Tiara

Tiara
Keinginan Siti


__ADS_3

Sebulan sudah berlalu, kini kehamilan Tiara sudah masuk tujuh bulan. Karena kehamilan Tiara yang pertama dia jalani sendiri, Bintang dan keluarga tidak ada yang mengetahuinya. Sedangkan Siti tidak bisa menemani Tiara melalui hari - hari sulitnya dulu.


Mama Bintang bekerja sama dengan Bu Siti bersikeras ingin mengadakan tujuh bulanan. Padahal Tiara sudah menolaknya.


"Hari jumat kamu datang ya Sit, kita akan buat acara pengajian aja di rumah Bintang dan Tiara" ucap Sekar saat dia berbicara melalui telepon dengan besan sekaligus sahabatnya, Siti.


"InsyaAllah Kar, nanti aku akan bilang sama Mas Jay dulu" jawab Bu Siti.


"Eh Kar kamu sama Mas Jay gimana sekarang?" tanya Sekar.


"Gimana apanya Kar?" tanya Siti bingung.


"Kamu jadikan balikan sama Mas Jay?" tanya Sekar lagi.


"Doain aja ya" sambut Siti.


"Kapan?" desak Sekar.


"InsyaAllah secepatnya" jawab Siti.


"Setelah masa iddah kamu selesai Sit?" tangan Sekar tak sabar


"Ya semoga tidak ada penghalangnya ya" balas Siti.


"Waaaaah Alhamdulillah sekali ya Sit. Mudah - mudahan semua lancar sampai hari H. Aku sudah gak sabar pengen lihat kamu dan Mas Jay bahagia" ujar Sekar.


"Aku juga sama Kar" balas Siti.


"Ya udah Sit, aku tunggu kamu di acara tujuh bulanannya Tiara ya. Assalamu'alaikum" Sekar menutup panggilan teleponnya.


Siti tersenyum setelah telepon terputus. Jangankan Sekar, dia sendiri sebenarnya juga sudah tidak sabar menjalani hari - hari bahagia dengan Pak Wijaya seperti dulu. Sama - sama menikmati hari tua, saling berbagi dan mencintai setelah bertahun - tahun tidak bertemu.


Siti melanjutkan pekerjaannya memeriksa keuangan Cafe milik Bintang yang dia urus dan kembangkan. Tiba - tiba pintu ruang kerja Siti di ketuk.


Tok.. Tok..


"Masuk" perintah Siti.


Tak lama pintu terbuka dan muncullah Pak Wijaya.


"Assalamu'alaikum Sit" sapa Pak Wijaya ketika masuk ke ruangan Siti.


"Wa'alaikumsalam. Lho Mas kok gak ngabari aku kalau kamu mau datang?" tanya Siti kaget


"Aku tadi ketepatan ada urusan di dekat sini, jadi aku sekalian singgah" jawab Pak Wijaya.


"Silahkan duduk Mas" perintah Siti.

__ADS_1


Mereka sama - sama duduk di atas sofa di ruangan Siti.


"Tadi aku dapat telepon dari Tiara. Katanya jumat ini dia dan mertuanya mau mengadakan pengajian untuk tujuh bulanannya kehamilan Tiara" ungkap Siti


" Iya Mas. Barusan Sekar juga menghubungiku dan menyuruh aku datang" sambut Siti.


"Kalau begitu kalian akan aku jemput siang ya setelah shalat jumat. Acaranya malam kan?" tanya Pak Wijaya.


"Iya. Ya sudah kalau begitu aku dan anak - anak bareng Mas Jaya aja" jawab Siti.


Pak Wijaya tersenyum ke arah Siti.


"Mas mau makan apa, biar aku pesankan?" tanya Siti.


"Terserah aja Sit" jawab Pak Wijaya.


"Tunggu sebentar ya Mas biar aku ke dapur" ujar Siti.


Siti beranjak ke dapur dan memasakkan makanan untuk Pak Wijaya. Tiga puluh menit kemudian Siti kembali ke ruangannga.


Siti membuatkan daging asap lada hitam dan sup asparagus kepiting dan menyajikannya di atas meja di ruangan kerja Siti.


"Silahkan di makan Mas" ujar Siti mempersilahkan Pak Wijaya untuk makan.


"Kamu yang masak ini?" tanya Pak Wijaya.


"Iya" balas Siti.


Pak Wijaya mulai menyicipi makanan yang di masak Siti.


"Mmm... masakan kamu semakin hari semakin enak Sit, aku sudah tidak sabar setiap hari ingin makan masakan kamu" puji Pak Wijaya.


Siti tersenyum malu. Sebenarnya dia juga merasakan hal yang sama hanya saja mereka harus bisa menahan perasaan ini karena malu juga dengan umur.


Masakan ngalahin Bagas dan Dewi yang jauh lebih muda. Batin Siti.


"Kamu sudah siapkan semua berkas - berkas kamu, seperti surat kematian alm. suami kamu, kartu keluarga dan KTP. Bisa aku pintar? Biar selanjutnya aku yang urus?" pintar Pak Wijaya.


"Maaas masih lama. Tiara lahiran aja masih nunggu dia bulan lagi" ujar Siti mengingatkan.


"Rasanya aku sudah tak sabar Sit. Kamarku rasanya semakin dingin saja" goda Pak Wijaya.


"Kamu ini ada - ada saja Mas, biasa juga sama kok" balas Siti tersenyum malu.


"Hahaha... aku kok ngerasa kembali muda ya Sit, mungkin kalau Bagas lihat wajah aku sekarang bisa habis aku diledekin nya" tawa Pak Wijaya.


Siti tersenyum lebar.

__ADS_1


"Barusan juga aku kepikiran sama Mas. Malu kalau Dewi melihat. Masak kita ngalah - ngalahin mereka" timpa Siti.


"Setelah kita menikah, kalian.. kamu dan anak - anak kembali ke rumahku ya Sit. Walau rada jauh dari sini tapi aku sudah siapkan mobil untuk Ali dan Dewi. Mereka tidak akan terhalang untuk pergi sekolah dari rumahku yang nantinya akan menjadi rumah kita" ujar Pak Wijaya.


"Iya Mas, nanti aku akan bicarakan hal ini dengan anak - anak" balas Siti.


"Rumahku pasti akan ramai kembali" ucap Pak Wijaya bahagia.


"Rumah di sini diapain Mas?" tanya Siti.


"Biarkan saja atau disewakan. Lagian itu kan rumah Bintang. Biar dia yang memutuskan rumahnya mau diapain" jawab Pak Wijaya.


"Iya" balas Siti.


"Kamu ingin kita bulan madu kemana?" tanya Pak Wijaya.


"Mas kita sudah tua" potong Siti malu.


"Lho tidak apa kan, toh aku ingin membahagiakan istriku. Dulu waktu kita menikah aku belum sempat membahagiakan kamu. Sekarang apa yang aku punya memang aku cari untuk kamu dan anak kita. Sudah waktunya aku akan memberikan semuanya apa yang aku punya untuk kalian" ungkap Pak Wijaya.


"Kalau boleh aku meminta" ujar Siti malu.


"Kamu mau minta apa? Katakan saja jangan sungkan. Apapun itu aku akan berusaha untuk mengabulkannya" balas Pak Wijaya.


"Aku ingin sekali umroh Mas. Sudah lama aku mengimpikan itu" punya Siti.


Pak Wijaya tersenyum manis karena permintaan Siti sangat mulia dan rasanya jahat sekali jika dia tidak bisa mengabulkannya. Selain sekarang dia sudah punya segalanya untuk mengabulkan permintaan Siti, permintaan itu juga bukanlah hal yang sulit lagi untuk dia laksanakan.


"Apapun yang kamu mau akan mengabulkannya. Setelah kita menikah, aku akan membawa kamu umroh ke Mekkah. Apalagi yang kamu mau selain itu?" tanya Pak Wijaya lagi.


Siti tertunduk malu.


"Tidak ada Mas, hanya itu yang aku mau. Sudah lama sekali aku ingin melihat rumah Allah Mas. aku ingin melihat Ka'bah. Apalagi ke sana bersama suamiku" Siti meneteskan airmatanya.


Dulu saat menikah dengan Tarjo hal itu adalah mimpi baginya. Apalagi latar belakang Tarjo yang suka mabuk - mabukan. Pasti tidak mau untuk di ajak ke sana dan lagi mereka juga tidak punya uang untuk ke sana.


Pak Wijaya mendekat dan menggenggam tangan Siti


"Jangan menangis Sit, jangan bersedih kita akan memulai hidup kita yang baru. Percayalah.. aku akan membahagiakan kamu" ungkap Pak Wijaya.


Siti menghapus matanya dan menganggukkan kepalanya.


"Iya Mas... Terimakasih... " jawab Siti.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2