
Beberapa hari kemudian di sebuah Restoran.
"Sayang kenalkan ini Tante Ida, rekan kerja Papa" ucap Mahmud.
"Ida" ucap Ida memperkenalkan dirinya kepada anak - anak Mahmud saat mereka janjian ketemu di salah satu Restoran di Jakarta.
"Eka Tante" ucap si Sulung.
"Dwi" sambut si Bungsu.
"Silahkan duduk Da" ucap Mahmud kepada Ida.
Akhirnya Ida memutuskan untuk menerima saran dari Tiara sahabatnya, untuk berkenalan dengan anak - anaknya Mahmud rekan kerja yang berstatus duda dan ingin mendekatinya.
Ida yang sudah hampir dua tahun bekerja di perusahaan Bintang sudah lama mengenal Mahmud. Dan enam bulan yang lalu Mahmud baru saja kehilangan istrinya karena penyakit jantung yang di derita istrinya Mahmud.
Setelah Mahmud menjadi duda banyak rekan - rekan kantor yang menjodoh - jodohkan mereka hingga akhirnya dengan segala pertimbangan Ida menerima perkenalannya dengan anak - anak Mahmud.
Mahmud mempunyai dua orang anak perempuan, yang pertama berumur tujuh belas tahun sedangkan anak kedua berumur lima belas tahun. Sedangkan Mahmud sendiri berumur empat puluh dua tahun. Jarak umur Mahmud dan Ida selisih delapan tahun.
Mahmud adalah pria yang sangat dewasa dan berwibawa. Sebenarnya di kantor banyak wanita yang menyukainya sejak Mahmud menyandang status duda tapi dia tidak tertarik dengan mereka.
Mahmud malah tertarik dengan Ida karena dia melihat Ida sangat taat beribadah dan sangat baik. Satu minggu dia memperhatikan Ida, Mahmud menawarkan Ida untuk saling mengenal.
Awalnya Ida yang belum punya niatan menikah mengungkapkan semua jati dirinya sekaligus kelamnya masa lalunya kepada Mahmud. Berharap Mahmud akan illfeel kepada dirinya tapi siapa sangka Mahmud malah semakin salut kepadanya karena berani mengungkapkan siapa dirinya dengan jujur.
Mahmud tidak mempermasalahkan masa lalu Ida yang seorang mantan narapidana. Dia hanya melihat keadaan Ida sekarang yang berani memperbaiki diri dan hidup lebih baik lagi.
Sekarang disinilah mereka berkumpul dengan anak - anak Mahmud. Saat Ida mau berkenalan dengan kedua putrinya Mahmud merasa sangat senang sekali. Mahmud berharap Ida bisa cocok dan dekat dengan putri - putrinya.
__ADS_1
"Kamu mau pesan apa Da?" tanya Mahmud saat pelayan datang membawa daftar menu.
"Eka dan Dwi mau pesan apa?" tanya Ida duluan.
Mahmud tersenyum melihat Ida ternyata perhatian kepada anaknya.
"Aku steak aja Tante" jawab Dwi
"Sama... sama.. aku juga pesan itu" sambut Eka ramah.
Ida merasa sedikit lega karena anak - anak Mahmud ramah kepadanya tidak seperti bayangannya selama ini bagaimana sulitnya akur antara seorang Ibu tiri dengan anak tirinya.
Ida tersenyum menanggapi jawaban anak - anak Mahmud. Pelayanan mencatat semua pesanan mereka saat itu. Makan bersama berjalan dengan lancar baik Ida ataupun anak - anak Mahmud bisa berkomunikasi dengan baik. Bahkan sampai acara makan bersama selesai. Ida dan kedua anak Mahmud saling bertukar nomor handphone.
Satu minggu setelah acara makan bersama.
"Gimana Da? apakah kamu menerima lamaranku? Aku sudah bertanya pada kedua anak - anakku. Mereka suka dengan kamu dan mereka setuju kalau aku menikahi kamu" ungkap Mahmud kepada Ida saat Mahmud mengajak Ida makan malam bersama sepulanh kerja.
Memiliki suami yang taat beribadah, dewasa dan bertanggung jawab. Ida tak lagi memiliki kriteria pria itu harus kaya. Yang paling utama adalah pria itu baik dan bisa menerima dirinya apa adanya.
Ida sudah mendiskusikan keputusannya ini dengan Tiara sebelumnya dan Tiara sangat mendukung keputusannya tersebut. Kini saatnya Ida menjawab lamaran Mahmud.
Bismillahirrahmanirrahim... ucap Ida dalam hati sambil menarik nafas panjang.
"Iya Mas, aku terima lamaran kamu. Aku mau menikah dengan kamu" jawab Ida sambil tersenyum.
"Alhamdulillah... Terimakasih Da" sambut Mahmud bahagia.
"Tapi aku tidak mau pesta pernikahan yang meriah Mas. Cukup pernikahan sederhana yang di hadiri oleh keluarga inti, beberapa keluarga besar dan teman - teman dekat aja Mas" pinta Ida.
__ADS_1
"Iya Da, semua sesuai keinginan kamu. Kapan kamu mau kita menikah?" tanya Mahmud.
"Terserah Mas saja kapan baiknya" jawab Ida.
"Kalau begitu Mas akan temui keluarga kamu minggu ini" pinta Mahmud.
"Baik Mas. Nanti aku akan kabari keluarga aku. Tapi sepertinya ketemu di rumah Bintang aja Mas. Nanti aku akan pinta Bapak sama Ibu datang dari Bandung. Keluargaku hanya tinggal mereka. Ibuku anak tunggal dan keluarga Bapak aku tidak tau ada di mana. Aku dulu dibesarkan oleh nenek dan kakek dari almarhumah Ibukku. Ibunya Tiara, istrinya Bintang dulu adalah istrinya almarhum Bapakku. Oleh karena itu hanya mereka keluarga yang aku punya saat ini " ungkap Ida.
"Baiklah Da kalau begitu minggu ini aku akan datang bersama anak - anakku untuk melamar kamu secara resmi di rumah Pak Bintang" balas Mahmud.
Mahmud memanggil Bintang dengan sebutan Bapak karena Bintang adalah pemilik perusahaan tempat dia bekerja.
Ida dan Mahmud saling pandang dan tersenyum. Niat baru mereka yaitu membangun rumah tangga dan hidup sampai tua bersama sebentar lagi akan tercapai. Semoga Allah mendengar dan meridhoi niat suci mereka.
Seminggu berselang seluruh keluarga sudah berkumpul dirumah Bintang. Pak Wijaya dan Bu Siti sudah datang dari Bandung bersama Ali. Sedangkan Dewi beserta suami dan anak - anaknya juga sudah tiba sejak sore di rumah Bintang.
Ida merasa sangat bahagia kini memiliki keluarga seperti mereka. Terkadang dia masih sering merasa sedih mengingat perbuatannya dulu kepada Tiara dan keluarganya. Ida juga sangat malu karena mereka menerima Ida dengan tulus bahkan membantu Ida bangkit setelah keluar dari penjara.
Mahmud dan anak - anaknya sampai di rumah Bintang sekitar jam setengah delapan malam. Mereka langsung di ajak untuk makan malam bersama dan disambut dengan hangat oleh keluarga Bintang.
Keakraban keluarga sangat terasa, mereka sambil makan dan ngobrol dengan bahagia.
Akhirnya disepakati pernikahan Ida dan Mahmud akan berlangsung dua minggu lagi dengan sangat sederhana. Wali nikah akan di serahkan kepada wali hakim. Walau Ali adalah saudara kandung seayah tapi Ida lahir tidak secara sah.
Mahmud bisa menerima keadaan Ida dengan lapang dada. Semua masa lalu Ida juga tidak dia permasalahkan. Hal itu membuat Bu Siti dan keluarga merasa sangat lega. Akhirnya Ida dikasih kesempatan untuk menikah lagi dan Allah juga masih memberikan kesempatan Ida untuk bahagia.
Begitulah hidup, jika kita sudah pernah terjerumus dalam kesalahan besar jangan ragu untuk berubah dan bertaubat. Dan berbaik sangkalah hanya kepada Allah. InsyaAllah Allah akan merubah hidup kita jauh lebih baik lagi. Bahkan kita sendiri tidak menyangka Allah akan memberikan sesuatu yang lebih dari yang kita bayangkan.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG