Tiara

Tiara
Aqiqah Zia


__ADS_3

Seminggu berlalu, kini Tiara sudah pulang beberapa hari ke rumahnya. Hari ini tepat seminggu umur Zia. Bintang dan Tiara melaksankan tanggung jawab mereka sebagai orang tua.


Mereka melaksanakan aqiqah Zia putri kedua mereka di panti asuhan. Karena Tiara belum sehat betul Bintang sengaja memesan aqiqah yang langsung terima beres di tempat.


Pagi hari sekitar jam sepuluh pagi mereka berangkat dari rumah dengan menggunakan mobil masing - masing.


Bintang dengan mobilnya di dalamnya ada Pak Wijaya dan Bu Siti yang sedang menggendong Zia. Pak Bambang membawa mobilnya sendiri, di dalamnya ada Tegar dan istrinya. Terakhir Bagas bersama Dewi dan Ali di dalam mobil.


"Berapa ekor sih Wi yang di potong untuk aqiqah Zia?" tanya Bagas ingin tahu. Maklum mantan playboy tobat ilmu agamanya masih dangkal.


"Kalau anak perempuan cuma satu ekor Mas, tapi kalau anak laki-laki dua" jawab Dewi.


"Ciee.. Dewi udah bisa jawab berarti udah siap donk punya anak" goda Bagas.


"Kalau begitu Mas Bagas belum boleh donk menikah?" balas Dewi.


"Lho kok gitu?" tanya Bagas bingung.


"Karena Mas masih nanya jumlah ekornya dan gak tau kan sebelumnya?" tanya Dewi meyakinkan.


"Iya aku memang gak tau" jawab Bagas sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal karena kikuk.


"Katanya mau cepat nikah, terus mau cepat juga punya anak, belajar donk. Jangan taunya cuma buat anaknya doank" sindit Dewi.


Makjleb.. kata - kata Dewi benar - benar bagaikan pisau tajam yang langsung menancap di dada Bagas.


Sakit tapi tak berdarah Wi... Batin Bagas.


"Nanti kan tau sendiri Wi" ucap Bagas bela diri.


"Emang ilmu turun dari langit Mas? Ya Mas harus sejak sekarang donk belajarnya biar nanti Allah kasih kita anak - anak soleh dan solehah. Karena orang tuanya tulus berubah ingin hidup yang lebih baik" nasehat Dewi.


Gawat.. aku malah di ceramahin anak dibawah umur. Batin Bagas.


"Berarti aku boleh donk Kak nikah?" sambut Ali.

__ADS_1


"Kenapa kamu sudah boleh nikah?" tanya Dewi bingung.


"Aku udah tau jumlah lembu yang akan di potong. Tadi Mas Bagas bilang kalau sudah tau betapa jumlah lembu yang di potong untuk aqiqah udah boleh nikah" jawab Ali.


"Emangnya kamu udah punya calon Al?" tanya Bagas.


"Belum sih tapi kalau sudah dapat izin menikah biar sekarang aku mulai mencari calonnya" jawab Ali.


"Gak boleh, kamu gak boleh nikah. Belajar dulu yang baik. Kuliah dan cari kerja. Laki - laki itu nantinya akan menjadi kepala keluarga, memberikan nafkah untuk anak dan istrinya. Kalau kamu masih sekolah gimana coba mau menafkahi keluarga kamu" omel Dewi.


"Waaah kamu udah dewasa banget ya Wi bisa ceramahin Ali seperti itu?" puji Bagas.


"Ya jelas donk Mas, nanti kalau gak di jelasin seperti itu Ali mikirnya nikah ya segampang itu" jawab Dewi.


"Iya deh aku gak akan nikah cepat. Aku mapan dulu seperti Mas Bagas baru nikah" ujar Ali.


"Jangan juga Al kelamaan. Kalau bisa kamu nikahnya dibawah umur tiga puluh tahun. Mas dulu kebanyakan main - main Al" nasehat Bagas.


"Tapi kalau gak gitu, gak ketemu sama Kak Dewi Mas" ujar Ali.


"Semuanya sudah di atur Allah Mas. Yang penting berbuat baik, berusaha dan berdoa. InsyaAllah akan diberi jalan" ucap Dewi.


"Duh calon istriku emang pinter banget" puji Bagas sambil mengelus kepala Dewi yang tertutup jilbab.


Mobil melaju menuju panti asuhan. Karena hari libur dan masih pagi jalanan masih lancar. Dengan cepat mereka sudah sudah sampai ke tempat panti asuhan.


Tiara masih belum kuat untuk banyak berjalan sehingga dia harus di dorong menggunakan kursi roda sampai di panti asuhan tempat mereka akan melakukan aqiqah.Zia berada di dalam gendongan Siti.


Ali bertugas untuk mendorong kursi roda Tiara sedangkan Bintang sibuk mengurus aqiqah putrinya.


"Tuh Mas perhatikan semua biar Mas mulai belajar" bisik Dewi.


"Iya Dewiku sayaaaaang" jawab Bagas sambil tersenyum.


Acara segera di mulai. Mereka berkumpul dan duduk bersama di aula panti asuhan. Mereka melantunkan doa untuk Bintang dan keluarganya. Mereka meminta Bintang dan keluarga kecilnya selalau dalam keadaan sehat, diberikan keberkahan rezeki dan juga anak - anak yang soleh dan solehah.

__ADS_1


Setelah selesai meminta doa Bintang dan Tiara memberikan sedekah kepada para anak panti asuhan. Bagas, Dewi, Tegar dan Ali membantu membagikan bungkusan yang mereka bawa. Sedangkan Tiara dan Bagas membagikan uang untuk sedekah.


Tegar terlihat sangat senang berbagi dengan para anak panti.


"Lihat putra kamu sangat senang seperti itu" ujar Pak Bambang.


"Iya Pa, aku sering membawanya datang ke sini setiap bulan" jawab Bintang.


"Oh ya? Bagus itu, memang harus seperti itu selain untuk membersihkan harta kita. Apa yang kita berikan juga sangat bermanfaat untuk mereka. Kamu mendidik anak kamu sejak kecil seperti itu mudah - mudah kelak dia besar dia akan menjadi anak yang soleh, pintar dan sayang sesama" ucap Pak Bambang.


"Aamiin... " sambut Bintang.


"Papa yang salah mendidik kamu. Papa dulu tak pernah mengajarkan seperti ini kepada kamu. Papa terlalu sibuk mengejar dunia" Pak Bambang selalu terlihat sedih kalau sudah membicarakan tentang masa lalu.


"Sudahlah Pa.. semua sudah berlalu" jawab Bintang.


"Papa sangat bersyukur kamu tumbuh besar seperti ini, padahal Papa tidak pernah memberikan contoh yang baik kepada kamu" ujar Pak Bambang.


"Dulu Bik Sumi yang selalu mengajarkanku untuk berbagi seperti ini Pa. Setelah aku dewasa aku sempat salah jalan dan melupakan semuanya tapi untungnya aku bertemu dengan Tiara. Dia yang mengingatkan aku untuk kembali seperti dulu" Bintang menatap Tiara yang sedang tersenyum sambil menggendong putri mereka.


"Tiara mengingatkanku bahwa aku masih mempunyai rumah tempat aku kembali setelah penat mencari nafkah, memberikan kenyamanan di rumah sehingga aku tidak berfikir untuk mencari kenikmatan di luar sana. Tiara menawarkan kehangatan rumah Pa, memberikan aku keluarga kecil yang selama ini sempat hilang" sambung Bintang.


Pak Bambang menghela nafasnya kemudian menarik nafas panjang.


"Pelajaran hidup itu ternyata sangat mahal Bin. Papa sempat kehilangan kamu untuk menyadarkan Papa bahwa apa yang Papa raih di dunia ini tidak sebanding dengan kehilangan sebuah keluarga. Membuat Papa mengerti harta yang kekal abadi sampai di akhirat adalah anak yang soleh. Bukannya Papa mendidik kamu menjadi anak yang soleh, Papa malah meninggalkan dan menelantarkan kamu dulu " sambut Pak Bambang.


"Kita memang harus mengambil hikmah Pa dari masa lalu. Karena masa lalu aku yang seperti itu makanya aku tidak mau melakukannya kepada anak - anakku. Aku ingin menjadi orang tua yang baik bagi mereka. Seperti yang Papa katakan tadi, harta yang paling berharga dalam hidup ini, untuk dunia dan akhirat adalah anak yang soleh dan solehah.. Semoga anak - anakku menjadi seperti itu" ujar Bintang.


"Aamiin.... " sambut Pak Bambang.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2