami di dalam tidak melakukan apapaun tapi yah mungkin orang diluar sana lain menilainya. Saya sangat mengerti Pak tapi Tegar saat ini sedang sakit perlu di rawat oleh saya dan Mamanya. Saya mohon izin ini terakhir kalinya saya menginap di sini Pak. Minggu depan kalau saya datang lagi ke Bandung saya akan tidur di Hotel" ungkap Bintang.


"Syukurlah kalau Pak Bintang menerimanya dengan baik. Saya sangat senang sekali. Mm.. maaf Pak Bintang ini masih single atau... " tanya Pak RT.


"Saya masih single Pak" jawab Bintang.


"Ya sudah cocok itu Pak, sama - sama single. Sudah di resmikan saja biar Pak Bintang gak repot lagi nginap - nginap di Hotel setiap ke Bandung" Goda Pak RT,


"Ah Bapak bisa aja" elak Bintang.

__ADS_1


"Bener lho Pak, Ibu Tiara itu cantik dan baik lagi. Penuh keibuan kalau saya lihatnya. Nanti keburu Ibu Tiara diambil orang baru Bapak menyesal" sindir Pak RT.


Bintang hanya bisa tersenyum, dia bingung mau berkata apa lagi.


"Ya sudah kalau begitu saya pamit ya Pak Yang ingin saya sampaikan pada Bapak sudah diterima dengan baik. Terimakasih atas pengertian Bapak. Semoga Tegar lekas sembuh" ucap Pak RT.


"Iya Pak sama - sama. Saya juga sangat berterima kasih atas perhatian Pak RT" Bintang kembali menjabat tangan Pak RT. Kemudian Pak RT pulang ke rumahnya.


Dua orang yang mengingatkannya pagi ini tentang keberadaan Tiara dalam hidupnya. Benarkah baginya Tiara itu hanyalah Ibu yang telah mengandung dan melahirkan anaknya. Apakah ada arti lain Tiara baginya? Bintang bertanya dalam hati.


Bintang berjalan menemui Tegar dan menemaninya menonton. Tak lama Tiara pulang dari pasar menggunakan sepeda motor.


"Lho Mas mobil Mas mana?" tanya Tiara.


"Dibawa Roy ke Cafe. Katanya hari ini kamu libur saja dan mengurus Tegar di rumah" jawab Bintang.


Bintang membantu Tiara mengangkat barang belanjaannya ke dapur.


"Aku jadi gak enak, ini kan malam minggu pasti di Cafe ramai" ucap Tiara.


"Sudaaaah... ada Roy di Cafe ngapain kamu memikirkannya. Mending fokus sama kesahatan Tegar" balas Bintang.


Tiara menyusun dan membereskan semua belanjaannya di dapur. Bintang memperhatikan semua gerak gerik Tiara.


Wanita baik, rajin dan cekatan. Dia sangat pintar mengurus semuanya dengan sangat baik. Apa lagi yang aku harap? Aku sudah punya Tegar dan ada dia... Dua bulan ini aku merasa mempunyai rumah yang selalu aku tunggu - tunggu waktu akhir pekan untuk bisa pulang.


Benar kata Roy akhirnya aku punya rumah... Tapi bagaimana dengan Roy dan bagaimana pula aku mengatakannya pada Tiara.


Aku baru merasa nyaman bersamanya. Masalah hati, apakah aku memang sudah mencintainya? Batin Bintang.


"Pa.. Papaaaa... " panggil Tegar.


"Ya sayang.. aku mau pipiiiis" ucap Tegar.


"Biasa Mas kalau lagi sakit emang suka manja" sambut Tiara.


Bintang tersenyum melihat wajah manja putranya. Hatinya sangat bahagia ternyata keberadaan dia di sini ada juga manfaatnya. Bukan hanya pemberi nafkah saja tapi keberadaannya sangat di nanti - nantikan oleh anaknya.


Bintang membawa Tegar ke kamar lalu menuntunnya untuk pipis ke kamar mandi. Setelah itu mereka bermain di tempat tidur kamar Tegar.


"Gar.. kamu mau punya Papa lagi gak selain Papa?" entah mengapa tiba-tiba Bintang bertanya itu pada Tegar.

__ADS_1


"Nggak, aku sudah punya dua Papa. Papa Bintang dan Papa Dho. Aku gak butuh Papa lagi" jawab Tegar.


"Kalau Mama kamu menikah kan kamu akan punya Papa baru" balas Bintang.


"Nggak.. Mama gak boleh nikah sama orang lain. Mama bolehnya nikah sama Papa" Tegar mulai tampak sedih.


"Tapi sayaaaang... Mama dan Papa... " ucap Bintang tak sampai hati.


Haruskah aku katakan pada anak kecil ini bahwa aku dan Tiara tidak saling cinta. Ungkap hati Bintang.


"Nggak aku gak mau.... huhuhu... " Tegar mulai menangis.


"Sayang kamu kenapa menangis?" tanya Bintang.


Tiara sayup - sayup mendengar suara Tegar menangis dari arah kamarnya. Dia penasaran apa penyebab anaknya itu menangis


Tiara segera meninggalkan masakannya dan berjalan menuju kamar Tegar. Dia dengar Bintang sedang menenangkan putranya.


"Cup... cup.. sayang.. kamu diam ya, jangan nangis lagi" ujar Bintang.


"Tegar kenapa Mas? Kenapa Tegar menangis?" tanya Tiara.


"Mama... huu.. u.. u... " tangis Tegar semakin pecah.


"Lho malah tambah nangis" ucap Bintang bingung.


"Sini sama Mama... " Tiara memeluk Tegar penuh kasih sayang.


"Kenapa kamu nangis hemm....? Anak laki-laki itu gak boleh cengeng. Harus kuat, katanya mau jadi penjaga Mama. Masak penjaga Mama cengeeeeng" ucap Tiara.


"Aku.. aku gak mau punya Papa lagi.. aku cuma mau punya Papa.. Papa Bintang dan Papa Dho... Aku gak mau kalau Mama menikah dan punya Papa baru uu... u... " ucap Tegar sambil terisak.


Tiara menatap wajah Bintang sedangkan Bintang salah tingkah dan menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Bingung deh kalau seperti ini jadinya.. Sesal Bintang.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2