
Hari yang di nanti oleh Tiara, Roy dan Bintang akhirnya tiba. Sudah seminggu Tiara melakukan shalat istikharah dan dia sudah mendapatkan jawabannya.
Jumat sore seperti biasa Bintang dan Roy sudah sampai di Cafe Kenanga.
"Papaaaaaaa.. aku kangen banget sama Papa" teriak Tegar begitu dia melihat Bintang datang ke Cafe.
Tegar langsung berlari dan memeluk Bintang. Bintang membalas pelukan anaknya dan menggendongnya.
"Papa juga kangen sama kamu" jawab Bintang.
"Mana oleh - oleh untukku?" tagih Tegar.
"Waaah hati Papa benar - benar sedih. Ternyata kamu bukan beneran kangen Papa, tapi kamu pengen cepat - cepat dapat oleh - oleh ya" sindir Bintang dengan wajah pura - pura sakit.
"Aaah Papa... aku beneran kangen sama Papa tapi aku juga pengen lihat oleh - olehku" ucap Tegar dengan polosnya.
Hal itu membuat Tiara, Roy dan Bintang tertawa mendengar penjelasan Tegar.
"Ra aku bawa Tegar dulu ya... " ujar Bjntang. Dia sengaja memberikan kesempatan pertama untuk Roy. Karena Roy lah memang yang pertama kali mengutarakan perasaannya kepada Tiara dan mengajak Tiara serius untuk menikah.
"Iya Mas, tapi tolong jangan terlalu malam ya Mas pulangnya. Tegar baru sembuh flu" jawab Tiara.
"Lho kamu kok gak ada hubungi aku. Kok aku gak tau Tegar sakit?" tanya Bintang terkejut.
"Cuma flu biasa, aku gak mau membuat kamu khawatir. Aku sudah kasih obat Tegar dan flu nya sudah sembuh tapi jangan kasih minum es krim dan jangan terlalu kecapekan aja" balas Tiara.
"Baiklah kalau begitu nanti jam sembilan aku sudah antar Tegar ke rumah" ujar Bintang.
"Roy pergi dulu ya" ucap Bintang kepada Roy.
Bintang dan Tegar pergi dari Cafe dan meninggalkan Roy dan Tiara berdua di ruang kerja Tiara di Cafe.
"Mau minum dan makan apa Mas?" tanya Tiara menawarkan minum kepada Roy.
__ADS_1
"Biasa Ra, coffee latte aja. Kalau makanan aku masih kenyang" jawab Roy.
Tiara menelpon ke dapur cafe dan memesan minuman untuk Roy.
Roy memandang wajah Tiara dengan intens membuat Tiara salah tingkah.
"Ra... " panggil Roy.
"Ya Mas" Tiara membalas tatapan Roy.
Sebenarnya Tiara sangat canggung berada dalam situasi seperti ini tapi mah tak mau hal ini memang harus dia jalani agar semuanya bisa terselesaikan.
"Sudah punya jawaban dari tawaran aku dua minggu lalu?" tanya Roy serius.
Tiara menganggukkan kepalanya.
"Bisa kamu katakan sekarang apa keputusan kamu?" tanya Roy tidak sabar. Sebenarnya Roy masih sangat sabar menunggu dua bulan lagi pun Roy akan sabar menunggu kalau saja dia tidak mempunyai saingan. Tapi dua minggu lalu Bintang mengatakan isi hatinya, bahwa dia juga serius ingin menikahi Tiara.
Bintang mengatakan kepadanya kalau dua minggu ini dia juga tidak berkunjung ke Bandung, alasannya Bintang ingin memberikan Tiara waktu untuk benar - benar menentukan pilihannya.
Seandainya kalau Tiara memilih dirinya, Roy akan merasa bersalah sudah memisahkan seorang anak dengan Papa kandungnya.
Maka oleh sebab itu, semua ini harus segera di selesaikan. Roy sudah pasrah apapun keputusan Tiara.
Tiara terlihat sedang memainkan ujung jilbabnya. Roy tau ini juga berat untuk Tiara. Pasti Tiara sangat bimbang saat ini.
"Ra katakan saja jangan sungkan ataupun ragu. Apapun keputusan kamu aku akan menerimanya dengan lapang dada" sambung Roy.
Tak lama salah satu pelayan Cafe masuk ke ruang kerja Tiara sambil membawa secangkir coffee latte pesanan Roy.
"Silahkan di minum Pak" ucap pelayanan itu.
"Terimakasih Di" balas Roy.
__ADS_1
Roy meminum kopi yang telah disediakan untuknya.
Tiara menarik nafas panjang.
Bismillahirrahmanirrahim... ucap Tiara dalam hati.
"Mas... maaf aku tidak bisa menerima dan membalas perasaan kamu" ucap Tiara.
Rasanya sebuah beban berat di dadanya sudah terlepas. Walau mungkin Roy kecewa tapi hal ini harus dia katakan dan Tiara yakin Roy akan bisa mengatasi dan mengobati kekecewaan di hatinya.
Roy tersenyum tulus.
"Aku sudah menduganya Ra. Sejak awal, pertama kali aku mengutarakan perasaan aku pada kamu, kamu tidak bisa memberikan jawaban kamu, sampai ke dua kalinya juga sama kamu tetap tidak bisa menjawabnya. Sebenarnya aku sudah mengerti kemana hati kamu memilih. Lima tahun kamu memilih sendiri tanpa seorangpun laki - laki di dekat kamu itu artinya bahwa kamu memang sedang menanti" ungkap Roy.
Tiara menatap wajah Roy.
"Kamu menanti Bintang kan? Pria pertama yang sebenarnya sudah lama menjadi pemilik hati kamu. Aku mengerti Ra, sangat mengerti karena aku sudah banyak menemui berbagai jenis wanita dalam kehidupan aku. Bagi wanita baik - baik seperti kamu pasti berharap pria yang pertama kali menyentuh kamu lah yang akan bertanggung jawab dan menikahi kamu. Kamu bukan di perkosa, walau dalam keadaan mabuk tapi pasti kamu mengingat jelas kejadian malam itu dan sejak saat itu hati kamu terkunci dengan nama Bintang " sambung Roy.
Tiara diam dan tertunduk.
"Maaf Mas kalau jawaban aku membuat kamu kecewa" ucap Tiara akhirnya.
"Kecewa itu pasti Ra, karena aku mempunyai harapan dan keinginan. Apabila itu tidak bisa aku capai pasti aku akan kecewa. Itu normal, aku hanya manusia biasa. Tapi tidaklah berarti aku akan larut dalam kekecewaan itu. Kamu sudah melalui pahitnya hidup ini selama lima tahun Ra. Dihina, dicaci dan difitnah. Tapi kamu tetap sabar dan setia menanti Bintang. Walau Bintang telat menyadari perasaannya tapi akhirnya perasaan kamu berbalas. Kamu pantas bahagia Ra. Inilah buah dari kesabaran kamu selama ini. Bintang pria yang baik, lebih baik dari pada aku, hanya saja karena masalah keluarganya membuat dia menjadi pria yang dingin dan kaku. Sedangkan aku, aku adalah pria nakal yang baru berusaha bertobat ketika melihat kamu. Kamu pantas mendapatkan laki - laki yang baik seperti Bintang. Apalagi saat ini Bintang juga sudah mencintai kamu" ujar Roy.
"Terimakasih Mas, terimakasih atas pengertian dan perhatian Mas selama ini. Terimakasih juga atas bantuan Mas kepada aku dan Tegar selama ini. Maaf aku tidak bisa membalasnya, biarlah Allah yang membayarnya Mas, semoga Mas mendapatkan wanita yang lebih baik lagi dari aku" jawab Tiara.
Roy tersenyum tulus sambil menatap Tiara.
"Semoga kamu, Bintang dan Tegar bahagia Ra. Kalau seandainya tadi kamu memilih aku. Aku juga tidak tega memisahkan Tegar dengan Bintang. Aku tidak sampai hati menggantikan nama Bintang sebagai Papanya Tegar. Mungkin memang inilah jalan yang terbaik untuk kita semua. Allah yang telah menuntun kamu untuk memberikan jawaban seperti ini sehingga tidak akan ada yang tersakiti. Terlebih Tegar, dia masih terlalu kecil. Kalian berhak bahagia. Segeralah kalian menikah demi kebaikan kalian bersama" nasehat Roy.
"Iya Mas... sekali lagi terimakasih... "
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG