
Esok harinya Bintang dan keluarganya semua datang kembali ke Rumah Sakit. Hari ini wajah Pak Bambang terlihat semakin segar dan sehat.
"Ayo Mas dimakan makanannya. Aku sengaja buatin untuk kamu" ucap Siti.
Siti membuatkan sarapan pagi berupa bubur ayam yang ketepatan makanan kesukaan Pak Bambang rupanya. Mereka sarapan pagi bersama.
"Jadi ini makanan kesukaan Papa dulu. Pantasan suka habisnya enak sih" ucap Bintang.
"Siti kan memang pinter masak ini, sampai dia dulu jualan ini di depan rumahnya" ucap Pak Bambang..
"Iya, dan Mama kamu dulu suka bantuin Ibu jualan, disitulah mereka saling bertemu dan berkenalan" sambut Siti.
"Hahaha... jadi mengulang memory masa lalu" ucap Sekar.
"Ibu kamu ini kembang desa makanya Mas Bambang jatuh hati" puji Siti.
"Kamu juga Sit, dulu juga banyak pria yang suka sama kamu" balas Sekar.
"Dulu ada teman Papa yang kampungnya juga dekat dengan kampung mereka. Teman Papa itu suka sama Ibu kamu Ra karena pernah Papa ajak sekali membeli bubur ayam ke rumahnya. Sejak itu dia sering mengajak Papa datang ke rumah Ibu kamu tapi sayangnya Papa sudah pergi dari kampung bersama Mama kamu" ungkap Pak Bambang.
"Eh kamu menikah dengan siapa sih dulu Sit, kok aku gak kenal?" tanya Bu Bambang.
"Aku menikah dengan pria dari kampung sebelah Kar. Kamu gak kenal dia karena dia suka merantau ke kota. Kami berkenalan setelah kamu dan Mas Bambang menikah. Makanya kamu gak kenal dengan suamiku" jawab Siti.
"Kamu ngapain Gas masih ikut ke sini?" tanya Bintang.
"Aku masih senggang Bin, kan seminggu udah kerja di Bandung jadi saatnya aku istirahat sebentar" jawab Bagas.
"Halaaaah sengaja bilang saja. Sekalian manjain mata" sindir Bintang.
"Hahaha.. tau aja" Bintang menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Nak Bagas ini teman kamu dimana Bin?" tanya Pak Bambang. Dulu dia sangat sibuk bekerja sehingga tidak pernah memperhatikan pergaulan anaknya dan juga teman - teman anaknya.
"Dia sahabat aku saat kuliah Pa. Semuanya ada tiga orang, mereka yang dulu sering membantu aku saat aku hidup sendiri" jawab Bintang.
"Makasih ya Bagas, kamu sudah bantuin jaga Bintang dan membantunya saat dia sendiri. Pasti kamu tau apa sebabnya Bintang pergi dari rumah. Om malu pada kalian karena tidak bisa menjadi orang tua yang baik" ucap Pak Bambang.
__ADS_1
"Sudahlah Om yang penting kan semua sudah kembali baik dan sudah saling memaafkan. Sebaiknya tidak usah mengingat masa lalu yang pahit" balas Bagas memberi semangat.
"Kamu bekerja dimana?" tanya Pak Bambang.
"Aku bekerja di Perusahaan Wirayudha Om" jawab Bagas.
"Wirayudha? apa ada hubungan kamu dengan Yudha pemilik perusahaan itu?" selidik Pak Bambang.
"Itu Papa saya Om" jawab Bagas.
"Wah rupanya kamu anak dari Yudha pemilik perusahaan Wirayudha. Itu perusahaan besar dan berkembang. Hebat kamu, pasti kamu pemimpinnya sekarang? Karena Om dengan Yudha sudah menyerahkan jabatannya kepada putranya dan memilih untuk pensiun dari dunia bisnis" ungkap Pak Bambang.
"Ya begitulah Om, sekarang aku yang menggantikan Papa di perusahaan" jawab Bagas.
"Hebat kamu" puji Pak Bambang.
"Lebih hebat Bintang Om dia punya perusahaan sendiri dan berhasil mengembangkan dan membesarkan perusahaannya sendiri. Kalau aku hanya tinggal melanjutkan perjuangan Papa saja" Bagas memuji Bintang.
"Ya siapa dulu Papanya Bintang" ucap Pak Bambang mulai bercanda.
"Pak Bambaaaaang" sambut Bintang.
"Tegar mana?" tanya Pak Bambang.
"Tegar sekolah Pa" jawab Tiara.
"Kalian sudah berpesan kepada guru Tegar untuk memperketat penjagaan anak - anak di sekolah?" tanya Pak Bambang.
"Sudah Pa, setelah kejadian kemarin kamu sudah melaporkan semuanya kepada pihak sekolah. Dan mereka sudah semakin memperketat penjagaan. Aku sudah memberikan datang Mang Kardi ke pihak sekolah sebagai orang yang boleh menjemput Tegar di sekolah kalau aku atau Tiara tidak bisa menjemputnya" ungkap Bintang.
"Baguslah kalau begitu. Tapi kalau Papa atau Mama ingin menjemputnya bagaimana?" tanya Pak Bambang.
"Sebelum di jemput kami harus konfirmasi ke pihak sekolah Pa kalau hari ini siapa yang akan menjemput Tegar. Begitu peraturannya" jawab Tiara menjelaskan.
"Kalau begitu kan kita jadi lebih lega dan merasa aman menyekolahkan Tegar di sekolah itu" sambung Bu Bambang.
"Syukurlah semua berjalan semakin baik" ujar Pak Bambang.
__ADS_1
"Gimana kondisi Papa hari ini?" tanya Bintang.
"Kata Dokter semakin membaik dan pesat. Mungkin karena Papa sangat bersemangat. Luka di perut Papa juga cepat mengering. Kalau seperti ini tidak sampai satu minggu Papa sudah boleh pulang ke rumah" ungkap Bu Bambang.
"Ya semangat donk, kan sudah punya cucu sekarang, malah sudah mau dua cucunya" sambut Siti.
"Iya.. Papa sudah gak sabar ingin cepat - cepat pulang dan bermain bersama Tegar di rumah" ucap Pak Bambang bahagia.
Sekarang dia tak bisa menggambarkan isi hatinya, tak pernah dia merasa bahagia ini. Tak pernah dia membayangkan akan bertemu dengan putranya yang telah mempunyai anak. Selama ini dia selalu berharap Bintang kembali dan pulang tapi tidak pernah terbayangkan kembalinya Bintang dengan membawa keluarga kecilnya.
Dan pernikahan Bintang beberapa bulan lalu luput dari pantauannya. Mungkin karena bertepatan dengan dia terkena serangan jantung dan masa pemulihan. Biasanya dia selalu mencari informasi tentang kehidupan Bintang dan memantaunya dari kejauhan.
"Dulu Papa sempat mendapat kabar kalau kamu mempunyai pacar bernama Siska, kemana wanita itu sekarang?" tanya Pak Bambang.
"Papa mencari semua informasi tentang kehidupanku?" selidik Bintang.
"Itu sebagai wujud kasih sayang orang tua pada anaknya. Papa hanya memantau kamu dari kejauhan tapi setelah Papa terkena serangan jantung Papa tidak melakukannya lagi karena Papa fokus pada pemulihan Papa" jawab Pak Bambang.
Bintang menarik nafasnya panjang.
"Aku dan Siska sudah lama berakhir Pa. Beberapa bulan setelah kejadian aku bertemu dengan Tiara di diskotik aku melihat Siksa selingkuh dan aku putus dengannya. Sejak saat ini tidak ada lagi wanita dalam hidupku sampai aku bertemu Tiara dan melihat Bintang sangat mirip denganku. Perlahan - lahan aku mulai dekat dan mengenal Tiara. Walau di awalnya aku memakai alasan Tegar untuk mendekatinya. Alhamdulillah aku berhasil meyakinkan diriku kalau Tiaralah rumahku. Tempat aku pulang setelah letih seharian mencari nafkah " ungkap Bintang.
"Iya Om dia sadar setelah hampir saja kena tikung orang lain" sindir Bagas.
"Maksudnya?" tanya Pak Bambang penasaran.
"Sahabat kami satu lagi hampir saja menikahi Tiara kalau Tiara tidak menolak lamarannya. Karena itu Bintang terbakar cemburu dan akhirnya sadar kalau dia mencintai Tiara. Anak Om ini payah dalam hal mencintai wanita, tidak seperti kami" ejek Bagas.
"Kalian kan playboy cap burung terbang" ejek Bintang.
"Tapi kan sekarang sudah tobat Bin, burungnya sudah masuk sangkar dan betah di dalam. Kapok deh terbang kemana - mana" ucap Bagas membela diri.
Semua tertawa mendengar pengakuan Bagas barusan.
Ah Bintang segitunya godain aku, bisa hilang pesonaku di depan Dewiku. Batin Bagas.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG