Tiara

Tiara
Kejutan pagi hari


__ADS_3

Bintang, Tiara, Tegar dan Zia sudah sampai di depan pintu apartemen Bagas. Dengan membawa buah tangan yang tadi mereka beli di toko roti.


Ting... Tong..


Bintang menekan bel berulang kali tapi pintu apartemen belum juga terbuka.


"Apa mereka pergi ya Mas?" tanya Tiara.


"Nggak yank, aku rasa mereka di dalam" jawab Bintang.


"Kamu kok yakin banget?" tanya Tiara.


"Kalau akhir pekan, Bagas memang lama bangunnya" jawab Bintang.


"Gak shalat subuh donk?" tanya Tiara.


"Kan ada Dewi, pasti dia shalat subuh. Hanya saja setelah dia tidur kembali" ungkap Bintang.


Benar saja saat ini Bagas dan Dewi masih tidur setelah pertempuran mereka yang panjang tadi malam. Sebelum subuh mereka harus mandi wajib dan shalat subuh.


Setelah itu baru mereka melanjutkan tidur mereka dan melupakan sarapan pagi. Sudah jam sembilan pagi, pasangan muda itu belum juga terbangun.


Mereka masih saling berpelukan di atas tempat tidur dan dibawah selimut tebal yang menghangatkan tubuh mereka.


Ting... Tong.


"Mas ada yang datang" ucap Dewi masih dengan mata terpejam.


Sayup - sayup Bagas mendengar suara bel apartemennya.


"Siapa sih pagi - pagi begini bertamu?" tanya Bagas kesal.


"Mas aja ya yang lihat, aku masih ngantuk sekali" jawab Dewi.


Dengan malas dan mata yang masih terpejam. Bagas meraih kain dan memakainya untuk menutupi tubuhnya yang bertelanjan* dada dan hanya menggunakan celana pendek.


Bagas berjalan dengan mata setengah terpejam, saat melihat Bintang yang datang dari layar monitorBagas langsung membuka pintu.


"Ngapain sih pagi - pagi udah bertamu?" tanya Bagas kesal kepada Bintang.


"Mas Bagaaaas" ucap Tiara.


"Om Bagaaaas" teriak Tegar.


Mata Bagas langsung terbuka lebar ketika mendengar suara Tiara dan Tegar.


"Ternyata kamu datang bawa pasukan Bin?" Bagas belum sadar dengan tampilannya.

__ADS_1


"Woi sadar dulu... aku rasa kamu tidur sambil berjalan ya sampai gak tau apa yang kamu pakai" sambut Bintang.


Bagas langsung tersadar dan melihat apa yang sedang dia pakai. Bagas memakai lingerie Dewi berwarna merah.


Pantas saja aku merasa sesak karena pakaian kekecilan ini yang aku pakai. Batin Bagas


"Hahahaha... Om Bagas lucu sekali" tawa Tegar.


"Hahaha.. sexy banget tubuh kamu Gas, aku jadi nafs*" goda Bintang.


Ya Tuhan untuk yang kedua kali aku jadi bahan tertawaan, tapi kali ini lebih parah karena yang tertawa bukan istriku tapi Bintang, Tiara dan Tegar. Bisa di bully satu keluarga ini aku. Batin Bagas.


"Sial ngapain sih kalian datang pagi - pagi begini, gak tau apa ini hari libur di pakai untuk keluarga" ujar Bagas.


Kepalang basah, sudah kadung terjadi. Bagas memilih cuek dan membiarkan Bintang dan keluarga kecilnya masuk ke apartemennya.


"Lho kami kan sekarang sudah menjadi keluarga kamu, makanya kami mau kumpul bareng di apartemen kamu" ujar Bintang.


"Silahkan duduk Ra, Gar dan embul" ujar Bagas kepada Tiara dan anak - anaknya. Panggilan embul Bagas untuk Zia belum bisa hilang dan ini selalu menjadi objek pertengkaran Tegar dengan Bagas.


"Enak aja bilang adek Zia embul.. Om yang embul, pakai baju Tante Dewi. Lihat tuh nenennya kelihatan" Tegar menunjuk ke dada Bagas yang terbalut kain tipis.


"Mas sejak kapan Dewi bisa tau pakaian seperti ini?" tanya Tiara.


"Sejak menikah denganku. Aku yang belikan dia pakaian seperti ini, buanyaaak.. pusing aku tidur sama anak kecil. Bajunya motif katun melulu, berasa pedofil" jawab Bagas curhat.


"Terus Dewinya mana?" tanya Bintang.


"Ada di kamar" jawab Bagas santai.


"Jam segini Dewi belum bangun? Pasti belum sarapan? Ya Tuhan Dewii..... " ujar Tiara dengan suara yang terdengar lebih tinggi.


"Emang belum, biar aja Dewi tidur Ra" sambut Bagas


"Tapi sejak kecil Ibu gak pernah ajarin seperti ini Mas, apalagi sekarang Dewi itu sudah menikah. Harus bangun pagi dan siapin kebutuhan suami, mengurus dan melayani suami dengan baik" jawab Tiara.


"Sudah.. dia sudah melakukan semuanya dengan baik. Apalagi di bagian melayaniku. Istriku sudah sangat ahli sekali jadi aku bebaskan dia pagi ini bekerja karena tadi malam dia sudah full melayaniku" ujar Bagas tanpa malu.


"Cie... jadi ceritanya udah buka puasa nih bro.. " ledek Bintang.


"Mas... jaga obrolannya. Ada anak - anak di sini" cegah Tiara.


"Sorry yank keceplosan" jawab Bintang.


"Bentar ya, aku bangunin Dewiku dulu" ucap Bagas sambil berjalan menuju kamarnya.


Deeewiii... kaulah hiduuuupku.. aku cinta padamu sampai mati..... ooo.. Dewi bukalah bajuuuku agar kau tau...

__ADS_1


Bagas berjalan ke kamarnya sambil bernyanyi.


Tiara yang mendengar syair lagu Bagas langsung menggelengkan kepalanya.


"Lihat yank, sepertinya Bagas memang tergila - gila pada Dewi" ujar Bintang.


"Bukan lagi tergila - gila Mas tapi emang udah gila. Paraaah" sambut Tiara.


"Hahaha... " Bintang tertawa mendengar jawaban istrinya.


Bagas masuk ke dalam kamarnya dan melihat istrinya itu sedang tertidur dengan nyenyaknya. Bagas mendekati istrinya di atas tempat tidur dan membelai lembut rambut dan pipi Dewi.


Dewi mulai bergerak dan perlahan membuka matanya.


"Maaas.. " panggil Dewi.


"Bangun yank.. Ada Bintang, Tiara dan anak - anak mereka di depan" ujar Bintang penuh kelembutan.


Mata Dewi langsung terbuka sempurna.


"Kak Araaaa?" tanya Dewi.


Bagas tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Dewi langsung bangun dan duduk di atas tempat tidur. Wajahnya tampak panik.


"Kamu kenapa?" tanya Bagas.


"Duh gawat Mas. Di rumah gak biasa bangun jam segini. Jam berapa sekarang? Gawat, kalau Kak Ara bilang sama Ibu aku pasti kena omelan" jawab Dewi.


"Yaaaank ini bukan di rumah Ibu. Tapi di rumah kita. Gak ada yang membuat peraturan seperti itu. Kamu Nyonya di rumah ini, tidak ada yang memaksa kamu untuk bangun lebih awal" ucap Bagas meyakinkan.


"Tapi aku kan sekarang sudah menikah Mas. Ibu mengajarkan dan menasehati kami, kalau sudah menikah harus bangun lebih awal dan menyiapkan sarapan untuk keluarga. Aku malah tidur sampai hampir siang, bukannya masak untuk sarapan kamu" jawab Dewi.


Bagas tersenyum mengerti kepanikan istrinya. Dia segera meraih tangan Dewi dan menggenggamnya.


"Aku ridho sayang, aku tidak keberatan akan hal itu jadi kamu jangan merasa bersalah seperti ini. Santai saja, ini rumah tangga kita. Kita jalani saja dengan cara kita masing-masing. Memang pesan Ibu itu tidak salah, malah sangat baik. Tapi aku kan membebaskan kamu dan membiarkan kamu istirahat sepuas kamu pagi ini. Sekarang kita bangun dan bersiap pakai baju. Setelah itu baru kita temui mereka di luar" ajak Bagas penuh kasih sayang.


Dewi baru sadar dan melihat penampilan suaminya pagi itu.


Kemarin kamu pakai celana tidur aku Mas, sekarang kamu malah pakai baju tidurku. Ya Tuhan... Mas pagi - pagi kamu sudah berhasil mengocok perutku.


"Hahaha.. Maaas apa yang kamu lakukan dengan baju tidurku? Kemarin celana tidur, sekarang malah bajuku yang kamu pakai. Kamu seperti ini tadi saat membuka pintu untuk Kak Ara dan keluarganya. Ya Tuhaaaan Maaaas apa coba yang mereka pikirkan setelah melihat kamu seperti ini. Hahaha... " Dewi tertawa lebar.


Suaminya ini memang sangat menggemaskan. Pagi - pagi harinya sudah begitu indah dengan tingkah laku suami tampan yang penuh perhatian dan cinta ini berhasil membuat awal harinya lebih ceria.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2