
Hari ini Dewi kuliah tanpa pengawasan Bagas. Karena waktu cuti Bagas sudah berakhir. Sebagai gantinya Wijaya menyiapkan supir yang selalu siaga menunggu Dewi di kampus sampai dia selesai kuliah.
Setelah pulang dari kampus Dewi meminta supir untuk singgah ke sejuta Mall untuk membeli sesuatu keperluannya. Dewi berjalan sendiri tanpa pengawasan siapapun hari itu karena supir hanya menunggunya di mobil yang terletak di area parkir.
Dewi berjalan mencari barang yang dia inginkan. Tiba - tiba langkahnya terhenti karena mendengar sapaan dari seseorang.
"Udah enak sekarang ya jadi orang kaya" sindir seorang wanita kepada Dewi.
Seeeer... jantung Dewi berpacu dengan kencang.
"Mbak Ida" panggil Dewi.
"Kenapa? Terkejut lihat aku bisa ada di sini?" tanya Ida.
Dewi hanya diam dan tidak tau harus menjawab apa. Ida mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya dan mengarahkannya ke pinggang Dewi bagian belakang.
"Ikut aku atau kamu tidak akan selamat" ancam Ida.
"Mm... mbak Ida apa yang Mbak lakukan?" tanya Dewi.
"Ada seseorang yang ingin bertemu dengan kamu dan aku tidak bisa membawanya ke sini bersamaku. Satu minggu ini aku selalu mengawasi kamu kemanapun kamu pergi tapi selalu saja ada seorang pria yang selalu berada di dekat kamu seperti seorang penjaga" ungkap Ida.
Dewi teringat Bagas yang selama seminggu ini selalu menemaninya kemanapun dia pergi.
Mas Bagas tolong aku. Ibu... Kak Ara, Mas Bintang, Ali.. adakah yang bisa menolongku. Batin Dewi.
Dewi bisa merasakan benda tajam yang menusuk pinggangnya dari belakang. Ternyata Dewi membawa pisau didalam tasnya dan dia kini menutupinya dengan sebuah bungkus plastik.
"Apa yang Mbak mau?" tanya Dewi bingung.
"Aku hanya ingin mengajak kamu menemui seseorang yang sangat kamu rindukan" jawab Dewi.
"Si.. siapa dia?" tanya Dewi.
"Lihat saja sendiri. Sudah gak usah banyak pertanyaan dan jangan ribut atau nyawa kamu tidak akan selamat" ancam Ida.
Ida mendesak Dewi berjalan menuju parkir mobil yang letaknya berjauhan dengan mobil Wijaya. Ida memaksa Dewi masuk ke dalam.
"Masuk" perintah Ida sambil mendorong Dewi masuk ke dalam mobilnya.
Dewi tampak ketakutan dan ingin menangis.
Ibu..... Kak Ara.. Ali... tolooong. Teriak Dewi dalam hati.
Ida masuk ke dalam mobil dan mulai melajukan mobilnya.
"Mbak kita mau kemana?" tanya Dewi.
"Kamu diam saja Wi jangan banyak tanya" jawab Ida.
Ida membawa Dewi keluar kota Bandung.
"Mbak aku mau dibawa kemana? Ini sudah jauh sekali" ujar Dewi ketakutan.
__ADS_1
"Kamu terlalu ribut" Ida menghentikan mobilnya kemudian mengambil saputangan dari tasnya dan mengikatnya ke kepala Dewi untuk menutupi matanya.
Dewi mulai menangis.
"Diam... jangan menangis" teriak Ida.
Dewi meraba kantong celananya dan meraba ponselnya. Kemudian Dewi menekan tombol panggilan terakhir. Tadi pagi dia baru bertelepon dengan Bagas. Secara otomatis nomor Bagas yang Dewi telepon.
Tut... tut....
"Halo Wi... " ujar Bagas.
"Mbak Ida tolong jangan lakukan ini padaku" tangis Dewi pecah.
"Aku sudah bilang pada kamu berhenti menangis. Kamu mau aku sumpal mulut kamu biar kamu diam" bentak Dewi.
Bagas terkejut mendengar suara dari ponselnya.
"Aku mau dibawa kemana Mbak Ida. Tolong jangan lakukan ini padaku" ujar Dewi.
Bagas segera meraih telepon kantornya dan menghubungi Bintang.
"Assalamu'alaikum" sapa Bintang.
"Wa'alaikumsalam Bin gawat" jawab Bagas segera.
"Bagas?" tanya Bintang terkejut karena nomor telepon yang menghubungi nya tidak ada tampilan nama hanya nomor telepon saja dan sepertinya dari telepon rumah.
"Gawat apanya?" tanya Bintang terkejut.
"Dewi Bin, Dewi" jawab Bagas.
"Ada apa dengan Dewi?" tanya Bintang terkejut.
"Sepertinya Dewi di culik Ida. Barusan Dewi telepon aku diam - diam dan aku mendengar pembicaraan mereka. Dewi sedang menangis bertanya dia sedang dibawa kemana? Ini telepon nya masih aktif" ungkap Bagas.
"Kamu serius Gas?" tanya Bintang tak percaya.
"Serius Bin, ngapain aku main - main. Apalagi ini menyangkut keselamatan Dewi calon istriku" jawab Bagas.
"Dewi di culik Ida, apa kamu tau dia dibawa ke mana?" tanya Bintang.
"Tidak tau, Dewi juga bertanya begitu pada Ida. Munkin Ida menutup matanya makanya Dewi tidak tau kalau dia mau di bawa kemana" jawab Bagas.
"Kamu terus berhubungan dengan Dewi ya Gas, aku mau telepon Bapak dulu" ujar Bintang.
"Iya Bin cepat ya" sambut Bagas.
Telepon mereka terputus, Bintang segera menghubungi Wijaya Bapaknya Tiara.
"Assalamu'alaikum Pak" ucap Bintang.
"Wa'alaikumsalam Bin, apa kabar?" tanya Wijaya.
__ADS_1
"Alhamdulillah sehat Pak, Pak hari ini Dewi diantar supir ke kampus?" tanya Bintang.
"Iya dan saat ini mereka belum pulang" jawab Wijaya.
"Pak barusan Bagas telepon aku, katanya Dewi seperti sedang di culik. Di telepon dia sedang berbicara dengan seseorang yang bernama Ida sambil menangis. Bapak bisa hubungi supir dan tanyakan dimana mereka berada. Aku akan segera menghubungi Tiara dan kami akan ke Bandung secepatnya" ungkap Bintang.
"Baik Bin, Bapak akan menghubungi Mang Budi dan memastikan Dewi ada dimana?" balas Wijaya.
"Terimakasih Pak, telepon aku kalau ada kabar terbaru ya Pak" pinta Bintang.
"Pasti, udah dulu ya Bin" balas Wijaya.
Bintang segera menghubungi istrinya.
"Sayang kamu siap - siap ya. Sebentar lagi aku jemput dan kita ke Bandung sekarang. Tegar biar kita titip di rumah Mama, nanti Mang Kardi Mas suruh jemput Tegar di rumah" perintah Bintang.
"Ada apa Mas? Kok kita ke Bandung tiba - tiba gitu? Apa ada masalah dengan Ibu?" tanya Tiara curiga.
"Bukan Ibu tapi Dewi" jawab Bintang.
"Dewi? Dewi kenapa Mas? Ada apa dengan Dewi?" desak Tiara.
"Barusan Bagas telepon aku katanya Dewi seperti sedang di bawa seseorang yang bernama Ida ke suatu tempat tapi Dewi tidak tau kemana dia di bawa. Bagas mendengar Dewi sedang menangis waktu di telepon" ungkap Bintang.
"Ya Allah Dewi, i.. iya Mas. Aku akan segera bersiap - siap" jawab Tiara.
Tak lama telepon Bintang kembali berdering. Peneleponnya adalah Pak Wijaya.
"Halo Pak" ujar Bintang.
"Bin Bapak sudah telepon Mang Budi mereka sedang di Mall XYZ tapi telepon Dewi tidak bisa di hubungi. Saat ini Mang Budi sedang mencari Dewi ke dalam Mall" jawab Bintang.
"Baik Pak, aku dan Tiara segera ke Bandung hari ini dan sedang menunggu telepon dari Bagas" ungkap Bintang.
"Bapak sudah mengerahkan anggota Bapak untuk memeriksa keadaan Dewi melalui CCTV" ujar Wijaya.
"Iya Pak" sambut Bintang.
"Kalau ada kabar dari Bagas kabari Bapak ya" perintah Wijaya.
"Baik Pak" jawab Bintang.
Setelah telepon terputus Bintang kembali di hubungi oleh Bagas.
"Halo Gas... " sapa Bintang.
"Bin gawat teleponnya terputus. Sepertinya mereka sudah sampai lokasi dan Dewi ketahuan sedang melakukan panggilan. Mereka bertengkar dan telepon Dewi di rebut dan akhirnya mati"
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1